Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 46 - Jarak -


__ADS_3

Binar duduk melamun diatas ranjang kamarnya. Rumah ini begitu sepi dan sunyi. Binar jadi berpikir kesepian yang selama ini dia rasakan pasti Bundanya rasakan juga.


Tidak ada yang menemani berbagi cerita atau berbagi tawa. Hanya ketika suami pulang barulah suasana rumah terasa hidup kembali.


Binar ingin ketika di rumah ada yang menemainya, sosok anak yang akan berlari sambil tertawa atau malah menangis. Sayangnya, Binar harus mengubur dalam-dalam keinginannya.


"Kamu mau punya anak berapa Bi?" tanya Binar pada Albiru yang tampak sibuk dengan pekerjaannya.


Mereka baru menikah beberapa minggu tapi Binar sudah tidak sabar untuk segera memiliki anak.


"Maunya banyak sayang biar rumah ramai, tapi dikasih satu sudah bersyukur banget." Albiru menjawab santai, meletakkan sejenak pekerjaan kantornya.


"Aku maunya banyak Bi, sebagai anak tunggal selama ini aku kesepian. Kalau punya banyak anak aku nggak kesepian lagi, anak kita juga pasti senang kalau banyak saudara biar nggak kesepian juga."


Albiru terkekeh merasa gemas melihat Binar yang begitu bersemangat.


"Semua tergantung Allah, apapun yang Allah kasih harus disyukuri. Yang penting sehat dan sempurna, dan jangan lupa terus berusaha."


Albiru tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat wajah merona Binar saat mendengar ucapannya yang terselip sedikit godaan.


"*Kamu mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya Binar lagi.


"Sebenarnya anak laki-laki atau perempuan sama saja Bi, tapi mengingat tanggung jawab anak sulung itu berat aku sedikit berharap anak pertama kita laki-laki."


"Gimana kalau kembar Bi?" Benar bertanya lagi, wanita itu semakin bersemangat membayangkan memiliki anak.


"Itu bonus sayang. Bagiku anak laki-laki atau perempuan bahkan kembar asalkan kamu Ibunya tetap akan membahagiakan."


"Apaan sih Bi." Ucap Binar yang merona malu mendengar rayuan itu.


Binar tersenyum kecil mengingat kenangan itu. Mereka baru menikah dan dengan antusias membahas anak.


Mengingat kenyataan bahwa dia tidak bisa lagi membahas masalah anak dengan begitu antusias menbuat senyum Binar lenyap.

__ADS_1


Meski sakit Binar tetap menguatkan diri, berkata tidak apa-apa pada dirinya sendiri.


...****************...


"Assalamu’alaikum," Binar segera menoleh kearah pintu kamar dan mendapati wajahFay yang tengah tersenyum.


"Waalaikumsalam, masuk Fay." Jawab Binar mempersilahkan Fay untuk masuk.


"Gimana kabar lo?" tanya Fay setelah memberi Binar sebuah pelukan hangat.


"Nggak baik Fay," Binar menjawab seadanya.


"Maaf Bi, gue datang terlambat." Fay berbisik penuh penyesalan.


Binar menggeleng, "lo nggak terlambat, kehadiran lo saat ini sangat berharga."


Fay tidak menjawab melainkan memeluk Binar dengan erat. Fay ingin menangis, ikut bersedih mendengar apa yang sudah terjadi pada Binar. Namun sebagai sahabat yang harus menguatkan, Fay terpaksa menahan air mata meski dadanya begitu sesak.


"Lo kuat Bi, lo kuat." Bisik Fay menguatkan namun Binar menggeleng pelan.


"Nggak Bi, Biru nggak akan menyerah sama lo. Dia cinta sama lo, cuma lo yang dia cintai Bi." Fay mengeratkan pelukannya memberi kekuatan untuk Binar.


"Gimana kalau dia capek Fay. Dia pasti mau punya anak tapi gue nggak bisa ngasih dia anak."


"Lo bukan nggak bisa Bi, lo masih bisa punya anak. Ingat Bi seberapa kecil kemungkinan itu tetap akan bisa menjadi nyata dengan kuasa Allah."


