
Salahnya dimana?
Sudah berminggu-minggu Binar tak pernah tenang. Pikirannya bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya? Mengapa dirinya dipandang begitu buruk? Meski tampak baik-baik saja, namun dihatinya keresahan itu begitu menghantui. Melihat sikap Ibu Siti yang baik namun sikap para tetangga yang selau memandang sinis dirinya benar-benar membingungkan Binar. Harus seperti apa dia bersikap?
Fay bahkan bertanya-tanya mengapa belakangan ini Binar terlihat sering melamun.
“Lo kenapa sih?” tanya Fay.
Binar menoleh memaksakan senyumnya. “Nggak apa-apa, cuma capek aja.”
Fay menatap tak percaya, dia mengenal Binar selama bertahun-tahun dan sangat tahu sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
“Bi, kalo lo lagi ada masalah tolong cerita. Gue belakangan ini liat lo lesu banget, gue tau ada sesuatu yang menganggu lo kan.” Fay menatap serius Binar.
Binar terdiam sedang menimbang-nimbang apakah harus menceritakan masalahnya pada Fay.
“Gue cuma lagi berpikir gimana caranya jadi menantu dan istri yang baik.” Ujar Binar masih berusaha tak menceritakan semua kegelisahannya.
“Ella dan si batu kali gangguin lo lagi?” tanya Fay menebak-nebak asal muasal kegelisahan Binar.
Binar menggeleng, “bukan, mereka lagi sibuk sama kegiatan kampus. Malah gue sudah jarang ketemu Ella sejak Biru negur adiknya itu.”
“Gue nggak yakin kalo sikap aneh loh ini cuma karena cara jadi mantu dan istri yang baik. Gue yakin ada susuatu yang lebih dari itu kan.”
Sekali lagi Binar menggeleng. Fay paham, Binar belum siap bercerita dan dia tidak akan memaksa sahabatnya itu. Fay hanya bisa berdoa semoga apapun masalah Binar bisa terselesaikan dengan baik. Dia hanya ingin sahabatnya selalu bahagia dimanapun dan kapanpun.
...****************...
Binar bisa merasakan tatapan tak bersahabat dari tetangganya. Padahal Binar tidak melakukan apapun selain menyapa dengan sopan. Dia baru pulang kerja dan mendapati sekumpulan Ibu-Ibu yang dia tahu pasti sedang bergosip. Dan diantaranya ada Ibu Siti, sang mertua yang kini menatapnya degan senyum hangat seperti seorang Ibu pada umumnya.
__ADS_1
Tapi entah mengapa Binar tidak bisa melihat ketulusan dimata Ibu Siti.
“Eh Binar sudah pulang, ayo masuk nak. Pasti capek ya pulang kerja?” Ibu Siti menyambut Binar dengan hangat, sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan sebelumnya.
Binar tersenyum sopan, “maaf ya Ibu-Ibu saya mengganggu.”
Bu Ani tersenyum sedikit sinis, “nggak apa-apa mbak Binar. Silahkan masuk, pasti capek banget ya baru pulang kerja.”
“Ya capeklah Ni, namanya kerja sampe sore begini.” Bu Wiwi menimpali yang disambut tawa Ibu-ibu yang lain.
Binar merasa seperti ditertawakan.
“Kerja sih kerja tapi jangan lupa kewajiban sebagai seorang istri dan menantu, iyakan mbak Binar?” kali ini Bu Rini bersuara. Begitu sinis dan penuh sindiran.
Binar tahu, sangat tahu apa maksud dari ucapan itu. Dia melirik kearah Ibu Siti yang hanya diam dengan senyum kecil dibibirnya.
“Alhamdulillah, saya nggak melupakan kewajiban saya Ibu-Ibu sekalian.” Jawab Binar masih dengan senyum sopannya.
“Ah masa? Kalo gitu habis ini harus beres-beres dan masak dong.” Seketika Binar menghilangkan senyum sopannya mendengar ucapan Bu Ani.
“Iya Bu, kalo gitu saya permisi dulu.” Pamit Binar langsung beranjak masuk ke dalam rumah tanpa mau menoleh lagi, dia merasa dipermalukan oleh sekumpulan Ibu-Ibu itu.
