Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
26


__ADS_3

Suka atau pun tak suka, aku harus menyamarkan diriku di antara para peserta yang lolos. Tentunya aku berusaha untuk tak terlihat atau pun disadari oleh semua orang yang ada di sini. Agar rencana tersebut dapat berjalan lancar, aku pun memanfaatkan tubuhku yang kecil untuk menyelinap di antara para pendekar lemah ini.


Tidak lama menunggu, akhirnya tiba seorang pria tua dengan janggut dan rambut putih panjang. Pria itu datang dengan melayang di udara, menunjukkan kalau dirinya lebih hebat dari semua pendekar muda yang ada di sini. Namun, aku tahu dengan pasti bahwa pria tua ini pasti takkan sanggup untuk mengalahkan Yue Jian dan Bocah ingusan.


“Perhatian, semuanya!” ucap pria tua itu, membuat perhatian semua pendekar calon murid Perguruan Tanah Merah, terarah seluruhnya padanya. “Aku adalah Yi Xian, secara khusus akan memandu kalian dalam melaksanakan seleksi kedua kalian untuk memasuki perguruan kami!”


“Dia sungguh tetua Yi Xian?” para pendekar muda mulai berbincang-bincang.


“Tak kusangka kita akan langsung dibimbing oleh tetua itu ….”


“Auranya memang sangat berwibawa!”


“Orang hebat memang beda.”


Mereka ini terlalu mudah kagum. Pria tua itu tidak lebih dari hanya sekedar tua bangka yang sebentar lagi akan meninggal. Padahal sudah di usia seperti itu, tetapi masih tidak terlalu menguasai kekuatan elemen. Apa yang patut dibanggakan?


Ah, sudahlah. Aku hampir melupakan bahwa memang standar pendekar di zaman sekarang ini memang sangat rendah.


“Semuanya, dengarkan!” Pria tua bernama Yi Xian itu kembali mengambil perhatian. “Dalam seleksi ini, kalian akan mendaki tangga. Tentunya ini bukan sekedar tangga biasa, melainkan tanggap yang setiap kalian menginjakkan kaki di atasnya, kalian akan merasakan tarikan gravitasinya menjadi semakin kuat!


Selain itu, di setiap tangga ke sepuluh akan ada sebuah gapura. Untuk melewati gapura itu, kalian harus menyelesaikan tantangan yang ada di dalamnya. Apa kalian sudah paham?”


Salah seorang pendekar mengangkat tangan, bertanya, “Berapa banyak anak tangga yang harus kami lewati agar lolos dalam ujian?”


“Pertanyaan bagus.” Yi Xian mengelus janggutnya sebentar. “Dalam seleksi ini terdapat seratus tangga dengan sepuluh gapura. Jika kalian sanggup menggapai gapura ke 7, walau tidak menyelesaikannya, kalian dianggap lulus!”

__ADS_1


“Kita tidak perlu menyelesaikannya. Ini pasti mudah,” gumam seorang pendekar.


“Aku pasti akan lolos seleksi ini,” gumam pendekar lainnya.


Namun, seorang pendekar perempuan berkata lain, “Orang-orang lemah ini sangat tidak tahu di mana mereka berpijak.” Dia tampak sombong, dan kalau aku tak salah ingat, namanya Shi Li, gadis yang kalah di pertarungan pertama.


Aku kira mereka yang ada di sini hanya mereka yang menang di seleksi pertama, ternyata tidak sesederhana yang aku pikirkan. Cukup menarik untuk diperhatikan lebih jauh.


“Sebelum kalian semua ikut dalam ujian,” ucap Yi Xian. “Aku akan memberikan kalian waktu untuk mengundurkan diri.”


“Mengundurkan diri? Sudah sejauh ini kenapa harus mundur?!”


“Karena jika kalian mati di seleksi ini, Perguruan Tanah Merah tidak akan memberikan kompensasi. Jadi, semua yang terjadi pada diri kalian adalah urusan kalian pribadi,” Yi Xian menegaskan.


Tentu ucapan itu membuat beberapa orang menjadi goyah, lalu pergi. Dengan kata lain, mereka mengundurkan diri.


...***...


