Rumah Tangga

Rumah Tangga
AKHIR PEKAN


__ADS_3

Siang begitu terik matahari menyinari ruangan Rania dan membuat Rania harus mengasingkan diri di kantin kantor sambil membawa laptopnya. Rania sebal sudah sering kali berkata kepada Bosnya untuk segera di belikan penutup jendela yang lebih rapat supaya sinar matahari tidak begitu banyak menyinari tempat Rinia berkerja.


Di kantin, Rania selalu duduk di tempat favoritnya yaitu di pojokan sambil meneguk segelas teh hangatnya. Semenjak putus dengan Raja, Rania sekarang banyak melakukan hidup sehat termasuk sering minum teh dan mengurangi kafein. Ia melihat kalender di laptop yang sedang di tatapnya, hari ini akhir pekan waktunya Rania memanjakan dirinya dan memberi penghargaan terhadap dirinya sendiri bahwa tubuh Rania berhak mendapat kenikmatan.


Penjaga kantin tidak begitu heran melihat Rania yang duduk di pojokan terkadang penjaga kantin juga sering berkata kepada Bos untuk segera membenarkan jendela tempat Rania bekerja tapi masih belum ada respon.


"Rania... Bapak bawakan mie kuah kesukaan kamu" penjaga kantin itu tiba-tiba membawakan mie kuah kari ayam kesukaan Rania beserta telur rebusnya


"Ahhh, ternyata ini bau yang dari tadi Rania ciumm" Rania menggeser mangkuk mie kearah lebih dekat kepadanya.


"Selamat akhir pekan Rania semoga minggu berikutnya Bapak masih bisa lihat kamu bekerja ditempat favorit kamu ini"


"Bos yang menyebalkan sudah berapa minggu tidak di menanggapi permintaanku"


"Yasudah kamu disini dulu saja menemani Bapak jaga kantin"


"Boleh langsung Rania makan mie kuahnya?" tanya Rania yang sepertinya sudah tidak tahan dengan aroma mie kuahnya"


"Makan lah Rania... Selamat makan"


Makan mie kuah kari ayam dengan telur rebus memang tepat menjadi teman kerja sekaligus menu makan siang di akhir pekan itu. Sambil menyantap mie rebus Rania memikirkan kegiatan yang akan ia lakukan nanti malam hingga besok.


...


"Akhir pekan masih kerja Bos?" Dio yang meletakan contoh baju di ruangan Raja


"Lagi nggak ada kegiatan si makanya kerja aja" jawab Raja sambil menatap layar laptopnya.


"Ini gue taruh sini ya contoh baju edisi dua minggu lagi"


"Lo hari kemana?" tiba-tiba Raja bertanya kepada Dio dengan nada yang serius


"Paling lanjutin film serial di kamar sama makan yang pedes-pedes waaahhh jadi gak sabar gue "


"Lo punya cadangan cewek cantik nggak?"


"Yang bener aja gue sampai detik ini jomblo lo tanya gue punya cadangan cewek cantik atau enggak?"


"Gue bosen kalau gini-gini terus" Raja mulai berganti posisi dan bercerita lebih banyak dengan Dio.


Akhir pekan memang pas untuk menghabiskan waktu dan melupakan sejenak untuk segala masalah yang membebani pikiran. Raja pulang dan bertemu dengan keluarganya dirumah melihat mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing kecuali


Zena, adik perempuan Raja yang sedang lontang lantung nggak jelas di kamar.


Tanpa permisi Raja masuk ke kamar Zena untuk mengajak Adik kesayangannya itu berkililing kota atau berkunjung kesebuah tempat yang Zena mau.


"Gue mau baju satu dong Bang buat kado ulang tahun sahabat gue" kata Zena yang sedang bersiap di meja riasnya


"Sahabat atau sahabat?"


"Kalau emang buat pacar gue pasti bilang lahh" Zena menjawab dengan nada kesal.


Akhir pekan yang tidak begitu bisa membuat Raja puas seharusnya ia bisa berkencan dengan perempuan bayaran atau dengan kekasih yang sebenarnya, tidak apa setidaknya bisa membuang pikiran Raja dari pekerjaannya.


