
Tingkah laku Binar semakin lama semakin aneh. Albiru tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Binar. Istrinya itu begitu takut Albiru jauh darinya, seolah-olah Albiru akan pergi dengan wanita lain.
Karena itulah Albiru memutuskan untuk tetap tinggal di rumah mertuanya. Setidaknya dia sedikit tenang karena ada Bunda Ina yang menjaga Binar saat dia sedang bekerja.
Albiru juga memutuskan untuk bercerita dengan Raka, berharap senior yang sudah dia anggap kakaknya sendiri itu bisa membantu.
"Gue bingung mas," keluh Albiru setelah selesai bercerita.
Raka diam sejenak, "perubahan apa yang paling menonjol dari istri lo?"
"Dia selalu bilang kalau Ibu gue mau bawa gue pergi sama wanita lain. Dia juga selalu bilang gue bakal ninggalin dia karena nggak bisa hamil," jawab Albiru frustasi.
"Yang bikin gue bingung, istri gue bersikap positif. Hal yang nggak pernah dia lakukan selama ini. Bahkan gue nggak bisa sekedar membalas sapaan tetangga dia pasti langsung nangis dan nuduh gue yang nggak-nggak." Sambung Albiru, melanjutkan curhatannya.
Raka kembali diam, pria itu tampak berpikir sebelum akhirnya berkata pada Albiru.
"Lo kenal Rika kembaran gue kan? Gue rasa istri lo harus ketemu Rika."
Ucapan Raka membuat Albiru tersentak kaget. Jika Raka mengusulkan untuk bertemu Rika maka ada yang tidak beres. Diam-diam Albiru berharap apa yang dia takuti tidak terjadi.
...****************...
Di dalam mobil tampak Rio tengah mengawasi sebuah rumah yang tampak sepi. Rio menunggu seseorang keluar dari dalam rumah, orang yang dia cari selama beberapa bulan ini.
Tidak lama ponselnya berdering, Rio melirik sekilas kemudian menjawab panggilan tersebut. Dari orang kepercayaannya, orang yang berperan penting dalam misi balas dendamnya.
"Gimana?" tanya Rio pada orang kepercayaannya.
Rio diam mendengarkan segala informasi yang dia terima, tidak lupa sambil mengawasi rumah di depannya.
"Bagus.. setelah ini jalankan sesuai rencana, gue mau besok malam. Nggak boleh ada yang tahu, cukup kita berdua. Gue lagi di depan rumahnya, gue rasa dia nggak akan keluar sebelum dipancing." Rio kembali diam mendengarkan ucapan seseorang di seberang sana.
"Oke.. gue tutup teleponnya. Gue harus bawa dia keluar dari persembunyiaanya."
Rio segera menutup panggilan. Melihat keadaan sekitar yang tampak sepi, pria itu bergegas keluar mobil menghampiri rumah yang dia awasi sejak tadi. Tidak lupa memakai masker dan topi untuk melakukan penyamaran.
Tok.. tok..
Rio mengetuk pintu dengan pelan. Tidak lama terdengar suara seseorang yang membuatnya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya seseorang dari dalam sana yang tidak lain adalah Ella.
Gadis itu membuka pintu dan menatap bingung pria dihadapannya. Dia tidak punya feeling apapun.
Rio tersenyum sinis dibalik maskernya. Menatap tajam kearah Ella yang balik menatapnya. Tidak lama gadis itu tersentak kaget, dia mengenali tatapan tajam itu.
"Lo... " Ella berucap terbata dan berniat menutup pintu, sayangnya Rio lebih gesit dengan menarik kasar lengan gadis itu.
"Kita ketemu lagi Gabriella. Lo terlihat... " Rio menjeda ucapan dengan menatap sinis Ella, "sangat bahagia."
"Lepas atau gue teriak minta tolong biar lo dikeroyok orang satu kampung." Ancam Ella yang hanya ditanggapi tawa mengejek Rio.
"Lo pikir gue takut, gue tinggal bilang lo mantan narapidana yang dipenjara karena membunuh. Orang satu kampung bakal usir lo dari sini dan lo nggak akan punya tempat tinggal lagi." Rio balik mengancam yang berhasil membuat Ella takut.
"Apa mau lo, gue sudah dipenjara jadi lo nggak berhak ganggu gue lagi."
"Gue sudah bilangkan, penjara saja nggak cukup buat lo jera."
