Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 44 - Permohonan Menyakitkan -


__ADS_3

Setelah keluar penjara Ella segera menyembunyikan dirinya. Ancaman Rio berhasil membuatnya ketakutan dan selama di penjara Ella sudah menerima berbagai teror mengerikan.


Teman satu selnya tidak berhenti menyiksa Ella, gadis itu diperbudak sesuka hati. Ingin melawan tapi Ella sadar dia tidak punya kuasa apapun.


Karena itulah demi menghindari Rio, dia menyembunyikan dirinya. Cukup Ibu Siti yang mengetahui keberadaannya. Dan saat ini Ella tengah menghubungi Ibu Siti, hal yang setiap hari dia lakukan.


"Gimana Bu?" tanya Ella setelah cukup lama berbasa-basi.


"Apanya yang gimana?" Ibu Siti bertanya balik.


"Usulan Ella. Ibu sudah menemui Binar?"


"Sudah, Ibu sudah memanasi Binar. Tapi ada sedikit masalah, Bundanya Binar sudah tahu semuanya."


Ella menghela napas, rencananya tidak berjalan baik. Tapi dia yakin apa yang sudah Ibunya lakukan pasti akan memengaruhi Binar.


"Kenapa bisa ketahuan?" tanya Ella lagi.


"Bundanya tadi datang dan Ibu nggak tahu. Ternyata dia menguping pembicaraan Ibu sama Binar. Ibu takutnya Biru tahu dan marah sama Ibu."


"Mas Biru nggak akan marah Bu, kalaupun marah Ibu tinggal bilang kalau apa yang Ibu katakan benar dan itu semua demi kebahagiaan mas Biru."


"Ya semoga saja Biru bisa terima."


Pembicaraan keduanya terus berlanjut. Mereka menyusun berbagai rencana untuk meluluhkan hati Biru agar menerima saran dari mereka.


Sebenarnya Ella yang memberitahu Ibu Siti tentang kondisi Binar. Dan dengan liciknya gadis itu memengaruhi Ibu Siti. Ella mengatakan seharusnya Ibu Siti sudah menimang cucu namun Binar tidak bisa hamil.


Ella juga mengusulkan agar Ibu Siti menghasut Binar agar bercerai dari Albiru atau mengizinkan Albiru untuk menikah lagi. Ella berkata semua demi kebahagiaan Albiru karena dia yakin jauh dilubuk hati Albiru pasti menginginkan seorang anak.


Ibu Siti yang mudah terpengaruh tentu saja menerima semua saran dari Ella. Karena itulah kedua wanita berbeda usia itu menyusun berbagai rencana agar Albiru menerima saran mereka.


...****************...


"Biru," Bunda Ina memanggil Albiru dengan lembut.

__ADS_1


Albiru yang menunduk segera mengangkat kepalanya. Menatap wajah lelah dan sedih Ibu mertuanya.


"Bunda ingin sekali melihat Binar bahagia. Bagi Bunda hanya dengan melihat Binar bahagia itu sudah cukup." Bunda Ina terdiam sejenak, menghela napas demi meringankan beban berat didadanya.


"Tapi Binar tidak bahagia saat ini. Bukan hanya saat ini tetapi selama kalian menikah, putri Bunda sangat tertekan."


"Maafin Biru, Bunda. Tolong maafin Biru karena belum bisa membahagiakan Binar." Albiru memohon dengan tulus, wajah pria itu bahkan tampak frustasi.


"Bunda merasa keputusan Bunda menerima lamaran kamu adalah kesalahan terbesar. Jika saja kalian tidak menikah mungkin satu ini Binar begitu bahan menjalani kehidupannya."


Albiru menggeleng, tidak menerima perkataan Ibu mertuanya. "Bunda tolong jangan bicara seperti itu. Biru mencintai Binar, sangat mencintai Binar."


"Tapi keluarga kamu tidak menerimanya," jawab Bunda Ina singkat.


Ayah Ibra yang mengerti arah pembicaraan istrinya segera menyela. "Bunda, sudah cukup," katanya memberi peringatan.


"Jika kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Binar. Tolong lepaskan Binar. Ini permohonan dari seorang Ibu, lepaskan putri Bunda. Biarkan dia bahagia meski tanpa kamu disisinya."


Albiru tampak begitu terkejut mendengar permohonan Bunda Ina. Pria itu bahkan tidak bisa memberikan rekasi apapun karena terlalu terkejut.


