Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 12 - Ipar rasa musuh 2 -


__ADS_3

Binar tahu Ibu Siti tidak akan melepasnya begitu saja, terlebih ada Ella yang selalu mengompori Ibunya itu. Dan keyakinan Binar terbukti benar, Ibu mertuanya itu mengadu pada Albiru.


“Kamu berantem lagi sama Ella?” tanya Albiru begitu Binar mendudukan dirinya dipinggir ranjang.


Binar menarik napas merasa sudah sangat lelah dengan pembahasan ini. “Dia ngadu apa sama kamu?” Binar balik bertanya.


“Aku nggak mau bahas ini sebenarnya. Tapi jujur Bi, aku capek dengar keluhan Ella tentang kamu. Dan itu hampir setiap hari, mungkin kamu nggak tahu kalo dia selalu mengeluh tentang kamu.” Albiru menatap Binar lelah, dia sudah lelah dengan pekerjaan yang menumpuk dan sekarang ada lagi masalah yang harus segera diurus.


“Kalo gitu nggak usah kita bahas lagi,” putus Binar sepihak.


“Dan membiarkan terus berlarut-larut?” Albiru bertanya frustasi. “Kali ini tentang masalah apa? Aku mau dengar ceritanya dari kamu.”


“Dia terus ngeremehin aku Bi, bandingin aku sama Intan. Selalu sahabatnya itu yang dibanggain tapi sama aku yang kakak iparnya selalu direndahkan.”  Ujar Binar lelah, masalah dengan adik iparnya itu tidak ada habisnya.


“Kata Ibu, kamu nyindir Intan. Seharusnya kamu bisa kontrol diri kamu Bi, aku nggak mau nanti Intan malah semakin bersemangat jatuhin kamu.”


“Kalo dia merasa sakit hati, seharusnya dia sadar diri bukan malah semakin bertingkah.  Dan untuk Ella seharusnya kamu tahu dia nggak pernah nerima aku dengan baik. Sudah ya Bi, aku capek mau tidur.” Binar menutup percakapan, berbaring membelakangi Albiru.


“Kamu harus sabar Bi, coba pelan-pelan dekati Ella dia pasti akan nerima kamu dengan baik. Menghadapi Ella itu harus ektra sabar. Untuk Intan, aku rasa selama aku nggak menanggapinya pasti nggak masalah. Kamu nggak perlu permasalahin soal Intan.” Albiru masih berbicara, dia tahu Binar masih mendengarkannya.


Kamu mengatakan hal yang sama delapan tahun yang lalu dan sampai detik ini adik kamu itu masih nggak bisa nerima aku, batin Binar.


“Untuk masalah Ibu, aku mohon kamu jangan melawan. Dia Ibu kamu juga Bi, tolong hargai dia sebagai orang tua kamu.” Ujar Albiru mengakhiri.


Binar tidak menyahuti karena dia tahu apapun bentuk pembelaannya selalu dia yang akan disalahkan. Albiru terlalu menyanjung Ibunya sampai lupa bahwa siapa saja bisa berbuat salah.


Binar lelah dan muak menghadapi ini. Selama ini dia berusaha meredam egonya, bahkan dia memilih mengalah saat Albiru memutuskan untuk tinggal sementara bersama keluarganya. Binar pikir selama dia mengalah dan meredam egonya dia akan diterima dengan baik dikeluarga suaminya, tapi semua pikirannya salah, dia tidak diterima dengan baik meski sudah mencoba dengan keras.


 


...****************...


 


“Kok seperti itu sih? Kakak ipar kamu itu jahat banget ya Ella.” Binar yang hendak ke luar rumah segera menahan langkah kakinya. Dia tahu itu suara Ibu Ani.

__ADS_1


“Ella juga nggak menyangka Bu, mbak Binar kasar banget sama sahabat baik Ella. Padahal Intan cuma berusaha membantu dan Ibu senang tapi mbak Binar malah nggak terima.” Ella bercerita dengan dramatis.


Binar tentu saja terkejut tidak menyangka Ella sama saja seperti Ibunya dan yang lebih mengejutkan lagi mengapa Ella harus berlebihan seperti itu seakan-akan Binar penjahat yang sebenarnya.


“Ya ampun Ella, yang sabar ya. Seharusnya kamu ngomong sama mas kamu kalo istrinya itu tidak baik, kenapa sih baru ketahuan sekarang buruknya? Kan kalo sudah menikah jadi susah begini.”


Binar dibuat semakin tercengang, tidak tahu harus berkata apa. Binar ingin keluar dan mengatakan semua yang dibicarakan Ella tidak benar, namun dia tahu tidak akan ada yang percaya padanya dan dia akan semakin dipandang buruk.


“Ella cuma kasihan sama Intan Bu, dia baik banget dan sayang sama Ibu tapi mbak Binar malah benci banget sama Ella.” Ella terus saja berceloteh sangat senang bisa menjatuhkan Binar dihadapan tetangganya. Dan dia yakin Bu Ani akan bercerita ketetangga yang lain dan itu akan semakin membuat Binar buruk.


