
Aku tidak tahu sebaiknya dari mana memulainya. Sebuah kejadian yang tidak aku inginkan, kini terjadi. Terlebih, aku tak tahu harus bagaimana meresponsnya.
Nenek dengan rambut putih. Wanita tua renta yang telah merawat Luo Xiao—tubuh anak yang kini menjadi tubuhku—sedari kecil, mati di pelukanku. Wanita ini mendadak jatuh di teras, ketika Yue Jian dan Bocah ingusan hendak pergi memulai perjalanan mereka lagi.
Ini adalah sebuah kebetulan yang lucu. Tapi aku tidak dapat tertawa karenanya. Selama ini aku tidak sadar kalau nenek ini terus memendam suatu penyakit berbahaya. Aku tidak sadar akan hal itu, meskipun aku seorang Raja Daratan. Ini … memalukan.
“Guru ….”
“Tak apa, Yue Jian,” kataku ketika Yue Jian hendak mengatakan sesuatu. Kurang lebih, aku tahu tujuan Yue Jian itu baik, dan itu sudah cukup. “Kalian boleh pergi sekarang, selagi hari masih terang.”
“Kami tidak akan meninggalkan anak kecil di hutan sendirian!” sahut Bocah ingusan. “Kami akan menemanimu, Raja kecil!”
“Haha.” Aku tahu bahwa tawaku itu datar, karena mataku masih memandangi kuburan si nenek yang berada tepat di belakang rumah. “Aku tidak tahu dan tak mengenal Luo Xiao yang kau kenal. Tapi, kau sudah memperlakukanku dengan baik, seperti anakmu sendiri. Kuharap kau bisa bertemu dengan Luo Xiao yang asli di alam sana.”
Kelahiran dan juga kematian merupakan hal wajar. Namun, kedua hal yang membentuk siklus kehidupan itu terkadang dibenci, diratapi, dan ditolak.
Di luar sana, ada orang seperti orangtua Luo Xiao ini, yang menolak kelahiran Luo Xiao, sehingga membuangnya. Lalu, ada orang di luar sana yang mengutuk kematian karena orang yang disayanginya mati. Padahal, tanpa adanya kelahiran dan kematian, tidak ada kehidupan. Dan, aku pun, sebagai Raja Daratan masih mengutuk kematian, karena orang yang kusayang telah meninggal dunia.
“Yue Jian, Bocah ingusan,” gumamku. “Apa kalian mau mengikutiku?”
Yue Jian dan Bocah ingusan mungkin sedang saling memandang saat ini. Aku tak tahu, karena aku sedang tidak memerhatikan mereka.
“Apa Guru mau pergi ke suatu tempat?”
“Ya.” Aku diam sejenak. “Aku akan pergi mengutuk kehidupan!”
Aku tidak peduli apakah Yue Jian dan Bocah ingusan mengerti dengan maksud dari ucapanku. Namun, satu hal yang jelas adalah aku akan membuktikan, bahwa aku, Luo Xiao, adalah orang baik seperti yang selalu dikatakan nenek padaku. Hidup untuk kedua kalinya, apakah akhirnya aku akan kembali menyelamatkan dunia? Hahaha, siapa yang tahu.
“Kalian berdua, ayo kita pergi!” Aku berbalik, sudah siap untuk memulai petualangan baru. “Tidak ada gunanya terus bersedih karena siklus kehidupan ini! Raja Daratan akan kembali!”
__ADS_1
“Baik!” Yue Jian dan Bocah ingusan pun mengikutiku.
“Aku akan bantu kalian untuk membalas dendam dengan siapa pun itu!”
Apakah itu sebuah ambisi? Impian? Omong kosong? Atau mungkin hal lain seperti harapan? Sejujurnya aku tidak peduli. Aku juga tak beminat untuk menjadi seorang Raja Daratan lagi. Itu terlalu merepotkan. Namun, aku pasti akan membawa Pendekar Manusia menjadi Raja Daratan!
“Guru, apakah kau akan langsung pergi membalaskan dendam kami?” tanya Yue Jian. Suaranya terdengar datar, tetapi aku dapat merasakan bahwa dia ingin membalaskan dendam dia dan keluarganya dengan tangannya sendiri.
“Kalau Raja kecil yang melakukannya, semuanya akan berakhir dengan cepat!” Bocah ingusan menambahi.
