Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 11 - Tolong beri contoh -


__ADS_3

Tolong katakan padaku mana yang baik dan benar, berikan aku contohnya.


 


“Kamu yang masak ini semua sayang?” tanya Albiru menatap menu sarapan pagi ini.


Binar hanya mengangguk disertai senyum manisnya. Ella yang melihat hanya mendengus kesal, lagi-lagi kakak iparnya itu terlihat seperti istri idaman. Sedangkan Ibu Siti hanya berdiam diri saja, dia sudah cukup kaget tadi melihat Binar begitu tampak rajin.


“Mulai hari ini aku mau bersikap sebagai istri yang baik mengurus suami. Ibu bakal bantuin aku  yang masih belajar ini, iyakan Bu?” Dengan senyum manisnya Binar menatap Ibu Siti yang hanya mampu tersenyum kecil.


“Jangan capek-capek ya sayang,” Binar semakin melebarkan senyumnya mendengar ucapan Albiru.


Ella kembali mendengus, “apaan sih lebay banget.”


Albiru hanya memberi tatapan peringatan sedangkan Binar tampak tak memedulikan ucapan Ella. Dia sedang belajar menjadi kakak ipar yang baik. Benar sudah bertekad membuktikan pada Ibu mertuanya bahwa dia adalah menantu yang baik.


“Hari ini Intan mau nginap Bu, bolehkan?” Ella kembali bersuara, kali ini sukses membuat mood Binar terjun bebas.


Wajah Ibu Siti langsung cerah, “wah bagus dong jadi ada yang bantu-bantu Ibu di rumah.”


“Nanti sepulang kerja Binar juga bisa bantu-bantu Ibu,” sahut Binar tidak mau kalah.


“Tapi kan Intan bisa bantu Ibu seharian kalo mbak Binar nggak punya banyak waktu urus rumah.” Ella langsung berkomentar merasa ini adalah moment pas menjatuhkan Binar di depan Albiru.


“Ella!” tegur Albiru pada adiknya yang langsung terdiam.


Binar ikut terdiam merasa apa yang diucapkan Ella memang benar. Dia bekerja hingga sore tidak ada banyak waktu membantu Ibu mertuanya. Mungkin faktor itulah yang membuat Binar tidak disukai Ibu Siti, mertuanya jelas ingin Binar menjadi Ibu rumah tangga bukan wanita karir.


Intan itu sudah seperti penyakit untuk hubungannya dengan Albiru sejak mereka berpacaran. Intan yang pintar mengambil hati Ella dan Ibu Siti membuat Binar harus selalu waspada. Bisa saja mereka berencana menyingkirkannya.


...****************...


 


“Kenapa lo?” tanya Fay begitu melihat wajah lesu sahabatnya itu. Saat ini mereka sedang makan siang di cafe dekat kantor mereka.


Binar terdiam sejenak, sebelum akhirnya memilih bertanya pada Fay. “Menurut lo lebih baik jadi Ibu rumah tangga seutuhnya atau wanita karir?”

__ADS_1


Fay tampak terkejut mendengar pertanyaan Binar. Sekarang dia sudah bisa menebak apa yang akhir-akhir ini membuat wajah Binar tampak murung.


“Kalo lo tanya gue, ya jelas gue milih jadi wanita karir. Itu impian gue sejak dulu. Kerja, punya uang dan bisa beli apapun yang gue mau, tapi lo nggak bisa berpatokan sama jawaban gue.”


Binar mengangguk setuju dengan ucapan Fay, “gue tau setiap orang punya pilihan masing-masing.”


“Yap, dan keadaan membuat pilihan orang berbeda-beda. Misalnya untuk yang ekonominya kurang, mungkin mereka memilih kerja untuk menujang ekonomi mereka. Sedangkan yang ekonominya cukup mungkin mereka bakal pilih fokus jadi Ibu rumah tangga. Tapi dibeberapa kasus orang memilih bekerja karena itu impian mereka atau justru untuk menghibur diri.”


Binar tersenyum kecut, apa yang dikatakan Fay memang benar dan dia sedang berada dipilihan yang sulit.


“Gue bingung Fay, satu sisi gue masih mau kerja dan disisi lain ada yang berharap gue fokus ngurus suami dan rumah.” Curhat Binar setelah berhari-hari memendam sendiri kegelisahan hatinya.


“Mertua lo?” tanya Fay yang dibalas anggukan kecil Binar. “Kenapa sih lo tinggal sama mertua lo? Rumah kalian sudah jadikan?”


“Mertua dan ipar gue belum mau pisah sama Biru. Dan gue nggak punya pilihan lain selain ikut suami gue yang jelas selalu nurutin keinginan Ibunya.”


“Hey Bi, lo pasti tau kan rumah tangga yang ada campur tangan mertua dan ipar itu pasti nggak sehat. Gue sebagai sahabat lo cuma bisa ngingetin lo untuk hati-hati.”


