
"Ella!" Ibu Siti berteriak panik Ella tiba-tiba pingsan, beruntung Ibu Siti dapat menahannya.
Mendengar teriakan Ibu Siti beberapa warga datang dan segera menolong.
Setelah mengucapkan terima kasih, warga yang menolong segera berpamitan.
Ibu Siti menangis melihat kondisi Ella yang begitu menyedihkan. Tubuhnya kurus dan sangat berantakan.
"Ella, apa yang terjadi nak? Kenapa kamu menderita seperti ini?" Ibu Siti menangis sembari berusaha menyadarkan Ella.
Tidak lama gadis itu membuka matanya dan seketika menjerit ketakutan.
"Astaghfirullah, Ella sadar nak. Ini Ibu bukan orang lain, istighfar nak." Ibu Siti segera menenangkan Ella, memeluk gadis itu dengan sayang.
"Ibu," Ella berucap lirih.
Merasakan pelukan hangat Ibunya, Ella segera tenang. Kemudian gadis itu menangis, merasa begitu tersakiti.
Ibu Siti kembali menenangkan, dia sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Ella.
"Dia jahat, Bu!" Ella berucap dengan suara seraknya.
"Siapa, nak?" tanya Ibu Siti masih memeluk Ella dengan erat.
"Dia... dia siksa Ella. Dia bilang Ella orang jahat yang nggak pantas bahagia."
Ella kembali menangis, merasa begitu menyedihkan. Berhari-hari dia dikurung dan disiksa melalui kata-kata dan makian.
Batin Ella begitu tersiksa. Rasanya lebih baik disakiti secara fisik daripada batinnya yang disiksa begitu kejam.
Setelah berhari-hari mengurung Ella di ruangan gelap dan terus menyiksa Ella. Tiba-tiba saja seolah sengaja memberi Ella cela, orang yang menyiksa Ella membiarkan gadis itu kabur dan kembali ke rumah.
Orang itu seperti sengaja membiarkan Ella untuk bernapas sejenak. Seolah siksa itu hanyalah awal dari segala siksa yang siap menanti Ella.
__ADS_1
"Katakan siapa, siapa yang siksa Ella?"tanya Ibu Siti lagi.
Ella menggeleng, tentu saja dia tidak ingin memberitahu Ibunya. Dia tidak mau jika orang jahat itu kembali menyiksanya dan juga Ibunya.
Ibu Siti bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Ella tampak ketakutan dan menderita, tetapi gadis itu menolak untuk memberi tahu.
Ibu Siti yakin seseorang yang menyiksa Ella bukanlah orang sembarangan. Orang itu pasti memiliki kuasa hingga Ella tidak berani mengatakan siapa pelakunya.
...****************...
Binar begitu bahagia melihat Nevan dan Nessa yang sedang tidur nyaman dalam inkubator. Rasanya tidak rela berjauhan dengan anak-anaknya, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan Binar mau tidak mau harus menerima dengan ikhlas.
Binar harus bersabar, Dokter mengatakan kondisi anak-anaknya yang sehat tentu saja membuat mereka akan segera keluar dari inkubator.
"Biru," panggil Binar pelan.
Albiru yang berdiri disampingnya menoleh," iya sayang."
"Mereka bisa pulang sama aku kan Bi, aku nggak mau ninggalin mereka disini."
"Berdoa ya sayang, semakin baik kondisi mereka semakin cepat kita bisa pulang ke rumah sama-sama."
"Aku mau tanya Dokter, Bi." Ucap Binar yang disetujui oleh Albiru.
Albiru juga ingin si kembar bisa berkumpul bersama di rumah. Dia ingin berlama-lama menggendong kedua anaknya.
Ayah Latif yang baru datang segera menyapa sepasang orang tua baru itu.
Keduanya menoleh kaget, pasalnya ini masih terlalu pagi dan Ayah sudah berada di rumah sakit. Sepertinya si kakek begitu antusias melihat cucu-cucunya.
"Ayah, jam besuk baru buka dan Ayah sudah disini." Ucap Albiru dengan senyum tertahan.
Ayah Latif tersenyum malu, terlihat sekali dia begitu antusias.
__ADS_1
"Ayah kangen cucu-cucu Ayah. Sebenarnya, Ayah sudah menunggu di depan dari satu jam yang lalu."
Ucapan Ayah Latif membuat Binar dan Albiru terkejut. Tidak menyangka Ayah Latif sangat antusias seperti ini.
"Jangan bilang Ayah belum sarapan." Tebakan Binar tepat membuat Ayah Latif kembali tersenyum malu.
"Ya sudah, Ayah sarapan sama Biru dulu. Nanti saja liat si kembar. Bi, ayo aku antar ke ruanganmu."
Albiru segera mengantar Binar kembali diikuti oleh Ayah Latif yang tidak bisa membantah ucapan Albiru.
Dia hanya terlalu bahagia sampai tidak sabar untuk melihat cucu-cucunya. Ternyata seperti inilah rasanya menjadi seorang kakek. Sama seperti ketika pertama kali menjadi seorang Ayah.
Di luar ruangan Binar, seseorang sudah berdiri menanti. Siapa lagi kalau bukan Rio. Pria itu menyambut Binar dengan senyum bahagianya. Tidak ada tanda bahwa pria itu pernah patah hati.
"Rio!" Binar berseru kaget.
Belum cukup sampai disitu, Binar kembali dikejutkan dengan sosok wanita yang berdiri di samping Rio. Wanita itu tersenyum lebar, terlihat begitu bahagia.
TBC
**Terima kasih sudah mampir.. jangan lupa dukungannya biar author semangat terus 😊
Nih rekomendasi novel menarik untuk kalian karya author Smiling27
Yuk mampir dan jangan lupa dukungannya 😊**
Judul : HALAMAN TERAKHIR KISAH SHABIRA
Setelah menyelesaikan halaman terakhir novelnya, Livia langsung mendapatkan banyak sekali hujatan dari para pembacanya. Hujatan itu mengakibatkan dirinya terseret masuk ke dalam dunia novelnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, Livia tersadar kini sudah masuk ke dalam raga Shabira Lawrence, tokoh utama yang telah ia buat menderita selama hidupnya.
Tantangan demi tantangan akan Livia hadapi kedepannya, jika tetap ingin melanjutkan kehidupan Shabira yang seharusnya mati di akhir ceritanya. Livia tahu betul bahwa semua orang selalu tidak berpihak pada Shabira, bahkan anggota keluarganya sendiri. Akankah Livia tetap melanjutkan hidupnya sebagai Shabira? Atau ia akan tetap mengakhiri halaman terakhir kisah Shabira dengan cara bunuh diri, sesuai alur cerita yang sudah ia tulis?
__ADS_1
Ayo ikuti kisahnya!