Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
28


__ADS_3

Berhasil melewati Gapura Pertama, kini Yue Jian adalah orang pertama yang berhasil masuk dalam Gapura Kedua. Dalam Gapura ini, seperti Gapura Pertama, terdapat sebuah papan hitam melayang. Melihat itu saja, Yue Jian dapat memastikan bahwa di sini akan ada tes pengetahuan lagi.



“Apakah pertanyaannya masih akan seputar pengetahuan umum?” gumam Yue Jian, tidak berharap kalau tes kali ini akan menjadi jauh lebih susah dari sebelumnya.



“Selamat karena sudah mencapai Gapura Kedua!” ucap papan hitam. “Tes kali ini untuk menguji seberapa bisa kalian membuat strategi ketika bertarung!”



“Entah mengapa aku langsung menjadi khawatir pada Zhang,” kata Yue Jian. Dia tahu benar bahwa Zhang sangat buruk dalam mengatur strategi. Pemuda yang hanya menggunakan otot itu pasti akan langsung menerobos ke depan tanpa pikir panjang ketika dalam pertarungan.



“Sekarang, mari kita mulai!”



Pada tes kali ini, Yue Jian hanya perlu menjawab satu dari dua pertanyaan dengan benar. Namun, jawaban atas pertanyaan itu jauh lebih rumit dari sekedar pengetahuan umum. Dia harus menjawab dengan teliti dan tepat.



Pertanyaan pertama adalah tentang cara bertarung yang akan dilakukan oleh Yue Jian ketika berhadapan dengan banyak orang. Tentunya Yue Jian paham harus bagaimana. Dia menjawab kalau dia akan mencari tempat bersembunyi yang aman, lalu memasang perangkap.



Kemudian, pertanyaan kedua cukup berkaitan dengan pertanyaan pertama. Dan hanya dengan menjawab kedua pertanyaan itu, lagi-lagi Yue Jian menjadi orang yang pertama lolos dalam tes kedua. Pemuda ini memang sangat mengagumkan.



“Semoga dewi keberuntungan menyertaimu, Zhang,” kata Yue Jian sembari mengembuskan napas panjang, keluar dari Gapura Kedua melalui pintu keluar yang telah disediakan. “Aku sungguh khawatir pada anak itu.”


***


“Apa yang akan aku lakukan jika harus berhadapan dengan banyak pendekar sekaligus?” Zhang mengulangi pertanyaan yang ditunjukkan padanya. “Hm ….”



“Apakah kau mau menyerah pada pertanyaan ini?” tanya papan hitam.



“Hmph!” Terlihat Zhang menatap tajam papan hitam. “Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan!”


“Lalu, apa jawabanmu?”



Zhang mengamati dirinya selama beberapa saat, kemudian menjawab, “Karena aku kuat, maka aku akan menghadapi mereka semua secara langsung! Aku tidak akan kalah!”



“Salah!”



“Curang!” bentak Zhang. “Aku bilang aku ini kuat dan tak mungkin kalah!”



“Salah!” Papan hitam tetap tak menerima protes Zhang.


__ADS_1


“Kau pikir aku takut padamu, huh?!”



“Jawabanmu salah. Kau punya pertanyaan terakhir untuk dijawab.” Sangat jelas terlihat bahwa papan hitam tidak mau memedulikan ucapan Zhang.



“Cih!” Zhang tampak tidak senang sedikit pun. Namun, jawaban dari pertanyaan pertamanya telah salah, jadi sekali lagi dia dipaksa untuk berada dalam situasi kritis.



“Jika rencana awalmu untuk berhadapan dengan para pendekar itu,” ucap papan hitam. “Apa yang akan kamu lakukan dalam situasi itu?”



“Aku tahu—” Kali ini Zhang menahan diri untuk langsung menjawab. Dia merasa harus waspada kalau-kalau dirinya akan dicurangi oleh papan hitam ini. “Kali ini kau tidak akan bisa menipumu!”



“Siapa juga yang menipumu, Bocah bodoh?”



“Tentu saja itu kau! Hmph!”



Papan hitam pun diam, tidak mau lagi menanggapi ocehan Zhang yang tak pernah habis menuduhnya curang. Di sisi lain, Zhang berpikir keras tentang jawaban atas pertanyaan ini. Dia tidak boleh gagal sekarang!



Lalu, setelah berpikir selama beberapa waktu, dia tersenyum puas, sudah tahu apa yang harus dia ucapkan. “Hmph! Kali ini aku pasti akan menjawab dengan benar!”




