
Binar tertidur setelah lelah menangis. Fay masih setia menemani disisinya, takut jika Binar terbangun dan kembali menangis.
Albiru hanya bisa melihat Binar dari luar. Menatap pedih wanita yang begitu dia cintai sedang tertidur setelah lelah menangis. Sampai saat ini dia belum mendapat kabar apapun dari Rio. Sebenarnya Albiru ingin mencari tahu sendiri siapa dalang dari semua ini namun dia tidak mampu meninggalkan Binar sendirian.
"Biru," Albiru segera menoleh dan mendapati kedua mertuanya yang tampak begitu lelah.
"Binar sudah bisa ditemui?" tanya Ayah Ibra.
Albiru menggeleng lemah, "belum Yah, Binar juga lagi tidur."
"Fay masih di dalam?" kali ini Bunda Ina yang bertanya.
"Iya Bun. Ayah sama Bunda sebaiknya pulang saja, biar Biru yang berjaga disini."
Bunda Ina ingin menolak tapi melihat situasi dan kondisi membuatnya mau tidak mau menyetujui ide Albiru.
"Kamu sebaiknya istirahat juga, biar Fay pulang. Kasian dia pasti capek pulang kerja. Ayah yakin Binar pasti butuh kamu nanti."
Albiru menganggukan kepalanya. Apa yang dikatakan Ayah mertuanya benar, Fay pasti capek dan Binar pasti akan membutuhkan waktu berdua dengannya.
...****************...
Intan terkejut saat mendapati Fadli berdiri di depan pintu kosnya. Ini kali keduanya Fadli datang dan kali ini ekspresi pria itu jauh lebih menakutkan.
"Sini lo!" Tanpa bisa menahan diri Fadli menyeret Intan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Intan begitu ketakutan, gadis itu sudah pucat begitu takut jika Fadli berbuat hal nekad. Intan tahu apa yang membuat Fadli tampak begitu menyeramkan.
"Mas Fadli, dengerin Intan dulu." Intan segera menyela ketika Fadli bersiap menyalakan mesin mobil.
Fadli melirik sinis, tidak berniat mendengarkan ucapan Intan. Fadli segera menyalakan mesin mobil dan langsung pergi dengan kecepatan yang mampu membuat Intan semakin ketakutan.
"Mas, Intan mohon jangan seperti ini. Intan nggak salah apa-apa," ucap Intan yang kini menangis ketakutan.
"Takut Intan? Tapi saat lo lakuin kejahatan itu, apa lo nggak takut?" Fadli bertanya sinis.
"Intan nggak ngelakuin hal jahat apapun mas. Intan mohon dengarin Intan sekali ini aja. Intan mohon mas beri kesempatan Intan untuk berbicara." Intan memohon, tampak begitu menyedihkan.
Mendengar permohonan Intan membuat Fadli sedikit melunak. Pria itu segera menepikan mobilnya, bersiap mendengar apa yang akan Intan ucapkan. Dia akan memberi Intan satu kesempatan.
"Gue kasih lo kesempatan sekali buat yakinin gue kalo benar-benar nggak salah," ucap Fadli.
__ADS_1
"Intan memang ngajak ketemuan mbak Binar, tapi Intan murni ingin meminta maaf. Intan mengaku menyesal selama ini mengganggu hubungan mas Biru dan mbak Binar."
Fadli memilih diam, membiarkan Intan berbicara karena dia sendiri yang akan memutuskan apakah Intan dapat dipercaya atau tidak.
"Intan juga takut mas, tapi Intan benar-benar nggak berniat jahat sama mbak Binar. Intan dengar kalau ada yang mencampur sesuatu ke minuman atau makanan mbak Binar. Kalau mas nggak percaya mas bisa cek cctv, Intan memang jahat tapi untuk membunuh bayi yang bahkan masih didalam kandungan nggak akan pernah Intan lakukan."
"Kalau lo segitu yakin nggak melakukan apapun, ayo kita segera cek cctv." Fadli berucap tanpa ragu, entah mengapa dia memilih untuk percaya pada Intan.
Intan mengangguk yakin karena dia tidak bersalah. Apapun akan dia lakukan untuk membersihkan namanya.
"Mbak Binar cuma pesan minuman, kemungkinan orang jahat itu mencampur sesuatu keminuman mbak Binar." Ucap Intan yang dibalas anggukan oleh Fadli. Pria itu kembali menerka-nerka siapa pelaku sebenarnya.
"Oh gue lupa, selain lo dan mbak Binar, apa ada orang lain yang tahu pertemuan kalian?" tanya Fadli.
Intan terdiam sejenak, memikirkan siapa yang sudah dia beritahu tentang pertemuan ini.
