Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
48


__ADS_3

Gerbang Tanah Utara, tempat yang memang sudah kuduga pasti padat. Sekarang, aku dapat melihat dan merasakannya sendiri, berada di antara tengah-tengah para pendekar payah yang mengira diri mereka lemah.



“Sepertinya banyak petinggi perguruan maupun keluarga besar datang ke tempat ini,” kata Ling Qian memerhatikan sekitar.



“Aku jadi ingin tahu apa harta paling berharga yang ada di tempat ini.” Aku mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku sama sekali tidak mengharapkan apa pun sih.”



Omong-omong, aku tidak menyangka Ling Qian bisa tetap terlihat ceria setelah saat itu. Namun, di balik senyumnya itu pasti dia menyimpan sesuatu yang tidak ingin orang lain tahu. Aku harus memberinya apresiasi karena tidak menyimpan dendam apa pun pada ayah atau pun keluarganya. Bahkan, pada kakaknya sendiri yang telah menyakitinya.



Tidak hanya itu, dia datang ke sini justru untuk membantu keluarganya, atau lebih tepatnya, ibunya. Dia sangat menyayangi ibunya, ayah dan kakaknya juga demikian. Pada saat itu aku tahu ternyata Ling Hai—ayah Ling Qian—bertindak seperti menelantarkan Ling Qian, karena itu merupakan syarat yang diberikan ‘utusan dewa’ jika mau mempertahankan nyawa istrinya.



Kendati Ling Hai dapat bertindak seperti itu sampai belasan tahun, tetap saja pada akhirnya dia tidak sanggup lagi. Ditambah lagi, beberapa hari sebelum aku dan Ling Qian datang ke kediaman keluarga Ling saat itu, istri Ling Hai sadarkan diri sebentar dan meminta Ling Hai untuk merawat anak mereka dengan baik.



Seharusnya itu adalah saat di mana Ling Hai putus asa, tetapi dia beruntung bahwa guru dari anaknya adalah aku—Raja Daratan! Jika aku memiliki tanaman herbal yang tepat, aku dapat menyembuhkan istrinya itu secara menyeluruh.



“Ling Qian,” kata Ling Tian yang datang bersama tiga pengawal pribadinya. “Aku mohon … temukan obat untuk ibu ….”



“Tidak perlu khawtir, Kak!” Ling Qian terlihat yakin kala menjawab. “Aku pasti akan menemukannya!” Gadis itu kemudian melirik ke arahku.



“Aku tidak ikut-ikut …,” jawabku, memalingkan pandangan.



“Hahahaha. Guru Luo memang senang bercanda.”



Aku yakin dia pasti tidak akan mendengarkan. Jadi, perlahan, ketika Ling Qian sedang asik berbicara dengan kakaknya, aku menjauh.



Hm … sebenarnya aku penasaran akan sesuatu sekarang. Kurasa aku harus sedikit mencari sebentar di sekitar sini. Ah, tapi aku juga takkan berharap banyak pada keberuntungan yang tak pasti.



“Guru Luo!!!”



Aku merasakan seorang gadis melompat dan memelukku dari belakang. Suaranya terdengar familiar, jadi aku pun memeriksa siapa gadis yang berani memeluk seorang pemuda tanpa takut terjadi hal buruk.



“Ternyata kau, Huo Lin.”



“Hehehe. Aku tahu guru pasti akan ada di sini juga.” Huo Lin pun melepas pelukannya, lalu tersenyum padaku. “Akhirnya aku menemukanmu lagi ….”



Dari senyum gadis ini, aku bisa merasakan kerinduan yang mendalam. Apakah dia rindu padaku? Entahlah, aku tidak bisa menyimpulkan seperti itu. Akan tetapi, sepertinya aku juga merindukan mereka.



“Guru ….”


__ADS_1


“Raja kecil! Berani sekali kau meninggalkan kami!”



Yue Jian dan Bocah ingusan pun datang dan langsung memelukku. Dasar mereka ini, belum lama juga aku tinggalkan. “Kalian bertiga sepertinya berhasil mencapai posisi puncak di Perguruan Tanah Merah?”



Setelah mendengar kalimat itu, seketika mereka berdua menjaga jarak. Mereka pun serentak memalingkan pandangan ke arah lain. Pasti ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Haah ….



“Hahaha. Guru Luo, kau menyinggung topik yang salah.” Huo Lin pun mendekat, lalu berbisik ke telingaku. “Mereka tidak berhasil mendapat peringkat 1 di Perguruan Tanah Merah.”



