
Hm … aku bertanya-tanya, sejauh apa aku harus berjalan agar bisa tiba di ujung jalan setapak yang terasa cukup panjang ini? Apakah dia akan membawaku ke sebuah desa, kota, atau semacamnya? Mungkin.
Sejenak aku mengamati sekitar, tetapi tidak ada hal berarti yang aku temukan. Semua hutan memang sama saja, walaupun hari sudah malam.
Kata orang, hutan di mana hari itu menakutkan, tetapi aku merasa bahwa aku paling menakutkan di sini. Faktanya memang tidak ada yang berani mendekatiku, makanya aku dapat mengklaim bahwa aku paling menakutkan.
Akan tetapi, mendadak aku menyadari ada serangan yang melesat cepat, hendak menghantam kepalaku dari belakang. Aku sontak melompat ke samping, menghindar, kemudian berbalik. Namun, kali ini datang lagi serangan dari arah sebaliknya.
Sama seperti sebelumnya, aku melompat ke samping untuk menghindar, tetapi serangannya kali ini jauh lebih kuat. Hanya dengan sebatang anak panah, dia mampu membuat lubang cukup besar di tanah yang terkena serangannya.
“Keluar kau!”
Aku yakin dia tidak akan dengan bodohnya keluar sekarang, tetapi aku harus memanfaatkan sedikit waktu yang ada untuk melacak keberadaannya. Sayangnya, usahaku sia-sia! Aku tidak bisa melacak orang yang menyerangku.
“Semakin lama … aku merasa semakin tidak berguna! Serangga kecil saja tidak dapat kulacak. Sialan!”
Ini sangat menyebalkan, di mana aku harus menelan fakta bahwa ada orang yang jauh lebih kuat dariku sekarang. Namun, aku tidak akan kalah! Meski seisi dunia menentang, aku tetap tidak akan kalah!
Itu bukan hanya sebuah kata-kata penyemangat, tetapi aku akan melakukannya. Sekarang atau nanti, semua sama saja asalkan bisa dilakukan.
“Tunggu sampai kekuatanku pulih sepenuhnya. Apakah itu dewa atau manusia, aku akan meratakan kalian!”
***
Ketika matahari pagi sudah terbit dari ufuk timur, aku akhirnya tiba di sebuah kota. Ini adalah akhir dari jalan setapak tadi.
Kota ini harus kubilang cukup ramai, di mana terdapat begitu banyak pendekar lemah berkeliaran. Aku tidak terlalu peduli sih, sekarang aku hanya perlu mencari satu tempat makan untuk mengisi perut terlebih dahulu.
Namun, lagi-lagi rencanaku berubah. Itu saat di mana aku melihat seorang gadis sedang ditindas oleh beberapa pria tua yang tidak ingat umur. Sungguh mengenaskan.
“Kau adalah keturunan Ras Manusia Qi Lin, tetapi kau cacat! Kau tidak pantas untuk hidup!” kata salah satu dari tiga pria tua itu.
“Ras Manusia Qi Lin tidak menerima orang cacat!” sahut pria tua lain.
“Aku tidak cacat!” jawab si gadis, merintih kesakitan.
“Kau ini tidak berguna! Sebentar lagi kau akan menyusul ayah dan ibumu!”
Keributan itu tentu memancing orang-orang di sekitar untuk berkomentar. Mereka jelas tidak berani bertindak, tetapi mulai berbisik satu sama lain.
__ADS_1
“Kasihan sekali gadis itu ….”
“Itu adalah risiko dari terlahir di ras nomor satu di dunia.”
“Mereka tidak akan mengampuni orang yang tidak bisa berkultivasi. Malang sekali nasibnya ….”
Daripada ikut berkomentar tidak jelas, sesuai dengan janjiku di makam nenek itu, aku memutuskan untuk bertindak. Orang baik pasti mau mengorbankan dirinya sendiri, jadi aku rasa aku perlu melakukannya sekarang.
“Cukup sampai di sana, tua bangka!” kataku dengan nada merendahkan.
“Apa katamu?!” Seketika pria tua itu serentak menoleh padaku.
“Kau berani ikut campur dengan urusan Ras Manusia Qi Lin?!” kata pria tua yang berada di tengah. Dia benar-benar tidak menahan emosinya di depan umum.