Berjalan disebuah pusat pembelajaan Zena dan Raja menjadi pusat perhatian orang-orang mereka seakan kagum melihat Zena dan Raja jalan berdua sampai ada yang berkata betapa serasinya mereka jika jalan berdua. Raja dan Zena hanya bisa menahan tawa sampai di distro Raja. Di distro Raja bercerita kepada karyawannya dan membuat semua tertawa.


"Puas banget lo ketawanya?"


"Ya soalnya gue nggak pernah denger omongan yang kayak gitu di telinga gue rasanya asing banget"


"Sekali pun lo jalan sama Rania?"


Raja seketika berhenti tertawa saat Zena menyebut nama Rania. Raja belum mendengar kata yang lebih dari tidak baik berkencan dengan lelaki yang lebih muda dengannya. Raja terdiam mencari bayangan wajah Rania dibenaknya dan semua hancur saat ia menemukan bayangan Rania yang terliahat begitu jelas. Wajah putih Rania rambut Rania sekarang Rania ada di hadapan Raja sambil tersenyum


Raja meninggalkan Zena di distro lalu melaju dengan kencang yang belum tahu kemana Raja harus pergi. Kenapa Zena harus menyebut nama Rania disaat ia sudah merasa tenang dan sudah waktunya untuk mengenal perempuan baru apa masalalu itu wajib datang disaat seperti ini.


Zena dan karyawan lain bingung terheran melihat kelakuan Raja yang tidak jelas dan Zena hanya bisa menghela nafas panjang lalu duduk di bagian kasir distro sambil membantu karyawan Raja bekerja di akhir pekan. Sejujurnya Zena sudah sangat merindukan kehadiran Rania di keluarganya, sampai saat ini Zena belum bisa menemukan kekasih Raja yang cocok dengannya dan dengan Ayah Ibu Raja.


"Memangnya Rania begitu berarti bagi Pak Bos?" tanya salah satu karyawan Raja kepada Zena

__ADS_1


"Rania masalalu Abang yang susah untuk jelasin" jawab Zena sambil menghitung pendapatan hari ini


"Pak Bos kan sering gonta ganti cewek Neng" jawab karyawan itu lagi


"Ya makanya itu udah semakin tua masih aja labil"


Tempat yang memang sudah Raja pikirkan setelah tidak jauh meninggalkan distro tadi, bar&klub yang biasa ia kunjungi dengan teman-temannya. Teman-teman Raja sudah menunggunya disana dengan suguhan minum dan perempuan bayaran yang siap menemani Raja di akhir pekan  ini. Sekuat tenaga Raja melupakan bayangan Rania di benaknya dan menyesuaikan suasana dengan teman-temannya.


Suara musik yang sudah bedendang kencang, botol minuman alkohol yang sudah habis membuat Raja perlahan menghilangkan bayangan Rania tapi pembicaraan Raja kepada teman-temannya mulai ngelantur


"Gue waktu itu emang masih sayang sama Rania tapi gue gak bisa tahan sama godaan perempuan putih abu-abu yang selalu memberikan pesona lain ke gue"


"Rania? Temen bimbel lo?"


"Siapa lagi... Perempuan cantik yang harusnya gue bersyukur mendapatkan dia"


"Lo habis ketemu sama dia?"


"Iyaaa... tadi ketemu di bayangan benak gue, ahahaha"


Pembicaraan Raja mulai tidak terarah dan makin banyak meminum minuman alkohor lalu Raja pulang harus diantar oleh teman-teman Raja yang tidak sepenuhnya mabuk karena minuman alkohol.


...


Semalam Rania memilih untuk menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri membeli beberapa makanan di kaki lima yang tidak jauh dari rumahnya lalu kembali kerumah untuk melanjutkan pekerjaan. Akhir pekan yang tidak sesuai dengan rencana yang sudah tersusun rapi ia harus menyelesaikan beberapa dokument karena barang akan segera di kirim minggu depan.


Hari ini adalah kesempatan emas Rania untuk memanjakan diri seharian dan tidak boleh di ganggu oleh siapapun itu termasuk Mama Rania dan Kakaknya.


"Boleh lah Ran kita ikut, ya kan Ma?" ujar Raisa Kakak kandung Rania


"Kalau sama kalian akhir pekan yang mendatang saja sekalian ziarah ke makam Papa" Papa Rania sudah meninggalkan keluarganya terlebih dahulu karena sakit.


