
Mila. Nama yang berhasil mengacaukan hubungan Albiru dan Binar saat masa-masa kuliah.
Hampir semua mahasiswa tahu bagaimana gila Mila saat mengejar cinta Albiru. Bahkan sekalipun ditolak dengan sadis tidak juga membuat Mila menyerah.
Parahnya lagi Mila memiliki beberapa teman yang suka sekali menyebar gosip. Gosip yang membuat hubungan Albiru dan Binar renggang.
Dan saat ini, di hadapan Albiru berdiri sosok Mila yang sudah bertahun-tahun lamanya menghilang.
"Hai, Albiru!" Sapa Mila dengan ceria, bahkan wanita itu tidak peduli dirinya sudah menjadi pusat perhatian.
Albiru enggan menjawab sapaan Mila, sebaliknya pria itu menoleh pada Raka yang merupakan tuan rumah. Raka mengerti arti tatapan Albiru yang bertanya siapa wanita itu.
"Kenalin dia tetangga gue dan mulai besok dia bekerja di divisi lo, dia gantikan Tika." Terang Raka yang membuat Binar menatap kaget.
Firasat Binar mengatakan kehadiran Mila akan membawa musibah untuk rumah tangganya. Lihat saja, sedari awal wanita itu muncul yang dia lihat hanya Albiru seorang.
Albiru menghela napas, merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Terlebih saat ini dia sudah menjadi pusat perhatian tamu-tamu Raka.
"Maaf Mas, gue sama istri gue pamit pulang. " Ucap Albiru yang akhirnya memutuskan untuk pamit pulang.
Meski tidak tahu apa yang terjadi, Raka tetap mempersilahkan Albiru untuk pulang. Raka hanya merasa ada yang tidak beres dengan Albiru.
Mila sendiri hanya bisa menatap kesal kepergian Albiru. Dia merasa dipermalukan karena Albiru bahkan tidak menganggapnya ada.
...****************...
"Dia kerja di kantor kamu juga? Bahkan satu divisi?" Binar bertanya dengan kesal meski dia tahu jawabannya.
"Aku baru tadi, sayang. Please nggak usah dibahas, aku nggak mau kita berantem gara-gara dia." Ucap Albiru pelan, sungguh dia tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi.
"Tapi dia satu kantor bahkan satu divisi sama kamu. Itu artinya kalian bakal sering ketemu, aku nggak bisa bayangin apa aja yang bakal dia lakuin nantinya."
Apa yang dikatakan Binar benar dan untuk hal itu Albiru tidak bisa mencegah apa yang akan terjadi nantinya. Albiru tidak memiliki wewenang, dia hanyalah kepala divisi.
"Aku akan berusaha untuk profesional, percaya sama aku ya. Aku akan minta bantuan Mas Raka, masalah ini nggak usah dipikirin lagi aku nggak mau kamu stress."
Binar mengangguk, bagaimanapun juga ini menyangkut masalah pekerjaan. Albiru harus bersikap profesional dan Binar harus menerima dengan lapang dada, mempercayakan semua pada suaminya.
"Kenapa dia kembali lagi?" tanya Binar tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku juga kaget, bertahun-tahun menghilang setelah membuat kekacauan dan sekarang dia muncul tiba-tiba." Jawab Albiru yang tidak habis pikir dengan kejutan hari ini.
Binar menatap keluar jendela, memikirkan apa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sejujurnya dia takut Mila akan berbuat gila lagi, dia takut rumah tangganya akan mendapat cobaan berat lagi.
"Aku harap dia sudah berubah dan nggak akan ganggu rumah tangga kita."
"Aku juga berharap begitu, sayang. Apapun yang akan terjadi nantinya tetap percaya sama aku, karena kunci dalam sebuah hubungan adalah kepercayaan."
Albiru benar, yang mereka butuhkan adalah kepercayaan. Menghadapi wanita seperti Mila memang sulit, namun selama mereka saling menaruh kepercayaan tentu saja semua akan berlalu dengan mudah.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika ponsel Albiru berdering. Tertera nama Ella membuat Albiru menatap bingung.
