
Setelah dengan segala macam paksaan akhirnya Ibu Siti berhasil membawa Ella menemui Binar dan Albiru. Tujuan utama mereka tentu saja untuk memperoleh maaf dari Binar.
Ella sendiri dengan sangat terpaksa menuruti keinginan Ibunya. Dia juga ingin melihat apa yang akan dilakukan si peneror jika melihat dia meminta maaf pada Binar. Dan disinilah mereka sekarang, berada di restoran untuk sekalian makan siang bersama.
"Gimana keadaan Binar? Sehat-sehat kan?" tanya Ibu Siti penuh perhatian.
Binar tersenyum canggung, selama ini dia tidak pernah mendapat perhatian seperti ini dari Ibu mertuanya.
"Alhamdulillah Bu, cuma tadi pagi sedikit mual." Binar menjawab canggung, belum terbiasa dengan perhatian ini.
Ibu Siti tersenyum menggenggam tangan Binar, "maafin semua perlakuan Ibu sama kamu ya, maafin juga kata-kata Ibu yang menyakiti kamu."
Binar tersenyum, "iya Bu, Binar sudah memaafkan Ibu. Binar juga minta maaf kalau ada salah sama Ibu."
Albiru ikut tersenyum senang, bahagia melihat Ibu dan istrinya terlihat akur.
"Ella juga minta maaf sama Binar ya," sambung Ibu Siti.
Ella hanya tersenyum terlihat tidak ikhlas namun Binar memilih untuk mengabaikan.
"Binar sudah memaafkan, semoga Ella tidak mengulangi hal yang sama."
"Alhamdulillah, jadi kita bisa bersama lagi tanpa perasaan dendam dan sakit hati." Ibu Siti berucap penuh rasa syukur.
"Sekalian Biru mau ngomong Bu, kami sudah mau pindah ke rumah baru kami." Ucapan Albiru sontak membuat Ibu Siti merubah ekspresi wajahnya.
"Kenapa nggak tinggal sama Ibu saja Biru? Binar lagi hamil pasti butuh bantuan Ibu yang sudah berpengalaman." Ucap Ibu Siti yang terlihat tidak rela melihat putranya ingin hidup mandiri.
"Kami sudah diskusi ini Bu, orang tua Binar juga setuju asal kami sering memberi kabar." Albiru menjawab dengan pelan takut menyinggung perasaan Ibunya.
Mendengar jawaban Albiru membuat Ibu Siti dengan sangat terpaksa mengikhlaskan Albiru tinggal pisah dengannya. Dia hanya bisa berharap Albiru akan sering mengunjunginya karena biar bagaimanapun Albiru adalah putra sulung yang sangat dia sayangi.
Ella sendiri tampak tidak peduli, gadis itu memilih makan dalam diam tanpa ikut bersuara. Dia sungguh muak melihat wajah berseri Binar.
...****************...
Malamnya Albiru dan Binar sudah menempati rumah baru mereka. Sebenarnya Albiru sudah lebih dulu pindah saat keluar dari rumah orang tuanya namun Binar belum tahu hal itu. Saat Binar datang rumah sudah tampak rapi dan bersih.
__ADS_1
"Kamu yang bersihin ini semua Bi?" tanya Binar begitu memasuki rumah baru mereka.
"Sebenarnya, aku sudah lebih dulu tinggal disini sayang. Maaf aku baru cerita sekarang, saat kamu ke rumah orang tua kamu aku mutusin untuk keluar dari rumah orang tua aku. Aku sadar selama ini semua yang aku lakuin salah dan sangat egois."
Albiru menarik Binar kedalam pelukannya. Mereka menikmati waktu berdua yang sangat jarang terjadi.
"Maaf ya sayang aku juga egois mikirin diri sendiri sampai lupa sama suami," Binar berucap penuh sesal.
Albiru menggeleng, tidak suka melihat Binar menyalahkan diri sendiri.
"Aku yang egois, maksa kamu untuk terus bersabar sampai kamu menahan sendiri sakit hati kamu. Maafin aku ya sayang."
"Kita jadikan yang kemarin sebagai pembelajaran Bi, setidaknya kita sudah bisa melewati fase itu. Aku cuma berharap kita bisa terus bersama apapun cobaan yang akan kita hadapi nanti."
"Kamu benar sayang, apapun itu sudah berlalu. Aku cuma mau kamu nggak boleh stres, kamu harus bahagia demi calon anak kita Bi." Albiru berucap sambil dengan penuh kasih mengelus perut Binar yang masih terlihat rata.
"Aku masih nggak nyangka ada anak kita yang sedang tumbuh disini Bi. Semua masih seperti mimpi indah bagiku." Binar meletakan tangan diatas tangan milik Albiru, ikut mengelus perutnya dengan sayang.
