Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
36


__ADS_3

Matahari sudah bersinar terang, orang-orang mulai beraktivitas seperti semula, memadati jalan raya. Di antara orang-orang itu, terlihat Yue Jian dan Zhang yang sedang bergerak menuju suatu tempat. Tentu tempat yang mereka tuju adalah Perguruan Tanah Merah.



“Akhirnya kita secara resmi akan menjadi murid di Perguruan Tanah Merah, ya, Yue Jian?” kata Zhang, seperti tidak tahu harus membahas apa.



“Apa kau menyesal telah masuk perguruan ini?” jawab Yue Jian dengan melemparkan pertanyaan lain.



“Tidak juga. Aku hanya tak percaya kalau Raja kecil itu benar-benar menyuruh kita belajar di perguruan bobrok ini.”



“Perguruan bobrok? Apa kau pikir kau adalah guru?”



“Tapi dari prespektif Raja kecil, perguruan ini memang bobrok, kan? Apa salahnya aku memakai standar yang sama dengannya?”



“Kita sudah tak seperti dulu lagi, ya, Zhang.” Yue Jian tahu mengapa Zhang mengatakan bahwa Perguruan Tanah Merah ini bobrok. Namun, jika melihat kembali ke belakang, Yue Jian tahu mereka dulu menganggap bahwa Perguruan Tanah Merah ini sangat bagus kualitasnya.



Tidak terasa waktu berjalan, mereka akhirnya tiba di gerbang Perguruan Tanah Merah. Seperti yang dapat dibayangkan, masih terlihat beberapa pendekar yang diusir masuk karena tidak lolos, tetapi tetap berharap untuk menjadi murid perguruan ini. Mereka memang pantang menyerah, tetapi cara mereka tidak baik untuk ditiru.



“Kalian berdua berhenti di sana,” kata seorang penjaga yang memegang tongkat, menghentikan langkah Yue Jian dan Zhang.



Sebelum kedua pemuda itu menjawab, seseorang sudah membantu mereka menjawab, “Selamat datang kembali, pendekar peringkat 65 dan 70 yang baru.”



“Tuan Xian Ji?” penjaga tadi segera hormat pada pemuda gendut yang berjalan dengan diikuti dua pengawal pribadinya.



“Minta maaflah pada mereka.”



“Baik, Tuan.” Penjaga tadi lantas membungkukkan badan pada Yue Jian dan Zhang, berkata, “Maafkan atas ketidaktahuan saya.”



“Itu tak perlu ….” Yue Jian melambaikan tangan, tidak menganggap bahwa penjaga tadi salah.



“Xian Ji, bagaimana lukamu?” Zhang segera menyapa Xian Ji.



“Hahaha! Zhang, aku sangat baik!” Xian Ji menepuk pelan pundak Zhang. “Aku bahkan sudah mendapatkan peringkat 100-ku kembali!”



“Sungguh?!”

__ADS_1



“Tentu saja! Aku punya kekuatan untuk melakukannya!”



“Zhang, ayo segera melapor.” Yue Jian sepertinya sedang dalam keadaan tidak ingin bertegur sapa dengan orang lain. Mungkin jiwa introvertnya muncul tiba-tiba.



“Kalau begitu, aku duluan, ya, Xian Ji!” Zhang melambaikan tangan sembari berjalan mengikuti Yue Jian.



“Ya. Semoga beruntung.” Xian Ji pun melambaikan tangannya, lalu pergi ke tempat lain bersama dua pengawal pribadinya.



Setelah berjalan cukup jauh ke dalam Perguruan Tanah Merah, Yue Jian dan Zhang lantas melihat ada beberapa tenda registrasi dengan nama yang berbeda-beda. Setidaknya ada tiga tenda registrasi, yaitu Tenda Biasa—yang sekarang memiliki antrian panjang, selanjutnya ada Tenda Atas—yang antriannya hanya dua orang, dan terakhir adalah Tenda Istimewa—tidak ada antrian sama sekali.



“Sepertinya Tenda Biasa bagi mereka yang menaklukan Gapura Ketujuh, Tenda Atas untuk yang menaklukan Gapura Kedelapan dan Kesembilan. Terakhir, Tenda Istimewa untuk mereka yang menaklukan Gapura Kesepuluh,” kata Yue Jian, menyimpulkan setelah mengamati selama beberapa saat.



“Ayo kita ke Tenda Istimewa!” Zhang tampak tak sabar dan langsung menuju tenda yang dia sebutkan.



“Pada akhirnya, kaulah yang paling semangat di sini.” Yue Jian mengembuskan napas panjang, menyusul di belakang Zhang.



Setibanya di Tenda Istimewa, Zhang memberikan undangannya, lalu diperiksa oleh petugas yang ada di sana, untuk memastikan. Tidak hanya memastikan undangannya asli, melainkan juga memastikan bahwa Zhang sungguh peserta yang lolos.




