Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 10 – Menantu vs Mertua –


__ADS_3

Albiru masih diam menunggu jawaban dari Binar. Melihat suaminya yang menunggu jawaban membuat Binar memaksakan senyumnya sebelum menjawab, “nggak Bi, ini urusan wanita. Sudah sana kamu masuk nanti aku nyusul.”


Albiru terdiam sebentar sebelum mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Melihat Albiru pergi membuat Binar dan Dinda bernapas lega.


 


“Kalo gitu saya pamit ya mbak, sekali lagi maaf.” Pamit Dinda yang segera pergi tidak ingin membuat Albiru curiga.


 


Binar segera menyusul Albiru, dia akan melakukan tugasnya sebagai istri yang baik yaitu melayani suaminya. Bahkan Binar sudah menyiapkan pakaian ganti Albiru dan sudah memasak makanan kesukaan suaminya. Binar pikir dia sudah berusaha sebaik mungkin, jika nanti mertuanya diam-diam masih mengeluh Binar tidak akan terima.


 


...****************...


“Kok makanan kesukaan mas Biru semua sih?” Protesan itu tentu saja datang dari Ella yang sudah memasang wajah cemberut andalannya.


Si mak lampir satu ini sudah kembali ke rumah dan mulai menganggu Binar.


Binar tersenyum tenang tidak ingin terpancing, “maaf Ella, mbak cuma pingin nyenangin mas kamu.”


Mendengar jawaban Binar sontak saja Albiru tersenyum senang berbeda dengan Ella yang semakin cemberut. Sedangkan Ibu Siti hanya diam saja tidak berkomentar apapun.


“Makasih sayang,” ucap Albiru tulus membuat Binar tersenyum malu.


Beruntung tidak ada Intan, jika tidak bisa dipastikan gadis itu akan semakin panas melihat kemesraan pasangan suami istri ini.


“Makan yang ada saja Ella, hargai makanan dihadapan kamu.” Ujar Ayah Latif tidak memedulikan tatapan kesal anak bungsunya. Sedangkan Fadli sudah asik dengan makanannya sendiri, sedang tidak berminat ikut campur.


“Mungkin Binar mau memanjakan mas kamu.” Binar menoleh saat mendengar ucapan Ibu Siti.


“Iya dong Bu, saya mau jadi istri yang pintar mengurus suami.” Balas Binar dengan senyum bangganya. Ibu Siti tampak terkejud mendengar ucapan Binar namun dia segera menutupi keterkejutannya dengan senyuman.


Binar menoleh kearah Albiru saat merasakan usapan lembut dikepalanya. Albiru yang tidak tahu apa-apa hanya mampu menatap bangga istrinya.


“Kamu sudah jadi istri yang baik, sudah mengurus aku dengan baik.” Ucap Albiru yang membuat senyum Binar semakin lebar.


Ibu Siti hanya menyaksikan dalam diam entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Sedangkan Ella sudah semakin kesal melihat tingkah Albiru yang semakin memanjakan istrinya. Ella tidak suka itu apalagi melihat Albiru membanggakan Binar.


Binar menoleh kearah Ibu Siti kemudian bertanya dengan polos, “gimana Bu, saya sudah jadi istri yang baikkan?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu membuat Ibu Siti semakin salah tingkah. Tidak menyangka Binar akan menyerangnya. Padahal kemarin Binar terlihat tak berdaya.


“Kalo itu tanyakan Biru kan dia yang jadi suamimu.” Jawab Ibu Siti dengan senyum canggungnya.


“Binar sudah jadi istri yang baik kok Bu buat Biru.” Dan Binar semakin terlihat bahagia mendengar Albiru secara tidak sadar membelanya.


Tadi setelah merenungi ucapan Dinda akhirnya Binar memutuskan untuk tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan melawan balik mertuanya dan akan membuktikan bahwa memilih menjadi wanita karir tidak salah karena dia bisa dengan baik mengurus suaminya.


...****************...


 


“Binar,” panggil Ibu Siti pelan.


Binar menoleh menatap Ibu mertuanya itu dengan pandangan bertanya. Mereka susah selesai makam malam dan saat Binar sedang mencuci piring.


“Iya Bu,” sahut Binar.


“Sebenarnya Ibu mau ngomong ini dari kemarin tapi belum ada kesempatan,” Ibu Siti diam sejenak menatap kearah pintu takut ada yang menguping pembicaraan mereka.


