
Albiru pulang dengan perasaan sedikit lega. Apa yang dikatakan Ayah Ibra semuanya benar, walau sedikit terlambat setidaknya Albiru akan tetap berusaha memperbaiki hubungannya dengan Binar. Dan untuk itu dia akan memulai dari keluarganya.
Sekarang Albiru berada di rumah orang tuanya berhadapan dengan Ibunya dan Ella, tidak lupa Ayah Latif dan Fadli yang saat ini hanya menjadi penonton. Mereka tidak akan ikut campur karena apa yang dilakukan kedua wanita berbeda usia itu sudah sangat melewati batas.
“Biru mau Ibu dan Ella segera minta maaf sama Binar.” Ucap Albiru langsung tanpa berbasa basi.
Ibu Siti terkejut tidak menyangka Albiru mengatakan hal itu, harga dirinya terluka karena merasa direndahkan jika dia yang meminta maaf pada Binar. Sedangkan Ella tampak tidak peduli, gadis itu bahkan tidak merasa bersalah.
“Ibu nggak akan minta maaf Biru, Ibu ini lebih tua dari Binar apa pantas Ibu yang meminta maaf.” Ibu Siti menatap marah pada Albiru yang dinilai telah merendahkannya.
“Siapa yang salah dialah yang meminta maaf Bu, ini bukan masalah siapa yang lebih tua.” Jawab Albiru tegas tanpa bisa dibantah Ibu Siti.
“Mas Biru benar-benar keterlaluan bicara seperti itu sama Ibu.” Ella menyahut dengan nada marah, gadis itu benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun.
“Kamu pikir apa yang kamu ucapkan tidak keterlaluan? Sebagai seorang wanita dimana hati kamu Ella? Bagaimana jika mas balik, kalau ternyata mas yang tidak bisa memiliki anak?”
“Itu nggak mungkin mas,” bantah Ella masih tidak mau mengalah.
“Apanya yang nggak mungkin? Kenapa setiap pasangan suami istri yang belum memiliki anak yang disalahkan dan dituduh hanya pihak wanita padahal tidak menutup kemungkinan prialah yang bermasalah. Jika kamu bisa menggunakan hati kamu, seharusnya kamu bisa berkata dengan baik Ella.” Albiru berucap dengan marah, mengingat bagaimana dengan jahatnya kata-kata itu menyerang Binar tanpa ampun.
“Kenapa sih mas belain wanita itu terus? Ella sama Ibu ini keluarga mas!” Ella berseru marah tidak terima Albiru terus membela Binar.
“Yang kamu sebut ‘wanita itu’ adalah istri mas. Dan mas memiliki kewajiban membela dan menjaga perasaannya. Setiap perkataan yang menyakitinya sama dengan menyakiti hati mas.” Albiru menjawab dengan tegas namun Ella tetap tidak bisa menerima pembelaan yang dilakukan masnya itu.
“Mas benar –benar sudah berubah. Sampai kapanpun Ella nggak akan minta maaf karena sudah cukup Ella mengalah selama ini.” Albiru menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sikap keras kepala Ella.
__ADS_1
“Kalau Ibu dan Ella nggak mau minta maaf, terserah kalian karena Biru sudah menyerah sama kalian. Terima kasih sudah membuat istri Biru menangis dan sakit hati, karena itu ini terakhir kalinya Biru menginjakkan kaki di rumah ini. Dan maaf untuk Ayah sama Fadli, Biru pamit.” Setelah mengucapkan kalimat itu Albiru beranjak pergi, beruntung kemarin dia sudah membawa barang-barangnya ke rumah baru sehingga tidak perlu berlama-lama berada disini.
“Biru, kamu nggak bisa seperti itu nak.” Ibu Siti berlari mengejar langkah kaki Albiru. Sayangnya Albiru mengeraskan hatinya tidak memedulikan teriakan sang Ibu.
Sudah cukup dia mematuhi semua keinginan Ibunya hingga membuat Binar terluka. Mungkin dia akan dianggap durhaka, namun menjaga perasaan Binar adalah yang utama baginya. Seperti yang dikatakan Ayah Ibra ujian terberat dalam rumah tangga adalah campur tangan orang lain dan saat ini ujian terbesarnya adalah Ibu dan adiknya.
“Biarin saja Bu, mas Biru sudah benar-benar berubah. Nanti dia akan menyesal ninggalin kita demi wanita itu.” Ella segera menahan langkah Ibunya yang berniat mengejar Albiru.
