
Kondisi Binar sudah mulai membaik, semua berkat Rika yang selalu setia mendengarkan keluhan Binar dan tidak lupa memberi Binar masukan.
Rika juga melarang Binar untuk bertemu dengan Ibu Siti dan Ella karena itu akan memicu trauma Binar.
Albiru sendiri sudah bisa bernapas lega, melihat Binar yang mulai ceria lagi dan kandungan Binar yang mulai membesar.
Saat ini Albiru dan Binar sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Binar.
"Alhamdulillah, dedeknya sehat nih. Beratnya normal, sayangnya masih malu nih." Dokter Rima menerangkan dengan senyum hangatnya.
Mata Binar berkaca-kaca, begitu terharu melihat bayi dalam kandungannya. Albiru sendiri tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan diwajahnya.
"Alhamdulillah, makasih Dokter." Ucap Albiru penuh rasa syukur.
"Eh..tunggu dulu. Sepertinya ada yang mengejutkan. Wah, ternyata kembar... sepertinya selama ini berhasil sembunyi dan sekarang sudah nggak malu lagi."
Albiru dan Binar tampak terkejut. Memang perut Binar terlihat lebih besar, tapi selama USG hanya satu yang terlihat. Ini benar-benar berita mengejutkan.
"Ya Allah, Bi... anak kita kembar Bi." Binar berbisik menahan tangisnya.
"Alhamdulillah, sayang. Alhamdulillah... "
Albiru memeluk Binar, melampiaskan rasa bahagianya. Ini adalah hal tidak pernah berani dia mimpikan. Albiru pikir jika Binar hamil saja sudah lebih dari cukup, namun ternyata Allah memberi mereka kejutan yang tidak disangka-sangka.
Rasanya begitu membahagiakan. Setelah rasa sakit yang datang silih berganti, kini Allah membayar dengan kebahagiaan berlipat.
Albiru begitu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan setelah luka yang diterima istrinya. Inilah hasil dari doa dan perjuangan keduanya.
Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk setiap umat-Nya.
...****************...
"Alhamdulillah, Bunda senang banget dengarnya." Bunda Ina memeluk Binar dengan sayang.
Binar baru saja menyampaikan berita tentang janinnya yang ternyata kembar.
"Sehat terus ya, nak. Selalu bahagia dan dijaga dengan baik kandungannya." Ucap Ayah Ibra memberi nasehat.
"Jenis kelaminnya sudah kelihatan?" tanya Bunda Ina penasaran.
__ADS_1
"Belum Bun, babynya masih malu."
"Nggak apa-apa, yang penting sehat dan kuat. Apapun jenis kelaminnya, yang paling penting sehat dan tidak kurang apapun." Ayah Ibra tersenyum hangat, wajahnya tampak begitu bahagia seolah tidak sabar menunggu sang cucu lahir.
"Iya, Yah. Binar sama Biru nggak masalah jenis kelaminnya, kami malah mau rahasiakan dulu biar surprise."
"Bunda bahagia banget liat Binar sudah ceria lagi dan sekarang Binar kasih Bunda sama Ayah berita bahagia. Duh, bahagianya berlipat-lipat nih." Bunda Ina tersenyum begitu bahagia, raut wajahnya terlihat berseri-seri.
"Alhamdulillah, Binar juga bahagia liat Ayah sama Bunda bahagia. Makasih selalu support Binar dan selalu menjaga Binar."
"Ayah sama Bunda selalu menjaga Binar. Bagi Ayah Binar itu tetap putri kecil Ayah yang akan selalu Ayah jaga." Ayah Ibra memeluk kedua wanita yang dicintai itu, menyampaikan betapa dia sangat menyayangi mereka.
"Binar juga sayang banget sama Ayah dan Bunda." Binar berbisik lirih, air matanya bahagianya mengalir.
Sedari tadi Binar menahan tangisnya, tangis bahagia atas apa yang telah Allah berikan.
"Kok nangis?" Bunda Ina yang menyadari Binar menangis segera menghapus air mata putrinya.
"Ini tangis bahagia, Bun. Binar merasa Allah begitu baik hingga memberikan kebahagiaan ini." Ucap Binar penuh haru.
"Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya. Dan tugas kita sebagai umat-Nya adalah bersabar dan tidak lupa untuk selalu berdoa agar diberikan apa yang terbaik untuk kita." Seperti biasa Ayah Ibra selalu memberikan kalimat-kalimat positifnya.
