
Untuk benar-benar memastikan kabar bahagia tersebut Albiru dan Binar segera melakukan pemeriksaan. Hasilnya kembali membuat keduanya tersenyum lebar. Bahkan mereka tidak sabar untuk membagikan berita membahagiakan ini.
Dan yang pertama kali mendengar berita bahagia tersebut tentu saja keluarga Binar.
"Alhamdulillah, Bunda sama Ayah benar-benar bahagia." Bunda Ina segera berucap syukur ketika mendengar kabar bahagia tersebut.
Ayah Ibra pun tampak begitu bahagia, memeluk dengan hangat anak dan juga menantunya.
"Jangan lupa sampaikan kabar bahagia ini sama keluarga Biru ya," ucap Ayah Ibra mengingatkan.
Sebenarnya Albiru sudah memikirkan hal ini, namun hatinya masih ragu untuk mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Sedangkan Binar tidak tahu harus bagaimana, kalimat kejam yang dilontarkan Ibu Siti dan Ella masih teringat jelas.
"Iya Yah, kami akan segera mengabari." Jawab Albiru terdengar tidak yakin.
Albiru mungkin akan menyampaikan berita bahagia ini, tapi dia hanya akan mengabari lewat ponsel. Seperti yang dia katakan waktu itu, dia tidak akan menginjakkan kakinya disana sebelum Ibu dan adiknya meminta maaf pada Binar.
...****************...
Ayah Latif dan Ibu Siti sedang duduk berdua menikmati sore hari yang sunyi. Sejujurnya mereka merindukan Albiru yang sudah cukup lama tak menyapa mereka. Sepertinya putra sulung mereka masih menyimpan rasa kecewa.
Dering ponsel menyadarkan keduanya. Tertera nama Albiru membuat Ayah Latif dan Ibu Siti tersenyum senang. Mungkin Albiru sudah bisa berdamai dengan Ibu dan juga adiknya.
"Assalamu’alaikum Biru," Ayah Latif mengucap salam, dari nada suaranya pria paruh baya itu terdengar antusias.
"Waalaikumsalam, Yah. Ayah sama Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah kami baik. Biru sama Binar apa kabar?"
"Alhamdulillah kami baik Yah. Biru sama Binar mau sampaikan berita bahagia... Binar hamil Yah,"
Ayah Latif terdiam sejenak, tampak tidak menyangka akan mendapat berita membahagiakan ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah nak, Alhamdulillah." Tak hentinya Ayah Latif mengucap rasa syukur membuat Ibu Siti yang berada disampingnya menatap bingung.
"Kenapa Yah?" tanyanya pada sang suami.
"Binar hamil, Bu." Ayah Latif menjawab dengan bahagia, rasanya kerinduan yang tadi bersarang dihati kini telah terbayar oleh perasaan bahagia yang tak terkira.
"Alhamdulillah Yah, sini ponselnya Ibu mau ngomong." Dengan tidak sabar Ibu Siti merebut ponsel ditangan Ayah Ibra.
"Biru, Binar ini Ibu. Terima kasih kalian sudah memberikan berita bahagia ini. Sehat ya kalian berdua, terutama Binar."
"Iya Bu," terdengar Binar menjawab singkat.
"Biru tutup ya, Binar mau istirahat dulu. Ibu sama Ayah sehat-sehat... Assalamu’alaikum." Albiru segera mengakhiri panggilan karena tahu Binar masih tampak tidak nyaman berbicara panjang lebar dengan Ibunya.
Ibu Siti terdiam begitu panggilan diakhiri, sepertinya baik Binar maupun Albiru masih belum bisa memaafkan dirinya.
"Ibu harus minta maaf karena Ibu jelas salah menuduh Binar mandul, buktinya dia hamilkan. Makanya Bu, lain kali hati-hati dalam berbicara." Nasehat Ayah Latif ketika melihat wajah murung istrinya.
...****************...