Binar setuju dengan itu dia sudah melihat banyak contoh kasus rumah tangga retak karena campur tangan mertua dan ipar. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, Albiru juga seperti baik-baik saja tinggal dengan orang tuanya.


Fay menghela napas merasa kasihan dengan sahabatnya itu. “Semua keputusan ada ditangan lo Bi, lo dan Biru yang jalani. Masukan dari gue adalah apa yang lo anggap baik untuk lo ya lo jalani aja cukup butuh restu dari suami.”


“Gue berharap Biru dukung gue apapun keadaannya karena dia tempat gue bersandar saat ini.”


Fay tersenyum berusaha menguatkan Binar. “Rumah tangga itu memang berat ya Bi,” ucap Fay berusaha mencairkan suasana.


“Cukup aku aja yang berat Fay, kamu jangan ya. Bilang sama Aa Gilang kalo nikah kalian harus mandiri.” Binar tertawa berhasil menggoda sahabatnya itu sedangkan Fay hanya mampu tersenyum malu.


Setidaknya Binar punya Fay yang menjadi tempat curhatnya. Dengan bercerita pada Fay dia merasa sedikit lega.


 


...****************...


 


Binar menatap kesal Intan yang terus saja mencari perhatian Ibu Siti. Terlihat dari cara gadis itu yang seolah-olah pandai mengerjakan pekerjaan rumah. Dari bersih-bersih hingga membantu menyiapkan makan malam. Dan Ibu Siti tampak menyukai semua pekerjaan Intan, tampak berbeda jika Binar yang mengerjakan.

__ADS_1


“Intan ini semakin pinter ya ngurus rumah.” Puji Ibu Siti yang terlihat sangat bangga dengan pekerjaan Intan.


Ella yang melihat itu terlihat sangat senang dan Binar terlihat semakin buruk saja.


“Intan ini cita-citanya jadi Ibu rumah tangga yang baik loh Bu,” sahut Ella.


Mendengar itu Binar diam-diam tersenyum sinis. Apa itu cita-cita jadi Ibu rumah tangga? Batin Binar sinis.


“Wah bagus itu, jarang-jarang ada yang mau jadi Ibu rumah tangga apalagi kalau sekolahnya tinggi pasti lebih milih jadi wanita karir.” Binar tahu itu sindiran dari Ibu mertuanya.


“Nah, Binar coba deh belajar sama Intan gimana jadi Ibu rumah tangga yang baik.” Ibu Siti melanjutkan melihat Binar tidak bersuara sedari tadi.


Binar tersenyum sebelum mejawab, “nggak ada yang salah kan Bu jadi wanita karir yang penting tetap ngusus suami sendiri bukan suami orang.” Binar yang tidak tahan akhirnya bersuara, dia bukan seseorang yang dengan mudah dijatuhkan.


Ibu Siti menoleh kaget tidak menyangka Binar akan menjawab dengan begitu sinis. Dia pikir Binar akan tersadar karena sindirannya bukan malah melawan balik.


“Maksud mbak Binar apa?” Ella bertanya tidak terima ucapan Binar yang dinilai menyindir Intan.


“Nggak ada maksud apa-apa. Mbak kan cuma menjawab bukan menyindir, tapi kalo ada yang merasa ya harusnya sadar diri sih.” Jawab Binar dengan senyum polosnya.


“Ella nggak suka ya kalo mbak ngomong begitu.”


“Sudah, jangan diperpanjang.” Ibu Siti menyela begitu melihat Binar akan menjawab. “Kalian ini ribut terus, nggak malu apa didengar tetangga.”


“Maaf Bu,” ucap Binar memilih untuk mengalah.


“Saya minta maaf Bu, bertamu malah bikin keributan disini.” Intan ikut meminta maaf tidak mau kalah dari Binar. Dia tetap harus menjaga citra baiknya didepan Ibu Siti.


“Iya Intan, Ibu nggak apa-apa malah senang kamu disini. Jadi Binar bisa belajar juga mengurus rumah iyak Binar?” Binar yang sempat mengalah malah semakin dipancing, dia pikir Ibu mertuanya ini akan berhenti tapi malah semakin menjadi-jadi.


“Kalau begitu bisa contohkan bagaimana mengurus rumah tangga yang baik dan benar. Karena setahu saya Intan kan belum menikah, jadi bagaimana dia bisa memberi contoh.” Jawab Binar kalem yang justru membuat Ella dan Intan semakin panas.


Ibu Siti bahkan tidak bisa berkata-kata, tidak menyangka Binar terus memberi perlawanan. Sekarang dia berpikir apa sebaiknya Albiru tahu tentang sikap buruk Binar ini.


 


TBC

__ADS_1


__ADS_2