Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 51 - Yang Dinanti -


__ADS_3

Albiru dengan perasaan kacau menunggu dokter selesai memeriksa Binar. Dia sungguh tidak menyangka sedalam ini trauma yang dialami Binar.


Albiru menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang menimpa Binar. Dia merasa begitu gagal menjadi sosok suami.


Dokter yang memeriksa Binar keluar, Albiru segera berdiri menghampiri sang Dokter. Dalam hati dia berdoa semoga tidak ada hal buruk menimpa Binar.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Albiru khawatir.


"Pasien hanya terkejut dan sedikit stress. Untuk sementara biarkan pasien beristirahat dan satu lagi saya mengusulkan untuk memeriksa pasien ke Dokter kandungan." Dokter tersebut menjelaskan dengan tenang, tidak lupa sedikit senyum saat menyampaikan kalimat terakhirnya.


Albiru tampak bingung, sedikit berharap bahwa akan menerima kabar baik namun dia takut kecewa lagi. Terlebih jika harus melihat Binar semakin menderita.


Jika apa yang dia pikirkan benar maka Albiru sangat bahagia. Tetapi dia juga takut jika harus menelan kekecewaan lagi. Terlebih kondisi Binar saat ini yang membutuhkan perhatian lebih.


...****************...


Bunda Ina merasa gelisah, dia merasa begitu khawatir akan keadaan Binar. Untuk mengusir perasaan tidak enak ini, Bunda Ina segera menghubungi Albiru.


"Assalamu’alaikum, Bun."


"Waalaikumsalam, Biru. Kalian dimana nak? Binar baik-baik sajakan?"


"Kami di rumah sakit, Bun. Binar baik-baik saja dan sekarang lagi istirahat. Ada beberapa hal yang mau Biru sampaikan."


"Astaghfirullah, Binar benar baik-baik sajakan? Bunda kesana sekarang ya."


"Binar baik kok, Bun. Bunda nggak usah kemari ya, biarkan Binar istirahat dulu. Kami akan pulang setelah Binar bangun."


"Baiklah nak, tapi tolong kabari Bunda ya kalau ada apa-apa."


Pembicaraan mereka berakhir dan perasaan Bunda Ina belum bisa tenang. Meski Albiru memberi kabar bahwa semua baik-baik saja, tapi Bunda Ina tetap tidak bisa tenang jika Binar belum pulang ke rumah.


...****************...


Disisi lain Ibu Siti merasa begitu khawatir dengan keadaan Ella. Putrinya itu belum memberi kabar sejak semalam.


Ibu Siti takut jika hal buruk terjadi pada Ella. Gadis itu hidup sendirian diluar sana tanpa ada yang menemani. Ibu Siti sangat takut jika orang yang meneror Ella selama ini berbuat nekad dan mencelakai Ella.


"Kenapa, Bu?" tanya Fadli yang melihat Ibunya begitu gelisah.


Ibu Siti menoleh, ragu untuk mengatakan apa yang sedang dia khawatirkan.

__ADS_1


"Fadli, sebenarnya ada yang ingin Ibu sampaikan." Ibu Siti berucap pelan takut Ayah Latif mendengar.


"Apa itu Bu?" Fadli bertanya penasaran.


"Ella, adik kamu itu sedang hidup sendirian di luar sana. Apa kamu tidak khawatir jika terjadi sesuatu pada adik kamu."


Fadli tersenyum kecil, jika saja yang di hadapannya ini bukan Ibunya sendiri Fadli pasti sudah tertawa meremehkan.


"Itu resiko dia, Bu. Tolong berhenti mengkhawatirkan dia, Fadli tahu mau bagaimanapun Ibu yang merawatnya tapi lihat sekarang apa yang sudah dia perbuat. Menghancurkan kehidupan anak sulung Ibu sendiri, apa Ibu tidak bisa berpikir jernih. Setidaknya pikiran apa yang sudah mas Biru terima."


Ibu Siti terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Fadli berhasil menamparnya lewat kata-kata. Tetapi Ibu Siti tetap tidak bisa menghilangkan perasaan khawatirnya.


"Setidaknya tolong Ibu menjaga Ella diluar sana. Ada yang berniat jahat pada Ella dan sekarang dia sendirian."


"Itu resiko dia Bu. Coba Ibu bayangkan apa yang sudah Mbak Binar lalui, dia menderita karena ulah Ella. Jika posisinya dibalik, apa Ibu akan terima begitu saja. Biarkan Ella menerima apa yang seharusnya dia terima, tugas Ibu sekarang hanya mendoakan setidaknya dia bisa tobat sebelum terlambat."


Perkataan Fadli begitu menusuk. Pria itu segera pergi tidak ingin berlama-lama karena takut akan menyakiti Ibunya lewat kata-kata.