Ayah Latif hanya diam tidak ingin ikut campur, setidaknya ini adalah pelajaran berharga untuk mereka semua. Fadli sendiri diam-diam mensyukuri apa yang sedang terjadi, dia bersyukur Albiru cepat sadar serta bersyukur Ibu dan adiknya ditinggalkan begitu saja. Fadli akan melihat drama apa yang akan dilakukan keduanya demi membuat Albiru kembali ke rumah ini.
...****************...
“Duh romantisnya, setiap hari dikirimin coklat sama bunga.” Fay meledek saat melihat bunga dan coklat yang sudah bertumpuk dimeja kerja Binar.
Binar hanya tersenyum kecil, sebelum menaruh bunga kedalam vas khusus serta menaruh coklat kedalam laci meja kerjanya. Beruntung Fay hanya tahu dia sedang marah pada Albiru karena hal kecil jika tidak mungkin Fay tidak akan meledeknya seperti ini melainkan membuang bunga-bunga pemberian Albiru ketempat sampah.
“Minta sama A’ Gibran sana, jangan ngeledek gue mulu. Ketahuan irinya,” Binar balas mengejek Fay yang langsung memasang wajah cembertu. Gibran itu tipe pria tidak romantis jadi jangan harap menerima bunga dan coklat dari pria itu.
“Makanya maafin sana Birunya, dari pada gue tambah iri liat keromantisan kalian berdua.”
Seandainya lo tahu apa penyebab gue marah mungkin lo yang bakal larang gue maafin Biru, batin Binar.
“Belum saatnya,” Binar menjawab singkat membuat Fay mendengus kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Binar tidak menceritakan secara detail masalahnya dengan Albiru, wanita itu hanya mengatakan ada kesalahpahaman yang membuat Binar membutuhkan waktu sendiri.
__ADS_1
“Terus Ayah sama Bunda tahu kalian lagi marahan gini?” tanya Fay yang masih ingin mengorek informasi dari Binar.
“Tahu, kan gue tinggal sama mereka sekarang.” Binar menjawab tanpa menatap wajah Fay karena saat ini dia sedang berbohong. Ayah dan Bundanya hanya tahu Albiru sedang sibuk di kantor karena itulah dia menitipkan Binar untuk sementara agar tidak merasa kesepian.
Beruntung Albiru masih sering berkunjung ke rumah meski tidak bertemu dengan istrinya kerena Binar akan berpura-pura tidur jika Albiru datang. Bunda Ina mulai menaruh curiga namun tidak bertanya banyak sedangkan Ayah Ibra bersikap biasa saja.
“Ayah sama Bunda nggak ada niatan buat kalian berdamai gitu?” Fay kembali bertanya.
“Ayah sama Bunda sengaja beri gue waktu untuk sendiri dulu, lagian tenang aja kalau gue sudah bisa berdamai sama diri sendiri gue pasti bakal maafin Biru.”
Binar terdiam begitupun dengan Fay. Jauh dilubuk hatinya, Binar sungguh merindukan sosok Albiru karena bagaimanapun selama ini hanya Albiru lah yang mengisi hatinya. Pria itu cinta keduanya setelah Ayah Ibra, pria yang mengajarkannya kata cinta terhadap lawan jenis.
Binar merenung, meratapi kisah cintanya yang mulus saat masa pacaran namun begitu penuh liku setelah menikah. Binar benar-benar percaya dengan kalimat ‘kehidupan setelah pernikahan adalah ujian cinta yang sesungguhnya’ dan saat ini cintanya terhadap Albiru tengah diuji.
TBC
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat...😊
Sambil menunggu novel ini update ada rekomendasi novel bagus untuk kalian karya Lena Laiha.
Judul : Tiba-tiba Menikah
Liana adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan biasa di kantor tempat ia bekerja. suatu hari semua karyawan mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan bos muda, tanpa terkecuali. Liana adalah salah satu karyawan yang hadir di acara itu. Diacara yang sangat mewah itu tiba-tiba seorang laki-laki yang tidak Liana kenali secara tiba-tiba menariknya secara paksa, hingga tubuh Liana sedikit terseret. Liana yang sebenarnya bisa bela diri memilih untuk tidak melakukan perlawanan karena ia tidak ingin membuat keributan di acara penting bagi bosnya itu. Liana dipaksa untuk menjadi pengganti pengantin wanita yang telah pergi melarikan diri.
__ADS_1