“Habislah anak berjubah itu …,” kata orang-orang sekitar.
“Dia sangat berani menentang mereka ….”
Menutup telinga pada semua ocehan tak jelas itu, aku menjawab ucapan pria tua tadi, “Di dunia ini, aku tidak takut pada siapa pun.”
“Lancang!” Salah seorang pria tua segera melesat ke depan, menyerangku dengan satu pukulan. “Pukulan halilintar!”
“Argh!!!” Pria tua itu menjerit kala lengannya hancur terkena pukulanku. Dia jatuh berlutut, menahan darah keluar dari lukanya dengan tangan kiri.
“Kau berani!!!” Kedua pria tua lain segera menyerang ku bersamaan.
“Pukulan halilintar naga!”
“Pukulan jiwa harimau!”
“Pukulan halilintar!” Aku menyerang kedua pria tua itu menggunakan serangan yang telah kupatahkan tadi. Akan tetapi, karena aku yang menggunakannya, level serangan ini jauh berbeda dari apa yang bisa mereka perkirakan!
“Argh!!!”
Hanya dengan satu serangan, kedua pria tua tadi terhempas ke belakang. Mereka mendarat bersamaan sambil memuntahkan darah segar. Kurasa serangan tadi sudah cukup untuk membuat mereka menjadi pendekar cacat!
“Ras Manusia Qi Lin dan Raja Daratan tidak akan pernah memaafkanmu!” ancam pria yang pertama kali menyerang.
“Aku hanya membela diri, tidak lebih tidak kurang. Hasil ini hanya hasil membela diri.” Aku mengabaikan ketiga pria tua tadi, lalu mendekat pada gadis dengan rambut sebahu yang tampak tak percaya pada hasil pertarungan ini.
__ADS_1
Bukan hanya gadis ini, tetapi orang-orang sekitar yang tadinya hanya bisa berbisik-bisik, kini menjadi riuh, “Hebat!!! Dia di usia semuda ini bisa mengalahkan tiga pria tua brengsek itu!!!”
“Aku tadi sempat meragukannya, tetapi ternyata aku salah!”
“Dia sangat tampan dan berani!!!”
“Jadikan aku istrimu!!!”
“Jangan pedulikan mereka,” kataku pada gadis yang kini berdiri dengan bantuan uluran tanganku. “Aku akan menyembuhkan lukamu. Tapi sebelum itu ….”
“Hm?” Gadis ini untuk pertama kalinya bereaksi pada ucapanku. “Eeehhh?”
“Kita harus pergi dari keramaian ini!” Aku menggendong si gadis, lalu pergi dengan melompati kerumuman orang. Aku berlari di atas atap, kemudian masuk ke dalam hutan.
Di sini, aku menurunkan gadis ini yang tampaknya masih shock. Kurasa pertama-tama aku harus meminta maaf padanya karena mendadak menggendongnya tanpa permisi.
“Itu ….”
Belum sempat aku mengatakan maaf, tiba-tiba gadis ini berkata, “Terima kasih karena sudah menolongku ….”
Aku menggaruk kepalaku yang tidak sakit, merasa sedikit canggung. “Sudah sepantasnya aku menolong orang yang memerlukan pertolongan. Hahaha.” Aku diam sejenak, lalu melanjutkan, “Itu … aku minta maaf karena menggendongmu tiba-tiba.”
“Tidak ….” Si gadis menggelengkan kepala. “Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya kaget karena tiba-tiba digendong olehmu ….”
“Ah … baiklah.”
Aku tak tahu lagi harus menjawab apa. Haruskah aku langsung ke pokok pembicaraan? Tapi suasananya sangat tidak mendukung!
“Itu ….”
“Apakah ada yang salah?” Sialan … aku sedikit panik.
“Bisakah kau tidak menatapku seperti itu ….”
“Maafkan, aku!” Apa sih yang aku lakukan? Sekarang aku seperti seorang pria mesum yang memandangi seorang gadis yang pakaiannya terbuka. Aaaaa. Aku ingin segera pergi dari sini!
***
“Lancang!” Seorang pria berbadan kekar memukul sandaran lengan kursi singgasananya hingga hancur. “Berani sekali dia menginjak-injak harga diri Ras Manusia Qi Lin! Tidak akan kumaafkan!”
__ADS_1