Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 57 - Hadiah untuk Ibu Siti -


__ADS_3

Ayah Latif begitu marah saat mendengar cerita dari Albiru. Sebagai seorang suami dia merasa begitu gagal mendidik istrinya sendiri.


Entah apa yang ada dipikiran Ibu Siti hingga berbuat sejahat itu pada menantunya sendiri.


Ibu Siti sendiri tampak ketakutan menghadapi amarah Ayah Latif. Fadli dan Albiru yang sengaja datang untuk menyelesaikan masalah hanya bisa diam menjadi saksi.


"Apa yang sudah kamu perbuat Siti?" tanya Ayah Latif marah.


Ibu Siti hanya diam tidak berani bersuara.


"Memalukan, sungguh memalukan. Membela anak yang jelas-jelas salah dan malah menuding orang lain berbuat salah. Dimana otak kamu?!"


Ayah Latif begitu marah, bahkan kini suaranya mulai meninggi. Fadli terlihat begitu tenang, sedangkan Albiru sedikit khawatir pada Ibunya. Biar bagaimanapun Ibu Siti adalah orang yang melahirkannya.


"Kali ini kamu benar-benar keterlaluan. Kamu bilang Binar tidak berhak bahagia? Seharusnya kamu dan putri kesayangamu itu yang tidak berhak bahagia!"


"Jahat kamu mas! Kamu lebih milih menantu kamu itu dibandingkan putri kamu sendiri." Ibu Siti akhirnya bersuara, tidak terima dengan perkataan Ayah Latif.


"Putri? Aku cuma punya dua putra, orang yang kamu bilang putri kita itu bagiku adalah orang asing. Perlu aku katakan pada Biru dan Fadli yang sebenarnya?"


Ibu Siti menggeleng takut. Dia tidak ingin masa lalunya diketahui kedua putranya.


"Ada apa, Yah?" tanya Albiru tidak mengerti.


Ayah Latif ingin menjawab ketika Ibu Siti dengan cepat memotong ucapannya.


"Jangan Mas!" ucap Ibu Siti takut.


"Kamu sudah melewati batas dan kedua anak kita perlu tahu yang sebenarnya." Ayah Latif berucap tegas membuat Albiru semakin penasaran.


"Tolong beritahu yang sebenarnya, Yah." Pinta Albiru, sedangkan Fadli masih terlihat santai.


Dan mengalirlah cerita yang sebenarnya. Fadli yang sudah lebih dulu tahu terlihat tenang sedangkan Albiru tampak terkejut.


"Dan kalian harus tahu mengapa Ibu kalian sangat menyayangi Ella. Itu semua karena Ella anak dari pria yang sampai detik ini dia cintai. Dia merawat Ella bukan karena merasa bersalah tapi karena pria yang dia cintai menitipkan Ella padanya."


Semua rahasia telah terbongkar. Albiru begitu shock begitu pula Fadli yang tidak menyangka bahwa Ibunya ternyata masih mencintai pria lain.


"Kenapa Mas begitu tega? Mas menghancurkan harga diriku di hadapan kedua putraku." Ibu Siti menangis, merasa dipermalukan di depan kedua putranya.


"Selama ini aku sudah cukup mengalah dan sekarang kamu sudah melewati batas. Aku menyerah Siti. Menyerah atas kamu dan Ella... maaf tapi detik ini juga aku Latif menalak kamu Siti!"


Semua tampak terkejut, tidak menyangka Ayah Latif akan berbuat sejauh ini.

__ADS_1


Dapat Albiru lihat raut wajah lelah dan kecewa Ayahnya. Albiru mengerti betapa besar pengorbanan Ayahnya, menerima wanita yang mencintai pria lain dan bahkan menerima anak dari pria yang dicintai istrinya.


Bertahun-tahun dijalani seorang diri tanpa mengeluh dan sekarang kesabaran Ayah Latif telah mencapai batasnya.


...****************...


Disisi lain Binar tampak termenung seorang diri. Dia baru tertidur beberapa jam yang lalu dan kembali terbangun.


Rasanya begitu menyedihkan, Ibu mertuanya begitu membenci dirinya. Bahkan dia sebut tidak berhak bahagia setelah apa yang telah dia lewati.


"Binar?" Panggil Bunda Ina yang bertugas menjaga Binar selama Albiru pergi.


"Bunda," Binar menoleh sorot matanya tampak begitu terluka.


"Kenapa, nak?" tanya Bunda Ina lembut.


Binar menangis, hatinya begitu sakit. Apa salahnya hingga dia tidak berhak bahagia?


"Apa salah Binar, Bunda? Kenapa Binar nggak berhak bahagia? Apa salah Binar hamil dan bahagia?" Binar bertanya masih dengan tangisnya.


"Nggak, nak. Binar nggak salah apa-apa, Binar berhak bahagia. Jangan dengarin omongan jahat itu nak, Binar sekarang lagi hamil. Fokus sama kehamilan Binar ya. Ada Ayah, Bunda sama Biru yang akan terus menjaga Binar."