"Biarkan lah Kak.. Rania ini kan pekerja keras yang beeeegitu sibuk" jawab Mama Rania yang meletakan dua piring nasi goreng di meja makan


"Ya..ya... Kalau begitu Raisa juga bakal menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman Raisa"


"Terserah lu Kak" jawab Rania yang sudah melahap nasi goreng telur buatan Mamanya.


"Ran.. Mama bisa titip buah-buahan tidak dikulkas persediaan sudah habis" teriak Mama Rania sambil mencuci piring


"Yaa, Mama tulis aja apa yang harus Rania beli"


"Mama... Rania... Aku berangkat yaaa udah ditunggu temen-temen" teriak Raisa di depan pintu utama rumah.


"Jangan pulang malam-malam" jawab Mamanya


"Siaaappp" Raisa sedikit membanting pintu utama rumahnya.


Rania sedang bersiap di kamarnya sambil mengecek ponsel yang dari tadi sudah ramai dengan e-mail yang masuk. Sedikit mengeluh tentang pemberitahuan yang harusnya bisa di diamkan dan Rania fokus dengan polesan bedak diwajahnya.


Akhir pekan yang Rania tunggu-tunggu. Di perjalanan menuju tempat pertama Rania memutar lagu yang sesuai dengan akhir pekannya ini bersemangat dan tidak memperdulikan keadaan e-mail berserta keadaan di kantornya. Lagu-lagu itu sering Rania putar setelah ia lulus kuliah yang bertujuan untuk lebih membangun rasa semangat dan melupakan Andhika Raja.


Memang sosok Andhika Raja ini membuat Rania tergila dan harus mengorban segalanya untuk melupakan Raja. Rasa rindu yang tiba-tiba hadir pun langsung Rania tepis dengan hal yang membuat sibuk dan Rania tidak ingin terlalu larut dalam perihal rindu apalagi itu rindu dari Raja.


Sudah sampai...


Rania tiba di sebuah tempat memanjakan diri untuk menjadi tujuan pertama memanjakan dirinya. Duduk di kursi salon dan memprasahkan semuanya kepada pegawai salon untuk membuat mahkota kepalanya menjadi berkilau kembali.


"Terima kasih Mbak..."


"Terima kasih, semoga datang kembali"


Misi pertama berhasil dan selanjutnya ia langsung menuju supermarket untuk membeli keperluaannya berserta titipan Mamanya.


Perasaan senang langsung muncul ketika Rania mendapatkan rambut barunya yang tadi sedikit di pangkas dan diberikan pelayanan khusus untuk mahkotanya itu. Tidak jauh dari salon, Rania tiba di supermarket yang lumayan besar dan ia bergegas untuk masuk kedalam.


"Ini Rania yang benar-benar baru" katanya yang sempat melihat dirinya di cermin dekat pintu masuk supermarket.


Mengambil keranjang dorong dan membuka catatan kecil yang ada di dalam tasnya ia mengurutkan keperluan yang sudah habis untuknya sampai buah-buahan yang tadi Mamanya titip.

__ADS_1


Disisi lain


"Ibu.. Abang Raja belikan jus atau susu untuk dirumah" kata Zena kepada Ibunya


"Ahh benar sekali Abang kamu suka mabok-mabokan" Ibu Zena berjalan dengan keranjang dorongnya bersama Zena.


"Ibu.. Zena belikan Abang susu beruang saja ya"


"Yaa ambil juga untuk kamu" kata Ibu Zena yang sedang berjalan untuk berpindah lorong


Ibu Zena sedang mencari bumbu masakan yang biasa ia gunakan sepertinya tidak ada tapi biasanya Ibu Zena membeli bumbu masakan disini dan tempatnya di lorong ini.


"Ibu cari apa?" Zena datang menghampiri Ibunya sambil meletakkan susu yang ia bawa


"Bumbu masakan Zen yang biasanya kamu liat nggak?"


Keranjang dorong itu terus berjalan mengikuti arah mata Ibu dan Zena sampai mereka tidak sadar keranjang dorong itu menabrak keranjang dorong milik orang lain.