Seleksi kedua Perguruan Tanah Merah pun resmi dimulai. Dari apa yang aku perhatikan, sepertiga dari jumlah peserta telah mengundurkan diri karena peringatan Yi Xian. Artinya, peserta yang tersisa sudah memutuskan untuk mengambil risiko mati, sehingga masih berani menantang seleksi ini.


Untuk sekedar catatan, aku bukan peserta. Anggap saja aku penyusup.


Kemudian, setengah dari peserta mulai menaiki tangga. Mereka tampak tidak kesulitan, terlebih Yue Jian dan Bocah ingusan. Kedua pemuda itu berjalan di tangga dengan santai, hingga berhasil mencapai gapura pertama lebih cepat dari peserta lain.


Aku sendiri sengaja tidak segera mencapai gapura, karena harus bersembunyi di antara para pendekar lemah ini. Mereka mulai kesulitan naik dari tangga ke lima ke tangga ke enam. Meskipun ada pengecualian bagi pendekar muda seperti Shi Li, Mu Lan dan yang lainnya. Intinya mereka yang tampil bagus di seleksi pertama.

__ADS_1


Untuk mempersingkat waktu, aku pun menyamar dengan berada di antara orang-orang itu. Hanya dengan cara ini aku dapat memasuki gapura lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Kurasa tak apa sedikit membaur dengan orang-orang terkenal. Karena aku juga tidak akan langsung terkenal hanya karena hal sepele semacam ini, kan?


Menggelengkan kepala beberapa kali, aku lantas menengadah. Tidak aku sangka, aku ternyata dikirim ke dimensi lain. Selain itu, setelah melirik sekitar, aku tak melihat ada orang lain di sini. Itu artinya, setiap orang dikirimkan ke dimensi yang berbeda. Cukup mengesankan bahwa mereka masih memiliki benda sebagus ini di zaman yang bobrok ini.


“Apa ini?” gumamku kala melihat kupu-kupu perlahan terbang dan berkumpul di depanku. Kupu-kupu itu pun menyatu dan berubah bentuk menjadi sebuah papan berwarna hitam.


“Selamat datang di Gapura pertama, wahai peserta!”


Papan hitam itu berbicara? Ini sedikit creepy, tetapi mengesankan! Aku suka dengan sesuatu hal yang unik! Dan omong-omong, orang yang berhasil menciptakan alat ini patut untuk diapresiasi.


“Apa yang harus kulakukan untuk lolos seleksi?” Pertama-tama, aku harus memastikan apa yang harus kuselesaikan. Mungkin hal ini bisa membuatku menebak apakah Yue Jian dan Bocah ingusan akan lolos seleksi ini.


“Seleksi ini sangat sederhana!” jawab papan hitam. “Kau hanya perlu menjawab 10 dari 20 pertanyaan berbasis pengetahuan umum dariku!”


“Menjawab … pertanyaan, katamu?!” Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. “Bocah ingusan itu pasti akan segera tereliminasi oleh Gapura ini!”


Aku sudah kehilangan harapan pada Bocah ingusan. Aku yakin sembilan puluh sembilan persen bahwa anak itu akan gagal! Satu persen sisanya, kesempatan dia lolos, tak lebih dari hanya sekedar keberuntungan!


“Murid bodoh itu pasti akan segera ditendang keluar!” Aku menjadi kian histeris. Putus asa mendengar bahwa seleksinya juga menguji tentang pengetahuan pendekar.


“Tuan …,” ucap papan hitam, pelan. “Apakah kau ingin segera memulai ujian di Gapura Pertama ini?”


Baiklah, saatnya berdoa pada dewi keberuntungan bahwa dia akan menyelamatkan Bocah ingusan dalam seleksi ini. Dengan itu, aku lantas mengembuskan napas panjang, kembali pasrah pada keadaan.


“Ya. Segera mulai saja,” jawabku, tak acuh.

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh papan hitam memang tidak susah, hanya berlandaskan pada pengetahuan umum saja. Namun, aku sangat ragu kalau si Bocah ingusan yang hanya menggunakan otot itu dapat menjawabnya.


“Dia seharusnya dapat menjawab benar setidaknya 10 pertanyaan, kan?” Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan nasib murid bodohku itu.


__ADS_2