
Seminggu berlalu dan Ella belum juga ditemukan. Ibu Siti sudah pasrah, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ingin melapor kepolisi tetapi Fadli melarang karena takut ini ulah sipeneror.
Fadli tidak mau Ibu Siti terlibat dalam urusan Ella. Biarlah gadis itu menanggungnya seorang diri. Bagi Fadli sudah cukup Ella menyusahkan keluarganya selama karena tingkah lakunya.
Albiru sendiri tidak mau ambil pusing dengan urusan Ella. Dia hanya ingin fokus pada Binar dan si kembar. Sebenarnya Albiru tahu apa yang terjadi pada Ella, tapi dia memilih tutup mulut.
Ibu Siti hanya bisa merenung memikirkan nasib Ella seorang diri. Terlebih saat ini dia hanya sendirian di rumah, meski sesekali Fadli datang berkunjung seperti saat ini.
"Ibu sakit?" tanya Fadli begitu melihat wajah pucat Ibu Siti.
Ibu Siti menggeleng lemah, "Ibu cuma mikirin Ella."
"Sudah ya Bu, biarkan saja Ella. Fadli nggak mau Ibu malah jatuh sakit seperti ini gara-gara mikirin Ella." Ucap Fadli tidak suka, sebenarnya dia tidak tega melihat Ibunya seperti ini.
"Ibu nggak tega Fadli, biar bagaimanapun Ibu yang merawatnya dari bayi."
Fadli menghela napas lelah. Mau sampai kapan Ibunya bersikap seperti ini.
"Karena Ibu yang merawatnya dari bayi atau karena rasa bersalah Ibu?" tanya Fadli membuat Ibu Siti menoleh kaget.
"Apa maksud kamu Fadli?" tanya Ibu Siti.
"Ibu pasti tahu maksud Fadli." Fadli berucap penuh keyakinan.
Ibu Siti memucat, rahasia besarnya terbongkar sudah. Sesungguhnya dia takut jika Fadli akan menyalahkannya juga. Dia takut jika Fadli dan Albiru akan membencinya karena masa lalu kelam itu.
Fadli memilih diam, memberi waktu Ibu Siti untuk berkata jujur meski dia tahu Ibunya itu berat untuk bercerita.
"Apa yang sudah kamu tahu Fadli?" tanya Ibu Siti ragu.
"Penyebab Ayah kandung Ella meninggal. Fadli juga tahu alasan sebenarnya Ibu merawat dan menyayangi Ella."
"Ibu nggak mau menceritakan yang sebenarnya? Bisa saja apa yang Fadli tahu bukanlah kebenaran yang sesungguhnya."
Ibu Siti memejamkan mata, berusaha menguatkan hatinya untuk bercerita.
"Iya, Ibulah penyebab Ayah kandung Ella meninggal. Karena Ayah kandung Ella meninggal, Ibu kandung Ella stress dan berakhir pergi meninggalkan Ella yang saat itu baru berusia tiga bulan."
Ibu Siti diam sejenak, menguatkan hatinya untuk kembali bercerita.
"Ibu sedih dan merasa bersalah. Saat itu yang Ibu pikirkan adalah merawat Ella seperti apa yang diinginkan Ayah kandungnya. Ibu merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Dan beruntung Ayah Latif mau menerima Ella."
__ADS_1
"Ayah tahu yang sebenarnya?" tanya Fadli hati-hati.
"Dia hanya tahu Ayah Ella yang menolong Ibu dan berakhir meninggal. Ayah kamu nggak tahu apa yang membuat Ibu bersikeras merawat Ella padahal usia kamu saat itu baru satu tahun. Mungkin Ayah kamu pikir semua yang Ibu lakukan karena rasa cinta Ibu pada masa lalu Ibu."
"Kenapa Ibu nggak jujur sama Ayah?" tanya Fadli lagi.
"Ibu merasa inilah hukuman untuk Ibu. Dulu Ibu sempat mengabaikan cinta Ayah karena masa lalu Ibu karena itulah Ibu merasa semua yang terjadi adalah balasan untuk Ibu."
Fadli tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak bisa berbuat banyak karena inilah pilihan Ibunya. Resiko yang ingin Ibunya tanggung seorang diri.
Fadli hanya berharap suatu saat nanti Ayah Latif akan tahu rasa cinta Ibu Siti untuknya. Setidaknya mereka akan tahu bahwa keduanya dalam dia saling mencintai.
...****************...
Binar baru saja memeriksa kandungannya ditemani oleh Albiru. Jujur saja ada rasa takut yang Binar rasakan, terlebih kata Dokter kehamilan kembar lebih beresiko.
Binar tidak ingin terjadi sesuatu pada kedua bayi kembarnya.
Albiru sendiri dalam diam selalu berdoa untuk istri dan anak-anaknya. Dia tahu kehamilan kembar lebih beresiko terlebih kondisi rahim Binar tidak sebaik dulu.
Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anak-anaknya. Dia hanya ingin Binar baik-baik saja dan si kembar terlahir sehat.
"Kenapa sayang?" tanya Albiru saat melihat Binar melamun.
"Kita berdoa yang terbaik ya, serahkan semua sama Allah."
"Aku takut Bi," ucap Binar lagi.
Albiru memeluk Binar berusaha menenangkan sang istri. Beberapa hari ini Binar sering mengalami kontraksi palsu.
Dokter memang mengatakan bahwa kehamilan kembar beresiko melahirkan lebih cepat. Binar takut jika dia melahirkan lebih cepat dan kondisi bayi kembar belum sempurna.
"Tenang ya sayang, kata Dokter kamu harus tenang. Nggak boleh banyak pikiran, biarkan semua berjalan seperti seharusnya. Kita hanya perlu banyak-banyak berdoa."
Binar menangguk, menyetujui ucapan Albiru. Namun, beberapa saat kemudian rasa sakit kembali menyerang Binar.
Perutnya terasa mengencang dan sangat sakit. Tanpa sadar Binar mencengkram erat lengan Albiru membuat suaminya itu menoleh kaget.
"Kenapa sayang?" tanya Albiru panik saat melihat wajah pucat Binar.
"Sakit Bi... perutku sakit... "
__ADS_1
Binar mengerang kesakitan, rasanya jauh lebih sakit. Albiru panik, dengan cepat memanggil orang tua Binar.
Bunda Ina yang mendengar Albiru memanggil dengan panik segera datang.
"Kenapa, nak?" tanya Bunda Ina.
"Perut Binar sakit, Bun." Albiru menjawab karena Binar sudah tidak sanggup berbicara lagi.
Bunda Ina mendekat, berusaha mengecek kondisi Binar. Meski sudah berpengalaman tetap saja Bunda Ina bingung.
Dengan segera Bunda Ina meminta Albiru untuk membawa Binar ke rumah sakit. Dia takut jika Binar benar-benar akan melahirkan malam ini.
Dalam perjalanan ke rumah sakit tidak hentinya mereka berdoa untuk keselamatan Binar dan si kembar. Semoga saja Binar bisa melahirkan dengan selamat dan si kembar lahir dengan sehat serta sempurna.
TBC
Maaf baru bisa update 🙏🏻😊
semoga bisa tetap suka ya..
nih ada rekomendasi novel keren karya AG Sweetie
yuk mampir dan dukung karyanya 😊
Judul : CALL ME YURA
"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."
~ Vlora Yukika ~
"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"
~ Haedar Gibran ~
Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?
Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.
"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."
__ADS_1
~ Tristan Pratama ~
Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?