Ketiganya terus berbincang dengan penuh kebahagiaan. Mereka seperti tidak sabar menunggu kelahiran anak kembar Binar dan Albiru .
Albiru sendiri sedang menelpon Ayah Latif memberi tahu kabar bahagia ini. Albiru berharap kabar ini bisa membahagiakan Ayahnya yang sedang menunggu jalannya proses perceraian.
Albiru bedoa semoga Ayah Latif bisa mengobati lukanya. Dia sangat tahu seberapa besar cinta Ayah Latif untuk Ibu Siti, namun ternyata cinta tulus tidak berbalas. Albiru bahkan berharap suatu hari nanti ada wanita yang tulus mencintai Ayah Latif, meski usia Ayahnya tidak muda lagi.
...****************...
Ibu Siti pergi dari rumah setelah talak yang dilayangkan Ayah Latif. Dia sakit hari tetapi tidak bisa berbuat banyak. Sambil menunggu proses persidangan yang lumayan memakan waktu, Ibu Siti menjaga Ella dengan sepenuh hati.
Ella sendiri hanya tahu kalau Ayah Latif menceraikan Ibunya karena terlalu membela Ella. Untuk itulah Ella semakin merasa bersalah.
"Ibu," panggil Ella ketika melihat Ibu Siti tampak melamun di teras kontrakan mereka.
Ibu Siti menoleh, berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa, nak?" tanyanya lembut.
__ADS_1
"Ella lihat, Ibu selalu melamun. Ibu sedih karena Ayah ceraikan Ibu dan lebih membela Binar?"
"Nggak, Ibu cuma mikirin kamu kok. Gimana sama peneror itu? Dia masih suka teror kamu?" tanya Ibu Siti mengalihkan perhatian Ella.
"Masih, Bu. Ella nggak tahu sampai kapan." Jawab Ella, gadis itu terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Ibu akan selalu jagain kamu, sekarang kita tinggal berdua pasti Ibu akan lebih leluasa menjaga kamu."
"Makasih, Bu. Makasih karena sudah menyayangi Ella meski Ella bukan putri kandung Ibu."
"Jangan bicara seperti itu, nak. Ibu sayang Ella apapun keadaannya."
Ibu Siti dengan penuh kasih memeluk Ella. Menyampaikan rasa sayangnya yang tidak bisa dia ungkapkan lewat kata-kata.
"Ella bahagia ada Ibu yang selalu membela Ella. Bagi Ella cukup Ibu saja yang berada disisi Ella, Ella nggak membutuhkan yang lain lagi."
"Ibu juga cuma butuh Ella di samping Ibu. Apapun yang terjadi Ella adalah putri Ibu. Satu-satunya yang Ibu milik dan nggak ada yang berhak menyakiti Ella."
"Ella sayang Ibu," ucap Ella terharu.
"Ibu juga sayang Ella, selamanya akan selalu sayang Ella." Ibu Siti terus memeluk Ella, memberikan pelukan hangat layaknya seorang Ibu kepada putrinya.
Sebenarnya mereka sama-sama menyimpan rahasia untuk saling menjaga perasaan. Ibu Siti menyimpan rahasia orang tua kandung Ella, sedangkan Ella menyimpan rahasia besar tentang teror yang selama ini dia alami.
Ibu Siti takut jika Ella tahu yang sebenarnya, gadis itu akan malah berbalik membenci dirinya. Ibu Siti tidak ingin kehilangan Ella, karena hanya gadis itulah yang dia miliki saat ini.
Ella sendiri takut jika rahasianya terbongkar justru membuat Ibu Siti menjauh darinya. Ella tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan orang yang terus menerornya.
TBC
Ada rekomendasi novel menarik untuk kalian karya kak Haryani
jangan lupa mampir dan dukunganya ya 😊
Judul : NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Ketika harga diri seorang wanita tidak lebih dari selembar materai, mampukah ia bertahan di dalam keluarga yang kaya raya dan terpandang.
__ADS_1
Hidup di dalam garis kemiskinan membuat Virgo harus digadaikan demi membayar hutang kedua orang tuanya. Bertemu dengan Dylan seorang pemuda yang terkenal dingin dan ringan tangan membuatnya berjuang ekstra demi bisa bertahan hidup.