
Albiru percaya bahwa Allah akan menjawab doa-doa setiap umatnya yang berserah diri. Dia percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk dirinya dan Binar.
Saat ini Albiru yang bisa menunggu keajaiban Binar bisa segera siuman. Tadi pagi, Binar baru selesai operasi dan semua berjalan lancar. Hanya menunggu Binar bisa kembali sadar.
“Biru, sorry gue baru datang. Gue baru dapat kabar, gimana keadaan Binar?” Tanya Rio yang baru saja sampai di rumah sakit.
“Its okay, gue tahu kok lo sibuk. Tadi pagi Binar baru selesai operasi, gue mohon doanya semoga Binar bisa segera sadar. ” Albiru berusaha tersenyum menyambut Rio meski hatinya masih belum tenang.
“Gue selalu doain yang terbaik untuk Binar.” Rio menepuk pudak Albiru, memberi kekuatan untuk pria yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
“Thanks, Rio. Sebenarnya ada beberapa hal yang mau gue ceritain, mungkin nanti setelah Binar sadar.”
“Oke, gue tunggu. Kapanpun lo butuh bantuan gue pasti akan gue bantuin, lo tenang aja. Kalau gitu gue pamit ya, gue harus keluar kota banyak kerjaan yang menanti.” Ucap Rio yang segera bersiap untuk pergi.
“Take care, semoga kerjaan lo lancar.” Keduanya berpelukan singkat, masing-masing memberi semangat untuk berjuang.
Sebenarnya Albiru membutuhkan bantuan Rio untuk menyelidiki siapa orang yang menabrak Binar. Albiru yakin ada dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Binar.
Tapi, untuk sekarang Albiru hanya ingin fokus pada kesembuhan Binar. Berharap wanita yang dia cintai itu segera sadar dan bisa kembali disisinya. Albiru sungguh merindukan Binar, tidak lupa kedua anak mereka yang pasti merindukan Binar.
Albiru menatap Binar dengan penuh kasih, berharap keajaiban itu segera terjadi. Dengan lembut Albiru menggenggam tangan halus Binar, berusaha menyalurkan rasa hangat. Hingga sebuah keajaiban terjadi, perlahan jari Binar bergerak dan tidak lama kelopak matanya mulai terbuka pelan.
Albiru yang menyadari hal itu segera memanggil Dokter. Dia berharap ini semua nyata bukanlah mimpi semata.
“Bagaimana, Dokter?” Tanya Albiru setelah Dokter selesai memeriksa Binar.
“Alhamdulillah, pasien sudah sadar dan dalam tahap pemulihan. Untuk sementara biarkan pasien beristirahat dengan tenang dan jangan mengatakan hal apapun yang memancing emosi pasien.” Ucap sang Dokter menjelaskan.
“Alhamdulillah, terima kasih Dokter.” Albiru tersenyum penuh rasa syukur, berterima kasih atas doa-doanya yang terjawab.
Sepeninggalnya Dokter, Albiru segera mendekati Binar. Duduk di samping ranjang sang istri dan tidak lupa menggenggam erat tangannya.
“Assalamualaikum, sayang. Ini aku suami kamu, gimana perasaannya?” Albiru berbisik pelan ditelinga Binar berharap wanita itu mersepon ucapannya.
Tidak lama Binar mersepon dengan menggerakan jarinya serta mengedipkan matanya. Wajah wanita itu tampak pucat, meski begitu dia terlihat jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
__ADS_1
“Istirahat ya, aku akan telepon Ayah sama Bunda.” Albiru kembali berbisik pelan, kemudian segera meraih ponselnya untuk menghubungi Ayah Ibra.
*
*
Seminggu setelah Binar sadar dari koma, perlahan kesehatan wanita itu semakin membaik. Albiru bahagia, tapi mengingat ada hal penting yang harus dia sampaikan pada Binar membuat dilema.
Ayah Ibra yang melihat hal itu turut dilanda rasa bersalah. Dia tahu apa yang ada dibenak Albiru saat ini.
"Sampaikan, pelan-pelan ya. Mungkin Binar aja sulit menerima, tapi semakin cepat disampaikan akan semakin baik." Nasehat Ayah Ibra ketika Albiru menyampaikan keluh kesahnya.