“Apa apa Bu?” tanya Binar bingung.


“Ibu minta maaf soal kemarin, kamu jangan masukan kehati ucapan Ibu-Ibu itu ya.”


“Nggak apa-apa kok Bu. Walaupun saya bingung apa maksud mereka, ini sudah kedua kalinya mereka bicara tentang pekerjaan Binar.”


“Maksud mereka baik kok, cuma mau mengingatkan.”


Tapi cara mereka salah, ucap Binar dalam hati.


 


Binar hanya tersenyum tanpa menjawab dan kembali melanjutkan pekerjaannya, Ibu Siti tahu dia harus diam sekarang. Sepertinya Binar sangat sulit dikendalikan, pikirnya.


...****************...


Saat ini Binar sedang meringkuk nyaman dalam pelukan Albiru. Belakangan ini dia sibuk dengan pikirannya sendiri hingga lupa bermanja-manja pada Albiru.


 


“Aku ngerasa belakangan ini kamu lagi banyak pikiran.” Albiru membuka percakapan.

__ADS_1


Binar menggeleng pelan, “cuma capek aja abis ngurus proposal.” Binar tidak sepenuhnya bohong karena memang dia juga disibukan dengan tugas kantor.


Albiru menghela napas, “kan aku sudah bilang kamu jangan capek-capek.”


“Maaf Bi, tapi kamu tenang aja semua sudah beres kok.” Binar mengangkat kepalanya menatap Albiru.


“Bagus, aku mau kamu gunakan weekend ini untuk istirahat. Ingat jangan capek-capek.”


“Siap Boss!” Binar menjawab disertai cengiran lucunya.


“Dan kalo kamu capek jangan maksain untuk beres-beres rumah dan masak."


Binar tertawa merasa lucu mendengar perintah Albiru. Tidak tahu saja suaminya itu jika dia tidak menjalankan tugasnya sudah pasti akan ada omongan tidak mengenakkan dari tetangga.


"Kali ini aku nggak bisa mengiyakan." Jawab Binar disela tawanya. Albiru sampai bingung mengapa istrinya itu tertawa.


"Kok malah ketawa sih sayang, aku serius loh." Albiru menatap heran Binar yang kini sudah berhenti tertawa.


"Nggak, cuma lucu aja dengernya. Aku ini mau jadi istri yang baik dan salah satu syaratnya ya harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga pada umumnya, termasuk mengurus suamiku."


"Siapa yang buat syarat itu?" tanya Albiru semakin tidak mengerti.


"Perkumpulan Ibu-Ibu,"Binar menjawab singkat. "Sudah ah Bi, ayo tidur." Binar menutup percakapan tidak ingin semakin membuat suaminya bingung.


...****************...


Jam 5 subuh Binar sudah berada di dapur menyiapkan sarapan. Biasa dia mulai memasak jam 6 bersama Ibu mertuanya, tapi hari ini dia bertekad mengurus semuanya sendirian. Ibu Siti yang mendengar suara ribut dari arah dapur segera keluar kamar memeriksa asal suara.


"Binar, kamu bikin Ibu kaget aja." Binar segera menoleh mendengar suara Ibu mertuanya.


"Maaf Bu bikin kaget, Binar cuma mau menyiapkan sarapan." Jawab binar disertai senyum manisnya.


Ibu Siti tampak semakin terkejut. Tidak menyangka Binar melakukan hal ini. Saat ini dia seperti tidak memiliki celah untuk mengomentari Binar.


"Tumben jam segini." Sahut Ibu Siti setelah pulih dari rasa kagetnya.


Binar kembali memasang senyum manis sebelum menjawab. "Binar lagi belajar jadi istri dan menantu yang baik Bu. Sekarang Ibu istirahat saja biar Binar yang ngurus dapur."


Ibu Siti tidak bisa berkata-kata, terlalu bingung dengan perubahan mendadak menantunya ini. Binar tampak tangguh tidak seperti biasa yang begitu tunduk padanya.


Ibu Siti yakin perubahan ini karena provokasi dari tetangga yang lain. Ini diluar prediksi, dia pikir Binar akan menyerah dan memilih untuk mengikuti kemauannya dengan menjadi Ibu rumah tangga seperti dirinya.

__ADS_1


Kali ini Ibu Siti memilih menyerah, membiarkan Binar bertindak sesuka hati. Dia akan memikirkan cara lain untuk membuat Binar menyerah dan tunduk padanya.


TBC


__ADS_2