
Ibu Siti membuka amplop pemberian Ayah Latif. Hatinya berdebar, begitu penasaran dengan isi amplop coklat tersebut.
Ketika melihat isinya, Ibu Siti tertegun. Tangannya gemetar dan tak lama tangis mulai terdengar.
Itu foto dirinya saat dirinya mengandung Albiru. Dibalik foto ada tulisan tangan Ayah Latif. Terlihat usang, sepertinya tulisan itu juga tulisan lama.
Untuk pertama kali, aku sadar betapa besar cintaku padanya.
Foto kedua adalah foto Albiru dan Fadli yang masih kecil. Dibalik foto itu juga ada tulisan tangan Ayah Latif.
Kedua putra kecil kita yang menjadikanku semakin mencintaimu.
Kata-kata yang begitu menyentuh hati Ibu Siti. Ibu Siti menangis, kenangan indah itu terputar jelas.
Tidak sampai disitu, ternyata masih ada sepucuk surat yang sudah pasti ditulis oleh Ayah Latif. Ibu Siti membukanya, kemudian sambil menangis menahan sesak dia membaca surat itu.
*Teruntuk Siti,
Maaf selama ini mas belum bisa menjadi suami yang baik. Maaf untuk semua rasa sakit yang mas berikan.
Dibalik semua sikap kerasmu, bagi mas kamu adalah wanita hebat dan Ibu yang kuat. Semua kesalahanmu adalah kesalahan mas, mas gagal menjadi suami yang baik dalam mendidik istri.
Terima kasih karena mau menjadi istri mas dan menemani mas berjuang. Terima kasih sudah bersedia menjadi Ibu yang baik untuk kedua putra kita.
Meski terlambat mengatakan hal ini. Mas hanya ingin kamu tahu, betapa mas mencintai kamu dan semua yang ada dalam dirimu.
Mungkin perpisahan adalah hal yang terbaik untuk kita berdua. Mas akan selalu mendukungmu dan selalu ada untuk kamu meski kita bukan suami istri lagi.
Mas selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dimanapun kamu berada. Semoga lekas kita bertemu kembali dalam keadaan saling memaafkan.
Dari Latif*.
Rasa menyesal itu memukulnya begitu keras. Ibu Siti menyesal telah melakukan hal bodoh selama ini. Bahkan sampai detik ini mungkin Ayah Latif tidak tahu perasaannya.
Ibu Siti mencintai Ayah Latif sejak pria itu mengatakan akan menunggunya hingga bisa menerima Ayah Latif sebagai seorang suami.
Akan tetapi, ego dan tragedi masa lalu membuat Ibu Siti menutup rasa cintanya. Dia merasa tidak berhak untuk dicintai karena itulah rasa cinta yang dia miliki terkubur dalam-dalam.
Ibu Siti menangis seorang diri, ingin rasanya dia mengulang masa lalu. Seandainya Salim - Ayah Ella - masih hidup, mungkin saat ini Ibu Siti akan hidup bahagia bersama Ayah Latif.
Dialah penyebab Salim meninggal dunia. Dialah yang membuat Eva - Ibu Ella - stress dan berakhir meninggalkan Ella seorang diri.
Satu-satunya yang bersalah disini adalah dia. Ibu Siti mengaku bahwa dialah penyebab kekacauan keluarganya sendiri.
Dalam tangis dia berkata, bisakah memutar ulang waktu. Ibu Siti ingin kembali kemasa lalu dan mengatakan bahwa dia mencintai Ayah Latif.
...****************...
Fadli tahu bahwa apa yang dia lakukan salah, tetapi rasa penasaran begitu mendominasi. Karena itulah Fadli diam-diam mencari tahu yang terjadi dimasa lalu.
Dan sebuah fakta berhasil mengejutkannya. Fadli merasa bersalah karena terlalu ingin tahu dan berakhir membuka luka lama Ibunya.
__ADS_1
Fadli termenung mengingat kembali pembicaraan dengan salah satu sahabatnya yang berhasil membantu Fadli.
"Dia Salim, pria yang lo maksud itu." Ucap Beni - sahabat Fadli - seraya menunjukkan sebuah foto usang.
"Dia dimana sekarang?" tanya Fadli sambil memperhatikan foto itu.
"Meninggal, kabarnya sih gara-gara nolongin cewek yang dirampok. Dia meninggal ditusuk sama perampok itu dan cewek yang dia tolong entah bagaimana keadaanya."
