
Albiru terkejut mendapati Ayah Ibra duduk santai di teras rumah. Dengan segera Albiru menghampiri Ayah mertuanya.
"Ayah," Albiru memanggil pelan membuat Ayah Ibra menoleh dengan senyum hangat diwajahnya.
Albiru semakin tidak nyaman karena masih mendapati senyum hangat itu setelah apa yang telah dilakukan Ibunya kemarin.
"Maaf Yah, Biru nggak tahu ada Ayah." Albiru berucap sungkan setelah menyalami Ayah Ibra.
"Tidak apa-apa Biru, Ayah sengaja kemarin tidak mengabari. Hanya ingin berkunjung." Ucap Ayah Ibra menenangkan.
Albiru segera mempersilahkan Ayah Ibra untuk masuk, tidak lupa dia menyuguhkan minuman untuk sang mertua.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Ayah Ibra melihat wajah lelah Albiru.
Albiru tersenyum kecil tidak berusaha menyembunyikan rasa lelahnya.
Ayah Ibra menepuk pundak Albiru seolah memberi kekuatan pada sang menantu.
"Ayah tahu kamu lelah dan itu wajar. Semua manusia pasti akan merasakan berada dititik itu, yang perlu kita lakukan hanya berusaha untuk kuat dan bertahan." Ucapan hangat dan menenangkan itulah yang Albiru butuhkan saat ini.
"Maaf Yah," ucap Albiru pelan.
Ayah Ibra tidak menanggapi hanya senyum hangat yang dia berikan.
"Setiap rumah tangga itu punya cobaan Biru, berbagai macam. Dan tugas kita sebagai kepala rumah tangga adalah berusaha untuk tetap bertahan apapun keadaannya." Ayah Ibra berhenti sejenak, memberi waktu Albiru untuk menyela namun menantunya itu hanya diam mendengarkan.
"Seperti yang pernah Ayah ceritakan, rumah tangga Ayah dan Bunda juga pernah mengalami cobaan berat. Satu hal yang harus kamu tahu Biru, Ayah juga pernah berada diposisi kamu saat ini."
"Maksud Ayah?" tanya Albiru tidak mengerti.
"Kamu tahu alasan Ayah memberi nama Binar Cahaya Kusuma?" Albiru menggeleng pelan, Binar tidak pernah menceritakan apapun tentang namanya.
"Karena dia adalah Binar Cahaya untuk keluarga Kusuma. Ayah dan Bunda juga sulit mendapatkan anak, kami sudah berobat bahkan sampai keluar negeri tapi Allah bekehendak lain. Ayah pasrah dan Bunda berada dititik terendahnya."
Albiru tampak terkejut, dia tidak pernah tahu begitu dalam tentang keluarga Binar. Binar sendiri selama ini sedikit tertutup mengenai keluarganya.
"Bunda mendapat tekanan dari keluarga dan Ayah tidak bisa berbuat banyak. Hingga Allah berbaik hati mengabulkan doa kami. Binar hadir disaat Ayah dan Bunda membutuhkan Cahaya untuk menerangi kehidupan kami. Karena itulah Ayah memberinya nama Binar Cahaya Kusuma. Dialah Cahaya bagi Ayah dan Bunda, satu-satunya penyelamat hidup kami."
__ADS_1
Albiru terdiam, dia bisa melihat mata Ayah Ibra tampak berkaca-kaca. Mengenang masa lalu yang menyakitkan memang sangat sulit, tapi Ayah Ibra ingin membuat Albiru tidak menyerah begitu saja.
Ayah Ibra percaya akan kuasa Allah. Dia tidak ingin Albiru sama sepertinya yang sempat menyerah memilih berpasrah diri.
"Bahagiakan Binar, hanya dia yang Ayah miliki. Jangan menyerah Biru, tolong bahagiakan putri Ayah. Dampingi Binar, teruslah berada disisinya agar dia tidak merasa kesepian." Ayah Ibra tertunduk menahan air matanya agar tidak menetes.
"Biru akan selalu berada disisi Binar, menemani dan menjaga Binar. Apapun kondisi Binar akan Biru terima Yah, karena Biru sangat mencintai putri Ayah." Albiru berucap begitu tegas, berusaha meyakinkan Ayah Ibra.
Melihat ketegasan itu membuat Ayah Ibra sedikit lega. Dia benar-benar berharap Albiru bisa memegang teguh janjinya.
...****************...
Albiru menatap lama ponsel ditangannya. Pria itu tampak ragu dengan apa yang akan dia lakukan. Sepulang Ayah Ibra entah mengapa Albiru merasa harus segera menemukan Ella. Sayangnya, Albiru merasa buntu.
