
Sepanjang malam Albiru habis dengan berdoa kepada Allah. Pria itu berdiam diri di Mushola rumah sakit seorang diri, sedangkan kedua orang tua Binar menunggu putrinya siuman.
Albiru sudah lelah menangis, meratapi nasib buruk yang terus menimpa Binar. Pria itu sudah tidak memedulikan tatapan orang-orang. Yang bisa dia lakukan hanyalan terus berdoa untuk kesembuhan Binar.
Yang Albiru tidak sadari adalah sejak Albiru datang ke Mushola ada seseorang yang terus memperhatikannya. Seorang pria paruh baya yang kini duduk di samping Albiru
“Bapak memperhatikanmu sejak tadi, nak.” Mendengar suara asing itu membuat Albiru menoleh dan mendapati wajah teduh yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Maaf Pak, jika saya mengganggu." Ucap Albiru penuh sesal.
"Tidak nak, tidak apa-apa. Bapak lihat kamu menangis sejak tadi, bahkan malam sudah larut dan kamu masih ada disini."
Albiru diam, tidak tahu harus berkata apa. Haruskah dia menceritakan kegelisahannya.
"Saya hanya sedang kalut, banyak sekali musibah yang datang silih berganti." Ucap Albiru memulai ceritanya.
"Bukankah setiap manusia pasti diberi ujian?" Pria paruh baya itu berkata dengan tenang.
"Benar, Pak. Tapi, saya sedang bingung ingin menyalahkan siapa atas takdir kejam yang menimpa istri saya."
"Nak, dalam setiap cobaan tidak ada yang bisa disalahkan. Tugas kita sebagai umat-Nya tentu harus berserah diri dan terus berdoa agar diberi ketabahan serta kekuatan dalam menghadapi setiap cobaan."
"Istri saya harus kehilangan rahimnya karena kelalaian orang lain. Saya harus bagaimana, Pak? Saya tidak sanggup melihat pendidikan istri saya."
Albiru kembali menangis, mengingat bagaimana penderitaan yang diterima Binar.
"Istighfar, Nak. Bapak tahu betapa beratnya masalah yang kamu hadapi. Tapi, jangan sampai menyalahkan Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak akan memberi cobaan jika hamba-Nya tidak mampu melewatinya."
Pria paruh baya itu menepuk pundak Albiru seolah memberi kekuatan.
"Nak, teruslah berdoa kepada Allah agar diberikan yang terbaik. Mungkin cobaan yang sedang kamu dan istrimu lewati adalah hal yang terbaik. Jika kalian bisa melewatinya, maka ingatlah bahwa mungkin derajat kalian juga diangkat oleh Allah."
Albiru menangis dalam pelukan pria itu, mengeluarkan semua rasa sakit didadanya. Albiru lupa akan janji yang Allah berikan untuk setiap umat-Nya yang sedang diuji.
Malam itu ditemani pria yang tidak diketahui namanya, Albiru terus berdoa kepada Allah meminta diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.
...****************...
__ADS_1
Di ruang tunggu, Ayah Ibra tengah duduk seorang diri. Bunda Ina diminta untuk pulang dan merawat sikembar bersama dengan Ibu Siti.
Ayah Ibra duduk termenung, mengenang masa kecil Binar yang selalu ceria. Ayah Ibra merasa waktu berlalu begitu cepat, hingga dia ingin memutar waktu kembali.
"Maafkan Ayah, Nak belum bisa menjadi Ayah yang baik dan tidak bisa melindungimu." Bisik Ayah Ibra seolah berbicara pada Binar yang masih terbaring lemah.
"Ayah," panggilan itu membuat Ayah Ibra menoleh.
Ada Albiru yang baru saja kembali dari Mushola. Albiru memutuskan kembali karena merasa kasihan Ayah Ibra menjaga Binar seorang diri.
"Maaf, Biru ninggalin Ayah sendirian." Ucap Albiru penuh sesal.
"Nggak apa-apa, Nak. Ayah tahu kamu butuh waktu menenangkan diri." Ayah Ibra berusaha untuk tersenyum meski wajahnya tampak kelelahan.
"Maafin Biru, Yah. Maaf karena lagi dan lagi Biru nggak bisa menjaga Binar dengan baik." Albiru duduk bersimpuh memohon maaf pada Ayah Ibra.
Ayah Ibra segera menarik Albiru untuk kembali duduk di sampingnya.
"Jangan seperti itu, Biru. Kamu nggak salah apa-apa, bagaimanapun ini adalah musibah yang tidak bisa dihindari. Bagi Ayah kamu adalah suami yang baik untuk Binar."
"Apa yang harus Biru lakukan, Yah? Biru harus bagaimana menghadapi Binar nantinya?"
"Biru benar-benar merasa gagal menjadi suami yang harusnya bisa melindungi istrinya."
"Kamu harus berhenti menyalahkan diri sendiri. Cobalah untuk menerima semua ini dengan lapang dada, jadilah sandaran yang kokoh untuk Binar." Nasehat Ayah Ibra membuat Albiru menunduk malu.
Benar, seharusnya dia menjadi sandaran Binar agar istrinya itu kuat dan tabah menghadapi musibah ini.
"Seperti yang Ayah lakukan pada Bunda?" Pertanyaan Albiru membuat Ayah Ibra tertegun.
Ayah Ibra tidak tahu jika Albiru melihat semua yang dia lakukan. Berusaha kuat agar bisa menjadi sandaran untuk istrinya.
"Ya, seperti yang Ayah lakukan. Mungkin orang lain melihat Ayah yang tampak baik-baik saja, tapi, mereka tidak tahu betapa hancurnya hati Ayah." Ayah Ibra menghela napas berat.
"Biru melihatnya, Yah. Biru melihat betapa hancurnya hati Ayah. Tapi, Ayah berhasil menyembunyikannya dari semua orang." Sela Albiru mengungkapkan senyum miris Ayah Ibra.
"Hati Ayah mana yang tidak hancur melihat cobaan yang dihadapi putrinya sendiri. Tapi, Ayah berusaha untuk tegar agar Bunda tidak semakin terpuruk."
__ADS_1
"Ayah ... menangislah. Menangislah disamping Biru, jadikan Biru sebagai sandaran Ayah meski hanya sesaat."
Mendengar ucapan Albiru berhasil membuat Ayah Ibra menangis. Pria paruh baya itu menangis tersedu-sedu dipundak sang menantu. Menumpahkan segala sesak didadanya, untuk kali ini dia menyerah dan memilih untuk bersandar sejenak.
Kali ini Albiru berusaha untuk bersikap tegar. Membiarkan mertuanya itu menangis sebagaimana mestinya.
Albiru tahu bagaimana sakitnya menahan sesak didada. Untuk itulah dia memilih menjadi sandaran Ayah Ibra, menikmati perannya sebagai tempat sandaran sebagaimana mestinya.
TBC
Maaf baru bisa update sekarang karna ada beberapa masalah.. jangan lupa mampir di cerita baru author ya judulnya MY BEAUTIFUL VENUS
Untuk pemenang Give Away tolong DM di ig author ya >> R.niaa_
Ada 3 orang yang beruntung masing-masing akan mendapatkan pulsa ya..
MamLilu
Maisyaroh
Novianty Sugeng
__ADS_1