"Gue nggak ganggu Binar lagi, tapi kenapa lo masih gangguin gue? Biarkan gue hidup tenang,"
"Gue nggak ganggu lo, gue cuma mau memastikan lo masih hidup. Setelah ini gue bakal pergi, tapi sebelum itu gue mau bilang..." Rio kembali menjeda ucapan.
Pria itu menarik Ella mendekat dan membisikan sesuatu yang membuat Ella menatapnya tidak percaya.
Rio tertawa sinis, dia sudah tenang karena berhasil menemukan keberadaan Ella. Hanya tinggal rencana yang sudah dia susun rapi. Tidak peduli apapun risikonya Rio hanya berharap semoga setelah ini Binar bisa hidup bahagia meski bukan bersamanya.
...****************...
Sesuai ucapannya kemarin, Albiru mengajak Binar untuk jalan-jalan. Albiru ingin Binar bersantai dan menikmati waktu berdua. Tidak lupa pitu juga mengajak Binar bertemu dengan Rika di restoran.
Dan saat ini keduanya tengah duduk di hadapan Rika yang menyambut hangat kehadiran mereka.
"Hai.. kenalin saya Rika, kembaran Raka." Sapa Rika hangat seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Binar.
Binar menatap ragu uluran tangan itu, namun Albiru segera mengangguk meyakinkan Binar untuk menyambut tangan Rika.
"Binar," ucap Binar pelan.
Rika tersenyum, setidaknya Binar mau meresponnya.
__ADS_1
"Kita pulang Bi." Binar berbisik lirih namun Rika dapat mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Rika menampilkan wajah sedih.
"Aku nggak suka Bi, nanti mbak ini rebut kamu." Binar segera mengeluarkan isi hatinya membuat Albiru terkejut.
Rika sendiri hanya tersenyum tipis, dia mulai membaca situasi.
"Nggak dong Binar, saya sudah punya suami dan anak. Kamu tenang saja ya," ucap Rika berusaha meyakinkan.
"Anak?" Binar bertanya ragu yang dibalas anggukan antusias Rika.
"Aku juga mau punya anak, tapi nggak bisa." Binar berucap sedih membuat Rika merasa bersalah.
Rika melupakan hal itu, seharusnya dia tidak membahasnya di depan Binar. Namun Albiru berkata tidak apa-apa, berusaha menenangkan Rika.
"Mbak mau rebut Biru dari aku kan, mbak bisa punya anak makanya mau rebut Biru dari aku." Ucap Binar yang kini sudah menangis sambil memeluk Albiru.
"Nggak, saya nggak akan rebut suami kamu. Saya sudah punya suami, saya cuma mau jadi teman kamu." Rika segera menenangkan, berusaha mengambil hati Binar.
Binar menghentikan tangisnya, menatap Rika dengan bingung.
"Teman?" tanya Binar.
"Iya, kamu istrinya sahabat kembaran saya. Saya mau kamu jadi teman kamu, kamu maukan?"
Binar menatap Albiru lagi, pandangannya seolah bertanya apakah boleh menjadikan Rika sebagai temannya.
"Mbak Rika baik kok, kan kembaran mas Raka. Nanti mbak Rika bisa jadi teman curhat kamu." Bisik Albiru lembut.
Walaupun ragu pada akhirnya Binar tetap mengangguk. Menerima permintaan Rika untuk menjadi temannya.
Siang itu mereka bertiga menghabiskan waktu dengan saling bercerita. Membagi berbagai kisah, terutama kisah tentang Albiru dan Binar semasa berpacaran.
Sepulang dari makan siang, Albiru mendapat pesan dari Rika yang membuat begitu terpukul.
Gue nggak bisa menyimpulkan dari pertemuan pertama. Tapi menurut gue, Binar dilanda GAD. Dia cemas akan banyak hal yang dia alami belakangan ini. Gue minta izin buat ketemu Binar beberapa kali lagi, menurut gue apa yang dialami Binar belum parah. Gue minta jangan membahas hal yang terjadi belakangan ini, setidaknya sampai dia tenang. Gue harap bisa membantu kalian.
Begitulah isi pesan Rika. Rika ada seorang psikolog dan entah mengapa Raka merasa Binar perlu bertemu dengan Rika, karena itulah dia mengusulkan untuk mempertemukan keduanya. Albiru sendiri berusaha menyangkal namun perubahan pada Binar membuatnya tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
Setidaknya dia berusaha agar Binar bisa ceria seperti dulu lagi, tidak terus menerus merasa khawatir akan hal yang tidak pernah terjadi.
TBC