Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 59 - Penyesalan -


__ADS_3

Ibu Siti merasa ada yang kurang. Meski menolak untuk mengakui, nyatanya kehadiran Ayah Latif selama bertahun-tahun lamanya mampu membuatnya bergantung pada pria itu.


Satu sisi dia menyesal melepaskan Ayah Latif, disisi lain egonya terluka karena merasa dipermalukan di depan kedua putranya.


"Ibu?" Ibu Siti menoleh saat mengenali suara siapa yang baru saja memanggilnya.


Fadli yang sepertinya baru saja pulang kerja tampak terkejut melihat sang Ibu duduk termenung di depan halte.


"Fadli," Ibu Siti memanggil lirih.


Sedikit malu untuk bertemu dengan Fadli. Terlebih kondisinya saat ini tampak memalukan. Begitu lusuh dan tidak terawat.


"Ibu ngapain disini?" tanya Fadli setelah turun dari motor dan seger menghampiri Ibunya.


"Ibu nunggu Ella pulang. Biasanya angkot yang dia tumpangi berenti disini." Jawab Ibu Siti masih dengan suara lirihnya.


"Ngapain Ibu nunggu disini, Ella itu sudah besar Bu. Lagian ini masih sore hari belum gelap, mending Ibu nunggu di rumah."


"Ella itu lagi diganggu orang Fadli, mana mungkin Ibu tega membiarkan dia sendirian."


Jujur saja Fadli sedikit cemburu karena perhatian Ibu Siti yang begitu berlebihan terhadap Ella. Dia saja yang anak kandung tidak pernah diperhatikan seperti ini.


"Kenapa Ibu selalu dipihak Ella? Ibu bahkan rela kesusahan demi Ella yang jelas-jelas bukan anak kandung Ibu. Apa Ibu nggak pernah mikirin perasaan Fadli dan mas Biru setelah tahu semua ini?"


Ibu Siti tampak terkejut mendengar ucapan Fadli. Dia baru saja akan menjawab ketika Ella tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Ngapai mas Fadli ada disini?" tanya Ella tidak suka.


Fadli menoleh, menatap sinis Ella. Tidak tahu malu sekali gadis ini, begitu pikirnya.


"Nggak boleh gue nemuin Ibu kandung gue sendiri?" tanya Fadli sinis.


Ella merengut tidak suka, fakta pahit itu seolah menamparnya.


"Lupa kalau sudah buang Ibu?" tanya Ella tak kalah sinis.


"Dan lo lupa kalau lo penyebab Ayah menceraikan Ibu?"


Keduanya saling menatap penuh emosi. Ibu Siti sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin memihak salah satunya dan membuat yang lain kecewa.


"Sudah, jangan ribut tempat umum. Fadli ayo ikut Ibu ke rumah." Ibu Siti segera menengahi membuat Ella semakin kesal.


"Nggak perlu, Bu. Nanti Fadli hubungi kalau mau bertemu, Fadli nggak sudi menginjakkan kaki di rumah yang gadis tidak tahu malu ini tempati."


Fadli berucap sinis, kemudian segera berpamitan tanpa mau menatap Ella.


Ibu Siti hanya mampu menghela napas, tidak bisa melarang Fadli. Sedangkan Ella hanya bisa menelan kembali emosinya.

__ADS_1


...****************...


"Apa, Bi? Ayah dan Ibu dalam proses perceraian?" Binar bertanya memastikan dia tidak salah mendengar.


"Iya sayang, maaf ya aku baru bisa ngasih tahu kamu kabar ini. Aku nggak mau kamu nambah pikiran karena orang tuaku," ucap Albiru penuh sesal.


Albiru sengaja merahasiakan apa saja yang telah terjadi pada keluarganya. Selain karena mempertimbangkan kondisi Binar, dia juga sebenarnya malu menceritakan betapa berantakan keluarganya.


"Aku merasa bersalah karena nggak tahu kondisi Ayah dan Ibu. Pantas saja belakangan Ayah terlihat muram, kasihan Ayah."


"Banyak hal yang mau aku ceritain Bi. Tapi, aku bingung mau mulai dari mana. Aku juga malu menceritakan kondisi keluargaku yang saat ini sangat berantakan."


Binar paham keadaan Albiru yang saat ini serba salah. Satu sisi tidak ingin ada rahasia diantara mereka, disisi lain dia begitu malu.


"Nggak aapa-apa, Bi. Kamu bisa ceritain pelan-pelan, mungkin bisa mulai dari apa yang terjadi setelah aku keguguran."


