Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
56


__ADS_3

Dalam sebuah aula yang megah, tampak seorang pemuda berjalan keluar dengan didampingi oleh beberapa pengawal. Pemuda dengan mahkota tersebut berjalan hingga tiba di balkon istana. Dari atas sini, pemuda itu bisa melihat ramainya rakyat jelata yang sudah menunggunya di luar.


“Rakyatku sekalian,” kata pemuda itu dengan nada tegas dan lantang, “Aku Mu Lan, murid pertama dan terakhir dari Ling Chi telah diberikan mandat resmi dari dewa agung untuk menjadi raja daratan yang baru untuk kita semua!”



“Hidup Raja Daratan!”



“Hidup!!!”



Semua rakyat bersorak kegirangan seolah baru saja dibebaskan dari hukuman yang selama ini menjerat mereka. Mereka semua tidak tahu, betapa mereka sekarang berada dalam bahaya besar yang menanti tepat di depan mata.



Diiringi oleh sorakan rakyat yang gembira, Mu Lan berbalik, kembali masuk ke dalam aula raja. Ia kemudian tersenyum tipis, bergumam, “Semuanya berjalan sesuai rencana, Yang Mulia ….”



Di balik kesuksesan pendeklarasian ini, terjadi hal yang tidak diketahui oleh banyak orang. Ditutup oleh konspirasi dan semacamnya, masyarakat pada dasarnya dihasut untuk percaya pada para penguasa, kendati itu dapat merugikan mereka sekali pun.



“Lakukan tugas kalian,” kata Mu Lan pada para pengawalnya.



“Baik!” jawab para pengawal pemuda itu.



“Semuanya baru saja dimulai, Luo Xiao. Tunggulah kematian datang menjemputmu sebentar lagi.”


***


“Sialan!” Ling Tian menghancurkan lengan kursi singgasananya dengan satu pukulan. “Masalah yang terjadi pada Gerbang Tanah Utara masih belum selesai, tetapi si sialan itu berani mendeklarasikan diri sebagai Raja Daratan Baru!” Amarah telah mengambil alih tubuh pria yang kini sedang sangat berapi-api ini.



“Tuan Muda …, tenanglah ….”



“Hah?!” Ling Tian langsung membentak seorang pemuda yang bersujud di depannya, yang berniat untuk menenangkan. “Sekarang Gerbang Tanah Utara sudah ditutup, bahkan aku pun tidak masuk untuk menyelamatkan adikku sendiri! Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tenang!”



“….” Pemuda yang bersujud di hadapan Ling Tian tidak dapat berkata apa-apa. Sekujur tubuhnya gemetar, dan mulutnya seketika bungkam.

__ADS_1



“Tidak perlu begitu gelisah, Ling Tian,” kata Ling Hai sembari memasuki aula. “Luo Xiao ada bersamanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Pria ini jauh bisa bersikap lebih tenang dibandingkan dengan Ling Tian.



“Tapi, Ayah!” Ling Tian hendak membantah.



“Aku percaya pada Luo Xiao.” Ling Hai tampak begitu tenang. Dia kemudian berkata pada pemuda yang bersujud di hadapan Ling Tian, “Kau pergilah, aku hendak membicarakan hal penting dengan Ling Tian.”



“Baik, Tuan!” Pemuda itu pun tanpa menunggu lebih lama, segera pergi meninggalkan aula. Dia merasa lega akhirnya dapat pergi dari ruangan dengan suasana mencekam ini.



Setelah si pemuda meninggalkan aula, Ling Hai berkata pada Ling Tian, “Masalah ini sangat rumit. Kita pun tidak menyangka bahwa akan datang seorang utusan dewa yang ternyata berhasil membunuh Raja Daratan kita.”



“Aku tahu ….” Sejenak, Ling Tian terdiam. “Tapi, mengapa baru kali ini seorang utusan dewa bertindak untuk membunuh seorang raja daratan yang dianggap tirani?!”



Ling Hai menggelengkan kepala. “Aku pun tidak tahu. Tapi, yang jelas sesuatu pasti terjadi dibalik ini semua.”




“Dia pasti baik-baik saja ….” Meskipun terlihat tenang, Ling Hai sebenarnya tengah mengepalkan kedua tangannya yang gemetar. Bagaimana mungkin tidak? Sekarang dia tidak mengetahui bagaimana kondisi anak gadisnya di luar sana.