Untuk hal itulah dia ada satu nama yang terlintas dibenaknya, yaitu Rio. Albiru yakin sepupu Binar itu bisa menemukan keberadaan Ella.
Membulatkan tekad Albiru segera menghubungi Rio. Setidaknya dia harus mencoba apapun hasilnya nanti.
"Halo, ada apa bro?" tanya Rio langsung, betul watak pria itu yang tidak suka basa basi.
"Gue butuh bantuan lo." Jawab Albiru langsung, dia juga tampak tidak ingin berbasa-basi.
"Gue butuh bantuan lo buat cari Ella, adik gue. Setelah keluar penjara dia menghilang entah kemana, sampai saat ini gue bahkan nggak tahu kabarnya."
Rio terdiam sejenak, "kenapa lo cari adik lo itu? Bukannya dia penyebab keguguran Binar."
Albiru menghela napas berat, "ada urusan yang harus gue selesaikan, karena itu gue butuh bantuan lo."
"Entah kenapa gue merasa lo ingin balas dendam, jujur sama gue biar gue bisa bantu lo semaksimal mungkin. Gue bukan mau ikut campur tapi gue butuh alasan lo."
"Ya lo benar, gue masih punya dendam yang belum tuntas. Gue harap lo mau bantu gue, melihat Binar yang semakin terpuruk buat gue semakin bertekad untuk membalaskan rasa sakit Binar."
Rio terdengar menghela napas, "dengar Biru, apapun yang ada dipikiran lo itu segera hapuskan."
Albiru mengernyit tidak suka mendengar ucapan Rio.
"Kenapa? Gue masih punya dendam yang harus dibalaskan, kalo lo nyuruh gue untuk ikhlas sepertinya gue salah menghubungi lo."
__ADS_1
"Lo nggak perlu ngotorin tangan lo. Apa lo nggak mikirin Binar, apa yang akan dilakukan Binar kalau lo berbuat nekad?"
"Tapi gue nggak bisa dia saja, membayangkan Ella bahagia diluar sana setelah apa yang dia lakukan buat gue semakin bertekad untuk balas rasa sakit Binar."
"Gue tahu Biru, tapi lo harus mikirin apa setiap resiko. Gue tanya apa yang mau lo lakukan setelah ketemu adik lo itu? Balas dendam yang lo mau lakuin?"
Albiru terdiam, apa yang dikatakan Rio benar. Balas dendam apa yang akan dilakukan nantinya? Dan tentu saja ada resiko disetiap tindakan gegabah.
"Dengar Biru, sekali lagi gue bilang lo nggak perlu kotorin tangan lo. Tugas lo sekarang adalah membahagiakan Binar. Cukup jamin kebahagiaan Binar dan sisanya akan gue yang lakukan."
"Apa maksud lo?" tanya Albiru bingung.
"Lo cukup bahagiakan Binar, dan urusan adik lo itu biar jadi urusan gue."
"Lo nggak perlu lakukan itu Rio, lo nggak perlu turun tangan. Gue nggak mau buat jelek nama lo untuk balas dendam ini."
"Lo nggak perlu khawatir Biru, seperti yang gue bilang tadi cukup bahagiakan Binar dan gue yang urus adik lo. Gue yang akan membalas setiap tetes air mata Binar."
"Apa yang mau lo lakukan?" tanya Albiru tidak yakin.
"Lo nggak perlu tahu, cukup tunggu dan lihat. Tapi gue butuh izin dari lo, karena biar bagaimanapun dia itu adik lo."
"Lakukan apapun yang lo mau tapi gue mohon jangan korbanin diri lo. Gue nggak mau Binar semakin sedih lihat lo berkorban demi dia."
"Lo tenang saja, gue jamin kalian akan terkejut nantinya. Dan tolong rahasiakan hal ini dari Binar, apapun yang Binar tanyakan cukup katakan lo nggak tahu apapun."
"Oke, akan gue lakukan." Jawab Albiru meski dirinya sendiri tidak terlalu yakin.
Pembicaraan mereka berakhir dengan Albiru yang penasaran akan hal apa yang dilakukan Rio nantinya. Albiru berharap Rio tidak melakukan hal nekad yang akan merugikan dirinya sendiri.
TBC
**Halo semua.. 😁
Buat yg nanya karma untuk Ella dan Ibunya mana sabar ya..
author sudah punya rencana untuk bikin kisah Ella dilapak khusus tapi nanti setelah novel Rumah Tangga ini mendekati ending biar author gak byk tanggungan 😆😁
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya ya 😊
dishare jg boleh biar makin byk yg baca 😉😊**