
Ella merasa hidupnya sangat menyedihkan. Dipenjara, harus putus kuliah dan sekarang bekerja sebagai waitress disalah satu restoran. Ella merasa Tuhan tidak begitu adil padanya.
Sedangkan Binar kini hidup bahagia dan damai bersama Albiru, pria yang sampai detik ini dia cintai. Ella benar-benar membenci Binar karena telah merebut kebahagiaannya.
Disaat Ella memikirkan kehidupan Binar, tiba-tiba wanita yang sangat dia benci itu hadir. Binar sedang duduk seorang diri dibangku taman.
Ella tampak terkejut, bukan karena melihat Binar tapi terkejut melihat perut wanita itu yang terlihat besar.
"Binar!" Ella berteriak memanggil Binar yang segera menoleh dan menatapnya terkejut.
"Kamu.. mau apa kamu disini?" Binar segera berdiri dari duduknya, sedikit kesulitan mengingat perutnya yang besar karena mengandung bayi kembar.
Ella menatap Binar tidak suka, wanita di hadapannya ini terlihat begitu bahagia.
"Lo hamil?" tanya Ella padahal dia tahu jawaban dari pertanyaannya.
"Menurut lo?" Binar membalas dengan nada sinis.
"Lo bisa hamil ternyata, gue pikir lo nggak bakal bisa hamil lagi." Ella menatap Binar sinis, terlihat begitu membenci Binar.
"Alhamdulillah, Allah baik sama gue. Kenapa? Lo nggak terima kalau gue bisa hamil lagi?"
"Iya! Gue nggak terima lo bisa hamil lagi! Harusnya lo menderita karena nggak bisa hamil!" Ella berteriak marah, gadis itu bahkan tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian.
"Lo benar-benar jahat! Gue nggak tahu hati lo terbuat dari apa. Gue pikir setelah di penjara lo bakal berubah, tapi ternyata lo malah lebih busuk."
"Gue nggak peduli. Kenapa lo harus hidup bahagia sedangkan gue harus menderita? Harusnya lo nggak bahagia, harusnya lo menderita!"
"Itu pilihan lo, lo yang berbuat jahat dan apa yang lo alami sekarang adalah balasannya."
Ella terlihat semakin marah, gadis itu mendekati Binar berusaha menapar Binar. Beruntung wanita hamil itu segera menahan tangan Ella.
"Lo nggak bisa nyakitin gue!" Binar balas mendorong Ella hingga gadis itu terjatuh.
Entah dari mana Binar mendapatkan kekuatan itu. Ella sendiri terlihat kaget mendapat balasan serangan dari Binar.
"Beraninya lo dorong gue!" Ella berdiri dan seger menyerang Binar lagi.
Tapi, lagi-lagi Binar berhasil menghadang Ella yang berusaha menyakitinya.
"Lo nggak akan bisa nyakitin gue dan calon anak gue!" Dengan kasar dan penuh amarah Binar kembali mendorong Ella hingga gadis itu terjatuh dan pingsan.
Orang-orang segera mendekat untuk melihat keadaan Ella. Binar sendiri tampak shock, selama ini dia tidak pernah berbuat sekasar ini.
Albiru yang tadi membeli makanan untuk Binar tampak terkejut melihat kerumunan. Albiru berlari mendekat, dia begitu takut terjadi sesuatu pada Binar.
"Biru!" Binar segera memanggil Albiru yang tampak lega melihat kondisi Binar baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" tanya Albiru.
Binar mengangguk, tangannya menunjuk Ella yang masih pingsan.
"Ella, dia pingsan. Aku dorong dia, Bi." Bisik Binar membuat Albiru terkejut.
Sebenarnya Albiru tidak ingin berurusan dengan Ella lagi, tapi mengingat Binar yang mendorong Ella mau tidak mau dia harus bertanggung jawab.
Albiru segera menghubungi ambulance. Tentu saja dia tidak sudi membiarkan Ella masuk ke dalam mobilanya.
...****************...
Ibu Siti berlari dengan tergesa-gesa, begitu khawatir akan kondisi Ella. Tadi, Albiru menelponnya dan memberitahu Ella pingsan dan sekarang berada di rumah sakit.
"Biru, dimana Ella? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Ibu Siti begitu sampai di hadapan Albiru.
Albiru tidak menjawab, tidak mungkin dia mengatakan Binar mendorong Ella hingga jatuh kemudian pingsan.
"Ella sudah sadar, Bu. Ibu bisa masuk ke dalam." Jawab Albiru singkat, masih canggung untuk berlama-lama dengan Ibunya.
Ibu Siti segera masuk ke ruangan Ella. Hanya beberapa menit kemudian wanita itu keluar dengan wajah marah.
