
Binar keguguran. Berita itu membuat Albiru lemas seketika, tidak menyangka akan mendapatkan berita duka seperti ini. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia bertemu Binar, mengelus perut Binar serta berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.
Albiru tiba di rumah sakit bertepatan dengan dokter yang menangani Binar keluar dari ruangan. Disana sudah ada Ayah Ibra dan Bunda Ina yang tengah menangis.
“Gimana Dokter keadaan istri saya?” tanya Albiru langsung begitu tiba dihadapan Dokter Salma.
“Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan secara pribadi. Mari ikut saya ke ruangan Pak,” Dokter Salma berucap pelan seraya membimbing Albiru untuk mengikuti langkahnya.
Hanya tersisa Ayah Ibra dan Bunda Ina. Keduanya tentu merasa sedih, mereka baru saja merasa bahagia dengan kehamilan Binar namun Tuhan berkata lain dengan mengambil kembali titipannya.
“Ayah, kasihan Binar.” Ucap Bunda Ina lirih, wanita paruh baya itu tidak bisa menghentika tangisnya.
Disisi lain Ayah Ibra tampak menguatkan sang istri meski dia sendiri merasa beduka. Ayah Ibra masih merasa ini mimpi buruk, sebagian hatinya menyangkal untuk menerima kenyataan pahit ini.
Suster yang menangani Binar keluar ruangan. Ayah Ibra segera menghampiri untuk bertanya apakah bisa menemui Binar.
“Apa saya bisa menemui putri saya sekarang Sus?” tanya Ayah Ibra.
“Maaf Pak, untuk saat ini belum bisa. Pasien masih belum sadarkan diri, kami akan segeram mengabari jika pasien sudah bisa ditemui.” Suster tersebut berucap ramah kemudian segera berpamitan.
Ayah Ibar terduduk lesu disamping Bunda Ina yang masih menangis. Tidak lama Ayah Latif dan Ibu Siti datang, keduanya tampak begitu cemas.
“Gimana keadaan Binar, Bra?” tanya Ayah Latif begitu sampai di hadapan Ayah Ibra.
“Binar masih belum sadarkan diri,” jawab Ayah Ibra pelan.
Ibu Siti segera duduk disamping Bunda Ina, menguatkan besannya. Dia juga merasa kehilangan, namun batinnya betanya-tanya mengapa bisa seperti ini. Tadi Ayah Latif mendapat telpon dari Albiru yang hanya mengatakan Binar keguguran dan sekarang berada di rumah sakit.
“Yang tabah ya mbak,” bisik Ibu Siti.
“Gimana sama Binar, mbak? Dia pasti sedih sekali, kemarin dia begitu bahagia dan sekarang harus menerima kenyataan pahit ini.”
Bunda Ina menggelengkan kepalanya, tidak sanggup membayangkan bagaimana jika Binar tahu bahwa dia keguguran.
Tanpa mereka sadari ada Intan yang berdiri menyendiri. Gadis itu masih tampak ketakutan, tidak menyangka akan menyaksikan hal mengerikan ini. Intan sedikit bernapas lega karena belum ada yang menyadari kehadirannya.
...****************...
"Apa Fay?" Rio bertanya pada Fay yang baru saja menelponnya.
"Binar keguguran, Rio. Lo ada dimana sekarang? Gue lagi diperjalanan menuju rumah sakit."
"Gue baru pulang dari kantor. Gue mau putar balik sekarang, gue tunggu lo disana."
__ADS_1
Rio segera menutup telpon, memfokuskan diri mengendarai mobilnya menuju rumah sakit meski saat ini pikiran tertuju pada Binar seorang.
Rio sampai di rumah sakit dan segera berlari menuju kamar rawat Binar. Tapi langkah kaki Rio terhenti ketika melihat Albiru yang duduk kursi dengan pandangan kosong. Pria itu tampak begitu kacau.
"Biru!" Rio memanggil membuat Albiru menoleh kaget.
Rio dapat melihat tatapan kesedihan Albiru. Pria itu benar-benar turut berduka atas musibah ini.
"Gimana keadaan Binar?" tanya Rio mengambil posisi duduk disamping Albiru.
Albiru menghela napas lelah, "kacau. Dia bahkan nggak mau ketemu gue."
Rio cukup terkejut, tidak menyangka akan seperti ini keadaan Binar. Dia sangat tahu seperti apa penantian Binar selama ini.
"Apa kata Dokter?" tanya Rio lagi.
"Dokter bilang Binar minum obat yang penggugur ilegal. Obat itu kuat dan nggak sembarangan orang bisa beli." Terang Albiru yang cukup dipahami Rio.
Rio tahu pasti ada dalang dari masalah ini dan kecurigaannya ada pada satu orang. Tapi Rio hanya akan menyimpannya sendiri untuk saat ini sampai dia mendapatkan bukti yang kuat.
"Berarti ada yang sengaja campurin obat itu kemakanan atau minuman Binar. Gue akan cari tahu, lo cukup disini temani Binar."
Rio segera berlalu, pria itu tampak menelpon seseorang. Albiru tidak ingin mengambil pusing, kali ini dia percayakan pada Rio.
"Biru," panggilnya lirih.