"Akan Biru coba, Yah." Ucap Albiru pelan, dia masih tidak tahu harus memulai dari mana.
Usai mendengar nasehat Ayah Ibra, Albiru segera menemui Binar yang tengah bersantai di taman rumah sakit.
"Bi, ada yang mau aku sampaikan." Ucap Albiru pelan, memulai percakapan.
"Ada apa?" tanya Binar, firasat tidak enak.
"Ada apa, Bi? Apa rahimku bermasalah lagi?" Binar bertanya takut.
"Kecelakan itu membuat hantaman keras dan membuat luka dirahimu kembali terbuka. Akibatnya rahim kamu rusak dan Dokter tidak memberi pilihan lain selain mengangkat rahimmu."
Binar terdiam, semua yang disampaikan Albiru terasa seperti mimpi buruk.
"Bohong, itu nggak mungkin. Rahim aku baik-baik aja, aku sehat Bi. Kamu pasti bercandakan!" Binar berteriak histeris, air matanya tidak bisa ditahan lagi.
"Maaf, maaf sayang aku nggak bisa jaga kamu." Albiru segera memeluk Binar dengan erat berharap wanita itu bisa tenang.
Namun, wanita mana yang akan baik-baik saja ketika mendengar rahimnya baru saja diangkat. Binar terluka, sakit dan begitu terpuruk.
Binar menangis, berusaha menolak pelukan Albiru hingga akhirnya jatuh pingsan. Albiru membawa Binar kembali ke ruanganya, tidak lupa Albiru memanggil Dokter untuk segera memeriksa keadaan Binar.
"Gimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Albiru panik.
__ADS_1
"Pasien terkejut dan merasa tertekan. Ada apa sebenarnya, Pak?" Tanya Dokter yang merawat Binar.
"Saya baru memberi tahu keadaan yang sebenarnya, Dokter. Saya tidak tahu kalau akan berakibat fatal seperti ini." Ucap Albiru penuh sesal.
"Tidak, Pak. Apa yang sudah Bapak lakukan benar, pasien perlu tahu keadaan yang sebenarnya. Saat ini pasien sangat shock dan reaksinya memang seperti itu. Setelah pasien sadar, tolong terus dampingi karena kondisi mentalnya masih belum stabil."
Albiru mengangguk paham, membiarkan Dokter untuk pergi.
Dalam diam Albiru menatap Binar yang belum sadarkan diri. Rasanya sangat menyakitkan melihat keadaan Binar yang seperti ini.
Tidak lama Binar sadar. Wanita itu menatap sekelilingnya dengan cemas, mungkin dia berharap tadi adalah mimpi buruk.
Sayangnya, semua yang Albiru katakan adalah kenyataan. Pria itu kini berdiri disisi ranjangnya, menatap Binar dengan rasa bersalah.
"Maafin aku, Bi. Aku mohon maafin aku," Albiru bersimpuh menggenggam tangan Binar.
Memohon ampun dengan sangat, berharap mendapat maaf dari Binar.
Binar hanya diam, tidak mengeluarkan suara apapun selain isak tangis yang memilukan.
"Kenapa? Kenapa harus aku, Bi?" Binar bertanya disela tangisnya.
Albiru hanya mampu menggumamkan kata maaf yang tidak terhitung jumlahnya.
"Tolong beritahu aku, dosa apa yang sudah kuperbuat hingga Allah menghukumku seperti ini?"
Binar meraung, menangis dengan sangat menyedihkan. Di sampingnya, Albiru turut menangis tidak tahan melihat sang istri yang begitu terluka.
Tidak terhitung berapa banyak air mata yang mereka keluarkan untuk duka yang baru saja mereka terima. Keduanya hanya mengharapkan bahagia, namun ternyata takdir membawa mereka pada duka tak berujung.
Dibalik pintu ruangan Binar, ada Bunda Ina yang diam-diam menangis. Bunda Ina pernah berada diposisi Binar, dia tahu betapa sakitnya yang Binar rasakan. Bunda Ina bertanya-tanya, mengapa takdir buruknya harus Binar rasakan juga?
Takdir memanglah kejam dan mengerikan. Mereka adalah dua orang yang sama-sama terluka. Lantas siapakah yang akan disalahkah?
TBC
__ADS_1