“Heeh ….” Sekarang aku mengerti mengapa mereka tidak mau menatap mataku secara langsung sekarang. Dua murid payah ini ternyata ….



“Saat ini, Kak Yue Jian berada di peringkat 2, Kak Zhang di peringkat 3, sedangkan aku peringkat 4.”



“Lalu, siapa peringkat pertamanya?” Aku tidak mau mendengar bahwa peringkat pertamanya tetap Fang Chu. “Jangan bilang Fang Chu berhasil mengalahkan mereka ….”



“Bukan.” Huo Lin menggelengkan kepala.



“Kami kalah dari Mu Lan,” kata Yue Jian yang akhirnya berbicara.



“Haah ….” Bocah ingusan mengembuskan napas panjang. “Orang itu kuat. Aku tidak tahu darimana dia belajar menggunakan kekuatan elemen.”



Ah, itu adalah murid dari Chi Ling. Pantas saja sih mereka kalah, karena pasti Chi Ling melatih muridnya lebih keras daripada aku melatih mereka bertiga. Namun, rasanya sangat tidak nyaman ketika tahu muridku dikalahkan oleh murid dari muridku sendiri.




“Tidak tahu.” Itu adalah jawaban cepat dari Bocah ingusan. “Dia sepertinya tidak tertarik untuk datang ke sini. Sebenarnya aku juga sih ….”



“Baik dia maupun kau ternyata sama-sama tidak berguna, Bocah ingusan.” Aku mengembuskan napas panjang.



“Kenapa bisa begitu?!”



“Tempat ini memiliki banyak tanaman herbal. Bisa mendapatkannya adalah sebuah keberun—”



“Guru Luo!” Ling Qian segera meraih tangan kananku. “Gerbangnya sebentar lagi dibuka, ayo pergi!”



“Guru … Luo …?!”



Apa ini?! Kenapa bulu kudukku merinding!



“Guru Luo …,” kata Huo Lin, tersenyum lebar dengan aura yang mengerikan menyelimuti tubuhnya. “Siapa gadis murahan ini?”

__ADS_1



“Hah?!” Ling Qian membalas dengan tatapan sinisnya yang tajam. “Kau siapa? Jangan coba-coba menggoda guruku!”



Gawat! Apakah perang dunia akan kembali pecah?!



“Hei, hei, kalian berdua,” kata Yue Jian. “Jangan membuat guru kesusahan.”



Kau memang seorang malaikat, Yue Jian! Bimbinglah mereka ke jalan yang benar!



“Kak Yue Jian, apa kau berpihak padanya?” Huo Lin tampak mencoba memanipulasi Yue Jian. Tapi itu pasti tidak akan berhasil! Aku yakin seratus persen!



“Haah ….” Yue Jian mengembuskan napas panjang. “Kita tanyakan dulu saja apa yang sebenarnya terjadi.” Dia kemudian melirikku.



Sialan! Padahal kupikir kau malaikat! Ternyata malaikat maut!



“Baiklah, dari mana aku harus memulai ini.” Aku berpikir sejenak. “Jadi, singkatnya dia adalah Ling Qian.” Aku memperkenalkan murid baruku.



“Guru Luo,” kata Ling Qian. “Mereka ini siapa?”



“Mereka adalah muridku.” Kemudian aku memperkenalkan mereka satu per satu. “Dia adalah Yue Jian. Di sebelahnya ada Huo Lin, dan terakhir Bocah ingusan.



“Kenapa kau tidak pernah menyebut namaku, Raja kecil!”



“Kuharap kalian bisa akur,” lanjutku, mengabaikan Bocah ingusan.



“Jadi dia adalah murid barumu, Guru?” Seperti yang diharapkan dari Yue Jian. Dia memang sangat cepat paham akan situasi.



“Guru Luo jahat! Hiks … hiks ….” Huo Lin mulai menangis.



Ada apa ini? Apa yang harus kulakukan. “Ano … Huo Lin …?”



“Kau meninggalkan kami demi mencari murid baru? Kau jahat, Guru Luo!”



Ah … ini dia, another drama.



Aku melirik Yue Jian sejenak, seolah sedang berkata, “Lihatlah akibat perbuatanmu ….”



Yue Jian mengangkat tangan. Ekspresi wajah pemuda itu seakan berkata, “Aku tidak tahu apa pun.”

__ADS_1



Anak ini berani lempar batu sembunyi tangan! Sialan ….


__ADS_2