
Sebenarnya Ella adalah keponakan Ibu Siti. Saat usia Ella baru satu bulan, adik Ibu Siti meninggalkannya begitu saja. Karena tidak tega Ibu Siti memutuskan untuk merawat Ella. Gadis itu dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang dari Ibu Siti.
Dan karena tidak ingin suatu saat Ella terluka dengan kenyataan bahwa dia bukan anak kandung, Ibu Siti dan Ayah Latif memutuskan untuk menutup rapat rahasia mereka.
Namun sekarang mereka harus mengorek kembali masa lalu mereka.
"Terus Ibu kandung Ella sekarang dimana?" tanya Fadli ketika Ayah Latif selesai dengan ceritanya.
"Sampai saat ini tidak ada yang tahu kabarnya." Jawab Ayah Latif lirih.
Albiru hanya diam mendengarkan, masih terlalu terkejut dengan berita ini. Terlebih Ella yang terlihat biasa-biasa saja. Sepertinya gadis itu sudah tahu rahasia ini.
"Kalau gitu Biru kembali ke rumah sakit ya, untuk urusan Ella semua Biru serahin ke Ayah." Albiru segera pamit, pikirannya masih kacau.
Entah mengapa masalah bertubi-tubi menimpa dia dan keluarganya.
"Tolong sampaikan maaf Ayah ke Binar dan orang tua Binar." Ayah Latif berucap lirih, terlihat begitu malu.
Ella benar-benar berhasil mengacaukan keluarganya.
Albiru hanya tersenyum tipis, dia juga malu pada orang tua Binar. Terlebih dia merasa gagal menjadi seorang kakak.
...****************...
Orang tua Binar sudah mengetahui semuanya. Kecewa dan marah tentu saja namun mereka berusah untuk menahannya. Terlebih setelah melihat Albiru yang tampak begitu frustasi.
Binar sendiri hanya duduk termenung diranjang rumah sakit. Wanita itu masih memikirkan mengapa Ella bisa berbuat sejahat itu padanya. Memang dari awal berpacaran dengan Albiru, Ella terlihat sangat tidak menyukai kehadiran Binar namun Binar hanya menganggap angin lalu karena merasa Ella masih kekanakan.
"Assalamu’alaikum," semua menoleh pada Albiru yang membuka pintu dengan pelan.
Wajah pria itu tampak kacau, gurat lelah terlihat jelas diwajahnya.
"Waalaikumsalam," semua menjawab bersamaan. Ayah Ibra berinisiatif menyambut Albiru.
Pria paruh baya itu tahu apa yang saat ini dirasakan Albiru.
__ADS_1
"Istirahat nak, Ayah sama Bunda nggak apa-apa." Ayah Ibra menuntun Albiru untuk duduk disofa.
Albiru hanya menurut. Pria itu duduk, kemudian mengalihkan tatapannya pada Binar yang masih melamun.
Albiru beranjak dari duduknya, menghampiri kedua orang tua Binar dan segera bersimpuh.
"Maafin Biru, Ayah.. Bunda. Maafin Biru karena sudah lalai, maafin Biru atas semua kejahatan yang dilakukan adik Biru." Albiru bersimpuh memohon ampun membuat kedua mertuanya terkejut.
Mereka tidak mengharapkan hal ini karena tahu semua bukan kesalahan Albiru.
"Nggak apa-apa nak, sudah jangan seperti ini." Ayah Ibra menarik Albiru untuk segera bangkit. Memeluk erat tubuh menantunya yang begitu rapuh.
Albiru bahkan tidak sanggup berkata-kata lagi. Sakit, marah dan kecewa dia rasakan saat ini hingga tidak tahu harus bagaimana melampiaskannya.
"Temui Binar, bicarakan sama dia." Bunda Ina berucap pelan.
Albiru segera mengangguk, pria itu segera menghampiri Binar.
"Bi, aku mohon maafin aku." Albiru memeluk erat tubuh Binar sambil berbisik lirih.
"Sakit banget, Bi. Aku nggak tahu dimana kesalahan sampai Ella setega ini." Binar terisak pelan, air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga.
"Maaf, sayang. Maaf aku lalai jagain kamu dan calon anak kita."