“Coba saja mas kamu itu mau sama Intan pasti bahagia dia. Intan itu sudah cantik pintar ngurus rumah lagi.” Ucap Bu Ani yang pikirannya sudah semakin mengada-ada.


Binar yang tidak tahan sudah bersiap keluar rumah, namun melihat Fadli yang baru datang dia segera mengurungkan niatnya. Di rumah ini hanya Fadli yang terlihat berpihak padanya, meski mereka jarang berbagi cerita.


“Wah, minggu pagi begini malah disibukan dengan gosip. Kamu sudah jadi bagian dari Ibu-Ibu ini Ella?” Ujar Fadli sinis, dia terkenal sangat tidak suka dengan Ibu-Ibu penggosip.


“Eh nak Fadli, dari mana pagi-pagi gini?” Bu Ani segera mengalihkan pembicaraan tidak peduli dengan ucapan sinis Fadli.


“Lagi ada urusan di kampus Bu, tapi bukan urusan menggosipi orang ya.” Ella dan Bu Ani saling tersenyum canggung. Fadli ini mulutnya sangat mengerikan, Bu Ani yang tidak tahan segera pamit. Sedangkan Ella menatap malu kakak keduanya itu.


Binar sendiri tak kalah kaget mendengar ucapan Fadli yang begitu menusuk. Dia tidak menyangka Fadli yang terlihat cuek bisa sangat menyeramkan saat  berbicara.


...****************...


 


“Kenapa natap Ella begitu?” Ella bertanya saat melihat Binar terus saja menatapnya dengan tajam.


“Kamu ngomong apa sama Ibu-Ibu itu?” tanya Binar pelan.


Saat ini mereka berada di ruang tamu, hanya mereka berdua. Anggota keluarga yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Binar yang melihat peluang itu langsung saja mendekati Ella.


“Mbak ngomong apa sih?” Ella kembali bertanya. Berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Binar.


Binar tersenyum sinis, “Aku dengan semua omongan kamu, tadi pagi.”

__ADS_1


Ella tampak terkejut namun segera mengganti ekspresinya. Gadis itu malah balas tersenyum, seolah tidak ada yang salah dengan tindakannya.


“Ella cuma ngomong apa adanya. Mbak Binar itu jahat sama Intan, kata-kata mbak buat Intan sakit hati, dia bahkan nangis semalaman.” Ujar Ella emosi, dia merasa tindakannya membela Intan sudah benar.


“Jadi dia ngerasa? Kalo dia merasa nggak salah seharus dia nggak perlu sakit hati. Dia seharusnya sadar tempatnya dimana bukan malah bersikap seperti korban yang tersakiti.” Binar tidak sadar sudah terpancing. Dia hanya berpikir harus menyelesaikan masalah ini dengan Ella dan membuat adik iparnya itu mundur.


“Mbak Binar keterlaluan!” Ella meninggikan suaranya membuat Albiru yang berada di kamar segera keluar mencari sumber suara.


“Kamu nggak perlu berteriak Ella!”


“Mbak!” Ella kembali meninggikan suara tak terima Binar menegurnya.


“Kalian ini apa-apaan?” Albiru segera menghampiri keduanya.


Binar dan Ella terkejut tidak menyangka Albiru mendengar pertengkaran mereka.


“Harus ribut begini terus menerus?” Albiru terlihat menahan emosinya membuat Binar dan Ella tidak berani bersuara.


Ibu Siti yang mendengar keributan segera menghampiri. Dia tidak menyangka Binar dan Ella membuat keributan disaat Albiru ada di rumah.


“Kalian ini ada apa sih? Kenapa ribut terus setiap hari?” tanya Ibu Siti.


“Ella gosipin Binar ketetangga Bu, dia bahkan menjelekan saya.” Jawab Binar membuat Albiru melotot kaget.


“Kamu buat ulah apalagi Ella?” Albiru bertanya pada Ella yang tidak berani menatap wajah kakak sulungnya itu.


“Sudah Biru, biar Ibu yang mengurus Ella.” Ibu Siti menyela tahu bahwa Albiru benar-benar marah.


“Nggak bisa gitu Bu, Ella harus ngomong sama Biru apa saja yang dia bicarakan tadi.” Binar memotong tak terima jika Ella lolos begitu saja.


“Binar,” tegur Albiru yang tidak dihiraukan Binar.


“Kali ini aku nggak mau dengerin kamu Biru. Kamu harus tahu seperti apa adik kesayangan kamu itu.” Mata Binar menyorot tajam, dia tidak mau menyerah. Kali ini dia akan bertahan sampai Ella benar-benar jera tidak peduli jika nanti Albiru akan balik memarahinya.


 

__ADS_1


TBC


__ADS_2