Albiru yakin ada hal yang berkaitan dengan Rio sehingga Ella menelponnya seperti ini.
"Ada apa?" tanya Albiru langsung tanpa salam.
"Mas Biru, bisa kita ketemu sekarang?"
"Kalau kamu nggak punya jam, biar saya ingatkan ini sudah jam delapan malam." Ucap Albiru sinis membuat Binar yang sedang menyusui Ness menoleh.
Albiru terdiam sejenak, menatap Binar yang juga tengah menatapnya.
"Ella mau bertemu, boleh?" tanya Albiru pada Binar yang dengan segera mengangguk setuju.
"Boleh, tapi jangan lama-lama." Ucap Binar memberi izin, biar bagaimanapun mereka masih keluarga.
"Tunggu di taman." Setelah mengucapkan hal itu Albiru segera pamit.
Pria itu menemui Ella yang tengah duduk dibangku taman seorang diri.
"Mas Biru," Ella segera menyambut dengan perasaan lega.
Gadis itu berharap Albiru akan bisa membantunya.
"Saya kasih waktu sepuluh menit." Ucapan Albiru membuat Ella terkejut tidak menyangkan Albiru akan bersikap seperti ini.
"Mas Biru, tolong bantu Ella." Pinta Ella langsung saat menyadari Albiru yang tidak main-main dengan ucapannya.
__ADS_1
"Tolong bantu Ella lepas dari Rio. Ella nggak mau nikah sama dia." Lanjut Ella dengan nada memohon yang sayangnya tidak memiliki pengaruh apapun pada Albiru.
"Bukan urusan saya!" Albiru berucap dengan sadis.
"Ella nggak mau nikah sama dia Mas. Ella yakin Mas Biru bisa bantuin Ella, tolong sekali ini saja bantu Ella."
Dengan tiba-tiba Ella bersimpuh di hadapan Albiru membuat pria itu mundur beberapa langkah. Cukup terkejut dengan tindakan Ella.
"Sayangnya saya ngga akan bantu kamu. Silahkan urusi masalah kamu sendiri, saya ingatkan kamu itu bukan adik saya!"
Albiru kembali berucap dengan sadis membuat Ella menangis. Gadis itu tampak sangat putus asa.
"Ella mohon sama Mas Biru, bantu Ella. Rio bukan pria baik, Ella nggak mau nikah sama dia!"
"Kamu pikir kamu itu gadis baik? Dibanding Rio saya rasa kamu jauh lebih buruk!"
Ella menatap Albiru dengan kaget, tidak menyangka Albiru bisa berucap setega itu padanya.
"Mas Biru jahat! Baik kalau Mas nggak mau bantu Ella, lihat saja apa yang akan Ella lakukan!" Merasa sakit hati Ella segera mengancam Albiru.
Mendengar ancaman itu Albiru justru tertawa. Meremehkan ancaman Ella. Ya, gadis itu terlalu sombong.
"Kamu pikir saya takut? Silahkan lakukan apapun yang kamu mau dan lihat apa yang akan dilakukan Rio padamu."
Albiru tersenyum sinis, menatap jam dipergelangan tangannya.
"Sudah sepuluh menit, waktu kamu habis." Albiru segera berbalik meninggalkan Ella yang masih menangis.
"Mas Biru!" Ella berteriak memanggil, namun Albiru tidak memedulikannya.
Lakukan apapun itu Ella asal tidak menyentuh Binar karena kamu akan menyesal jika menyentuh Binar sekali lagi, batin Albiru.
Ella yang putus asa hanya bisa menangis. Dia pikir Albiru akan bersedia membantunya. Dia pikir dengan memohon Albiru akan luluh dan mau membantunya lepas dari Rio.
Sayangnya, Albiru telah menutup matanya untuk Ella. Pria itu sangat membenci Ella, tidak akan mau membantu gadis itu meski Ella mohon dengan sangat.
Inilah yang pantas Ella terima. Karma atas perbuatan kejamnya terhadap Binar. Tidak ada yang bisa membantunya, Ella hanya bisa memasrahkan diri dan berharap bisa melawan Rio suatu saat nanti.
TBC
__ADS_1