“Sekarang giliranku,” Yue Jian pun maju, lalu petugas mulai memeriksa pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kali.



Si petugas memastikan benar bahwa pemuda di depannya ini merupakan pemuda yang lulus dengan nilai tertinggi di seleksi kali ini, serta tak lupa memeriksa undangannya. Lalu, tak lama berselang, akhirnya petugas itu mengambil kesimpulan.



“Kau memang pemuda yang berbakat,” kata petugas itu yang kemudian memberikan batu yang sama seperti yang dia berikan pada Zhang. “Ini tanda pengenalmu. Selamat telah meraih peringkat 65 meski baru saja masuk dalam Perguruan Tanah Merah.”



“Terima kasih.” Usai mengambil batu itu, Yue Jian berbalik, lalu berjalan menjauh dari tenda.



Awalnya Yue Jian kira bahwa hanya dia dan Zhang yang berhasil menaklukan Gapura Kesepuluh. Ternyata dia salah. Buktinya ada orang lain yang menutupi dirinya dengan jubah dan tudung hitam yang juga mengambil tanda pengenal di Tenda Istimewa. Namun, tentu Yue Jian tidak tahu pasti orang itu telah mengambil peringkat berapa.



“Kalau aku tak salah, selanjutnya kita harus menuju lapangan di tengah perguruan,” kata Yue Jian sembari melirik ke sekitar.



Zhang memiringkan kepala. “Untuk apa? Bukankah kita sudah mendapat tanda pengenalnya?”

__ADS_1



“Kau memang bodoh atau tidak memerhatikan undangan itu?”



“Huh? Aku tak paham dengan apa yang kau bicarakan?”



“Sudahlah, ayo ikut aku!” Yue Jian menarik Zhang ke suatu tempat. “Setelah mendapat tanda pengenal, kita akan memilih cabang mana yang mau kita masuki di Perguruan Tanah Merah ini!”



“Ah …, aku paham. Itu seperti yang dikatakan oleh tetua Yi Xian, ya?”



“Ya, seperti itu.”


***


Hari ini adalah hari di mana kedua muridku, yaitu Yue Jian dan Bocah ingusan akan memilih cabang di Perguruan Tanah Merah. Apakah kalian pikir aku akan menguntit mereka?



Jangan bercanda! Aku tidak pernah menguntit mereka! Aku hanya ingin mengawasi mereka sehingga tetap aman dan aku tahu apa yang mereka lakukan! Hanya itu saja. Tidak lebih atau pun kurang.



Hm … sepertinya mereka bertemu lagi dengan pemuda gendut yang dijaga oleh dua pengawal itu. Apakah pemuda itu begitu hebat sampai-sampai Bocah ingusan terlihat akrab dengannya? Aku tak tahu.



Aku lantas menutup tubuh dan wajahku dengan jubah dan tudung hitam. Tentunya keramaian di sini membuat aku dapat masuk ke dalam Perguruan Tanah Merah tanpa diketahui, walaupun tanpa penyamaran dan penjagaan begitu ketat di dalam sini.



“Kalian ingin menemukanku? Itu tak mungkin.”



Aku terus berjalan, kemudian berhenti dan menyembunyikan diri di dalam kerumunan orang. Dari sini aku melihat Yue Jian dan Bocah ingusan sedang bercakap-cakap, kemudian pergi ke tenda paling sepi. Aku rasa itu adalah tenda untuk orang-orang yang berhasil mencapai Gapura Kesepuluh.



Singkat cerita, Bocah ingusan dan Yue Jian telah mendapatkan tanda pengenal mereka. Namun, Yue Jian sepertinya sedikit terkejut melihat ada orang lain yang juga mengambil tanda pengenal di tenda yang sama dengannya.



Menurutku, keterkejutannya cukup wajar bila dilihat dari prespektifnya, tetapi dari prespektifku, ada satu atau dua orang lain yang berhasil mencapai Gapura Kesepuluh bukanlah hal yang mengejutkan. Sebagai Raja Daratan aku sudah melihat banyak hal di dunia ini!



Tak lama kemudian, Yue Jian menarik Bocah ingusan pergi ke suatu tempat. Aku tentunya pergi diam-diam mengawasi mereka dari kegelapan.



Sudah kubilang aku bukan penguntit! Aku adalah guru yang bertanggungjawab atas keselamatan muridku!



Kemudian, setelah berjalan selama beberapa saat, mereka tiba di sebuah lapangan. Di sini terdapat cukup banyak pendekar, dan di lantai atas terlihat tujuh orang tua yang mungkin adalah tetua di perguruan ini.


__ADS_1


Omong-omong, tujuh orang tua yang terdiri dari lima pria dan dua wanita itu sangat lemah. Mungkin saja Yue Jian dapat mengalahkan mereka. Perguruan ini benar-benar perguruan bobrok!


__ADS_2