
Kualifikasi As Human Beings. Jujur aku tidak tahu ini kualifikasi dengan tujuan seperti apa, tetapi kemungkinan besar menguji kelayakan sebagai manusia? Para dewa biadab itu lebih suka mengatur orang lain untuk bertindak seperti apa dibandingkan mengevaluasi tindakannya sendiri ternyata.
“Kurasa ini akan sedikit menghibur. Lagipula, aku tidak akan bisa keluar dari sini tanpa dapat menyelesaikan ujian tidak jelas ini, kan?” Aku pun melangkah ke depan, di mana dinding di belakang takhta ternyata merupakan sebuah pintu raksasa yang kini terbuka perlahan.
“Silakan masuk untuk mengikuti kualifikasi,” kata suara yang menggema dalam ruangan.
Sesuai dengan arahan, aku masuk ke sebuah ruangan di belakang pintu. Sesaat setelah aku masuk, pintu tadi tertutup rapat, lalu begitu banyak bola api melayang, menerangi jalan setapak di hadapanku.
Sejenak aku melihat sekeliling, lalu bergumam, “Cih, di sini hanya ada sebuah jalan setapak yang ujungnya belum terlihat, sedangkan di samping kira dan kanannya tampak seperti lautan yang tidak berujung.”
Di saat aku sedang mengamati sekitar, suara tadi lantas kembali berbicara, “Kau hanya boleh berjalan melalui jalan setapak. Jika kau berani menyentuh air di sekitarmu, kau akan segera mati.”
“Mati?” Aku menaikkan sebelah alis. “Kurasa aku sudah cukup mati sebanyak dua kali. Namun, jika akhirnya aku harus mati permanen tanpa reinkarnasi, mungkin jauh lebih baik.”
Apa yang menahanku untuk melompat ke aliran air yang menghimpit jalan setapak ini hanyalah keberadaan Ling Chen. Aku yakin sahabat terbaikku itu sekarang sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, mengejutkan murid-muridku dengan kemunculan tiba-tiba sepertinya bukan ide buruk.
“Jadi, apa yang harus kulakukan untuk lolos dari sini?” Aku perlahan melangkah ke depan. “Apakah hanya dengan terus berjalan menyusuri jalan ini aku bisa lolos?”
“Itu semua tergantung pada dirimu sendiri,” jawab si suara yang kemudian menghilang begitu saja.
“Pada akhirnya kau mengujiku untuk berpikir dan menebak ya.”
Seperti yang aku harapkan, tidak ada jawaban apa pun. Tapi terserahlah, aku juga tidak peduli. Sekarang aku hanya akan fokus menyelesaikan ujian tidak berguna ini.
“Ya, ini memang sangat tidak berguna.”
Aku segera menghentikan langkah kala mendengar suara itu. Tepat di depan sana, terlihat seorang pemuda dengan mahkota dan pakaian rapi berjalan mendekat. Dia … sangat mirip denganku.
__ADS_1
“Aku rasa kau meniru orang yang salah,” kataku pada pemuda itu.
“Kaulah yang peniru.” Pemuda itu menghentikan langkahnya kala berada cukup dekat di hadapanku. “Kau hanya kumpulan daging dengan penuh kebohongan dan ketidakjujuran, Luo Xiao. Sedangkan aku adalah Luo Xiao yang sesungguhnya.”
Aku tersenyum tipis, ingin menertawakan kenyataan ini. Namun, alih-alih tertawa, sebuah kalimat malah keluar dari mulutku, “Kau pikir kau sungguh aku yang sesungguhnya, ya? Seorang penipu sepertimu ternyata bisa membual juga meskipun aku berada tepat di sini. Di hadapanmu.”
“Itu karena aku mengatakan kejujuran, Luo Xiao.” Perlahan pemuda itu mengarahkan jari telunjuknya padaku. “Dengan kata lain, aku adalah kejujuran, sedangkan kau adalah kebohongan!”
Ada apa dengan orang ini? Apakah dia mencoba memprovokasiku? Maaf, tetapi trik murahan seperti itu tidak akan dapat menggerakkan hatiku. Apa pun yang kau ucapkan, tidak lebih dari kata-kata yang akan kutertawakan.
“Ingatlah lagi,” lanjut si pemuda, “berapa banyak nyawa yang sudah kau injak demi mencapai puncak? Sekarang kau pikir bahwa dirimu suci?”