Sekarang Binar tahu semua ucapan Dinda benar, Ibu Siti membicarakan yang tidak-tidak dibelakangnya. Binar hanya tidak menyangka mertuanya itu begitu jahat, dia bertanya-tanya dimana letak salahnya. Apakah memilih untuk bekerja sesuatu yang salah?
Mengapa Ibu mertuanya itu tidak berbicara padanya langsung jika tidak ingin Binar bekerja? Mengapa harus menceritakannya pada tetangga yang lain? Batin Binar bertanya-tanya. Selama ini dia bekerja keras berusaha menjadi istri dan menantu yang baik namun ternyata tidak dihargai, ingin rasanya Binar menangis.
...****************...
Yang menyadari perubahan Binar akhir-akhir ini bukan hanya Fay, hampir semua yang mengenal Binar dengan baik menyadari ada yang tidak beres. Dari luar Binar terlihat baik-baik saja, semua pekerjaannya berjalan baik namun wajah sendu wanita itu menandakan ada yang tidak beres.
Binar tidak tahu harus bercerita pada siapa, tidak mungkin pada orang tuanya karena dia tahu Bundanya akan khawatir. Tidak mungkin juga pada Albiru karena dia takut semua ini hanya salah paham dan malah memperkeruh suasana.
__ADS_1
“Mbak Binar!” panggilan itu menyadarkan Binar dari lamunannya. Dia bahkan tidak sadar sudah cukup lama duduk termenung di depan rumah, menunggu Albiru pulang dari kantor.
Dinda yang kebetulan lewat segera menyapa Binar. Dia sedikit merasa khawatir dengan Binar karena ucapannya waktu itu.
“Hai mbak,” Binar balas menyapa dengan senyum kecilnya.
“Mbak baik-baik aja kan?” Tanya Dinda hati-hati.
Binar menggeleng lemah, “gimana bisa saya bisa baik-baik aja mbak?”
Dinda semakin merasa bersalah, menyesali keputusannya menceritakan perbuatan mertua Binar.
“Mbak Dinda nggak usah merasa bersalah, ” ucap Binar setelah melihat tatapan bersalah dari Dinda. “Saya sudah tahu semua yang mbak bilang itu benar. Saya menyaksikannya sendiri.”
Dinda terkejut tidak menyangka jika Binar menyaksikan sendiri. Dia sangat tahu seperti apa sakit hatinya Binar karena dulu dia juga mengalaminya. Selain sakit hati dia juga malu karena diremehkan oleh tetangga-tetangga yang lain. Dan sampai saat ini Dinda tidak tahu apa tujuan Ibu-Ibu itu menceritakan menantu mereka sendiri.
“Saya dulu juga ada diposisi mbak Binar,” Dinda mulai bercerita mengenang masa-masa sulitnya. “Saya bahkan harus rela resign demi kesenangan mertua saya. Saya dinilai tidak becus menjadi istri karena sibuk bekerja, saat itu saya sedang hamil jadi mertua saya semakin menekan saya untuk segera berhenti kerja. Dan suami saya tidak punya kuasa apa-apa.”
“Apa saya harus seperti mbak juga? Pekerjaan saya ini impian saya, bahkan saya harus berusaha keras untuk mencapai posisi saya sekarang diumur saya yang masih muda.”
Dinda menggeleng, “jangan menyerah mbak, buktikan mbak bisa menjadi istri dan menantu yang baik dan memiliki karir yang bagus.”
Binar tersenyum tipis, “belakangan ini saya sudah memikirkan ini mbak tapi belum menenemukan jawaban yang tepat.”
Dinda terlihat semakin merasa bersalah karena menambah beban pikiran Binar, “mungkin seharusnya saya nggak cerita sama mbak.”
Belum sempat Binar menjawab suara lain sudah lebih dulu menyela, “cerita apa?” tanya Albiru yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang keduanya.
Binar dan Dinda terkejut, tidak tahu harus berbuat apa. Binar menatap Albiru ragu, apa suaminya itu mendengar percakapannya dengan Dinda? Dia takut Albiru salah paham dan malah membencinya.
__ADS_1
TBC