
Binar mendapat pesan dari Ella yang meminta untuk bertemu dengannya. Ella ingin meminta maaf, sebenarnya Binar tidak percaya namun wanita itu tetap mengiyakan permintaan Ella, dia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan Ella terhadapnya.
Dan disinilah Binar berada, di depan cafe dekat kampus Ella. Binar masuk ke dalam tanpa firasat apapun, namun saat mencari keberadaan sang adik ipar, Binar justru dibuat terkejut saat mendapati Albiru duduk bersama Intan. Posisi Albiru membelakangi pintu masuk sehingga pria itu tidak menyadari keberadaan Binar.
Binar sekarang tahu apa permainan yang sedang dimainkan kedua gadis itu dan Binar akan mengikuti permainan mereka. Binar melangkah dengan anggun menghampiri Albiru yang masih belum menyadari keberadaannya sedangka Intan tampak berpura-pura tidak melihatnya.
“Biru,” Binar menegur pelan seraya menyentuh lembut pudak Albiru membuat pria itu menoleh kaget.
“Binar?” Albiru tampak begitu terkejut mendapati Binar berada disini. Albiru tidak ingin Binar salah paham padanya dan malah semakin marah.
Binar tampak tersenyum manis kemudian menoleh kearah Intan yang kini menatap sepasang suami istri itu.
“Wah...kita kok bisa ketemu disini ya, kebetulan banget.”
Intan tersenyum canggung, sungguh bukan ini reaksi yang dia harapkan dari Binar. “Mbak, jangan salah paham ya.”
“Sayang, ayo duduk sini. Kamu kok bisa ada disini?” Albiru segera menarik lengan Binar memaksa wanita itu untuk duduk disampingnya.
Binar hanya menurut tanpa mau membantah, “seharusnya aku yang nanya sama kamu Bi, kok kamu bisa ada disini mana berduaan lagi sama Intan.”
“Maaf mbak, saya nggak ada maksud apa-apa kok. Saya cuma minta tolong mas Biru untuk bantuin saya.” Intan segera menyela tanpa memberi kesempatan pada Albiru untuk menjawab pertanyaan Binar.
“Kamu jangan ngada-ngada ya. Sayang nggak usah dengerin omongan dia, aku disini dijebak sama dia.” Albiru segera membantah, dia benar-benar dijebak.
Binar hanya tersenyum tidak mau menanggapi membiarkan keduanya menerka-nerka apa yang saat ini ada dipikirannya.
"Kalau begitu aku pamit ya Bi, masih ada yang harus aku urus." Binar segera beranjak namun tentu saja Albiru tidak akan membiarkan istrinya itu pergi begitu saja.
"Ayo Bi, aku juga nggak mau lama-lama disini." Albiru menggenggam tangan Binar membawa wanita itu pergi meninggalkan Intan seorang diri.
"Tenang, Ella sudah menyiapkan kejutan khusus buat kamu mbak Binar." Ucap Intan berdialog pada diri sendiri sambil tersenyum sinis.
...****************...
__ADS_1
Albiru tampak frustasi karena Binar masih enggan bicara dengannya sejak kejadian di cafe beberapa jam yang lalu. Meski Albiru sudah menjelaskan bahwa dia dijebak oleh Intan namun Binar masih terlihat tidak percaya.
Albiru benar-benar dijebak oleh gadis licik itu. Intan mengatakan bahwa Ella ingin bertemu dengannya untuk meminta maaf dan karena Ella masih takut padanya maka Intan yang diminta untuk menghubungi Albiru namun ternyata dia hanya dijebak.
"Bi, please aku benar-benar nggak tahu kalau Intan jebak aku." Ucap Albiru untuk kesekian kalinya, tapi tetap saja Binar menanggapi.
Binar hanya menoleh sekilas kemudian menyerahkan ponselnya pada Albiru yang kini menatapnya bingung.
Albiru melihat ada pesan dari Ella yang mengatakan ingin bertemu dengan Binar dan meminta maaf. Kemudian ada sebuah foto yang dikirim Ella, itu foto Albiru dengan Intan yang sedang berdiri disamping mobil, kemudian sebuah foto kembali muncul foto Albiru dan Intan yang kali ini sedang duduk dicafe.
