
Dokter mengatakan Ella hanya shock dan tidak ada yang mengkhawatirkan.
Meski begitu, tentu saja Ella tidak puas jika harus melepaskan Binar begitu saja. Karena itulah dia terus memanasi Ibu Siti dengan mengatakan bahwa Binar begitu jahat padanya.
Namun, reaksi Ibu Siti sungguh diluar dugaan Ella.
"Berhenti menyalahkan Binar." Ucap Ibu Siti pelan namun, Ella masih bisa mendengarnya.
"Apa maksud Ibu?" tanya Ella tidak mengerti.
"Kamu berbuat terlalu jauh Ella, Ibu tahu kamu yang memancing Binar dan apa yang dilakukan Binar hanya untuk melindungi dirinya sendiri."
Ella terkejut mendengar Ibu Siti untuk pertama kalinya memihak Binar.
"Ibu belain dia?" Ella menatap tidak suka Ibu Siti yang kini menyibukkan diri dengan memasak makan malam.
"Iya, karena bagi Ibu kamu sudah melewati batas. Sudah cukup kamu mengganggu Binar dan Biru." Ibu Siti berucap tanpa mau memandang Ella.
"Dia yang salah dan berbuat jahat sama Ella, Bu. Kenapa Ibu malah membelanya?"
"Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan? Perbuatan kamu dulu lebih jahat dari apa yang baru saja Binar lakukan. Berhenti mengusiknya dan hidup bahagia bersama Ibu."
Ella jelas tidak suka hal itu, dia tidak suka Ibu Siti sekarang berbalik arah dan memihak Binar.
"Ibu jahat sama Ella." Ujar Ella yang segera berlalu pergi meninggalkan Ibu Siti.
Ibu Siti hanya mampu menghela napas, salahnya yang selama ini terlalu memanjakan Ella hingga seperti sekarang.
...****************...
"Gimana perasaan kamu?" tanya Albiru begitu mereka sampai di rumah.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik." Binar menjawab sambil tersenyum, menandakan dirinya baik-baik saja.
Albiru ikut tersenyum, begitu lega Binar terlihat jauh lebih baik.
"Maaf sayang, tadi aku terlambat." Ucap Albiru penuh sesal.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku sudah bisa menghadapi ketakutanku, buktinya aku berhasil melawan Ella."
"Benar, kamu hebat sayang. Aku bangga sama kamu." Albiru berbisik seraya memeluk Binar dengan erat.
"Maaf aku sudah kasar sama Ibu." Binar berbisik lirih, rasa bersalah kembali menyerangnya.
"Itu hal wajar sayang, aku tahu kamu hanya bermaksud membela diri. Lagi pula apa yang kamu ucapkan semuanya benar. Aku berharap, setelah ini semua Ibu bisa sadar bahwa apa yang lakukan selama ini salah."
"Aamiin.. aku juga berharap Ibu bisa tegas sama Ella. Setidaknya membuat Ella sadar apa yang dia lakukan salah."
"Aku cuma mau Ibu bisa sadar, meski nggak bisa bersatu lagi sama Ayah setidaknya Ibu bisa hidup dengan lebih baik."
"Semoga Bi, semoga setelah ini semua bisa lebih baik lagi."
Albiru memeluk Binar dengan erat, rasanya begitu damai dan nyaman. Dalam dia keduanya berdoa untuk kebahagiaan keluarga mereka.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba Binar melepas pelukan mereka dan menarik tangan Albiru kearah perutnya yang membuncit.
"Sayang, mereka gerak. Auh... tendangannya keras banget." Binar berucap haru merasa pergerakan bayi kembarnya.
Albiru tersenyum bahagia, terlihat sekali raut wajahnya yang sangat antusias. Albiru mendekatkan wajahnya kearah perut Binar, kemudian pria itu berbisik.
"Halo anak-anak Papa..jangan nakal yang di dalam sana, kasihan Mama kalian kalau nendangnya terlalu keras."
Albiru dengan lembut mengelus perut istrinya dan kembali merasakan pergerakan di dalam sana. Sepertinya si kembar suka mendengar suara Papanya.
"Belakangan ini mereka aktif banget, Bi." Ucap Binar memberi tahu sambil sesekali ikut mengelus perutnya.
"Mereka mau diajak ngobrol sayang, apalagi sama Papanya."
Binar tertawa kecil, menikmati antusias Albiru.
