Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 13 - Rasa lelah itu -


__ADS_3

“Kali ini aku nggak mau dengerin kamu Biru. Kamu harus tahu seperti apa adik kesayangan kamu itu.” Mata Binar menyorot tajam, dia tidak mau menyerah. Kali ini dia akan bertahan sampai Ella benar-benar jera tidak peduli jika nanti Albiru akan balik memarahinya.


 


Albiru mentap Binar memohon pada istrinya itu untuk berhenti. Tetapi Binar menggeleng tegas, kali ini dia harus menyelesaikan masalah Ella di depan suami dan Ibu mertuanya.


“Binar, biar Ibu yang berbicara pada Ella nanti.” Ibu Siti berusaha membujuk Binar yang masih menatap tajam Ella.


“Nggak bisa Bu, saya mau diselesaikan sekarang di depan Biru. Biar dia tahu adik kesayangannya itu sudah melewati batas.” Binar dengan tegas menggelengkan kepalanya, menolak bujukan mertuanya.


“Binar,” suara Albiru melembut.


Binar tetap pada pendiriannya, dia ingin memberi pelajaran pada Ella.


“Biarin mbak Binar mas, karena kali ini Ella sudah ketelaluan.” Semua serentak menoleh kearah Fadli yang entah datang dari mana. Ella yang melihat itu semakin takut, Fadli jelas berpihak pada Binar.


“Iya Bi, ada Fadli saksinya.” Binar akhirnya membuka suara melihat ada Fadli yang berpihak padanya.


“Oke, kalo begitu Ella harus jelaskan sekarang. Apa yang terjadi tadi pagi?” Albiru menyerah sedangkan Ibu Siti tampak pasrah.


“Maaf mas, Ella nggak bermaksud buruk. Ella cuma cerita sama Bu Ani, dan yang Ella ceritakan semua benar.” Jelas Ella yang tetap tidak ingin disalahkan.  Ibu Siti sebenarnya tidak menyangka Ella bisa berbuat nekad seperti itu.


Binar mendengus, tidak menyangka adik iparnya yang satu ini tetap tidak ingin disalahkan.


Nggak bermaksud buruk katanya, batin Binar sinis.


“Dengan bilang aku jahat sama sahabat kamu itu dan membuat Bu Ani beranggapan aku ipar yang buruk, apa itu bukan termasuk buruk?” Binar menyela saat melihat Ibu Siti akan membuka suara. Dia tahu Ibu mertuanya itu pasti akan membela si bungsu.


“Kamu ngomong apa Ella?” Albiru bertanya sekali lagi, berusaha agar Ella jujur.


“Sudah Biru, biar Ibu yang memarahi Ella. Kamu jangan keras sama dia, adik kamu ini masih anak-anak.” Bela Ibu Siti saat melihat Ella sudah siap menangis.


“Ibu selalu belain dia dengan dalih masih kecil. Apa menurut Ibu yang Ella lakukan nggak keterlaluan?” Fadli menyahut tidak terima dengan pembelaan Ibunya.

__ADS_1


“Fadli, jaga ucapanmu sama Ibu. Mas sudah memutuskan biar Ibu yang mengurus Ella. Dan kamu Ella mas harap jangan sampai kamu melakukan hal ini lagi, kamu harus ingat Binar itu kakak ipar kamu.” Ucap Albiru yang dibalas anggukan lemah Ella.


Binar tampak tidak terima begitu juga dengan Fadli, namun Albiru tidak ingin dibantah. Bahkan suaminya itu pergi begitu saja meninggalkan Binar yang tampak tak percaya. Melihat kepergian Albiru, Ibu Siti segera membawa Ella ke kamarnya meninggalkan Binar dan Fadli di ruang tamu.


“Sabar ya mbak,” ucap Fadli menguatkan.


Binar hanya mentap Fadli dengan senyum kecilnya. Dalam hati dia bersyukur ada Fadli yang masih memihaknya, namun disisi lain dia merasa sakit hati melihat Albiru yang tak kunjung memberi ketegasan pada Ella.


 


...****************...


                        


Seminggu sejak kejadian itu Binar tampak berubah. Wanita itu memang masih menjalankan kewajibannya sebagai istri namun terlihat jelas Binar berusaha menghindari Albiru. Seperti saat malam hari Binar akau lebih dulu tidur membelakangi Albiru begitupun saat pagi hari Binar akan menyibukan diri memasak.


