
Bunda Ina memeluk Binar dengan erat. Keduanya menangis bersama. Sebagai seorang Ibu tentu saja hati Bunda Ina merasa sakit melihat keadaan putrinya.
Dia tidak menyangka Ibu Siti bisa berbuat setega itu. Dimana hati nuraninya sebagai sesama wanita. Apakah tidak pernah dia bayangkan betapa sakitnya wanita yang diceraikan atau bahkan dimadu karena tidak bisa memberi keturunan.
"Maafin Bunda, nak. Seharusnya Bunda ada disisi kamu, maafin Bunda." Bunda Ina memeluk erat Binar menumpahkan segala penyesalannya.
Binar menggeleng pelan, "Bunda nggak salah. Tolong jangan minta maaf karena Bunda nggak salah."
"Seharusnya Binar yang jujur sama Bunda. Maafin Binar yang selama ini memilih menyimpan semuanya sendirian."
Kemudian Binar menceritakan bagaimana selama ini perlakukan Ibu mertua serta adik iparnya. Mendengar cerita Binar tentu saja membuat Bunda Ina semakin marah, namun disisi lain Bunda Ina merasa gagal menjadi seorang Ibu karena membiarkan putrinya menderita seperti ini.
"Kemasi barang-barangmu Bi, ayo ikut Bunda pulang." Bunda Ina segera menarik lengan Binar menuju kamar.
Binar hanya menurut tanpa berniat membantah. Disatu sisi dia merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan keadaannya sehingga Bunda Ina merasa bersalah.
"Gimana sama Biru, Bun?" tanya Binar menghentikan kegiatan mengemasi baju-bajunya.
"Bunda yang akan ngomong sama Biru. Bunda nggak mau kamu terus-terusan diperlakukan seperti ini, Biru harus tahu seperti apa Ibunya itu." Ucap Bunda Ina dengan tegas.
Sambil menunggu Binar mengemasi pakaiannya, Bunda Ina segera menghubungi Albiru.
"Assalamu’alaikum, Bun."
"Waalaikumsalam.. Biru, Bunda ingin izin dari kamu untuk membawa Binar pulang ke rumah Bunda." Ucap Bunda Ina tanpa berniat basa basi.
Hening sejenak, tampaknya Albiru sedikit terkejut. Entah mengapa perasaannya tidak enak.
"Biru izinin Binar untuk menginap di rumah Bunda."
"Bukan hanya sekedar menginap Biru, ada hal lain yang mengharuskan Bunda membawa pulang Binar."
"Biru nggak ngerti maksud Bunda. Sebenarnya ada masalah apa Bun?"
__ADS_1
"Temui Bunda di rumah, nanti akan Bunda ceritakan semuanya. Kamu cukup memberi izin karena itu yang dibutuhkan Binar saat ini."
Albiru terdiam, tampak ragu untuk memberi izin. Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi hatinya berkata ada masalah besar yang sedang menantinya.
"Baik.. Biru izinkan, sore nanti Biru akan ke rumah Bunda."
"Bunda tutup teleponnya. Assalamu’alaikum,"
Bunda Ina segera mengakhiri pembicaraan, setidaknya dia sudah mendapat izin dari Albiru untuk membawa Binar pulang. Apapun yang terjadi dia akan melindungi dan menjaga Binar dari orang-orang yang berniat menyakiti putrinya.
...****************...
Hari sudah sore ketika Albiru memarkirkan mobilnya di halaman rumah mertuanya. Sampai saat ini Albiru belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Assalamu’alaikum," ucap Albiru memberi salam.
Di ruang tamu sudah ada Ayah Ibra dan Bunda Ina yang sepertinya memang sedang menunggu kedatangan Albiru.
"Waalaikumsalam, masuk Biru." Ayah Ibra menyapa dengan ramah.
"Binar lagi istirahat di kamar." Ucap Bunda Ina seolah tahu apa yang sedang Albiru cari
Albiru segera duduk dihadapan kedua mertuanya. Sedikit canggung karena dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan.
"Biar Bunda yang bicara," Bunda Ina segera menyela.
Ayah Ibra hanya mengangguk, mempersilahkan sang istri untuk berbicara.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Binar?" tanya Bunda Ina.