Akan tetapi, aku menggelengkan kepala, menjawab, “Aku tidak berniat melakukan itu. Kalian sebagai muridku, harus membalaskan dendam kalian sendiri!”
Yue Jian memiringkan kepala, “Apakah Guru akan kembali melatih kami hingga bisa sekuat Guru?”
“Tidak.” Langkah kakiku masih tenang, pandanganku juga lurus ke depan. “Aku hanya akan mengawasi kalian. Kalian sekarang sangat membutuhkan pengalaman, jadi bergurulah pada pengalaman!
Bangkit jika kau gagal! Lakukan terus sampai kau tidak gagal lagi! Itulah yang disebut dengan Pendekar Manusia!”
“Percaya diri itu baik. Tapi jika kau sungguh tak terkalahkan oleh orang lain selain aku, kenapa tidak langsung balas dendam saja? Hahaha.”
“Itu ….”
“Sudah diputuskan! Kalian harus menjadi bintang di kota terdekat dari sini, lalu melanjutkan prestasi kalian sampai ke kota-kota lain!” Ini adalah keputusan sepihak, tetapi untuk tujuan baruku, mereka perlu mendapatkan banyak penghargaan.
“Kalau kami dapat terus mempertahankan prestasi kami,” Yue Jian hendak memastikan, “Apa Guru mau melatih kami sekali lagi sampai kami menjadi tidak terkalahkan?”
Aku melirik Yue Jian sejenak, menjawab, “Tidak masalah.” Selain itu, kalian akan tahu bahwa pengalaman akan menjadi guru terbaik kalian, yang membuat kalian berkembang perlahan. Bahkan bukan hal mustahil dia dapat membuat kalian tak terkalahkan. Aku tidak perlu memikirkan untuk melatih kalian lagi.
Perjalanan pun berlanjut dengan penuh percakapan yang tiada habisnya. Topik terus berganti kala kaki masih menapak. Langit cerah pun perlahan berubah warna menjadi oranye kala matahari perlahanan terbenam.
__ADS_1
Berhubung hari sudah mulai gelap, dan perjalanan kami kemungkinan masih cukup panjang, kami memutuskan untuk bermalam di hutan selama satu malam. Rencananya memang hanya satu malam, tetapi kami tidak tahu berapa lama perjalanan menuju kota terdekat.
Haa … kurasa sekarang kehidupan damaiku berakhir. Apakah selanjutnya akan dipenuhi oleh penderitaan dan sebagainya? Tidak tahu. Aku hanya akan terus mengikuti takdir dan melakukan apa yang diperlukan.
***
Malam hari, di kota terdekat yang kini dituju oleh Luo Xiao beserta dua muridnya, sedang ramai dengan suatu perbincangan menarik. Di dalam sebuah rumah makan, banyak pendekar sedang membicarakan suatu hal dengan serius.
“Katanya Perguruan Tanah Merah akan merekrut murid baru bulan depan! Aku sungguh tak sabar!” kata seorang pria yang tengah menggebu-gebu.
“Huh! Memangnya pria tua sepertimu akan diterima mereka?!” sahut pria lain yang terlihat lebih muda.
“Apa kau bilang?! Mau bertarung, huh?!” pria pertama menggertak.
“Siapa takut?!”
Ketika dua pria itu hendak bertarung, seorang pemuda yang memiliki tanduk kecil berkata, “Kalian berdua akan didiskualifikasi sebelum mendaftar.”
“Ha—” Dua pria tadi sontak terdiam kala mengetahui siapa yang berbicara pada mereka.
“Itu adalah Fang Chu! Murid nomor satu Perguruan Tanah Merah!” orang-orang mulai berbisik satu sama lain.
“Kalian membuat nafsu makanku hilang!” Fang Chu berdiri, lalu berjalan keluar rumah makan.
“Tuan Fang Chu, mohon maafkan kami!” Dua orang yang tadi hendak bertengkar, seketika bersujud di hadapan Fang Chu. “Kami tidak akan mengulanginya lagi, jadi tolong jangan diskualifikasi kami ….”
“Tak tertarik.” Fang Chu mengabaikan mereka, berjalan pergi dengan santai.
“KAMI MOHON!”
Kendati kedua pria tadi terus memohon dengan bersujud, tetap saja Fang Chu tak peduli dan mengabaikan mereka. Baginya, kedua orang itu tak lebih dari sekedar lalat.
__ADS_1
Arc 1: Kembalinya Raja Daratan (done)
*walaupun kecepetan :v