
Bagaimana aku harus mengatakannya, ya? Pertarungan tadi menurutku sangat-sangat di luar ekspektasi, tetapi bukan dalam artian yang positif. Aku harus mengakui bahwa pertarungan tadi itu begitu sangat luar biasa membosankan. Pertarungan anak kecil yang baru memegang pedang.
Berbeda dengan aku yang tak bereaksi apa pun, Huo Lin tampak sangat menikmati dan terpesona oleh pertarungan antara Mu Lan dengan Shi Li. Bukan hanya Huo Lin, tetapi para penonton juga terpesona.
Beruntungnya, sebelum aku beranjak pergi dari kursi penonton, aku mendengar pembawa acara menyebutkan nama Bocah ingusan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk duduk dan menunggu di sini, melihat apakah Bocah ingusan itu akan kesulitan atau tidak.
Jujur saja, bila dia kesulitan di sini, aku akan segera memecatnya dari jabatan muridku! Sekurang-kurangnya, dia wajib mengalahkan musuhnya dalam waktu kurang dari 2 menit saja! Lebih dari itu, aku akan membuatnya meresapi kecerobohannya!
“Apa orang bernama Xuan Chen itu sungguh seorang pangeran di kota Angin ini, Huo Lin?” tanyaku pada gadis di sebelahku.
Huo Lin menggelengkan kepala. Dia tampak tak senang melihat Xuan Chen. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang begitu mengidolakan pemuda yang tampak begitu lemah itu.
“Dia bukan seorang pangeran,” ucap Huo Lin. “Dia hanya seorang pendekar muda yang sangat berbakat. Para gadis itu pasti mengidolakan dia karena menganggap dia tampan dan jenius.”
“Tapi kau sepertinya berbeda dari mereka.”
“Jangan samakan aku dengan gadis-gadis bodoh itu!”
“Iya, iya. Aku hanya bercanda.”
Dari reaksi Huo Lin, aku mengerti kalau gadis ini sangat-sangat tidak menyukai Xuan Chen. Mungkin karena pemuda itu berasal dari Ras Naga Manusia, sama sepertinya dirinya? Siapa yang tahu.
Aku pun kembali mengarahkan pandangan ke arena. Di sana terlihat Zhang yang berusaha menutupi kekesalannya. Mari kita lihat kekuatannya!
***
*Aku akan merobek-robek kulitmu hingga taka da lagi yang bisa mengenalimu*! pikir Zhang sembari menatap tajam ke depan. Tak diragukan lagi kalau pemuda ini tak berniat untuk memenangkan pertarungan begitu saja, tanpa membuat rasa kesalnya hilang.
Di sisi lain, Xuan Chen terlihat tenang dan sangat percaya diri terhadap kekuatannya. Dia bahkan tampak tidak menganggap kalau Zhang merupakan lawan sepadan baginya.
“Aku ingin mengingatkanmu sekali lagi, pendekar kampungan,” kata Xuan Chen. “Kau tak sepadan denganku! Orang yang dapat menjadi lawanku hanya Fang Chu! Apa kau paham?”
__ADS_1
Kalimat itu jelas membuat Zhang yang sudah kesal menjadi tambah naik pitam. Pemuda itu menjawab, “ Baik … aku akan membuatmu membuka mata lebar-lebar! Kaulah yang tidak pantas menjadi lawanku! Bahkan Fang Chu itu pun tak pantas!”
“Huh!” Xuan Chen tampak menatap rendah Zhang. “Pendekar dari Ras Manusia Naga tidak akan pernah dikalahkan oleh ras selain Ras Manusia Qi Lin!”
Zhang mengepal erat kedua tangannya, masih menahan diri untuk langsung menghajar Xuan Chen. “Ras Manusia Murni adalah ras yang menaklukan semua hewan!”
Melihat situasi menjadi semakin riuh dan penuh dengan antusiasme, pembawa acara akhirnya memulai pertarungan, “Karena kedua peserta sudah masuk dalam arena, maka pertarungan dengan ini dimulai!”
Penoton segera bersorak, memberikan dukungan mereka. Akan tetapi, sorakan tersebut segera berakhir kala Zhang menghentakkan kakinya, membuat sebuah tangan tanah besar mencuat dan menghantam Xuan Chen hingga terkapar.
“Pangeran Xuan Chen!!!” para penonton perempuan segera berteriak histeris.
“Pengeranku!!!”
