Reinkarnasi Pendekar Manusia

Reinkarnasi Pendekar Manusia
31


__ADS_3

Sialan, gadis ini gila! Dia tidak memberiku ruang untuk dimanfaatkan!



Shi Li terus menyerangku dengan tebasan pedangnya. Dia tidak memberi jarak yang panjang antar serangan yang diluncurkan. Ini merepotkan, dia membuatku harus berlari ke sana kemari untuk menghindar!



Baiklah, sudah aku putuskan! Aku akan membuatnya sedikit terkejut!



Aku segera melompat tinggi, menghindari serangan berbentuk setengah lingkaran berwarna ungu, dengan kecepatan tinggi dari Shi Li. Tentunya gadis bar-bar ini tidak segera menyerah melakukan serangan, melainkan terus menyerang.



“Pukulan alay pemecah batu!” Aku melepaskan jurus paling lemah yang dapat kulakukan, yaitu sebuah pukulan yang menghasilkan gelombang tinggi. Kendati itu adalah serangan paling lemah, ternyata tetap dapat membuat Shi Li terlempar keluar dari arena. Hal ini sungguh membuatku kembali bernapas lega.



Aku pun mendarat, melepas napas lega, karena tantangan ini akhirnya bisa kuatasi. Kuharap aku tidak menarik perhatian siapa pun setelah ini! Serangan tadi murni sebuah kebetulan!



“Pemenangnya adalah Li Sang!” kata kotak kayu sembari menunjukkan pintu keluar padaku.



Omong-omong, aku di sini menyamar sebagai Li Sang, pendekar lemah yang masuk dalam seleksi tahap kedua karena beruntung. Sejujurnya, aku telah menyekap Li Sang di suatu tempat sebelum masuk ke sini.



Perlahan aku keluar dari Gapura Kelima, melihat sudah cukup banyak orang keluar. Tentunya sekarang Bocah ingusan sudah mendaki tangga kembali, sedangkan Yue Jian beristirahat di anak tangga ke lima puluh satu.


***


Yue Jian dan Zhang sengaja tidak langsung masuk ke dalam Gapura Keenam. Meski mereka adalah dua orang pertama yang berhasil keluar dari Gapura Kelima, mereka memutuskan untuk tidak terburu-buru.



Strategi yang hendak mereka lakukan tetap sama seperti strategi mereka sebelumnya, yakni membiarkan orang lain masuk ke dalam gapura terlebih dahulu. Untuk membuang waktu, mereka berdua pun bercakap-cakap.



“Omong-omong, Zhang, bagaimana kau bisa lolos dari Gapura Kedua? Kalau aku harus jujur, aku akan mengatakan bahwa kau tidak mungkin kau lolos dari sana.”



“Kau benar!”



“Hah?!” Yue Jian sontak memalingkan pandangan pada Zhang.



“Apa?” Zhang menaikkan sebelah alisnya. “Aku memang tidak lolos dari Gapura Kedua. Lalu?”



Mendengar itu, Yue Jian segera mengerti bahwa syarat untuk lolos dari seleksi kedua ini bukan menyelesaikan Gapura Pertama sampai Gapura Ketujuh secara berurutan. Namun, mereka hanya perlu menyelesaikan minimal tujuh gapura, maka mereka akan lolos.

__ADS_1



“Jadi, itulah mengapa aturannya berubah di Gapura Kelima …?” gumam Yue Jian.



“Apa yang sedang kau pikirkan?” Zhang memiringkan kepala.



“Tidak ada.” Yue Jian menggelengkan kepala. “Kalau pun ada, kau tidak akan mengerti.”



“Kau tak salah sih. Tapi entah kenapa itu sedikit menyakitkan.”



“Sudahlah. Sekarang kau yang duluan saja,” kata Yue Jian kala melihat ada satu orang yang telah berhasil masuk ke Gapura Keenam dengan susah payah.



“Ya!” Zhang segera melangkah ke anak tangga ke lima puluh dua, tetapi dia langsung merasakan tekanan gravitasinya berbeda jauh dari sebelumnya.



“Kenapa?”



“Tarikan gravitasinya berkali-kali lipat dari sebelumnya …,” ucap Zhang, berusaha mendaki perlahan-lahan.




“Aku menunggumu di tangga ke enam puluh satu, Yue Jian!” kata Zhang, berjalan pelan ke atas.



“Aku akan segera menyusul!” Yue Jian sedikit pun tidak ragu.