Seminggu tanpa komunukasi yang berarti. Bukan Albiru tidak berusaha membujuk Binar, hanya saja Binar yang selalu berhasil menghidari suaminya itu.


“Mau sampai kapan kamu marah sama aku Bi?” Akhirnya Albiru berhasil menghalangi langkah Binar yang tampak ingin segera tidur.


“Kita butuh bicara Bi, permasalah kamu sama Ella sudah selesai. Ibu sudah bicara sama Ella, tapi kenapa kamu masih marah?” Mendengar itu Binar menoleh menatap sinis suaminya.


“Selesai di Ella bukan aku. Kamu sama Ibu itu sama aja selalu belain adik kamu itu. Aku capek ya harus mengalah dengan alasan dia masih kecil.” Binar akhirnya bersuara. Albiru tahu istrinya itu terlihat marah bahkan matanya tampak berkaca-kaca.


“Binar, kamu itu kenapa? Kamu selalu marah sama Ella dan sekarang kamu bawa-bawa Ibu.” Albiru terlihat berusaha menahan amaranya.


“Kamu marah? Terus bagaimana sama aku? Aku yang dicap jelek Biru, aku yang dibanding-bandingkan sama Intan bahkan tetangga yang lain dengan seenaknya bilang aku nggak pantas jadi istri kamu!”


“Kamu nggak perlu dengerin mereka Bi, sudah berapa kali aku bilang kita yang menjalini rumah tangga ini bukan mereka.”


“Tapi aku punya telinga dan hati. Aku yang denger omongan mereka, aku yang merasakan sakit hati! Dan kamu selalu bela adik kamu itu, kenapa kamu nggak bisa tegas Biru? Kenapa?”


Binar menangis setelah menumpahkan sakit hatinya. Albiru yang melihat itu segera melunak, berusaha menarik Binar namun istrinya itu memilih menghindar.

__ADS_1


“Bi, aku mohon jangan kaya gini. Maafin Ella, dia hanya nggak tahu akibat perbuatannya.” Albiru kembali membujuk Binar yang semakin marah mendengar ucapannya.


“Dia sudah bukan anak kecil Biru, kalau kamu lupa umurnya sudah dua puluh tahu!” tandas Binar. “Dia jelas bukan anak kecil yang tidak tahu mana salah dana benar, dan kalau kamu terus membelanya lebih baik kita akhiri pembicaraan ini.”


“Bi, aku minta maaf. Jangan begini sayang, aku akan bicara sama Ella lagi. Aku akan minta dia meminta maaf sama kamu.” Albiru berhasil menarik Binar kepelukannya. Sungguh dia merindukan istrinya ini.


“Aku capek Bi, lelah sama semua drama ini.” Binar membiarkan Albiru memeluknya.


"Aku capek banget Bi, aku selalu buruk dimata adik kamu itu. Dia selalu berusaha menjatuhkan aku." Sejujurnya dia juga merindukan Albiru. Merindukan pelukan hangat suaminya ini.


“Aku kangen kamu,” ucap Albiru. “Aku mohon sabar Bi, aku nggak mau kamu nangis begini. Pelase jangan marah lagi, biar aku yang urus masalah Ella.”


“Aku berusaha untuk sabar Bi, tolong tetap dukung aku.”


Keduanya berpelukan saling melepas rindu. Keduanya tidak sadar ada sepasang mata yang menatap penuh benci pada mereka. Orang itu tidak suka melihat Binar dan Albiru berbaikan. Dia berharap pasangan suami istri itu segera berpisah bukan malah semakin mesra. Dia terima ini, semua usahanya tetap gagal. Tetapi dia tidak akan menyerah, lihat saja dia akan menyiapkan rencana besar untuk pasangan itu.


 


TBC


Hai semua..sambil nunggu novel ini up aku punya rekomendasi novel bagus buat kalian karya Mama Reni. Silahkan mampir dan jangan lupa dukungannya.


Judul : CINTA YANG DIABAIKAN



Arumi Nadya Karima, seorang wanita yang terlahir dari keluarga berada.


Hidupnya semakin sempurna saat menikahi seorang pria tampan yang bernama Gibran Erlangga.


Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan dirinya. Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.


Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan. Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.

__ADS_1


Apakah Arumi akan bertahan atau memilih berpisah?


__ADS_2