"Ini adalah jawaban dari doa kita Bi, jawaban yang Allah berikan atas segala usaha kamu."
Binar tersenyum penuh haru, tidak ada hentinya dia mengucap rasa syukur atas apa yang telah Allah anugerahkan padanya.
"Iya Bi, kamu harus ingat apapun cobaan yang kita hadapi aku nggak akan pernah ngelepas kamu. Kamu selama milik aku, apapun yang terjadi."
Albiru berucap penuh tekad, seolah berjanji pada diri sendiri bahwa selama Binar adalah miliknya dan begitupun sebaliknya. Albiru merasa cinta yang mereka miliki adalah pondasi yang kuat dan sampai kapanpun tidak akan goyah.
Albiru mungkin lupa bahwa cinta saja tidak pernah cukup dalam sebuah pernikahan.
...****************...
"Lo jahat banget Ella!" Intan segera berseru marah begitu mendapati Ella berdiri di depan pintu kosnya.
Setelah berhari-hari menghilang kita Ella kembali muncul dihadapannya seperti tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
"Maksud lo apa?" tanya Ella bingung.
"Lo kemana aja? Lo nggak tahu apa yang sudah gue alami beberapa hari belakangan ini."
__ADS_1
Ella tampak semakin bingung, dia benar-benar tidak tahu apapun. Semua karena si peneror yang terus menghantuinya.
"Gue nggak tahu apa maksud lo. Asal lo tahu gue punya banyak masalah belakangan ini."
"Gue juga punya banyak masalah dan itu semua karena ide lo. Tapi lo malah nggak ada disaat gue butuh lo." Intan menyela cepat, terlihat gadis itu benar-benar marah.
"Kenapa jadi gue yang salah?"
"Mas Fadli bikin rumor di kampus kalau gue pelakor yang mau rebut kakak lo. Dan sekarang gue dicap buruk, bahkan gue nggak punya muka untuk masuk kelas."
Ella terlihat begitu terkejut. Tidak menyangka Fadli bisa berbuat senekat ini. Hal ini membuat Ella semakin membenci Binar, kakak iparnya selalu mendapat perhatian dari semua orang.
"Gue benar-benar nggak tahu, asal lo tahu gue juga diteror. Sampai sekarang gue nggak berani untuk sekedar nyalain ponsel gue."
Intan ikut terkejut, namun memilih untuk tidak peduli. Dia juga memiliki masalah yang lebih besar. Dan itu semua karena Ella.
"Gue nggak mau tahu masalah lo, gue rasa cukup sampai disini. Gue nyerah sama mas Biru dan gue nggak mau terlibat apapun sama lo." Intan berucap datar kemudian segera menutup pintu kos sebelum Ella sempat menyela ucapannya.
Ella terlihat begitu marah, tidak terima dengan perlakuan Intan yang semena-mena. Dulu Intan memohon-mohon padanya untuk bisa dengat dengan Albiru dan sekarang gadis itu malah meninggalkannya sendirian.
Ella akan memberi pelajaran pada Intan, mungkin gadis itu lupa siapa Ella sebenarnya. Siapapun yang membuatnya marah akan menerima balasannya.
Tapi untuk sekarang Ella akan mengurus masalahnya sendiri dengan si peneror itu. Dia akan mencari tahu siapa pria yang pernah mengancamnya itu. Dan setelahnya Intan akan mendapatkan giliran.
Wait and see, batin Ella penuh dendam.
TBC
**Mohon maaf baru bisa update.
Terima kasih untuk yang sudah mampir dan baca karya receh ini. Jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊**
Sambil menunggu novel ini update, ada rkomendasi novel bagus karya Chocooya, silahkan mampir dan jangan lupa dukungannya.
Judul : Falling Into Your Trap
__ADS_1
Seumur-umur dalam hidupnya, Lisa tidak akan menyangka bahwa dirinya akan dijodohkan oleh keluarganya sendiri, terlebih lagi oleh sang Kakak yang keberadaannya selalu ia sayangi dan kagumi. Tidak pernah dalam bayangan tergila nya bahwa pernikahan paksa akan menjadi salah satu moment hidupnya dan jalan kisah cintanya. Nalisa Rembulan Cakra Wijaya selalu menginginkan cerita layaknya dalam kisah novel romansa yang selalu dibacanya. Seseorang yang ditakdirkan khusus untuknya dalam pertemuan tiba-tiba yang romantis sehingga setidaknya dia bisa menceritakan kisah manis ini pada buah hatinya suatu hari kelak. Bukan ini, bukan perjodohan dengan seorang lelaki maniak aneh yang mengatakan bahwa Lisa adalah cinta pertamanya. Lelaki bernama Noren Agustion Giovano ini sungguh menguji dirinya sendiri.