Bunda Ina tampak begitu sedih melihat kondisi Binar. Ibu mana yang tidak terluka saat melihat putrinya terpuruk seperti ini. Ingin rasanya Bunda Ina mendatangi besannya itu dan memukulnya sampai puas, sayangnya Ayah Ibra jelas tidak mengizinkannya.


"Binar bersyukur ada Bunda yang selalu ada di samping Binar. Maafin Binar karena terlalu sering buat Bunda dan Ayah sedih."


"Bunda sama Ayah selalu bersyukur memiliki putri cantik seperti Binar. Bunda dan Ayah akan selalu menemani Binar, bahagianya Binar adalah bahagianya Ayah dan Bunda begitu pula sebaliknya."


Keduanya berpelukan dengan hangat, membagi berbagai cerita positif demi membuat Binar kembali bersemangat dan melupakan semua ucapan kejam Ibu mertuanya.


Albiru yang baru pulang mengurungkan niatnya untuk menemui Binar. Dia akan membiarkan sang istri menghabiskan waktu berdua dengan Bundanya.


Sebenarnya Albiru ingin menyendiri, menenangkan hatinya yang begitu kacau. Hari ini dia harus menerima fakta pahit keluarganya sendiri. Belum lagi Ayah Latif yang menalak Ibu Siti.


Rasanya begitu banyak masalah datang silih berganti menerpa Albiru.


"Biru," Albiru menoleh kaget melihat Ayah Ibra memanggilnya.


"Iya, Yah." Jawab Albiru, kini keduanya tengah duduk di teras rumah.


"Berat, nak?" tanya Ayah Ibra seolah tahu betapa berat masalah yang dihadapi Albiru.


"Biru lelah Yah, bukan lelah menghadapi Binar tapi lelah menghadapi keluarga Biru. Begitu memalukan, Ayah Latif bilang tidak punya muka untuk bertemu Ayah dan Bunda lagi."

__ADS_1


Ayah Ibra tersenyum penuh wibawa, "lelah itu manusiawi. Sebagai seorang Ayah, jujur saja Ayah marah melihat Binar yang terus menerus disakiti."


Albiru mengangguk paham, jika dia berada diposisi Ayah Ibra mungkin dia akan mengamuk tidak terima putrinya diperlakukan jahat.


"Tapi bagi Ayah, kamu dan Ayahmu tidak salah. Kalian tidak melakukan kejahatan apapun. Buang rasa bersalah kalian, kita hanya perlu fokus untuk kebahagiaan Binar." Lanjut Ayah Ibra menenangkan Albiru.


"Keluarga Biru kacau, Yah. Hari ini begitu banyak kejadian tidak mengenakkan. Bahkan Biru belum sempat menenangkan Binar."


"Ada Bunda, kamu tidak perlu khawatir. Binar juga sudah lebih baik."


"Terima kasih, Yah. Terima kasih sudah menjadi sosok Ayah kedua bagi Biru. Ayah selalu berhasil menenangkan Biru."


Ayah Ibra kembali tersenyum hangat.


"Kamu butuh waktu sendirikan? Sekarang nikmati waktumu tanpa harus memikirkan masalah apapun. Biarkan Binar bersama Bunda untuk sementara. Setelah merasa tenang kamu boleh bersama Binar."


Albiru begitu terharu melihat pengertian Ayah Ibra. Ayah mertuanya itu selalu tampak bijaksana dan dewasa.


"Terima kasih, Yah." ucap Albiru tulus.


Ayah Ibra meninggalkan Albiru seorang diri di teras rumah. Memberi waktu untuk menantunya itu agar lebih tenang.


Bagi Ayah Ibra, Albiru merupakan sosok pria yang begitu dewasa diumurnya yang terbilang muda. Begitu banyak masalah yang dihadapi Albiru dan pria itu masih bisa berpikir dewasa dengan mengutamakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


TBC


Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa dukung author biar tambah semangat updatenya..😁😊


Yg dari kemarin nunggu karma Ibu Siti, semoga puas..karma berikutnya menanti 😎


Jangan lupa mampir nih ke karya author kece kak Kisss. Mampir dan dukungannya ya..😊


Judul : TIBA-TIBA ISTRIKU BERUBAH



*Hanna merupakan istri yang ceria dan manja. Namun, karena suatu ketika dia mendengar kata-kata menyakitkan dari suaminya membuat hati wanita itu sakit dan berniat berubah menjadi wanita tegar.


"Hanna bagaikan noda hitam yang melekat pada pakaian ku. Kalau bukan karena bakti ku pada orang tua. Sudah dari dulu aku meninggalkan nya!" ujar Reza pada temannya.


Degg.


Hanna memeluk kotak bekalnya erat. dia tak menyangka suaminya bisa sejahat itu menyamankan dirinya dengan noda hitam.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Mulai saat ini aku akan berubah, jangan salahkan sikap ku yang nantinya akan membuat mu pusing tujuh keliling!" gumam Hanna dengan mata yang mengajak sungai*.


__ADS_2