Albiru terdiam sejenak, tampak berpikir apakah harus menceritakan yang sebenarnya. Namun, melihat Binar yang dengan sabar menantinya membuat Albiru memberanikan diri bercerita.


"Sebenarnya Ella itu bukan adik kandungku, Bi. Dia anak dari adik Ibu, ya bisa dibilang dia sepupuku." Albiru memulai ceritanya, cerita yang sukses membuat Binar terkejut.


"Kamu selama ini tahu atau..."


"Aku juga baru tahu saat Ayah membongkar semuanya. Ayah saat itu marah dan malu karena perbuatan jahat Ella, dan saat ini Ayah menceritakan siapa Ella sebenarnya."


Albiru menceritakan semua yang terjadi pada keluarganya. Namun, dia masih menjaga nama baik sang Ibu dengan tidak menceritakan masa lalunya.


"Aku masih bingung Bi, kenapa Ibu begitu membela Ella?" tanya Binar tidak mengerti.


Albiru menggeleng pelan, "aku sendiri bingung sama jalan pikiran Ibu."


Sampai saat ini tidak ada yang tahu apa isi hati Ibu Siti. Wanita itu begitu memihak Ella yang jelas-jelas salah. Jika alasannya karena cinta masa lalu tentu saja sangat tidak masuk akal.


Albiru yakin ada hal lain yang disembunyikan Ibunya. Dan sepertinya Ayah Latif tidak tahu apa-apa.


...****************...


Seharian ini Ibu Siti habis dengan merenung. Banyak hal yang dia pikirkan, tentang masa lalu dan tentang anak-anaknya.


Jujur saja, jauh dilubuk hatinya Ibu Siti merasa begitu menyesal. Membuang pria yang mencintainya dengan tulus demi masa lalu yang telah lama berakhir.


Namun, melihat Ella yang berjuang seorang diri terlebih ada seseorang yang terus mengusiknya membuat Ibu Siti merasa iba. Mau tidak mau dia harus berkorban demi Ella.


"Ibu melamun lagi?" tanya Ella mengagetkan Ibu Siti.


"Ibu masih tidak menyangka, diusia Ibu yang sudah setua ini malah akan menyandang status janda." Ujar Ibu Siti miris.


"Ibu menyesal?" tanya Ella lagi.

__ADS_1


Ingin rasanya Ibu Siti mengaku bahwa dia menyesal, tetapi hatinya sungguh tidak tega menyakiti Ella.


"Asal ada Ella, Ibu sudah merasa bahagia." Jawab Ibu Siti singkat, dia tidak sanggup berbohong.


Ella tersenyum bahagia, dia merasa bahagia karena setidaknya ada satu orang yang masih mengharapkan kehadirannya.


"Ibu, sebenarnya ada yang mau Ella tanyakan." Ella berucap pelan, terdengar begitu hati-hati.


"Apa itu, nak?" tanya Ibu Siti penasaran.


"Kalau Ella menikah, apa Ibu nggak apa-apa?"


Ibu Siti terkejut, tidak menyangka Ella bertanya seperti itu.


"Kamu mau menikah? Dengan siapa?" Ibu Siti bertanya dengan tidak sabar.


"Bukan sekarang, Bu. Mungkin nanti setelah Ella menyerah." Ella menjawab dengan misterius.


"Maksud kamu apa?" tanya Ibu Siti tidak mengerti.


Ella menggeleng pelan, tidak sanggup untuk berucap lebih jauh.


"Dengan siapa kamu mau menikah?" Ibu Siti bertanya lagi, rasa penasarannya menggebu-gebu.


"Dengan seseorang yang tidak Ibu sangka," Ella kembali menjawab dengan misterius.


Ibu Siti menghela napas, tahu bahwa Ella masih menolak untuk berkata jujur.


"Dengan siapa kamu menikah, Ibu harap kamu bahagia. Ibu hanya ingin melihat Ella bahagia, itu saja sudah cukup bagi Ibu." Ibu Siti tersenyum, berucap penuh harap.


Tapi, Ella nggak yakin akan bahagia.


TBC


**Halo semua..


sambil menunggu author update, ada rekomendasi novel menarik karya emmarisma


yuk mampir dan jangan lupa dukungannya 😁😊**


Judul : ZAFRINA MENDADAK NIKAH



*Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. keduanya sama-sama memiliki perasaan lebih namun mereka ragu untuk mengungkapkannya.


Rian papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu saling mengakui perasaannya, tapi suatu kejadian justru membuat Zafrina dan Zico dipaksa menikah*.

__ADS_1


__ADS_2