Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 70 - Kehangatan Keluarga-


__ADS_3

Ibu Siti datang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia namun, rasa malu karena perilaku buruknya lebih mendominasi.


Fadli disisinya dengan setia memberi dukungan. Fadli bahkan mengatakan bahwa kehadiran Ibu Siti nanti-nanti.


"Assalamu’alaikum," Fadli dan Ibu Siti kompak mengucapkan salam.


Bunda Ina dan Ayah Ibra lantas menoleh. Keduanya segera menyambut dengan hangat.


"Waalaikumsalam."


Bunda Ina menyambut dengan senyum hangatnya. Mempersilahkan Fadli dan Ibu Siti untuk segera masuk.


Dengan canggung Ibu Siti masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya dia mendapati Ayah Latif yang tengah duduk di ruang tamu.


Keduanya bertatapan selama beberapa saat sebelum Ayah Latif mengalihkan tatapannya.


"Silahkan duduk, sebentar ya saya panggilan Binar sama Biru." Bunda Ina segera pergi memanggil Binar dan Albiru.


Ibu Siti duduk berhadapan dengan Ayah Latif. Sesekali wanita itu mencuri pandang menatap mantan suami yang diam-diam dia rindukan.


"Ibu.. Fadli." Albiru segera menyapa begitu melihat sang tamu yang dia nantikan.


Binar segera menyalami Ibu Siti. Ya, Binar sudah memaafkan Ibu Siti berkat nasehat Ayahnya.


"Mana Nessa sama Nevan?" tanya Fadli tidak sabar.


"Lagi tidur, makan malam dulu baru lihat si kembar." Ucap Albiru mengusulkan yang disetujui para orang tua.


"Yuk isi perut dulu, nanti keburu dingin makanannya." Ajak Bunda Ina yang segera menggandeng Ibu Siti agar tidak canggung lagi.


Mereka menikmati makan malam bersama. Hal pertama kali terjadi sejak Albiru dan Binar menikah.


Ayah Latif sendiri terlihat lebih banyak diam. Saat yang lain berbincang-bincang, Ayah Latif memilih diam sambil menikmati makan malamnya.


Baik Binar maupun Albiru sangat mensyukuri apa yang terjadi saat ini. Keduanya menganggap si kembar berhasil menyatukan dua keluarga.


...****************...


Selesai makan malam Binar sengaja mengajak Ibu Siti ke kamar untuk menemui si kembar. Dapat Binar lihat kebahagiaan terpancar dari wajah Ibu Siti saat melihat kedua cucunya.


"Namanya Nevan dan Nessa." Ucap Binar memberitahu nama si kembar.


"Ibu mau gendong?" tanya Binar menawarkan.


Ibu Siti menggeleng pelan, tidak ingin mengganggu cucu-cucunya yang sedang tidur.

__ADS_1


Lama Ibu Siti terdiam menatap sepasang bayi kembar itu. Perlahan air matanya menetes, rasanya dia sangat menyedihkan. Betapa kejamnya dia pada Ibu dari kedua cucunya ini.


"Binar, maaf... maafin Ibu ya." Ibu Siti berbalik memeluk Binar dengan erat.


Binar yang tidak siap hanya bisa mematung sesaat sebelum akhirnya balas memeluk Ibu Siti.


"Binar juga minta maaf, Bu. Maaf jika selama ini Binar belum bisa menjadi menantu dan istri yang baik. Maaf jika Binar menyakiti hati Ibu."


Binar ikut menangis, merasa dirinya juga banyak melakukan kesalahan. Binar tahu Ibu Siti pasti menginginkan yang terbaik untuk Albiru hanya saja caranya yang salah dalam mendidik Binar.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sayangnya, ada orang lain yang memanfaatkan hal itu dan membuat Ibu Siti melakukan hal yang kelewat batas.


"Terima kasih nak, kamu sudah sudi memaafkan Ibu. Terima kasih juga sudah melahirkan cucu-cucu Ibu. Ibu berdoa semoga kamu dan Biru selalu bahagia bersama anak-anak kalian."


"Aamiin... terima kasih Bu untuk doanya. Dan terima kasih sudah mau menerima Binar serta anak-anak Binar."


Keduanya berpelukan erat, saling memaafkan dan berterima kasih. Mereka bahkan tidak sadar ada Albiru yang menyaksikan semuanya di balik pintu.


Albiru tersenyum bahagia melihat Ibu dan istrinya bisa berdamai. Dia berharap semoga kedepannya semua berjalan baik.


Albiru segera masuk, membuat kedua wanita itu terkejut. Ibu Siti tampak malu kedapatan oleh anaknya sendiri sedang menangis.


"Maafin Biru ya, Bu. Maaf jika Biru sudah banyak menyakiti hati Ibu dan membuat Ibu terluka." Ucap Albiru mencium sayang kedua tangan Ibunya.