Albiru menoleh, menatap Fay sejenak. "Masuk aja Fay," ucapnya kemudian.
Fay segera masuk dan mendapati Binar yang duduk termenung diatas ranjang rumah sakit. Sahabatnya itu tampak begitu pucat.
"Bi," Fay memanggil lirih disertai air mata yang berlinang.
Binar menoleh dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu memaksakan diri untuk tidak menangis.
"Fay... gue.." Binar tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Melihat Fay yang datang dengan air mata berlinang membuat Binar tidak mampu menahan rasa sakitnya.
Fay mendekat, memeluk erat Binar. Keduanya menangis, menumpahkan kekecewaan, kesedihan dan rasa sakit didada.
"Lo kuat Bi, lo pasti kuat." Fay berbisik lirih disela tangisnya yang tak mampu ditahan.
"Sakit Fay, gue baru ngerasain bahagia itu dan sekarang kebahagiaan gue diambil paksa."
Fay menepuk pelan punggung Binar seolah menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Saat Binar sadar tadi, tidak ada satupun yang diizinkan masuk. Dia tidak kuat melihat keluarganya, melihat bagaimana kesedihan mereka. Hanya Fay tempat dia menumpahkan kesedihannya saat ini.
"Gue ngecewain Biru, ngecewain orang tua dan mertua gue. Gue ceroboh Fay, seharusnya gue bisa jaga kandungan gue."
Binar terus menangis, menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Binar masih belum tahu penyebab utama dia keguguran. Tidak ada yang sanggup memberitahu hal ini.
"Ssstt... nggak Bi, lo nggak boleh ngomong begitu. Ini semua musibah, lo nggak boleh salahin diri sendiri." Fay terus memeluk Binar, menenangkan sahabatnya itu.
Binar masih menangis, tetap menyalahkan diri sendiri. Dihatinya dia berandai-andai, jika saja dia tidak pergi kemana-mana hari ini mungkin semua ini tidak akan terjadi.
...****************...
Disisi lain Bunda Ina masih menangis. Dia berduka dan kesedihan bertambah saat Binar tidak mau menemui dirinya. Wanita itu tahu, Binar pasti menyalahkan diri sendiri.
"Apa yang harus Bunda lakuin Yah?" tanya Bunda Ina lirih.
Saat ini Bunda Ina dan Ayah Ibra berada di taman rumah sakit. Sedangkan orang tua Albiru sudah pulang terlebih dahulu, Albiru meminta mereka pula agar Binar tidak semakin merasa bersalah.
"Kita harus banyak-banyak berdoa Bun, berdoa agar Binar diberi ketabahan. Anggap ini semua ujian dari Allah agar kita semakin dekat dengan Allah." Ucap Ayah Ibra menenangkan.
"Siapa yang tega melakukan hal jahat seperti ini, Yah?" Bunda Ina masih bertanya-tanya siapa orang jahat yang tega melakukan hal keji ini pada putrinya.
"Siapapun dia, Allah pasti akan segera membalasnya. Kita harus kuat Bunda, agar Binar ikut kuat. Kita harus memberi Binar semangat. Percayalah setiap musibah yang kita hadapi Allah pasti akan memberi jalan keluarnya."
Ayah Ibra terus berusaha menenangkan Bunda Ina. Mereka semua tidak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang diam-diam mengamati mereka. Seseorang itu tampak tersenyum puas karena rencananya telah berhasil.
"Sorry Binar, tapi ini kejutan terbaik buat lo. Selamat menikmati kesedihan lo itu, gue akan dengan setia menikmati setiap tetes air mata lo." Orang itu berbisik lirih sambil tersenyum bahagia.
Dia begitu bahagia membawa penderitaan untuk Binar. Dan jangan lupakan ada satu kejutan besar yang sedang menanti Binar.
TBC
**Terima kasih yg setia menunggu novel ini update. Maafkan author yg sibuk dengan kerjaan jadi hanya bisa update tengah malam.
InsyaAllah sore update lg
Jangan lupa like dan komennya 😊**
Sambil nunggu novel ini update ada rekomendasi novel bagus karya R.angela
Judul : My Crazy Lady
__ADS_1
Hanna, seorang gadis bertubuh besar dan berpenampilan tidak menarik, selalu tidak dianggap dan tersisihkan oleh ibu dan juga saudaranya, begitupun dengan orang-orang disekitarnya. Hingga keadaan berbalik, orang-orang yang dulu mencemoohnya kini mencoba mengambil hatinya, begitu juga dengan pria yang dulu sangat membencinya. "Kau harus menjadi duchess of Claymore, suka atau pun tidak!" - Alexander Davlin Claymore, Duke of Claymore - "Bukan kah kau tidak suka dengan gadis berlemak yang suka meneteskan air liurnya saat melihat makanan?" - Lady Hanna Jhonson - Tidak cukup dihina, Hanna pun menjadi taruhan oleh teman-temannya dan juga pria yang sangat dia sukai. Hingga suatu hari, Hanna tersedot masuk ke dalam novel yang sedang dia baca, dan menjadi pemeran utama yang hidupnya juga sama menyedihkannya. Merasa mendapat kesempatan kedua, Hanna mencoba mengubah takdir nya, dengan melawan siapa saja yang ingi menyingkirkan nya