
Fadli membawa Intan untuk menemui Ella secara diam-diam. Fadli sengaja menggunakan Intan untuk memancing Ella, cctv yang dia pikir bisa membuktikan pelakunya justru tidak membawa titik terang.
Intan tadi menelpon Ella, mengabari untuk segera bertemu karena ada hal mendesak yang harus mereka bicarakan. Beruntung Ella menurut tanpa curiga sama sekali, dan sekarang kedua gadis itu tengah duduk bersama di taman dekat kosan Intan.
"Jadi, apa yang mau lo bicarakan?" tanya Ella langsung.
"Kamu tahu keadaan mbak Binar sekarang?" Intan balik bertanya membuat Ella tersenyum sinis.
"Bukan urusan gue," jawabnya santai.
"Mbak Binar di rumah sakit, dia keguguran." Intan memberitahu namun Ella sama sekali tidak menunjukan reaksi apapun.
"Gue sudah bilang, itu bukan urusan gue. Kalo lo cuma mau ngomongin hal itu, gue nggak minat." Ella segera berdiri, berniat pergi meninggalkan Intan.
"Lo tahu siapa pelakunya Ella?" tanya Intan membuat Ella segera menghentikan langkah kakinya.
Ella berbalik, menatap tajam Intan. "Siapapun pelakunya gue nggak peduli!"
"Ini perbuatan lo kan?" tuduh Intan yang sudah muak dengan tingkah Ella.
"Lo jangan sembarangan nuduh gue. Seharusnya lo yang patut dicurigai. Lo yang terakhir ketemu sama Binar, jadi sudah pasti lo pelakunya."
"Gue sudah bilang kalo gue sudah berhenti ngejar mas Biru. Jadi, untuk apa gue berbuat senekat itu? Yang harus dicurigai itu lo, lo yang selalu jahat sama mbak Binar."
Ella melotot marah, kali ini Intan sudah melewati batasnya.
"Lo jangan main-main sama gue Intan, apapun bisa gue lakukan." Ancam Ella yang justru disambut tawa mengejek Intan.
"Gue nggak takut karena gue sudah muak sama lo. Gue baru sadar selama ini yang berambisi memisahkan mas Biru dan mbak Binar itu lo, bukan gue."
Kali ini Ella yang tertawa mengejek, menatap Intan dengan tatapan merendahkan.
"Lo benar-benar bodoh ya, bertahun-tahun dan lo baru sadar sekarang. Lo tinggal tunggu mas Biru bergerak, dan hidup lo bakal berakhir dipenjara."
Intan bergerak maju, mencengkram erat tangan Ella membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Gue benar-benar muak sama lo. Dengar Ella, sekalipun orang-orang nuduh gue, gue nggak peduli. Gue bakal buktikan kalau gue nggak bersalah."
Ella menepis kasar tangan Intan, "lakukan apapun itu, tapi lo harus ingat nggak akan ada yang percaya sama lo."
"Gue punya bukti cctv, lo pasti nggak akan memperkirakan ini." Intan berbisik membohongi Ella, dia ingin melihat reaksi Ella.
__ADS_1
Ella menggeleng tidak percaya, "nggak mungkin."
"Terlihat jelas ada lo disana Ella dan perlu lo ketahui, satu-satunya yang tahu pertemuan itu cuma lo. Jadi, siap-siap untuk dipenjara." Intan balik mengancam membuat Ella memucat.
"Nggak, gue sudah pastikan semua bersih. Gue nggak sebodoh lo.." Ella terdiam begitu sadar dirinya tidak sengaja terpancing.
Intan tersenyum sinis, "lo yang bodoh Ella."
"Gue nggak peduli, bukti cctv jelas cuma karangan lo. Gue bisa pastikan nggak akan ada yang percaya sama lo Intan."
"Kenapa lo sejahat itu Ella? Lo jahatin mbak Binar dan korbanin gue, sahabat lo sendiri!"
"Gue sudah peringati lo untuk tetap dipihak gue Intan. Jadi sekarang, lo nikmati hasil dari pengkhianatan lo itu."
Ella terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "dan untuk Binar, itu hadiah kecil dari gue. Hadiah karena sudah merebut semua perhatian mas Biru."
"Lo gila!" Intan berseru kaget.
