
Tiga bulan berlalu begitu saja, baik Binar maupun Albiru belum mendengar kabar mengenai pernikahan Rio dan Ella.
Yang Binar tahu keluarga besar Kusuma jelas menentang pernikahan itu. Keluarga besar Kusuma tahu seperti apa tingkah laku Ella dan apa yang sudah diperbuat gadis itu selama ini.
Selama tiga bulan ini Binar memilih untuk fokus pada kedua bayi kembarnya. Dia sudah tidak ingin ikut campur mengenai masalah Rio.
Untuk Gabby sendiri, Binar sudah tidak bertemu bahkan komunikasi mereka putus.
"Ngelamunin apa, sayang?" tanya Albiru saat mendapati Binar tengah duduk melamun.
Binar menggeleng, terlihat enggan untuk menjawab.
"Oh iya, tadi Mas Raka ngasih undangan. Anak bungsu Mas Raka ulang tahun hari minggu."
"Wah, jadi Nevan sama Nessa mau perdana jadi tamu acara ultah nih." Binar tersenyum lebar menatap kedua bayi kembarnya yang sedang tertidur pulas.
Albiru tertawa kecil melihat Binar yang begitu antusias.
"Ada temannya nggak?" tanya Binar.
"Nggak ada sih, kata Mas Raka acara sederhana aja."
"Kalo gitu besok izin cari kado sekalian beli baju buat si kembar ya." Ucap Binar penuh harap yang langsung disetujui Albiru.
"Tapi aku nggak bisa nemenin ya, besok mau meeting diluar kemungkinan bakal lembur."
"Nggak apa-apa, semangat kerjanya Papa Biru." Binar tersenyum lucu membuat Albiru tertawa.
Panggilan baru yang Binar berikan padanya sungguh menghangatkan hati.
"Tapi nggak boleh kecapaian ya." Ujar Albiru memberi peringatan.
"Siap boss!"
Binar dengan semangat memberi hormat pada Albiru yang lagi-lagi disambut tawa oleh pria itu. Rasanya beban dihati mereka terangkat begitu saja.
__ADS_1
...****************...
Setelah pembicaraan hari itu baik Ibu Siti maupun Ella sama-sama tidak mau membahas mengenai rencana pernikahan.
Ibu Siti jelas meragu, mengingat bagaimana sikap Ella selama Ini terhadap Binar. Wanita itu hanya tidak ingin kembali merusak hubungan yang sedang dia bangun bersama Binar dan Albiru.
Sedangkan Ella dilanda ketakutan yang luar biasa. Rio jelas memiliki tujuan yang lain dan Ella yakin tujuan Rio adalah untuk membuatnya sengsara.
Sayangnya, Rio tidak menyerah begitu saja. Pria itu bertekad mendapatkan apa yang dia mau. Memaksa Ella untuk menikah dengannya jelas hal yang mudah.
Untuk itulah Rio mengirim sekretaris sekaligus orang kepercayaannya untuk datang menemui Ella dan Ibu Siti.
"Selamat siang, Ibu dan Mbak Ella." Sapa Wanita yang merupakan sekretaris Rio.
"Siang, Mbak." Ibu Siti menjawab dengan ramah sedangkan Ella hanya tersenyum tipis.
"Perkenalkan, saya sekretaris Bapak Rio. Beliau menugaskan saya untuk menyampaikan beberapa berkas. Silahkan dibaca Ibu dan Mbak Ella." Wanita itu menyodorkan sebuah dokumen yang diterima ragu-ragu oleh Ella.
Ella melihat tulisan yang tertera, menyadari ada sesuatu yang tidak beres membuat gadis itu segera menghindar. Dia tidak ingin Ibu Siti ikut membaca dokumen tersebut.
Ibu Siti tampak bingung, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sejujurnya dia penasaran apa yang tertera didokumen tersebut.
"Tidak apa-apa, Bu. Tenang saja, dokumennya hanya berisi perjanjian pra nikah. Nanti setelah ini ada pengacara yang akan mengurusnya, Mbak Ella hanya perlu membaca untuk persetujuan nantinya."
"Perjanjian pra nikah? Nak Rio benar-benar mau menikah dengan Ella?" tanya Ibu Siti yang tampak kaget.
"Saya tidak bisa menjawab untuk hal itu." Jawaban itu jelas tidak memuaskan Ibu Siti, namun dia tahu tidak ada yang bisa dia perbuat untuk saat ini.
"Oh iya, nama kamu siapa nak? Sepertinya saya pernah lihat." Ibu Siti segera tersadar, sosok di hadapannya memang tampak tidak asing.
Wanita itu tersenyum sebelum menjawab.
"Saya Gabriella Putri, panggil saja Gabby." Ucapnya memperkenalkan diri tidak lupa dengan senyum sopannya.
...****************...
__ADS_1
Acara ulang tahun Putri bungsu Raka berlangsung sederhana. Hanya beberapa teman kerja Raka dan tetangga sekitar.
Binar dan Albiru hadir dengan membawa si kembar. Pakaian mereka terlihat kompak, benar-benar seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Wah, sudah gendong anak aja lo Biru." Salah satu teman Albiru menyambut dengan sedikit candaan.
Albiru tertawa bangga, tidak lupa dia memperkenalkan Binar dan kedua anaknya pada yang lainnya.
"Iya dong, sekarang kalian nggak bisa ngejek gue lagi." Balas dengan senyum sombongnya.
"Iya deh tau yang sekarang sudah jadi Bapak-bapak." Ucapan itu mengundang tawa dari yang lain termasuk sang tuan rumah, Raka.
Mereka tampak bercanda, tidak lupa sesekali menggoda Binar dan si kembar. Sampai kemudian suara seseorang menghentikan candaan mereka.
"Albiru? Kamu Albirukan?"
Semua menoleh termasuk Albiru yang merasa namanya dipanggil.
Tidak jauh dari hadapan Albiru, berdiri sosok wanita cantik yang tengah menggendong anak laki-laki.
Albiru menatap bingung karena tidak mengenal sosok di hadapannya itu.
"Kamu nggak ingat? Aku Mila, kakak tingkat kamu."
Mendengar nama itu membuat Binar memasang raut wajah masam. Dia ingat siapa Mila dan apa yang sudah wanita itu perbuat beberapa tahun yang lalu.
Albiru sendiri langsung membuang pandangannya. Mila memang banyak berubah, lebih cantik dan dewasa membuat Albiru dan Binar tidak mengingat wajahnya. Namun, ada hal yang selalu Albiru ingat jika mendengar nama wanita itu. Mila dan segala kegilaannya.
TBC
**Masuk konflik baru nih.. semoga makin suka dan gak ngebosanin kalian ya
dukung author terus biar semangat update 💪😁
kalo gak ada halangan author update tiap hari lagi 😁😍**
__ADS_1