Inilah yang Binar impikan sejak resmi menjadi istri Albiru. Mengandung anak mereka dan melihay raut antusias Albiru.
Sungguh menggemaskan, rasanya Binar tidak pernah bosan melihat wajah bahagia Albiru.
...****************...
Ella merasa Ibu Siti berubah. Sejak kejadian dirinya pingsan Ibu Siti mulai menunjukkan perubahan.
Meski tetap menyayangi Ella seperti biasanya, tapi perasaan jangan tetap Ella rasakan.
Ibu Siti kini tidak pernah lagi mengatakan betapa dirinya membenci Binar. Bahkan saat Ella menyinggung soal Binar, Ibu Siti memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Maksud kamu?" Ibu Siti balik bertanya.
"Ibu berubah." Ella menjawab singkat membuat Ibu Siti semakin bingung.
"Ibu nggak merasa berubah. Sebenarnya apa maksud kamu Ella?"
"Ibu sudah nggak sayang Ella lagi. Belakangan Ibu terlihat terus memihak Binar."
Ibu Siti menghela napas lelah, dia tidak suka membahas topik ini lagi.
"Ibu selalu sayang kamu Ella."
"Tapi Ibu belain Binar terus menerus. Dia itu jahat Bu, dia sudah merebut kebahagiaan Ella dan lihat dia juga yang menyebabkan Ayah menceraikan Ibu!"
Ella meninggi suaranya, gadis itu terlihat sangat marah.
"Bukan Binar penyebabnya Ella, tapi diri kita sendiri. Kamu pikir setelah apa yang kita lakukan semuanya akan baik-baik saja? Kita yang salah Ella, kamu salah dan Ibu juga salah."
Ibu terdiam berusaha mengotrol emosinya.
"Kamu salah karena berbuat hal sejahat itu dan Ibu salah terus menerus membelamu. Padahal Ibu sangat tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu salah." Ucap Ibu Siti lagi, dia bahkan tidak memedulikan raut wajah sedih Ella.
"Ibu jahat!" Ella kembali berteriak namun, Ibu Siti belum selesai dengan perkataannya.
"Bersikap dewasa Ella, cobalah membuang ego kamu dan akui bahwa kamu salah!"
__ADS_1
"Nggak, sampai kapanpun Ella nggak salah!"
Ibu memegang erat lengan Ella kemudian, mengguncang tubuh gadis itu seolah menyandarkan.
"Sadar Ella! Kamu itu selalu ingin menang, apapun harus bisa kamu dapatkan. Itulah keegoisan kamu!"
"Ibu!" Ella berteriak marah, jelas dia tidak suka dengan ucapan Ibu Siti.
"Kamu lihat apa yang sudah kamu perbuat? Kamu membuat Ibu kehilangan suami dan anak-anak Ibu. Hanya karena membela kamu, Ibu harus merelakan keluarga Ibu sendiri."
Ibu Siti terus berucap tidak lagi menahan diri. Perkataan Binar waktu itu benar-benar berhasil menarik begitu keras.
"Jadi Ibu menyalahkan Ella?" tanya Ella tidak percaya.
"Iya, kamu yang salah dan Ibu juga salah. Ibu benar-benar merasa gagal mendidik kamu dengan benar."
Ella menangis mendengar perkataan tajam Ibu Siti. Untuk pertama kalinya Ibu Siti berucap begitu kasar pada Ella.
Selama ini Ibu Siti selalu memanjakan Ella, membela Ella apapun kondisinya. Dan sekarang keadaan berbalik, Ibu Siti terlihat lelah dengan sikap Ella selama ini.
"Tapi Ibu terima semua ini. Kehilangan suami serta anak-anak, semuanya Ibu terima dengan ikhlas. Mungkin ini adalah karma atas perbuatan Ibu dulu."
Usai mengucapkan kata-kata misterius itu, Ibu Siti segera pergi. Dia tidak ingin berlama-lama dengan Ella dan menyebabkan gadis itu semakin terluka.
Ella sendiri hanya bisa menangis, hatinya sakit dan terluka. Tidak ada yang membelanya lagi, semua pergi meninggalkannya seorang diri.
TBC
**Jangan lupa fav, like dan komen
dukung author terus ya biar tambah semangat update 💪😁**
Sambil nungguin author update.. ada rekomendasi novel seru karya kak yanktie ino.
Yuk mampir dan jangan lupa dukungannya 😉😁
Judul : KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
Bulrb _kesandung cinta anak bau kencur_
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?
__ADS_1