"Bunda, apapun yang terjadi Biru tidak akan melepaskan Binar. Binar adalah bagian dari hidup Biru begitupun sebaliknya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Allah."


Albiru berucap dengan tegas. Sebenarnya Albiru takut jika Binar lelah dengan semua ini dan memilih untuk pergi dari kehidupannya.


Albiru hanya membutuhkan Binar, apapun kondisi Binar akan dia terima. Baginya Binar adalah alasan dia menjalani kehidupannya saat ini. Binar adalah satu-satunya wanita yang dia cintai, cinta pertama dan terakhirnya.


...****************...


Ibu Siti sedang menonton sinetron kesukaannya ketika tiba-tiba Albiru masuk tanpa mengucapkan salam. Wanita paruh baya itu tampak terkejut namun dia segera mengetahui maksud kedatangan Albiru.


"Apa yang Ibu katakan pada istri Biru?" tanya Albiru langsung, dia bahkan lupa bersikap sopan pada Ibunya.


"Ibu mertua kamu yang mengadu?" Ibu Siti bertanya balik.


"Biru bertanya apa yang sudah Ibu katakan pada istri Biru?" Albiru mengulang kembali pertanyaannya.

__ADS_1


"Ibu hanya memberi saran pada istri kamu. Ibu nggak mengatakan yang macam-macam dan seharusnya kamu berterima kasih atas saran dari Ibu."


"Ibu benar-benar keterlaluan!" Albiru meninggikan suaranya membuat Ayah Latif segera keluar kamar.


Ibu Siti menatap Albiru kaget, tidak menyangka putra sulungnya berani berbicara dengan nada tinggi.


"Ada apa ini?" tanya Ayah Latif.


"Tanya itu pada istri Ayah. Apa yang sudah istri Ayah ini perbuat." Ucap Albiru penuh emosi, dia bahkan lupa bersikap sopan pada orang tuanya.


"Ada apa lagi ini? Ayah benar-benar nggak mengerti, selalu saja ada masalah." Ucap Ayah Latif frustasi, dia begitu lelah dengan semua masalah yang menimpa keluarganya.


"Apa pantas seorang Ibu mengatakan pada menantunya untuk memilih bercerai atau rela dimadu? Tanyakan hal itu pada istri Ayah." Ucap Albiru saat melihat Ibu Siti tidak berniat memberitahu Ayah Latif.


"Apa maksud Biru? Apa yang sudah kamu perbuatan?" Ayah Latif bertanya pada Ibu Siti yang tampak takut untuk berbicara jujur.


"Istri Ayah itu mendatangi Binar secara diam-diam dan mengatakan pada Binar untuk memilih diceraikan atau dimadu. Alasannya hanya karena Binar sulit hamil lagi, agar Biru segera memiliki keturunan."


"Astaghfirullah, apa yang sudah kamu perbuat Siti? Dimana hati nurani kamu? Kamu itu seorang wanita, apa tidak bisa kamu gunakan hati kamu itu." Ayah Latif begitu marah mendengar ucapan Albiru.


Ayah Latif tidak menyangka istrinya bisa berbuat sejahat itu pada menantunya sendiri.


"Apa yang Ibu lakukan itu demi kita Yah, demi Biru. Ibu mau punya cucu dan Ibu yakin Biru juga mau punya anak, tapi menantu Ayah itu tidak bisa hamil." Ucap Ibu Siti membela diri, dia tidak terima disalahkan.


"Sulit hamil bukan berarti tidak bisa hamil." Albiru menjawab dengan tegas.


"Mau sampai kapan menunggu? Kamu yakin bisa menunggu sampai istri kamu itu hamil?" Ibu Siti bertanya dengan sinis.


"Sampai kapanpun akan Biru tunggu. Bahkan sekalipun Allah nggak mengizinkan Biru untuk memiliki anak akan Biru terima asalkan Binar tetap disisi Biru." Jawab Albiru tegas membuat Ibu Siti semakin tidak suka.


"Kamu dengar itu Siti? Yang menjalani kehidupan itu adalah mereka, suka ataupun tidak suka kita tidak berhak ikut campur. Itu rumah tangga mereka dan menjalani mereka, kebahagiaan mereka hanya merekalah yang tahu." Ayah Latif segera menyela saat melihat Ibu Siti akan bersuara kembali.


"Maaf Ibu jika Biru tidak sopan, tolong apapun yang terjadi jangan mencampuri urusan rumah tangga Biru. Karena sekali lagi ada yang berniat menyakiti hati Binar, tidak akan Biru ampuni sekalipun itu Ibu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2