Ella diteror! Gadis itu bahkan tidak berani sekedar menyalakan ponselnya. Sejak kejadian dia mengirim pesan kepada Binar, banyak kejadian aneh menghampirinya. Dimulai dari pesan aneh berisi 'AKU MENGAWASIMU GABRIELLA' hingga telepon dengan suara misterius yang mengatakan hal sama.
Bahkan kini teror itu mengikutinya sampai ke rumah. Seperti tiba-tiba ada paket atas nama Gabriella yang isi paketnya adalah foto-foto aktivitas Ella seharian. Ella tahu peneror ini adalah orang yang pernah mengancamnya.
"Gue harus apa?" Ella bertanya pada dirinya sendiri. Saat ini dia sedang berada di kamar sendirian, terlalu takut untuk sekedar keluar rumah.
"Ella!" Ella tersentak kaget mendengar suara Ibunya yang memanggil disertai ketukan pintu.
Ella beranjak dari duduknya membukakan pintu kamar. Terlihat wajah sang Ibu yang tengah tersenyum lebar.
"Ada apa, Bu?" tanya Ella bingung.
__ADS_1
"Ada berita bahagia Ella, tadi Biru nelpon." Ibu Siti menarik lengan Ella untuk keluar kamar dan duduk bersama sang Ayah di ruang tamu.
Ella tersenyum mendengar Albiru yang sepertinya sudah tidak marah lagi.
"Oh ya, terus apa kata mas Biru?" tanya Ella terdengar antusias. Ella bahkan melupakan Ayah Latif yang duduk disampingnya.
"Binar hamil," Ayah Latif menjawab singkat.
"Ayah, harusnya Ibu yang sampaikan berita bahagia ini kok malah Ayah yang nyaman." Ibu Siti merengut tidak suka namun segera tersenyum kembali mengingat ini adalah hari bahagia.
Mendengar berita itu seketika wajah Ella berubah. Tidak ada lagi senyum diwajahnya, beruntung Ibu dan Ayahnya tidak memperhatikan.
"Kamu harus segera minta maaf karena tuduhan kamu kemarin itu jelas salah." Ayah Latif kembali berbicara tanpa memerhatikan perubahan wajah putrinya.
"Iya Yah, nanti Ibu sama Ella akan minta maaf sama Binar," sahut Ibu Siti.
Tidak, Ella jelas tidak akan minta maaf. Binar pasti sedang menertawakannya saat ini. Ella tidak suka hal itu, dia tidak suka jika Binar bahagia sedangkan dirinya menderita.
Bagi Ella ini jelas tidak adil, saat dirinya ketakutan seorang diri karena teror orang tidak dikenal tapi Binar justru sedang berbahagia merayakan kehamilannya.
Ella akan menghancurkan kebahagiaan Binar. Jika dia menderita maka Binar harus lebih menderita. Binar tidak boleh bahagia karena telah merebut kebahagiaan dan juga impiannya selama ini.
TBC
Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊
Nah sambil menunggu novel ini update, author punya rekomendasi novel menarik karya Zahroni Nurhafid. Yuk mampir dan jangan lupa dukungannya.
Judul : Terlemah Yang Tak Terkalahkan
__ADS_1
Ditengah Dunia yang dipenuhi menusia berkekuatan dewa (Exceed), Dion terlahir sebagai manusia biasa tanpa kekuatan (Seed) dan menjadi rakyat biasa yang nilai kehidupannya tak lebih hanya sekedar kerikil di tepi jalan bagi dunia. Ia hanya berharap bisa terus menikmati hidup damainya melakukan hal konyol bersama sahabatnya Vista dan mengejar cintanya kepada Artia, mereka bertiga adalah sahabat sedari kecil. Namun kehidupannya mulai berubah sejak Dion mendapat peringatan dari dirinya sendiri yang berasal dari masa depan. "Apapun yang terjadi, Lindungilah, Artia." Fisik dibawah rata-rata dan Tanpa kekuatan, dengan tanggup jawab menyelamatkan Artia dari kematian ia Bangkit berkali2 dari kegagalan dan bergerak dengan memutar otak menjadikannya Seed pertama yang setara dengan Exceed kelas S. Bagaimana Cara manusia menang melawan kekuatan dewa?