"Ibu yang minta maaf nak, maaf sudah menyusahkan kamu dan Binar. Ibu tahu apa yang kamu lakukan hanyalah demi melindungi istrimu."


Binar menatap keduanya dengan bahagia. Dia bahagia Albiru bisa berdamai dengan Ibunya sendiri. Binar berharap kehangatan ini akan terus terasa. Dia ingin kedua anaknya tinggal ditengah-tengah keluarga yang damai dan saling berbagi kehangatan.


...****************...


Di ruang tamu, orang tua Binar dan Ayah Latif sedang berbincang-bincang santai. Banyak hal yang mereka bicarakan. Ayah Latif sendiri tampak lebih santai tidak seperti tadi saat kedatangan Ibu Siti.


Terlihat sekali Ayah Latif menghindari kontak mata dengan Ibu Siti. Bahkan sepanjang makan malam tadi Ayah Latif memilih untuk diam.


Ayah Latif hanya masih belum siap menatap Ibu Siti berlama-lama. Rasa rinduku tersimpan rapi, dia tidak ingin ada yang mengetahui betapa dia merindukan Ibu dari anak-anaknya itu.


Saat mereka sedang asik berbicara, suara ketukan pintu disertai salam membuat ketiganya menoleh.


"Assalamu’alaikum." Suara yang sangat dihapal Bunda Ina membuat wanita itu segera beranjak menuju pintu.


Ada Rio yang datang bersama Gaby. Mereka sengaja datang setelah makan malam keluarga Binar usai.


Kedatangan Rio tentu saja disambut baik Bunda Ina dan Ayah Ibra, terlebih ada Gaby disisi Rio.


"Waalaikumsalam, ayo masuk Rio.. Gaby." Bunda Ina segera mempersilahkan keduanya masuk.

__ADS_1


Rio dan Gaby segera masuk, keduanya langsung disambut hangat oleh Binar dan Albiru yang baru saja keluar kamar.


"Kak Gaby!" Binar memanggil dan segera memeluk wanita itu.


"Gimana kabarnya, Bi?" tanya Gaby menyambut hangat pelukan Binar.


"Alhamdulillah kak, yuk duduk." Ajak Binar, namun segera ditahan oleh Rio.


Pria itu menyerahkan dua bungkus kado berukuran besar yang segera diterima oleh Albiru dan Binar.


"Ini buat si kembar. Waktu di rumah sakit kemarin kan gue sama Gaby nggak sempat ngasih kado." Ucap Rio menjelaskan.


"Makasih ya Om dan Tantenya si kembar. Nevan sana Nessa senang nih dapat banyak kado." Binar tersenyum senang, merasa begitu banyak orang yang menyayangi kedua anaknya.


Ketika mereka sedang asik berbicara, seseorang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Semua menoleh pada sosok yang berdiri di depan pintu.


Seorang perempuan yang tampaknya juga terkejut melihat sosok pria yang berdiri tidak jauh di depannya.


"Ella!?" Ibu Siti memanggil kaget, tidak menyangka Ella datang ke rumah ini.


Ella sendiri tampak masih terkejut melihat Rio yang kini menatapnya dengan sinis. Pria itu sama sekali tidak terkejut.


"Lo!" Ella berseru kaget seraya menunjuk Rio sebelum akhirnya jatuh pingsan.


"Ella!"


Semua berteriak kaget melihat Ella yang jatuh pingsan, kecuali Rio tentu saja. Ayah Latif segera berlari menghampiri Ella dan menggendong gadis itu.


Semua terjadi begitu cepat, bahkan mereka tidak ada yang tahu mengapa Ella bisa tiba-tiba jatuh pingsan.


TBC


Maaf ya baru bisa update..author masih sakit 🤧


jangan lupa dukungannya ya biar author semangat lagi..


Rekomendasi novel keren untuk kalian karya author Febyanti


yuk mampir dan jangan lupa dukunganya 😊


Judul: RANJANG PENGKHIANTAN



Karena pengkhiatan istrinya, Axel terluka, hingga luka itu mendarah daging. Memperegoki istrinya yang tengah bercinta dengan sahabatnya sendiri. Tak cukup sampai disitu, Hanna yang merupakan istrinya harus pergi selama-lamanya akibat perkelahian antar suami dan selingkuhannya.

__ADS_1


Berimbas, Axel yang menjadi tersangka akan pembunuhan yang dilakukan sahabatnya sendiri. Axel mendekam selama 15 tahun di penjara. Saat terbebas, ia akan membalaskan dendamnya pada sahabat sekaligus pembunuh yang sebenarnya. Hasil dari perselingkuhan, hadirlah sosok wanita cantik yang menjadi incaran Axel untuk membalaskan dendamnya.


__ADS_2