"Gue nggak peduli, lagipula nggak ada satupun yang tahu hal ini kecuali lo. Tapi, lo jelas tersangka utama dan nggak akan ada yang percaya sama lo!"
"Lo salah Ella!" Ella segera menoleh kaget dan mendapati Fadli sudah berdiri di belakangnya.
Ella memucat ketakutan, tidak menyangka Intan akan melangkah sejauh ini. Terlebih ada Fadli disisi Intan, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
...****************...
"Aku nggak tahu Bi, dimana salahku sampai ada orang yang begitu jahat berbuat hal ini." Binar berbisik lirih.
Sudah tengah malam dan Binar belum bisa memejamkan matanya.
Albiru diam tidak tahu harus menjawab apa. Yang bisa dia lakukan hanya memeluk erat Binar, memberi kehangatan untuk sang istri.
"Aku pikir kebahagiaan kemarin adalah jawaban atas doa-doa dan segala usaha yang aku lakukan Bi. Tapi ternyata itu semua belum cukup ya?"
"Ikhlas ya sayang, kita harus percaya Allah punya rencana yang lebih baik disetiap musibah yang kita hadapi." Albiru berbisik pelan, menahan sesak didadanya.
"Ikhlas yang seperti apa Bi? Tolong ajari aku untuk bisa ikhlaskan semuanya. Ajari aku untuk menerima semua kenyataan ini."
"Pelan-pelan, sayang. Percaya sama Allah, percaya bahwa akan ada kebahagiaan untuk setiap ujian yang bisa kita lewati."
Sesungguhnya Albiru belum bisa mengikhlaskan semua ini. Calon buah hatinya direnggut dan kini dia harus melihat kesakitan Binar. Tidak ada yang lebih buruk dari semua ini, namun sebagai tempat sandaran Binar tentu Albiru harus belajar menerima kenyataan pahit ini. Dia harus kuat demi Binar.
__ADS_1
...****************...
Ella menangis, memohon ampun pada Fadli yang kini tengah menyeretnya. Dari belakang Intan hanya bisa menatap kedua saudara itu tanpa berniat membantu Ella.
Mereka kini berada di rumah sakit. Setelah semalam semuanya terbongkar tentu saja Fadli tidak melepaskan Ella begitu saja. Fadli mengurung Ella di kamar kos Intan dan menjaganya dari luar, semua demi memastikan Ella tidak kabur.
Dan sekarang Fadli akan membawa Ella kehadapan Albiru. Dia akan membuat Ella mendapatkan hukumannya hari ini.
"Mas Biru!" Fadli segera memanggil Albiru yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit.
"Fadli? Ada apa? Kenapa Ella nangis seperti itu?" tanya Albiru heran.
Fadli segera menarik Ella kehadapan Albiru. Memaksa gadis itu untuk menatap Albiru.
"Dia pelakunya mas!" Fadli menunjuk Ella yang hanya bisa menangis ketakutan.
Albiru tampak begitu terkejut, menatap tidak percaya kedua adiknya itu.
"Apa maksud kamu Fadli?" tanya Albiru.
"Dia yang sudah mencampur minuman mbak Binar dengan obat penggugur kandungan."
"Kamu Ella.. kamu yang sudah berbuat sejahat itu?" Albiru menggeleng tidak percaya. Berita ini sungguh mengejutkan, orang yang tidak dia sangka justru adalah pelaku yang sebenarnya.
"Dia sudah mengaku semuanya mas, dia bahkan ingin menjebak Intan. Fadli bahkan punya barang bukti, bungkus obat itu ada sama Fadli."
Albiru diam tidak bisa berkata-kata. Masih tidak menyangka dengan semua ini. Batinnya bertanya-tanya, mengapa adik yang dia sayangi bisa berbuat sejahat itu pada istrinya.
"Kamu... "
PLAK
Albiru tidak menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba sebuah tamparan melayang dipipi kiri Ella.
Wajah Ella bahkan memerah menandakan tamparan yang diterima begitu menyakitkan. Semua menoleh, menatap kaget pada seseorang yang kini menatap Ella dengan penuh amarah.
TBC
**Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komennya biar author tambah semangat update 😊
Kira-kira siapa yg nampar Ella ya?
__ADS_1
Siapa yg kemarin tebakannya benar kalo Ella pelakunya**?