"Kamu apakan anak saya?" tanya Ibu Siti menunjuk Binar.
Binar tidak menjawab, Albiru dengan segera melindungi istrinya itu. Membawa Binar berlindung di belakangnya.
"Istri kamu itu jahat Biru, kamu lihat dia yang sudah membuat Ella pingsan." Ucap Ibu Siti dengan berapi-api, tangannya terus menunjuk kearah Binar.
"Kalau Binar jahat, lantas sebutan apa yang pantas untuk Ella?" Albiru berujar sinis, sorot matanya penuh emosi.
"Biru, kamu benar-benar ketelaluan!"
"Ibu yang keterlaluan! Sudah cukup membela anak Ibu dan terus menyalahkan Binar. Biru benar-benar muak!"
Ibu Siti begitu terkejut, hatinya sakit mendengar Albiru berucap kasar padanya. Namun, Ibu Siti tetap mengeraskan hatinya.
"Bela terus istri kamu itu! Dia yang kasar dan jahat pada Ella tapi kamu terus membelanya."
Binar sudah muak mendengar Ibu mertuanya itu terus melakukan drama. Dia lelah, bayi kembarnya juga lelah dan butuh istirahat.
"Salah kalau Binar membela diri Binar sendiri? Binar hanya melindungi diri sendiri dan anak dalam kandungan Binar." Binar segera menyela, wanita hamil itu berdiri di hadapan Ibu Siti.
"Kamu.."
"Binar hanya takut ada seseorang yang akan menyakiti anak dalam kandungan Binar. Seseorang yang dengan kejamnya tega membunuh bayi yang bahkan belum lahir ke dunia." Binar kembali menyela, tidak membiarkan Ibu Siti membela diri.
"Ucapan kamu keterlaluan Binar!"
__ADS_1
"Ibu yang keterlaluan, terus membela orang yang jelas-jelas salah sampai melupakan anaknya sendiri."
"Binar!" Ibu Siti berteriak marah, baginya Binar begitu lancang.
"Berhenti, Bu. Berhenti menyalahkan orang lain dan mulailah introspeksi diri. Tanya pada hati Ibu, semua yang terjadi pada Ibu dan Ella bukankah sebuah teguran yang Allah kirimkan untuk kalian."
Ibu Siti terdiam, tidak bisa menjawab ucapan Binar. Dia benar-benar malu, terlebih beberapa orang mulai berbisik membicarakan dirinya.
"Bu, sadar diri itu penting. Karena kalau sudah melewati batas, Ibu justru akan mempermalukan diri sendiri."
Usai mengatakan hal itu Binar segera mengajak Albiru pergi. Ibu Siti hanya mampu menatap kepergian anak dan menantunya.
Kali ini Binar berhasil menamparnya lewat kata-kata. Benar, Ibu Siti telah melewati batasnya dan saat ini dia tengah mempermalukan diri sendiri.
Albiru sendiri dibuat takjub dengan Binar. Semua ucapan Binar benar-benar menakjubkan. Wanita itu berhasil membalikkan keadaan. Kini tidak ada lagi Binar yang takut terhadap Ibu mertuanya.
Perlahan, Binar telah berhasil menemukan jati dirinya. Binar berhasil menjadi dirinya sendiri lagi.
Albiru tidak marah dengan ucapan Binar pada Ibunya karena semua itu benar. Sebaliknya, Albiru justru bangga dengan Binar karena bisa melawan orang yang berniat menjatuhkan harga dirinya.
"Kamu hebat." Bisik Albiru tidak menyembunyikan rasa bangganya.
Binar hanya tersenyum, meski merasa dirinya begitu kasar pada orang yang lebih tua. Namun, ada sedikit kebanggaan pada dirinya sendiri yang berhasil menguasai keadaan.
TBC
**Terima kasih untuk yg sudah mampir.
Jangan lupa fav, like dan komennya biar author tambah semangat update.😁😊
Sambil menunggu author update, yuk mampir ke novel keren karya kak Eni pua.
mampir dan jangan lupa dukungannya ya 😊**
Judul : ISTRI TITIPAN TALAK 3
Dimas Darmawan, seorang dokter muda yang terpaksa menikahi mantan istri sahabatnya yang bernama Winda Alicia.
mantan suami Winda, Bayu merencanakan pernikahan Dimas dan Winda agar Bayu bisa rujuk kembali dengan Winda setelah jatuh talak 3.
Hanya 6 bulan pernikahan, dan mereka harus bercerai.
Apa yang membuat Bayu begitu gigih berusaha rujuk dengan Winda?
Dapatkah Dimas menjaga istri titipan talak 3 sahabatnya?
__ADS_1
Ataukah cinta akan tumbuh diantara mereka dan menjadi dilema bagi Dimas?