“Jawabannya sederhana!” kata Zhang, berlagak seolah jawabannya sudah pasti benar. “Jika rencana awalku gagal, maka aku akan lari! Hahahaha!”



“Sayang sekali, jawabanmu salah!”



“He?” Seketika rasa percaya diri Zhang, sirna. “He? Apa tadi kau bilang?”



“Jawabanmu salah. Sayang sekali, kau gagal di tes kali ini.”



“Heeee?!” Zhang berteriak histeris. “Aku gagal?! Tidak mungkin!!!”



“Itu kenyataannya.”



“Bagiamana ini? Bagaimana ini?” Pemuda itu dengan panik berjalan ke sana kemari, bingung harus melakukan apa setelah mengetahui dirinya gagal. “Apa itu artinya aku sudah gagal dalam seleksi? Pulang, lalu ditolak guru. Terlantar. Tidak!”


__ADS_1


“Tenanglah makhluk bodoh.”



“Bagaimana aku bisa tenang dalam keadaan ini?!”



“Kau hanya gagal dalam tes di Gapura Kedua, bukan berarti harus didiskualifikasi.”



“He? Begitukah?” Zhang tidak percaya bahwa keberuntungan ternyata melindunginya sekali lagi.



“Kau masih bisa melanjutkan ke gapura berikutnya. Namun, kau hanya bisa lolos bila kau berhasil mencapai Gapura Kedelapan!”



“Baik! Aku akan melakukannya!”



“Silakan melanjutkan seleksi!”



“Aduh!”



Berbeda dari sebelumnya, kini Zhang keluar dari gapura dengan ditendang oleh papan hitam. Itu sebuah pengusiran karena pemuda ini tidak berhasil dalam menjawab tes di Gapura Kedua. Akan tetapi, dia tidak didiskualifikasi, karena dapat melanjutkan tes, meski dengan syarat.



“Aku pasti akan lolos dari seleksi ini!” ucap Zhang, penuh dengan semangat, lagi-lagi mendaki tangga tanpa ada beban sedikit pun.



Kini, kedua murid Luo Xiao sudah berhasil masuk dalam Gapura Ketiga. Seleksi yang sebenarnya sudah menunggu mereka untuk segera datang.


***


Aku akhirnya melihat Bocah ingusan keluar. Entah bagaimana dia bisa keluar, aku lebih baik tidak memikirkannya. Namun, satu hal yang terlihat jelas kali ini bahwa dia tampak sangat bersemangat. Apakah dia berhasil menjawab salah satu dari dua pertanyaan yang hampir mustahil untuk dia jawab itu?



Tidak mau terlalu dalam memikirkan bagaimana cara Bocah ingusan, aku lantas mengembuskan napas panjang, kembali menjadi tenang. Aku sejenak lantas memutuskan untuk tetap bertahan di tangga ke dua puluh delapan sedikit lebih lama, membiarkan para pendekar lain bergerak terlebih dahulu.



“Kurasa aku tidak perlu terburu-buru agar keberadaanku yang adalah seorang penyusup, terbongkar karena mendapatkan peringkat bagus,” gumamku, pelan, tidak terdengar oleh siapa pun.



Sejenak, aku melirik ke belakang. Terlihat bahwa jumlah peserta kian berkurang. Mereka sepertinya tidak terlalu menghadapi kesulitan di dua gapura sebelumnya, tetapi tingkat gravitasi ini kurasa membuat mereka menyerah. Bahkan, ada beberapa pendekar yang masih bertahan di anak tangga ke dua puluh satu.



Aku pun memalingkan pandangan ke sekitar. Dari sini aku dapat melihat bahwa pendekar seperti Shi Li dan Mu Lan sudah berhasil masuk ke dalam Gapura Ketiga. Setelahnya beberapa pendekar lain langsung menyusul masuk, sedangkan aku tetap diam, berpura-pura kesusahan untuk melangkahkan kaki. Padahal, kenyataannya sangat berbeda jauh.



“Baiklah, saatnya pergi,” gumamku ketika merasa sudah saatnya masuk dalam gapura lagi. Sembari berjalan, aku terus berdoa agar tes kali ini lebih mudah daripada tes sebelumnya. “Kau lebih baik berdoa lebih banyak pada dewi keberuntungan, Bocah ingusan.”

__ADS_1



Semenjak memasukki Gapura Kedua, aku yang pesimis Bocah ingusan dapat lolos, kini menjadi semakin pesimis. Tidak kusangka, Bocah ingusan yang hanya bisa mengandalkan otot di setiap situasi itu, dipaksa untuk menggunakan otaknya sekarang.


__ADS_2