Albiru tampak terkejut tetapi segera menguasai diri. Meski berat untuk mengatakan yang sebenarnya, Albiru tetap memaksakan diri untuk bercerita. Kedua orang tua Binar berhak mengetahui kondisi putrinya.
"Saat Binar dirawat, Dokter menemui Biru dan mengatakan kondisi rahim Binar yang rusak. Dokter bilang obat yang diminum Binar cukup keras hingga merusak rahim dan sel telur Binar. Kemungkinan Binar untuk hamil lagi sangat kecil."
__ADS_1
Bunda Ina begitu terpukul mendengar kondisi Binar. Hatinya sakit tidak menyangka beban yang dipikul Binar begitu berat.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak jujur Biru?" tanya Bunda Ina disela tangisnya.
Albiru bersujud, memohon ampun pada kedua orang tua Binar.
"Maafin Biru, Biru hanya takut jika Binar tahu kondisi yang sebenarnya dia akan semakin terpuruk. Maafin Biru yang menutupi semua ini." Albiru tertunduk menyesal, air matanya menetes menyesali semua yang terjadi.
"Dan sekarang Binar semakin terpuruk Biru. Dia selama ini berharap untuk segera hamil. Seharusnya kamu jujur karena setidaknya Binar tidak akan sesakit ini."
"Maaf... maafin Biru." Albiru terus menggumamkan kata maaf.
"Kamu tahu apa yang sudah terjadi? Ibu kamu tahu kondisi Binar dan Ibu kamu itu semakin memojokkan Binar." Bunda Ina berucap penuh emosi mengingat apa yang sudah Ibu Siti ucapkan.
Albiru tampak kaget, tidak menyangka Ibunya sudah mengetahui kondisi Binar.
"Ibu kamu tahu kondisi Binar karena itu Ibu kamu memberi pilihan pada Binar, cerai atau dimadu."
Sekali lagi Albiru dibuat terkejut dengan ucapan Bunda Ina. Dia tidak menyangka Ibunya telah berbuat sejauh itu. Dada Albiru bergejolak menahan amarah, membayangkan betapa terlukanya Binar.
"Kamu pikir Bunda akan diam saja Biru? Hati Bunda sakit melihat perlakukan Ibu kamu pada Binar. Binar itu putri Bunda, satu-satunya yang Bunda miliki dan Ibu kamu dengan kejamnya melukai hati anak Bunda. Apa tidak cukup adik kamu itu menorehkan luka yang begitu dalam pada Binar?"
Bunda Ina menangis, rasanya begitu menyesakkan. Selama ini dia pikir Albiru sudah membahagiakan Binar namun nyatanya yang diterima Binar hanya luka dan luka.
Albiru hanya diam, rasa bersalah terus menghantuinya. Semua luka yang Binar terima berasal dari keluarganya dan sebagai seorang suami dia tidak bisa melindungi istrinya.
Albiru begitu marah atas sikap lancang Ibunya, dia juga tidak akan melupakan apa yang telah Ella perbuat. Ini semua karena perbuatan gadis itu, jika saja Ella tidak berbuat jahat semua ini tidak akan terjadi.
Untuk itu Albiru berjanji akan membalas perbuatan Ella, dia akan membuat gadis itu menyesal. Ternyata penjara saja tidak cukup untuk membalas perbuatan Ella. Albiru merasa begitu bodoh karena membiarkan Ella begitu saja.
Disisi lain Ayah Ibra hanya menyaksikan semuanya dalam diam. Jauh dilubuk hatinya ada amarah yang bergejolak. Hatinya terluka melihat kondisi sang putri. Dia ingin melampiaskan semua amarahnya, membalas semua sakit hati Binar namun keadaan tidak memungkinkan.
Sebagai seorang suami dan Ayah, yang bisa Ayah Ibra lakukan adalah menjadi tempat sandaran dan perlindungan. Dia harus berkepala dingin demi menenangkan amarah sang istri, dia harus berdiri tegak untuk menjadi sandaran putrinya.
__ADS_1
Satu-satunya yang bisa Ayah Ibra lakukan adalah berdoa pada Allah. Dia percaya janji Allah dan suatu saat nanti orang-orang yang menyakiti hati putrinya akan menerima balasan yang sama.
TBC