Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 49 - Rika -


__ADS_3

Sejak tahu kondisi Binar, Albiru semakin menjaga Binar. Dan untuk mencegah Binar mengetahui kondisinya, Albiru sengaja merahasiakan hal ini dari siapapun.


Binar sendiri merasa ada yang aneh dengan dirinya. Banyak ketakutan yang bersarang dipikirannya, namun dia tidak bisa mengatakan hal itu pada Albiru karena taku semakin membebani suaminya.


"Kenapa sayang?" tanya Albiru pada Binae yang melamun.


Binar menoleh, berusaha tersenyum meski pikirannya dipenuhi kekhawatiran.


"Aku mau ketemu mbak Rika lagi, boleh?" Binar bertanya penuh harap. Wanita itu merasa nyaman bersama Rika.


"Boleh sayang." Albiru menjawab lembut tidak lupa memberikan senyuman hangatnya.


"Mbak Rika baik, tapi aku takut kamu malah suka sama dia." Binar berucap hati-hati, inilah yang dia khawatirkan.


"Aku cuma cinta sama kamu Bi, aku cuma mau sama kamu. Nggak peduli apapun yang terjadi, aku tetap cinta dan sayang sama kamu. Jangan berpikir aku akan berpaling." Ucap Albiru dengan sabar, berusaha membuat Binar mengerti.


Binar hanya mengangguk, hatinya masih meragu. Rika memang tampak begitu baik dan seperti sosok kakak untuknya, namun entah mengapa belakangan ini dia selalu gelisah dengan pemikiran buruknya.


...****************...


"Hai, Binar." Rika menyapa Binar dengan hangat.


Saat ini kedua wanita itu tengah berada dir restoran. Semalam mereka berjanji akan makan siang bersama.


"Hai, mbak." Binar balas menyapa dengan ragu.


Hari ini pertama kalinya dia bertemu Rika tanpa ditemenin Albiru. Pria itu berkata mungkin Binar butuh waktu berdua dengan Rika agar lebih nyaman.


"Gimana kabarnya?" tanya Rika setelah selesai memilih menu makan siangnya.


"Alhamdulillah baik mbak, tapi... " Binar menatap ragu pada Rika. Dia ingin bercerita namun takut membuat Rika tidak nyaman.


"Tapi apa Binar? Kalau kamu mau cerita, saya dengan senang hati akan mendengarkan. Saya kan sudah bilang mau jadi teman kamu." Ucap Rika penuh pengertian membuat Binar nyaman.


"Belakangan ini saya merasa ada yang aneh dengan diri saya. Saya khawatir Biru akan ninggalin saya dan memilih wanita lain." Ucap Binar memulai ceritanya, sedikit lega tidak ada Albiru disampingnya saat ini.


Rika tersenyum hangat, "kamu sayang banget ya sama Biru?"


"Iya mbak." Ujar Binar mengangguk dengan yakin.

__ADS_1


"Sayang itu wajar dan perasaan takut kehilangan itu wajar, asalkan sesuai porsinya." Rika berkata dengan hati-hati, biar bagaiman1apun dia takut akan menyinggung Binar dan membuat wanita itu menjauh.


"Maksud mbak?" tanya Binar tidak mengerti.


"Semua yang kamu rasakan itu wajar, asal tidak berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baikkan? Karena itu kita harus berhati-hati, takutnya malah membuat pasangan tidak nyaman dan merasa kita tidak bisa percaya padanya." Rika menjawab dengan santai sambil menikmati makan siangnya.


"Dan satu lagi, kekhawatiran berlebihan juga menyiksa diri sendiri. Perasaan tidak tenang yang terus menghantui." Lanjut Rika masih bersikap santai agar Binar tidak merasa pembicaraan mereka terlalu kaku.


"Terus, apa yang harus saya lakukan?" tanya Binar lagi.


"Mengendalikannya memang sulit, tapi pasti bisa kalau kita berusaha dengan pelan-pelan. Asal berusaha untuk berpikir positif." Rika menjawab dengan hati-hati.


Binar tersenyum kecil, merasa apa yang dikatakan Rika benar. Belakangan ini dia terlalu khawatir berlebihan padahal Albiru selalu bersikap baik padanya.


Pembicaraan mereka terus berlanjut menjadi lebih santai. Rika sengaja tidak membahas hal rumit lainnya, dia ingin memberi jeda pada Binar. Sedangkan Binar sendiri sudah mulai nyaman dengan Rika, wanita dewasa yang tampak begitu cerdas.