***


Langkah kaki terdengar jelas di atas bebatuan. Terlihat Yue Jian, Zhang, Huo Lin, dan Ling Qian berjalan mendekat ke sumber cahaya yang berada di ujung terowongan. Akhirnya setelah berjalan selama kurang lebih satu jam, mereka berempat perlahan mendekati tempat tujuan.


“Sepertinya firasatmu benar, Yue Jian,” kata Zhang kala mereka kian dekat ke sumber suara. “Ini benar-benar sebuah terowongan.”



“Kuharap di ujung sana tidak terjadi apa pun yang sebaiknya tidak terjadi,” jawab Yue Jian, tetap berpikir logis bahwa ada kemungkinan kalau yang menanti mereka di sana bukanlah sebuah keberuntungan.



“Jadi, apa yang harus kita lakukan jika kemungkinan buruk itu terjadi?”



“Aku tidak bisa memikirkan kemungkinan selain bertarung sekuat tenaga dan mempertaruhkan semua yang ada.”

__ADS_1



Kini mereka benar-benar tiba di ujung terowongan disambut oleh pemandangan taman yang begitu indah. Terdapat berbagai jenis bunga, kupu-kupu berterbangan dengan bebas, menghias taman menjadi lebih indah.



“Ini sungguh menakjubkan!” kata Huo Lin yang segera berlari ke dalam taman bunga. “Kupu-kupu itu berterbangan menjauh. Hahaha.”



“Kau tidak ikut dengannya,” tanya Yue Jian sembari melirik Ling Qian, “Ling Qian?”



Ling Qian menggelengkan kepala beberapa kali, menjawab dengan tenang, “Pikiranku tidak bisa diajak untuk bersenang-senang sekarang.”



Yue Jian sadar bahwa Ling Qian sedang memikirkan banyak hal, mulai dari kematian Luo Xiao, sampai masalah keluarga Ling. Itu memang bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja dengan bersenang-senang.



Yue Jian lantas berjalan di sekitar taman, mengamati semua hal yang ada di sini. Selain tempat ini dipenuhi oleh bunga, terdapat sebuah parit kecil yang dipenuhi rumput. Air dalam parit tersebut juga tidak kotor, melainkan terlihat sangat bersih, tetapi Yue Jian tidak langsung menyimpulkan bahwa air tersebut dapat diminum.



Beberapa saat berlalu, tiba-tiba Zhang memanggil Yue Jian, “Yue Jian, coba lihat ini.”



Yue Jian pun tanpa berlama-lama lagi, langsung segera mendekat, melihat apa yang ditunjukkan Zhang. Seketika itu juga Yue Jian terdiam mematung, seperti melihat kebusukan di balik keindahan taman ini.



“Kuburan …?” gumam Yue Jian, tidak mau ucapannya terdengar oleh Huo Lin dan Ling Qian yang berada di sisi lain taman. Ini adalah sebuah fakta yang tidak pernah diduga oleh Yue Jian sebelumnya.



“Sepertinya ini adalah kuburan massal …,” sahut Zhang, mencoba untuk tenang, “tempat di mana keluarga kita para rakyat jelata bisa dikubur dengan layak.”



“Tapi ….” Yue Jian lantas terpikir akan sesuatu hal. “Jika Raja Daratan tahu akan hal ini, pastinya dia tidak akan membiarkan tempat ini begitu saja, kan?”



Itu benar, tempat seperti ini seharusnya tidak diabaikan oleh raja daratan terkhususnya Chi Ling. Ini merupakan sebuah keajaiban atau anomaly bahwa tempat ini masih utuh sampai sekarang. Bahkan tidak ada tanda bahwa kuburan telah dirusak oleh sesuatu. Ini cukup aneh dan sulit dimengerti baik oleh Yue Jian, maupun Zhang.



“Aku juga tidak mengerti,” sahut Zhang sembari mengembuskan napas panjang. “Aku bahkan masih tidak bisa memercayai bahwa murid Raja kecil di kehidupan pertamanya, bisa mengkhianatinya dengan mudah.”

__ADS_1



Kedua tangan Yue Jian seketika mengepal erat. “Kita tak tahu apa yang sudah terjadi di kehidupan lama mereka. Namun …, aku tetap tidak bisa menerima ini.”


__ADS_2