Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 71 - Kabar Mengejutkan -


__ADS_3

Ella akhirnya sadar dan hal pertama yang gadis itu lakukan adalah memeluk Ibu Siti. Ella masih terkejut melihat sosok Rio yang berada di rumah orang tua Binar.


Batinnya bertanya-tanya ada hubungan apa Rio dengan Binar. Mungkin hubungan itulah yang membuat Rio begitu melindungi Binar hingga rela melakukan hal apa saja.


"Ella nggak apa-apa?" tanya Ibu Siti.


Saat ini Ella berada di kamar tamu. Hanya berdua saja dengan Ibu Siti, sedangkan yang lain berada di ruang tamu.


"Ella cuma pusing, Bu." Jawab Ella lemah, terlihat sekali gadis itu merahasiakan sesuatu.


"Istirahat disini saja ya. Binar tadi bilang Ella sama Ibu menginap disini saja, mereka khawatir sama Ella."


Ella memilih diam, tidak ingin membantah dan tidak ingin mengiyakan. Dia hanya pasrah, satu sisi dia masih takut untuk bertemu dengan Rio.


"Ella sakit? Ibu khawatir sama Ella, kalau ada yang mau Ella sampaikan tolong katakan sama Ibu."


Ella menggeleng lemah, memilih untuk memeluk Ibu Siti. Dia terlalu takut karena Rio jelas bukan pria sembarangan. Rio terlihat begitu berkuasa dan Ella terlalu lemah untuk bisa mengalahkan pria itu.


...****************...


Di ruang tamu, keluarga Binar berkumpul. Mereka membiarkan Ibu Siti merawat Ella sendirian, sengaja memberi waktu berdua untuk Ibu dan anak itu.


Rio yang duduk di samping Gaby tampak begitu tenang. Dia tidak takut jika suatu waktu Ella mengatakan siapa Rio sebenarnya.


Tentu saja Rio tidak perlu takut, karena ada Albiru yang sudah memberikan Rio kebebasan dalam membalas Ella.


"Ella sakit?" tanya Bunda Ina pada Fadli dan Ayah Latif.

__ADS_1


Bunda Ina masih belum tahu kondisi keluarga Albiru yang sebenarnya. Yang Bunda Ina tahu Ella adalah adik kandung Albiru dan Fadli.


"Mungkin lagi banyak pikiran, Bun." Albiru segera menjawab, pria itu tahu Ayah dan adiknya bingung harus menjawab apa.


"Biarkan saja Ella dan Ibu kamu menginap, Biru. Kasihan Ella kalau harus pulang malam." Ucap Bunda Ina yang disetujui oleh Albiru dana Binar.


Biar bagaimanapun Binar tetap tidak tega pada Ella. Sedangkan Albiru memilih pasrah karena tidak mungkin menolak usulan itu.


Ayah Latif dan Fadli akhirnya memutuskan untuk pulang. Sudah jam sepuluh malam, mereka tidak mungkin ikut menginap karena mengingat status Ayah Latif dan Ibu Siti yang sudah bukan suami istri lagi.


Kini hanya tinggal orang tua Binar, Albiru, Binar serta Rio dan Gaby.


Rio berdeham, sengaja ingin menarik perhatian. Pria itu ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada yang mau Rio sampaikan," ucap Rio hati-hati.


Binar terlihat penasaran sedangkan Albiru tampak santai, terlihat tidak berminat.


"Rio mau menikah, secepatnya." Ucapan Rio membuat Binar semakin penasaran.


Bunda Ina dan Ayah Ibra tampak terkejut, begitu pula dengan Gaby. Wanita itu terlihat begitu tegang hingga Albiru tidak tega melihatnya.


"Menikah? Dengan siapa, nak?" tanya Bunda Ina setelah sadar dari keterkejutannya.


"Gabriella, adik Biru." Jawaban Rio semakin mengejutkan semua orang kecuali Albiru.


Binar sendiri begitu shock hingga tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Serius, nak. Kami tidak ingin bercanda disaat seperti ini." Ujar Ayah Ibra terdengar begitu serius.


"Rio serius. Sebenarnya Rio belum mau menyampaikan hal ini, tapi kedatangan Gabriella membuat Rio memutuskan untuk menyampaikan berita ini."


"Nggak lucu, Rio!" Binar tiba-tiba berseru marah.


"Aku serius, Bi. Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Rio terdengar begitu santai, dia bahkan tidak memedulikan Binar yang semakin emosi.


"Aku nggak suka. Kamu jelas-jelas tahu seperti apa Ella. Aku rasa kamu bahkan nggak mengenalnya lebih dari sekedar mengenal namanya."


Binar semakin marah terlebih saat melihat wajah pucat Gaby. Dari semua orang yang ada di ruangan ini, hanya Binar yang tahu seperti apa perasaan Gaby untuk Rio.


"Dengar, aku sudah mengenal adik ipar kamu itu dengan baik. Kamu bahkan nggak tahu selama ini diam-diam aku sering bertemu dengannya."


Ucapan Rio semakin menyulut amarah Binar. Wajah Binar bahkan memerah karena amarah dan juga kecewa yang dia rasakan.


"Tapi gimana dengan... " Binar kehilangan kata-kata saat melihat Gaby menggeleng lemah.


Gaby terlihat mencoba tegar, tetap tersenyum seolah dia baik-baik saja. Dan Binar tahu dengan pasti seperti apa perasaan Gaby saat ini.


Tidak sanggup melihat wajah lesu Gaby membuat Binar memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Hatinya ikut terluka melihat betapa Gaby merasa patah hati.


Rio benar-benar kejam dan tidak berperasaan! Begitulah penilaian Binar terhadap sepupunya itu.


TBC


**Mohon maaf baru bisa update..

__ADS_1


author masih sakit, mohon doanya biar cepat sehat lagi dan bisa update..


untuk cerita ini mendekati ending ya.. terus dukung author sampai cerita lain terbit 😊**


__ADS_2