Sesuai dengan ucapannya, Yue Jian sengaja menunggu selama beberapa saat, setelah Zhang masuk ke dalam Gapura Keenam. Pemuda itu pun segera melangkah ke anak tangga ke lima puluh dua, tetapi seperti ucapan Zhang, tarikan gravitasinya memang luar biasa.



Namun, mengandalkan kemampuannya dalam mengontrol Chi dalam dirinya, Yue Jian bisa melangkah perlahan mendaki anak tangga. Melihat Yue Jian sedikit kesusahan, para pendekar lain pun mulai berbisik-bisik.



“Pendekar kuat itu pun mulai kesusahan mendaki,” kata pendekar berambut panjang. Napasnya terengah-engah, tetapi tetap mencoba mendaki.



“Anak tangga ini pasti sudah jauh lebih kuat dari sebelum-sebelumnya!” kata pendekar lain.



“Kalau tidak begitu, dia pasti tidak akan terlihat kesusahan seperti itu, kan?”

__ADS_1



Tidak mau menghiraukan semua ucapan para pendekar itu, Yue Jian terus melangkah sesuai dengan ritme yang digunakannya. Kendati memang benar dia sedikit kesulitan di sini.



“Tapi ini tidak sesulit saat aku berlatih dengan guru!” kata Yue Jian yang akhirnya berhasil mencapai Gapura Keenam. Dia pun segera masuk tanpa menunggu apa pun, karena memang tidak ada yang mau ditunggu.



Dalam Gapura Keenam, lagi-lagi dia berada dalam sebuah arena. Yue Jian pun bertanya-tanya apakah tesnya akan sama seperti sebelumnya, bertarung satu lawan satu?



Akan tetapi, berbeda dari apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, tes kali ini memiliki sedikit perbedaan. Perbedaan tersebut akan segera diungkapkan oleh papan hitam yang melayang di tengah arena.



“Selamat datang di Gapura Keenam,” kata papan hitam itu. “Silakan menunggu sebentar, teman dan musuhmu akan segera datang.”



“Teman?” Tepat ketika Yue Jian mengatakan kata itu, di pakaiannya kini terpasang sebuah pita berwarna merah. “Apa ini?”



“Bersabarlah sebentar. Teman dan musuhmu akan segera tiba,” kata papan hitam.



“Baiklah ….” Yue Jian hanya dapat menurut dengan pasrah.


***


Sekarang kedua muridku sudah masuk ke dalam Gapura Keenam. Kurasa aku juga harus segera masuk ke sana. Tapi, aku sedikit penasaran, mengapa mereka terlihat sedikit kesulitan dalam mendaki tangga, padahal sebelumnya biasa saja.



Aku pun segera menginjakkan kaki ke anak tangga ke lima puluh dua. “Ternyata begitu.” Sekarang aku paham bahwa tarikan gravitasi di sini jauh lebih kuat dari pada anak tangga sebelum ini. “Apakah Perguruan Tanah Merah sungguh-sungguh menyaring para pendekar berkualitas? Aku sedikit tidak menduganya.”



Menggelengkan kepala sejenak, aku mulai menaiki tangga dengan berpura-pura sangat kesulitan. Omong-omong, berpura-pura lemah itu adalah sesuatu yang sesungguhnya sulit untuk dilakukan. Aku saja, seorang Raja Daratan masih kesusahan melakukan ini.



Beberapa saat kemudian, aku akhirnya berhasil mencapai Gapura Keenam dengan sangat susah payah. Susah payah berpura-pura menjadi payah maksudku.



Aku masuk ke dalam Gapura Keenam, dan lagi-lagi aku berada di atas arena. Kemudian, sebuah pita berwarna biru muncul di dada secara tiba-tiba. Aku menjadi ingin tahu apa yang akan menjadi tes kali ini.



“Kau lagi?!”



“Kau?!” Aku lengah. Aku ternyata kembali bertemu dengan Shi Li, gadis yang sangat menyulitkan aku di Gapura Kelima! Omong-omong, dia memiliki pita berwarna biru juga sepertiku, sementara dua pendekar lain yang baru saja tiba malah mengenakan pita merah. Apa maksudnya ini?


__ADS_1


“Selamat datang di Gapura Keenam,” kata papan hitam. “Karena semua peserta telah berkumpul, aku akan menjelaskan secara singkat apa yang perlu kalian lakukan untuk lolos dari tes ini.


__ADS_2