...****************...


Di rumah orang tua Albiru, Ibu Siti diam-diam menghubungi Ella. Entah mengapa perasaannya tidak enak karena beberapa hari ini Ella tidak bisa dihubungi.


Beruntung Ella menjawab panggilan teleponnya. Namun yang Ibu Siti dengar hanya suara tangis Ella.


"Ella? Ada apa nak?" tanya Ibu Siti khawatir.


"Ella, kenapa nak? Ada yang jahatin kamu?" Ibu Siti kembali bertanya.


"Orang yang dulu meneror Ella datang lagi Bu, dia bahkan mengancam Ella."


"Astaghfirullah, apa yang dia lakukan?"


"Ella nggak bisa cerita, tapi Ella mohon apapun yang terjadi nanti percaya sama Ella ya Bu."


Ibu Siti semakin khawatir tapi dia tidak bisa berbuat apapun.


"Ibu selalu percaya sama Ella, kamu tenang ya nak. Ibu akan berusaha menolong kamu."


"Nggak Bu, jangan terlibat. Ella nggak mau dia berbuat nekad dan menyakiti Ibu."


"Terus apa yang harus Ibu lakukan?" Ibu Siti bertanya dengan bingung.

__ADS_1


Dia sangat khawatir namun Ella malah melarangnya ikut campur.


"Cukup percaya sama Ella."


Ibu Siti baru akan menjawab ketika sebuah suara mengagetkannya.


"Jadi kamu yang sembunyikan Ella selama ini?" Ayah Latif bertanya dengan nada marah. Tidak menyangka istrinya masih belum berubah dan terus menutupi kelakuan buruk putrinya.


Ella yang mendengar suara Ayah Latif segera mematikan panggilan. Dia terlalu takut mendengar suara pria yang selama ini dia anggap Ayah kandungnya.


Ibu Siti tergagap, tidak tahu harus menjawab apa.


"Dimana gadis itu?" tanya Ayah Latif lagi.


"Tolong Ayah jangan sakiti Ella. Sudah cukup dia menderita dia penjara." Ibu Siti memegang tangan Ayah Latif, memohon dengan menyedihkan.


"Itu hukuman untuk perbuatan jahatnya." Ayah Latif menepis kasar tangan Ibu Siti.


Pria itu masih begitu marah dengan semua tingkah istrinya.


"Ayah, tolong maafin Ella. Dia sedang kesulitan diluar sana. Ada orang yang berniat jahat padanya, tolong biarkan Ella pulang." Ibu Siti bersimpuh memohon dengan sangat agar hati Ayah Latif luluh.


Ayah Latif menggeleng dengan tegas. Menolak permohonan sang istri yang tidak pernah jera.


"Selalu ada balasan untuk setiap perbuatan. Apapun yang terjadi padanya diluar sana adalah balasan untuk kejahatan pada Binar." Ayah Latif berucap dengan tegas membuat Ibu Siti tampak marah.


"Ayah membela menantu Ayah daripada anak yang kita besarkan bersama. Ayah benar-benar keterlaluan!" Ibu Siti berdiri, menatap marah pada Ayah Latif yang terlihat tidak peduli.


"Apa yang putrimu lakukan itu kamu anggap tidak keterlaluan? Dimana otak kamu?" Ayah Latif berucap meremehkan, dia tidak mengerti jalan pikiran istrinya.


"Tapi Ella... "


"Sudah cukup!" Ayah Latif segera memotong ucapan Ibu Siti yang jelas akan terus membela Ella.


"Urus sendiri putri kamu itu. Katakan padanya nikmatilah pembalasan atas perbuatan jahatnya."


Usai mengatakan hal itu Ayah Latif segera pergi meninggalkan Ibu Siti. Ayah Latif masih begitu kecewa dengan perbuatan Ella. Dia merasa begitu gagal mendidik putrinya.


Ditambah kenyataan pahit yang menimpa Binar membuat Ayah Latif semakin merasa bersalah. Sampai saat ini dia bahkan masih begitu malu untuk bertemu orang tua Binar.

__ADS_1


Namun jauh dilubuk hatinya perasaan khawatir pada Ella masih tersisa. Khawatir akan kondisi Ella tapi rasa bersalah pada Binar membuatnya berkeras hati.


TBC


__ADS_2