Orang-orang mungkin berpikir dia terlalu jahat, tapi Fadli tidak peduli hal itu. Bagi Fadli setiap perbuatan buruk selalu ada resiko dan siap atau tidak orang jahat pasti akan menerima balasannya.


...****************...


Binar terbangun dan menatap sekelilingnya. Perasaan asing menyergapnya, dia panik tapi untunglah ada Albiru yang tidur disamping ranjangnya.


Albiru membuka matanya dan mendapati Binar yang tangah duduk di ranjang.


"Sayang, gimana perasaan kamu? Ada yang sakit atau pusing?" tanya Albiru panik.


Binar menggeleng pelan, "aku mau pulang."


Mendengar permintaan Binar membuat Albiru menghela napas. Ada yang ingin dia katakan, tapi entah mengapa hatinya masih meragu.


"Oke kita pulang, tapi ada yang mau aku bicarakan." Ucap Albiru pelan, menggenggam tangan Binar dengan penuh kasih.


Binar menunggu dengan sabar, perasaan tidak menentu. Ada rasa penasaran namun rasa takut lebih mendominasi, dia takut ada hal buruk lagi.


"Sayang, kamu... hamil." Albiru berucap begitu pelan.


"Apa Bi?" tanya Binar takut jika dia salah mendengar.


"Kamu hamil sayang, usia kandungan kamu tiga minggu." Albiru berbisik pelan.

__ADS_1


Binar diam sejenak, perasaan campur aduk. Rasa bahagia, haru juga takut menguasainya. Dia bahagia namun begitu takut jika ini hanyalah mimpi belaka.


"Biru," pada akhirnya dia menangis haru.


Binar menangis dipelukan Albiru yang juga ikut menangis. Jika ini hanya mimpi, Binar dan Albiru tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.


Keajaiban itu nyata adanya dan Binar tengah merasakannya. Saat kemarin Binar terpuruk akan kondisinya, kini Allah membalikkan keadaan dengan memberikan Binar sebuah kesempatan.


Tidakkah Allah begitu baik pada hamba-Nya.


Tapi tiba-tiba bayangan mengerikan itu melintas begitu saja. Bayangan saat Binar kehilangan calon anaknya, bayangan saat dia menangis dalam tidurnya karena kondisinya yang sulit hamil.


Binar takut akan mengalami hal itu lagi. Dia tidak siap harus menerima segala kesakitan itu. Dia tidak ingin melalu kegelapan yang tidak berujung itu. Binar takut dan tidak siap.


"Nggak Bi, aku takut." Binar tiba-tiba mendorong Albiru.


Albiru bisa melihat dengan jelas ketakutan dan kesakitan itu dimata Binar.


"Binar, kenapa sayang?" tanya Albiru hati-hati.


"Aku takut Bi, nanti ada orang jahat yang mau ambil anak aku. Aku nggak mau hamil kalau pada akhirnya harus kehilangan lagi." Binar berucap penuh ketakutan.


"Astaghfirullah, tenang Bi. Kamu nggak perlu takut ya, ada aku disini." Albiru segera memeluk Binar memberi istrinya itu ketenangan.


"Dia jahat Bi, aku nggak mau dia datang dan berbuat jahat lagi. Aku takut Bi, aku nggak mau merasakan sakit itu lagi."


Albiru begitu terpukul melihat kondisi Binar. Ternyata dampak perbuatan Ella begitu mengerikan. Binar selama ini terlihat baik-baik saja, namun ternyata ada luka yang belum sembuh. Luka yang membuat Binar trauma.


Setelah Binar tenang, diam-diam Albiru menghubungi Rika dan menceritakan dengan singkat apa yang terjadi. Albiru berharap Rika bisa membantu menyembuhkan trauma Binar.


TBC


Halo readers setia..


Sambil menunggu novel ini update author punya rekomendasi novel keren karya kak uma_bhie


silahkan mampir dan jangan lupa dukungannya ya 😁


Judul : DENDAM DAN CINTA SANG BODYGUARD


__ADS_1


Hati siapa yang tidak hancur, saat sebuah hari istimewa yang diharapkan akan berbuah kebahagiaan. Tapi apa yang di dapatkan oleh Amber Wilson sang wanita tangguh ini, sebuah kesedihan dan perasaan kecewa, ketika sang kekasih tak kunjung datang tepat dihari pernikahan mereka. Sang kekasih yang begitu ia cintai mendadak menghilang dan tanpa jejak.


Hari-hari Amber ia habiskan hanya untuk menunggu sang kekasih, ia masih sangat berharap kekasih hatinya itu datang dan kembali padanya, tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan.


__ADS_2