Untuk sejenak, aku menundukan kepala sembari mengembuskan napas panjang. Itu memang kalimat yang terdengar sederhana, tetapi bagiku sangat berarti.
“Aku memang tidak pernah mengatakan bahwa diriku adalah orang suci,” kataku. “Namun, aku benci ketika ada orang mengatakan kalimat itu padaku, dengan nada angkuh seperti kau.”
“Aku memang munafik,” kataku, melesat cepat dan meluncurkan satu pukulan keras dengan tangan kanan. “Dan ini adalah pukulan orang munafik.”
Satu pukulan keras itu dapat ditahan oleh si pemuda peniru dengan menggunakan kedua tangannya. Namun, aku kembali meluncurkan serangan beruntun untuk mempersempit gerakannya.
“Itu percuma!” Dia menangkis semua seranganku, lalu meluncurkan serangan balasan. Gerakan ini … gerakanku!
Aku melompat mundur, tetapi dia malah melesat cepat ke arahku. Kali ini, dia mendesak dan mempersempit gerakanku menggunakan pukulan beruntun yang sama seperti aku tadi. Namun, memanfaatkan gerakan serangan baliknya tadi, aku berhasil memukul mundur pemuda ini.
Pemuda itu menjaga jarak sejenak dariku, lalu berkata, “Lihatlah, kita ini seimbang jika membandingkan kekuatan fisik! Namun, dari segi hati, aku adalah sosok yang paling jujur dari dirimu, Luo Xiao! Akulah Luo Xiao!”
Aku membuat sebuah bola api di telapak tangan kanan sambil menatap tajam ke depan. “Mungkin benar bahwa kau adalah aku, aku adalah kau. Tapi, aku lebih baik hidup dalam kebohongan untuk menyelamatkan mereka yang kusayang daripada harus hidup di neraka dengan kejujuran!”
__ADS_1
“KAU MUNAFIK!” Pemuda itu melapisi tubuhnya dengan kekuatan energi, kemudian melesat cepat padaku. “AKULAH YANG LEBIH PANTAS UNTUK HIDUP BEBAS DARIPADA KAU!”
“Aku tidak setuju.”
Pukulan bertabrakan dengan bola api, mungkin itu adalah yang terlihat. Namun, apakah ada orang yang bisa menangkap makna dari benturan kedua serangan itu yang bahkan sanggup membuat air di samping jalan setapak ini terbelah.
“Aku hidup untuk diriku!”
“Aku hidup untuk orang lain.”
Dua orang pemuda, memeluk satu sama lain sambil menutup mata. Itu adalah aku dan pemuda yang mengaku sebagai wujud hatiku yang paling jujur.
“Aku sudah berubah semenjak bertemu dengan Ling Chen,” gumamku, pelan.
“Aku tahu itu,” jawab si pemuda, “aku bisa melihatnya dari matamu.”
“Kita tahu apa yang kita lakukan.”
Sebuah akhir mengharukan? Kurasa tidak begitu ketika aku menusuk punggung si pemuda, dan dia menusuk punggungku menggunakan kekuatan energi yang dibentuk menjadi pisau.
“Argh ….” Aku segera melompat ke belakang, menutup lukaku dengan tangan kiri.
“Pada akhirnya kita tetap menemukan persamaan di antara kita, kan, Luo Xiao?” kata si pemuda tanpa memedulikan darah yang mengucur deras dari luka di punggugnya. “Kau tidak boleh terus hidup dalam kebohongan yang bisa menghancurkan dirimu sendiri! Dunia tidak mengharuskan kita untuk menjadi orang baik! Manusialah yang membuat kita, mengekang kita agar selalu mementingkan orang lain dibanding diri sendiri!”
“Kau mungkin benar ….” Aku merasa bahwa pandanganku mulai kabur. Luka yang dia berikan ternyata begitu dalam. Namun, aku tidak akan kalah! “Tapi, tanpa memedulikan mereka, untuk apa aku menjalani hidup?!”
Idealisme yang berbeda akan selalu menemukan titik di mana mereka akan berbenturan. Satu idealisme harus tunduk pada idealisme lain agar perselisihan di antara keduanya hilang. Dengan kata lain, benturan idealisme harus dimenangkan! Aku akan memenangkannya!
__ADS_1