"Tapi Ibu bilang, dia mau Biru segera punya anak. Gue nggak mau diceraikan Fay tapi gue juga nggak mau dimadu, gue nggak sanggup liat Biru menikah lagi."


Fay merasa begitu marah. Ibu Siti benar-benar tidak punya hati membuat Binar sampai begitu kalut. Ingin rasanya Fay mencekik wanita itu karena membuat sahabatnya menderita seperti ini.


"Nggak Bi, lo tenang ya. Biru nggak akan ceraikan lo apalagi menikah dengan wanita lain. Karena kalau sampai itu terjadi, gue sendiri yang akan bunuh mertua lo dan Biru." Fay berucap penuh tekad, tidak akan dia biarkan siapapun menyakiti Binar.


...****************...

__ADS_1


Setelah perbincangan malam itu Albiru dan Rio tidak berhubungan lagi. Rio seperti sengaja menjaga jarang sedangkan Albiru menyibukkan diri dengan pekerjaan.


Albiru merindukan Binar, merindukan sosok yang selama ini berada disampingnya. Begitu berat menahan rindu namun Albiru memilih untuk tidak bersikap egois. Sengaja memberi Binar waktu untuk sendiri terlebih lagi ada sosok Bunda Ina yang melarang Albiru untuk berkunjung.


"Ngelamun Biru?" Suara Raka menyadarkan Albiru dari lamunannya.


"Eh, mas." Albiru menyahut singkat sedikit terkejut mendengar suara Raka.


Raka segera duduk di samping Albiru, tersenyum kecil melihat wajah lelah pria itu.


"Akhir-akhir ini gue liat lo sering banget melamun. Ada masalah Biru?" tanya Raka.


Albiru tersenyum kecut, "hidup gue banyak masalah mas."


"Semua orang punya masalah Biru, yang membedakan hanya cara kita menghadapi masalah. Ada yang terlihat santai tapi pikiran kacau dan ada yang terlihat sangat kacau luar dalam."


Albiru tertawa miris, dia adalah orang yang terlihat kacau luar dalam. Tidak bisa menutupi kekalutannya.


"Gue nggak akan nanya masalah apa yang lo hadapi karena itu bukan ranah gue. Tapi sebagai orang yang sudah gue anggap keluarga, gue selalu siap mendengar cerita lo." Raka berkata dengan tulus membuat Albiru benar-benar merasakan sosok kakak yang selama ini tidak dia miliki.


"Menurut mas, jarak yang sengaja diciptakan dalam sebuah hubungan apakah baik?" tanya Albiru ketika merasa yakin Raka orang yang bisa dia percaya.


"Biru, dalam sebuah hubungan terciptanya jarak bukan hal yang baik apalagi sengaja diciptakan. Jarak dalam sebuah hubungan bisa menimbulkan masalah baru, contohnya kesalahpahaman. Kamu nggak bisa menebak pikiran pasangan kamu begitu juga sebaliknya dan karena menjaga jarak kalian saling sibuk menerka-nerka hingga bisa menimbulkan kesalahpahaman."


Albiru terdiam, apa yang dia katakan Raka benar. Saat ini hubungannya dengan Binar sedang tidak sehat dan jarak yang mereka ciptakan ini jelas akan semakin merenggangkan hubungan mereka.


"Apa yang harus gue lakuin mas?" tanya Albiru frustasi.


"Lakukan segala cara untuk memperbaiki, jika pasangan kita meminta waktu sendiri berikan, tapi jangan lupa batas waktunya jangan sampai berlarut-larut. Orang yang tidak suka dengan kita akan semakin bahagia melihat kita menderita." Raka menjeda sejenak memberi waktu Albiru untuk berpikir.


"Cinta itu butuh perjuangan apalagi jika sudah dalam ikatan pernikahan. Segala cara harus dilakukan untuk mempertahankan rumah tangga. Buktikan ketulusan lo, buktikan besarnya cinta yang lo punya."


Mendengar nasehat Raka membuat Albiru kembali bersemangat. Apa yang dikatakan Raka benar, dia harus membuktikan cintanya pada Binar. Saat ini Binar butuh bukti untuk meyakinkan hatinya agar tidak lagi meragu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2