“Dia pasti telah berbuat curang pada Pangeran Xuan Chen!”
Meski teriakan tersebut terdengar jelas di telinga, Zhang tidak mau menggubrisnya walau hanya sebentar. Pemuda itu terlihat masih belum puas menyerang Xuan Chen.
“Huh!” Zhang tersenyum puas. “Wajah bonyok itu jauh lebih pantas untukmu!”
Tanpa ragu sedikit pun, Zhang menciptakan tembok tanah, menghadang serangan Xuan Chen. Jelas tembok tanah itu sangat kuat hingga naga emas Xuan Chen tak sanggup menghancurkannya. Sebaliknya, naga itu yang hancur berkeping-keping.
“Brengsek! Apa yang sudah kau lakukan pada wajah pangeranku!” salah seorang penonton perempuan bersorak, lalu melemparkan sampah pada Zhang.
“Kau pasti berbuat curang! Akui saja kecuranganmu, jelek!” Penonton lain mulai ikut melemparkan sampah pada Zhang.
Kini, Zhang menjadi bulan-bulanan karena para penonton perempuan melemparinya dengan sampah dan mengatainya. Pemuda itu sungguh bernasib malang.
Bukannya marah dan melempar balik sampah-sampah tersebut pada para penonton perempuan, Zhang malah menunjuk ke arah penonton, berkata, “Ini adalah pertarungan pendekar, bukan audisi adu ketampanan.”
__ADS_1
Hanya dengan satu kalimat itu, para penonton perempuan berhenti melempari Zhang dengan sampah. Kemudian, para penonton laki-laki pun mulai beraksi.
“Dia benar! Ini adalah pertarungan antar pendekar!” seorang penonton laki-laki lantas membenarkan argumen Zhang.
“Itu benar!” Penonton lain menambahi.
“Kalian para perempuan hanya memandang fisik saja!”
“Apa kau bilang, laki-laki brengsek?!” penonton perempuan membalas.
“Kalian yang hanya memandang fisik!” perempuan lain memperkeruh suasana.
*Haha …, aku sebenarnya tak berniat ini untuk terjadi*, pikir Zhang, tertawa kaku. Awalnya dia hanya ingin mengatakan apa yang ada dalam kepalanya, tetapi sekarang dia malah menjadi orang yang membuat penonton ribut.
“Perhatian, hadirin sekalian!” Sang pembawa acara membuat para penonton menjadi tenang karena perhatian mereka teralihkan. “Sebaiknya jangan bertengkar di sini, karena pertarungan masih belum berakhir!”
Zhang pun tak mau memikirkan apa yang telah terjadi karena dirinya. Dia kembali fokus mengarahkan pandangan pada Xuan Chen yang memegangi wajahnya. Jelas bahwa pukulan dari serangan Zhang tadi membuat wajah Xuan Chen terluka.
“Karena tadi kau dengan baik hati hendak memberiku waktu untuk menyerah, maka sekarang aku akan membalasnya,” ucap Zhang, terdengar puas. “Aku sedang dalam suasana hati yang baik, jadi aku akan mempersilakanmu untuk segera menyerah.”
“Menyerah katamu?!” jelas Xuan Chen terlihat sangat marah. “Aku, seorang Xuan Chen, salah seorang pendekar termasyur di kota Angin ini, menyerah?! Jangan bercanda!”
Xuan Chen segera mengipaskan kipasnya ke depan, lalu muncullah begitu banyak lingkaran yang langsung meluncurkan serangan berbentuk pisau kecil. Pisau-pisau berwarna ema situ melesat cepat ke arah Zhang yang sudah memasang raut wajah kemenangan.
“Kalau kau tak mau menyerah.” Pemuda itu menghentakkan kakinya. “Maka matilah segera!”
Hanya dengan satu hentakan kaki, Zhang berhasil membuat Xuan Chen terbang keluar arena karena pukulan tangan tanah yang muncul tiba-tiba. Pemuda itu terlihat sangat puas dengan hasil pertarungan ini. Selain itu, serangan Xuan Chen tadi juga dapat ditahan oleh Zhang hanya dengan dinding tanah, sehingga Zhang tak mendapatkan luka apa pun.
“Dengan ini pertarungan berakhir!” Pembawa acara mengumumkan. “Pemenangnya adalah, Zhang si pendekar misterius!”
__ADS_1
***
Dia melakukannya lebih dari 2 menit. Sebagai guru yang baik, aku harus membuatnya merenungkan kesalahannya!