Sebuah pesan kembali muncul, kali ini pesan yang Albiru yakini sengaja untuk memanasi Binar.
*Gimana mbak kejutannya? Cocokkan mereka?
Lebih baik mbak mundur, mundur sekarang sebelum didepak.
Apalagi mbak nggak hamil-hamil, takutnya mas Biru benar-benar berpaling ke Intan karena mbak nggak kasih dia anak*.
Albiru marah, semakin dibiarkan tingkah laku Ella semakin menjadi-jadi. Albiru berdiri siap untuk mendatangi Ella sekarang juga, namun Binar segera menghalangi langkahnya.
"Ella sudah kelewatan Bi, ini jelas nggak bisa dibiarkan. Aku akan kasih dia pelajaran."
Binar menggeleng tidak setuju dengan Albiru. "Apa yang dibilang Ella benar, aku belum bisa ngasih kamu keturunan Bi."
Albiru sungguh tidak suka dengan kata-kata itu, dia tidak suka Binar sedih karena hal yang sama. Albiru menerima segala kondisi Binar, lagipula mereka sudah pernah melakukan pemeriksaan dan hasilnya baik. Semua ini kembali kepada Tuhan.
"Aku nggak suka kamu ngomong begitu Bi. Lupakan semua yang katakan Ella, aku akan beri dia pelajaran." Albiru mendekat, berniat memeluk Binar namun wanita itu justru menjauh sambil menutup hidung.
"Jangan dekat-dekat Bi, kamu bau banget." Ucap Binar segera beranjak pergi meninggalkan Albiru yang hanya mampu menatap kepergian Binar dengan bingung.
Perasaan dia masih wangi, batinnya sambil berusah mengendus aroma tubuhnya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Intan terkejut mendapati Fadli berdiri di depan pintu kosnya, pria itu tampak menahan amarah.
"Mas Fadli, ada apa ya?" tanya Intan sedikit takut.
Fadli tidak menjawab melainkan segera menarik kasar lengan Intan. Memojokkan gadis itu kedinding, beruntung suasana kos sedang sepi sehingga tidak ada yang bisa menghalanginya.
"Bukannya gue sudah peringati lo untuk menjauh dari mas Biru. Tapi ternyata lo benar-benar nggak punya malu, masih berharap sama suami orang." Fadli berucap tajam, tatapan matanya terlihat menakutkan.
"Apa maksud mas Fadli?" Intan bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
Fadli tersenyum sinis, "nggak perlu berlagak polos. Seharusnya lo tahu peringatan dari gue bukan omong kosong belaka. Jadi, jangan salahin gue kalau besok pagi lo bakal dapat kejutan menarik dari gue."
Setelah mengucapkan itu Fadli beranjak pergi tanpa menoleh. Dia tidak main-main dengan ancamannya, besok Intan akan mendapatkan kejutan. Gadis itu akan menyesal telah meremehkan ancaman dari Fadli.
Intan masih berdiri ketakutan, dia salah telah menganggap ancaman Fadli hanya omong kosong belaka. Intan lupa bahwa yang dia hadapi adalah Fadli, pria yang bahkan dengan tega melibas adiknya sendiri jika berbuat salah apalagi dia yang bukan siapa-siapa. Dalam hati Intan berharap ini semua hanya mimpi bukan kenyataan.
Disisi lain tampak seorang pria berdiri di balik pohon mengawasi Ella dari kejauhan. Pria itu adalah pria yang pernah mengancam Ella.
"Lo salah karena main-main sama gue Gabriella." Ucap pria misterius itu dengan seringai menyeramkan.
Ella yang tidak tahu apa-apa terlihat santai, bahkan gadis itu terlihat bahagia karena berhasil memanasi Binar. Tanpa Ella sadari bahaya sedang mengintainya, bersiap membuat gadis itu menyesal.
TBC
Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊
Hai, sambil menunggu novel ini update ada rekomendasi novel bagus untuk kalian karya Triple.1
Judul : Truly Madly Love
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya. Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya.
__ADS_1
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun ke-lima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun Zack telah memiliki keluarga kecil.
Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?