Keduanya menangis menumpahkan rasa sesak didada mereka. Albiru tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi Ella.
Gadis itu sudah melewati batas namun rasa sayang terhadap adik bungusnya itu membuat Albiru semakin bingung. Bertahun-tahun hidup bersama Ella dengan status saudara kandung tentu saja tidak bisa membuat Albiru serta merta melupakan perasaannya sebagai seorang kakak.
Dan lagi ada satu hal yang masih Albiru simpan rapat. Sesuatu yang tidak sanggup dia katakan pada Binar terlebih melihat kondisi Binar saat ini.
Albiru memilih menyimpan rapat rahasia ini sendirian tanpa tahu bahwa apa yang tengah dia sembunyikan bisa menimbulkan permasalahan baru dalam rumah tangganya.
...****************...
Di rumah orang tua Albiru situasi semakin memanas. Ayah Latif sudah memutuskan untuk segera melaporkan perbuatan Ella kepada polisi. Namun Ibu Siti memohon ampun untuk Ella, wanita itu memohon untuk melepaskan Ella.
__ADS_1
"Ibu mohon ampunin Ella, Yah. Dia putri kita, putri bungsu kita Yah. Ibu mohon lepaskan Ella kali ini." Ibu Siti memohon ampun disertai tangisan.
"Dia bukan putri saya. Bahkan saya menyesal pernah menganggapnya putri kandung saya sendiri." Ayah Latif berucap datar bahkan tidak ingin menatap wajah Ella.
"Ayah, jangan seperti itu Yah. Dia ini putri kita, putri kecil kita." Ibu Siti menarik Ella kedalam pelukannya seolah meyakinkan Ella bahwa dia adalah anak kandungnya.
"Ayah, maafin Ella. Ella sayang sama Ayah tolong jangan hukum Ella seperti ini. Ella janji akan berubah, Ella mohon maafin Ella." Ella memeluk kaki Ayah Latif, memohon ampun pada pria yang selama ini telah membesarkannya.
Ayah Latif tidak menjawab, wajahnya mengeras seolah menahan gejolak emosi didadanya. Fadli sendiri tampak tidak peduli, bahkan dalam hati dia bersyukur Ella bukan adik kandungnya.
Meski merasa kasihan namun melihat apa yang telah diperbuat oleh Ella sungguh keterlaluan. Fadli merasa satu-satunya cara untuk membuat Ella jera adalah membawa masalah ini kejalur hukum.
Ayah Latif segera pergi, namun pria itu menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Perlu diketahui, anak-anak saya tidak ada yang berbuat kriminal. Saya mendidik anak-anak saya untuk menjadi orang baik dan jujur, jadi orang yang kamu sebut putri itu jelas bukan anak saya."
Usai mengucapkan kalimat itu Ayah Latif segera pergi. Ibu Siti dan Ella menangis, merasa sakit hati dengan perkataan Ayah Latif. Ella merasa dicampakan begitu saja.
Namun, tidak ada yang mengetahui bahwa Ayah Latif juga terluka.
Dia juga merasa sakit, karena bagaimanapun dialah yang pertama kali menyambut uluran tangan mungil Ella. Dialah yang pertama kali mendengar kata Ayah keluar dari bibir mungil Ella.
Jauh dilubuk hatinya, Ayah Latif sangat menyayangi dan mencintai Ella sebagai putri kecilnya. Tapi tugas sebagai Ayah yang bertanggung jawab membuatnya harus mengambil keputusan ini.
Ayah Latif merasa telah gagal menjadi Ayah untuk putrinya.
...****************...
Disisi lain tampak Rio sedang berbicara serius dengan seseorang. Pria itu sedang mengawasi rumah orang tua Albiru. Ada sesuatu yang ingin segera dia lakukan.
"Gimanapun caranya, bawa Gabriella kehadapan saya. Tapi ingat jangan sampai ada yang tahu." Rio segera memberi perintah pada pria yang merupakan supir kepercayaannya.
Pria bernama Bagas itu segera mengangguk, akan segera melaksanakan perintah Rio.
Tunggu tanggal mainnya Gabriella, batin Rio.
__ADS_1
TBC