Fadli mencerna informasi itu dan entah mengapa perasaannya mengatakan hal ini berhubungan dengan Ibunya.
"Siapa nama ceweknya?" tanya Fadli setelah berdiam diri cukup lama.
"Siti... oh iya, katanya cewek itu mantannya. Dan menurut info yang gue dapat Pak Salim ini sudah menikah dan punya anak. Tapi, nggak ada yang tahu dimana anak istrinya."
Fadli terdiam, kenyataan pahit ini sulit dia terima. Semuanya masuk akal, melihat bagaimana Ibu Siti melindungi Ella. Jika dipikirkan, mungkin saja apa yang dilakukan Ibu Siti selama ini untuk menebus rasa bersalahnya.
"Lo kenal sama Pak Salim? Kok lo mau cari tahu tentang dia?" Beni bertanya karena sejujurnya dia juga penasaran akan hal itu.
"Nggak, gue nggak kenal. Gue cuma mau tahu kisahnya karena penasaran aja." Jawaban itu tentu tidak memuaskan Beni tapi, Fadli jelas tidak akan berkata lebih.
Faldi merenung, memikirkan hal apa saja yang sudah dialami Ibu dan Ayahnya setelah peristiwa itu. Ibu Siti pasti merasa bersalah dan Ayah Latif merasa bersedih melihat keadaan istrinya.
Mungkin karena itulah Ayah Latif menyetujui permintaan Ibu Siti untuk merawat Ella seperti anak kandung sendiri.
Namun, dibalik fakta itu tentu saja masih ada hal mengganjal lainnya.
Yaitu, dimana Ibu kandung Ella selama ini?
"Fadli?" Fadli tersentak kaget mendengar suara Albiru yang menegurnya.
Fadli bahkan lupa saat ini dia sedang berkunjung ke rumah orang tua Binar.
Pikirannya saat ini benar-benar kacau.
"Maaf mas, Fadli malah melamun." Ucap Fadli sungkan, untung saja hanya ada mereka berdua saat ini.
"Mikirin apa sih? Mas lihat kamu seperti punya masalah serius." Tebak Albiru yang tentu saja enggan dijawab jujur oleh Fadli.
Dia tidak mau menambah beban Albiru. Kakaknya itu sudah banyak masalah selama ini dan sekarang waktunya dia untuk berbahagia bersama istrinya.
"Masalah kerjaan mas," jawab Fadli singkat.
"Kejaan itu jangan dipikirin terus, yang ada kamu bisa stress." Ucap Albiru menasihati yang dibalas anggukan patuh Fadli.
"Oh iya, Mbak Binar mana mas?" tanya Fadli mengalihkan pembicaraan.
"Lagi istirahat, perutnya semakin besar jadi gampang capek."
Fadli tersenyum, rasanya sedikit meringankan beban membayangkan calon keponakan kembarnya.
"Udah tau jenis kelaminnya, mas?"
__ADS_1
"Yang satu belum, masih malu kata Dokter. Tapi, yang satunya sudah pasti cowok."
"Wah, jangan-jangan dua jagoan nih."
"Mungkin, tapi bisa jadi yang satu Princess soalnya masih malu-malu." Albiru tersenyum lebar membayangkan sebentar lagi akan memiliki anak kembar.
"Kalau Princess bakal Fadli jagain mas. Pokoknya nggak boleh ada yang dekat-dekat."
Albiru tertawa mendengar betapa posesif adiknya itu.
"Bahaya nih, nanti nggak ada yang mau dekat-dekat kalau pawangnya galak."
Keduanya tertawa sambil terus membayangkan si kembar yang mungkin sedang tertidur nyenyak dalam perut Binar.
Dalam hati Fadli berdoa, semoga setelah ini semuanya baik-baik saja. Fadli hanya ingin keluarganya bahagia tanpa harus terikat dengan masa lalu.
Setelah ini mungkin Fadli akan mencari tahu dimana Ibu kandung Ella sebenarnya.
Tujuan Fadli hanya ingin masalah selesai dan keluarganya hidup damai. Meski orang tuanya tidak bisa bersatu lagi, Faldi berharap mereka menemukan kebahagiaan masing-masing.
TBC
**Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa dukung terus author ya biar makin semangat 💪 😉
Sambil nunggu author update, nih ada rekomendasi novel keren karya kak Enis Sudrajat**
Yuk mampir dan jangan lupa dukung karyanya ya 😊
Judul : MASA LALU SANG PRESDIR
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
__ADS_1
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.