Intan segera tersadar, sebelum dia meminta bertemu dengan Binar ada satu orang yang menelponnya terlebih dahulu, yaitu Ella.
"Ella mas, iya cuma Ella yang tahu. Ella sempat menelpon Intan dan membujuk Intan untuk nggak menyerah mendapatkan mas Biru tapi Intan menolak. Setelah itu Intan memberitahu, kalau Intan ingin bertemu mbak Binar untuk meminta maaf secara langsung."
...****************...
Binar terbangun, merasakan ada seseorang yang menggenggam erat tangannya. Dia menoleh dan mendapati Albiru yang tertidur sambil menggenggam tangannya.
Mendengar suara tangisan, Albiru segera terbangun. Dilihatnya Binar yang tengah menahan isak tangisnya.
"Bi, sayang... kenapa nangis? Sudah ya nangisnya." Albiru segera beranjak untuk memeluk tubuh Binar yang bergetar menahan tangisnya.
"Maaf... maafin aku Bi," Binar berucap pelan.
Albiru menggeleng, hatinya begitu sakit melihat Binar menangis.
"Nggak sayang, jangan minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa." Albiru membujuk pelan, menepuk punggung Binar untuk memberikan ketenangan.
"Aku ceroboh Bi, seharusnya aku nggak kemana-mana. Seharusnya aku bisa jaga anak kita dengan baik."
Tanpa sadar Albiru menangis, melihat Binar yang menyalahkan diri sendiri.
"Ini bukan salah kamu sayang, seharusnya aku yang bisa jagain kamu dari orang yang berniat jahat sama kamu."
"Apa maksud kamu, Bi?" tanya Binar tidak mengerti.
__ADS_1
"Ada yang mencampur sesuatu ke minuman atau makanan kamu, Bi." Jawab Albiru pelan masih sambil memeluk Binar.
Binar melepaskan pelukan untuk menatap Albiru. "Siapa Bi?"
Albiru menggeleng, "aku juga belum tahu, Bi. Rio dan Fadli sedang mencari tahu saat ini."
Tangis Binar kembali pecah tidak menyangka ada orang yang begitu jahat padanya.
"Kenapa dia jahat, Bi? Apa salahku sampai harus diperlakukan jahat seperti ini?"
Albiru diam tidak tahu harus menjawab apa. Batinnya juga bertanya-tanya mengapa mengapa ada orang yang begitu jahat pada Binar.
Binar masih menangis, tidak bisa menerima kenyataan pahit ini terlebih ada seseorang dibalik musibah yang dia alami.
Melihat kondisi Binar yang semakin terpukul membuat Albiru mengurungkan niatnya untuk menyampaikan berita lain. Dia tidak ingin Binar semakin terpuruk jika mengetahui kenyataan pahit lainnya.
...****************...
Di dalam mobil tampak Rio sedang menghubungi seseorang. Wajah pria itu tampak menahan amarah.
"Gimana?" tanya pada orang kepercayaannya.
Rio terdiam mendengar dengan serius apa yang disampaikan oleh orang kepercayaannya itu.
"Bagus, ikutin dia terus sampai dapat barang bukti." Rio segera mengakhiri percakapan.
Rio begitu marah bukan hanya pada orang yang telah berbuat jahat pada Binar, tetapi dia juga marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Binar dengan baik.
"Lo salah main-main sama gue Gabriella. Gua bakal hancurin hidup lo, sampai lo berlutut memohon ampun."
Benar, pria yang selama ini mengancam dan meneror Ella adalah Rio. Rio tidak bisa menampik jika dia masih memilih rasa pada Binar, namun Rio tahu batasan karena itu selama ini dia hanya mampu menjaga Binar dari jauh.
TBC
Maaf baru sempat update, jangan lupa like dan komennya biar author tambah semangat 😊
Sambil menunggu novel ini update yuk mampir ke novel menarik karya EuRo40
Judul : Langit Jingga Mengubah Takdir
__ADS_1
Jingga yang gendut berubah menjadi cantik setelah bertemu dengan Langit. Akhirnya berniat membalas dendam pada keluarganya yang selalu menyiksa dia sejak kecil. Bahkan Kakak tirinya berusaha untuk melecehkannya. Mereka juga selalu menghinanya. Kini dia sudah cantik. Jingga juga menjadi anggota perkumpulan rahasia. hubungannya dengan Langit hanya sebagai teman walau Jingga mencintai Langit. Jingga tahu Langit adalah playboy. Langit takut dengan komitmen dan pernikahan. Sampai suatu hari Langit benar-benar merasa kehilangan Jingga. Dia berjanji tidak akan melepaskan Jingga dan akan menikahinya.