"Zenaa kok nggak bantu liatin jalan si" nada Ibu Zena sedikit meninggi. Zena langsung cepat-cepat meminta maaf kepada pemilik keranjang yang ia tabrak


"Ehh Maa..aaffff" Zena mengatakan maaf dengan terbata-bata.. kenapa itu bisa terjadi?


Ibu Zena melihat orang itu dengan pandangan yang tak biasa begitu juga dengan Zena, mereka seakan senang bertemu dengan orang itu tapi mereka bingung apa yang harus mereka katakan terlebih dahulu


"Rania?" tanya Ibu Zena yang berjalan lebih dekat dengan Rania. Hal yang sama dirasakan dengan Rania terkejut dan hanya diam mematung.


Ibu Zena sudah berdiri lebih dekat di hadapan Rania dan perlahan membelai pipi Rania yang diikuti lekukkan senyum Rania.


"Ibu... Apa kabar?" jawab Rania yang makin melebarkan senyumnya.


Mereka sepakat untuk menyelesaikan belanja mereka lalu berbicara di tempat yang tenang dan aman. Kafe pojokan supermarket yang dipilih oleh Zena sebagai tempat mereka berbicara.


*perbincangan antara Ibu Rania dan Zena.


"Kamu makin cantik Nak.." ungkap Ibu Zena dengan mata yang sedikit berkaca-kaca


"Ibu juga terlihat begitu sehat" jawab Rania sambil membenarkan posisi duduknya. Zena masih memesan beberapa minuman untuk mereka.


"Kamu sekarang bekerja dimana?" tanya Ibu Zena


"Tidak jauh dari rumah Ibu" Zena datang sambil memegang uang kembalian dan struk pembelian


"Kak Rania makin tampak baru" gantian Zena yang memuji Rania


"Kebetulan saja Kakak habis potong rambut" jawab Rania yang tersenyum manis


"Maafkan Raja ya Nak..." Ibu Zena yang tiba-tiba menyeletuk nama Raja di sela perbincangan mereka


"Tidak ada yang perlu dimaafkan atau meminta maaf Rania sudah lupakan itu"


"Apa perasaan kamu masih ada untuk Raja?"


"Rania tidak bisa menjawab itu Ibu, Rania sedang tidak memikirkan lelaki manapun termasuk berkencan"


"Sudah Ibu Kak Rania tidak ingin membahas hal itu, kita minum dulu ya mari Kak" jawab Zena untuk menyairkan suasana.


Mereka sekalian makan siang di kafe itu dan melepas rindu antara Ibu dan Rania tidak lupa juga Ibu mengabadikan moment bahagia mereka bertiga. Betapa rindunya Ibu dengan Rania yang sekarang harus berpisah lagi untuk kembali pulang kerumah. Ibu Zena membuat perjanjian kepada Rania bila akhir pekan minggu berikutnya Rania harus datang ke kafe ini lagi pukul tujuh malam untuk makan malam bersama. Sekarang Ibu Zena menggantungkan harapan lagi kepada Rania untuk bisa kembali dengan anak laki-lakinya.


Di dalam mobil Rania tidak bisa berkata apa-apa ia diam dalam pandangan yang kosong baru kali ini akhir pekan Rania menjadi tak terduga seperti ini. Bicara tentang Raja, Rania membuka dasbor mobilnya dan mengambil sebuah kotak yang berisi dengan foto mereka yang sedang bermesrahan di depan gerbang tempat bimbel.


Rania tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang ternyata masih menyimpan foto Raja dan dengan keadaan yang seperti ini terpaksa Rania buka.


Berkata dalam hatinya "Bagaimana jika rasa itu muncul lagi dan Raja mengulangi kesalahannya lagi?" Rania membuang foto dan kotak itu dan menghelas nafas panjang menyebut nama Raja berulang kali untuk menyingkirkan bayangan yang tidak jelas.


Tidak ingin terlalu larut dalam pemikiran dan pandangan kosong itu, Rania meninggalkan parkiran supermarket dengan melaju begitu kencang. Dijalan pun Rania juga masih bertanya sendiri, kenapa... kenapa harus bertemu dan terpaksa membuka memori itu lagi...


Akhir pekan yang kurang menyenangkan.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2