Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 41 - Kenyataan Pahit-


__ADS_3

1 tahun kemudian..


Banyak hal yang terjadi selama satu tahun ini. Ella telah bebas dan sekarang gadis itu menghilang entah kemana. Sedangkan Binar dan Albiru menikmati masa tenang mereka berdua.


Setelah keguguran itu Binar memang memilih menutup diri dari keluarga, wanita itu masih enggan bersosialisasi. Albiru sendiri menyerahkan semua pilihan pada Binar, dia hanya ingin Binar bahagia dengan caranya sendiri.


"Aku berangkat kerja dulu ya, sayang." Pamit Albiru pada Binar yang sedang membereskan meja makan.


"Hati-hati, Bi." Binar mencium punggung tangan Albiru, mengantar suaminya itu ke depan pintu.


Kepergian Albiru membuat Binar merasa begitu kesepian. Selama satu tahun ini Binar begitu merasa kesepian, namun dia berhasil menutupi perasaannya. Dia tidak ingin Albiru merasa terbebani kerena itu lebih baik dia memendam rasa sepinya seorang diri.


Binar ingin segera punya anak namun Tuhan masih berkehendak lain. Karena itulah dia berusaha menghindar dari keluarganya dan juga keluarga Albiru demi menjaga perasaannya sendiri.


...****************...


Albiru baru saja selesai makan siang ketika dering telpon masuk menyita perhatiannya, tertera nama Ibu Siti.


"Assalamu’alaikum, Bu." Sapa Albiru setelah menemukan tempat sepi untuk menjawab telepon Ibunya.


"Waalaikumsalam, kamu apa kabar Biru?"


"Alhamdulillah Biru baik, Bu."


"Sibuk ya? Kenapa nggak pernah ke rumah lagi? Ibu kangen sama kamu."


Albiru menghela napas sebelum menjawab, "kerjaan Biru lagi banyak Bu."


"Setidaknya datanglah ke rumah Ibu atau nelpon Ibu. Kamu ini semakin lama kok semakin menjauh dari Ibu? Apa istri kamu yang ngelarang kamu ke rumah?"


"Astaghfirullah, Bu. Tolong jangan suudzon seperti itu sama Binar, apa nggak bisa sekali saja Ibu berpikir yang baik tentang Binar?"


"Belain terus istri kamu itu, gara-gara dia Ella dipenjara dan sekarang adik kamu itu entah ada dimana."


"Sepertinya Ibu lupa kalau Ella penyebab keguguran Binar. Orang jahat seperti Ella itu nggak pantas jadi adik Biru."


"Biru, kamu kok jahat sekali sama Ella. Biar bagaimanapun kalian itu Ibu besarkan sama-sama, dia sudah seperti adik kandung kamu."


"Sudah ya Bu, Biru nggak mau berdebat. Biru mau kerja, asslamu’alaikum."


Abiru segera menutup telepon. Inilah yang membuatnya mengurangi pertemuan dengan Ibunya, jujur saja Albiru mulai lelah dengan semua tingkah Ibunya yang terus menyakiti Binar.

__ADS_1


Belum lagi pertanyaan kapan Binar hamil, hal itu membuat Albiru merasa tertekan. Dia tidak tega melihat raut sedih diwajah Binar.


"Kenapa Biru?" Albiru segera menoleh dan mendapati Raka tengah menatapnya.


Albiru hanya menggeleng pelan, terlihat enggan untuk menjawab.


"Gue perhatikan beban lo semakin bertambah ya. Sampai lo lupa cara bahagian diri lo sendiri." Komentar Raka mengundang Albiru untuk mendekat, duduk disamping seniornya itu.


"Gue bahagia mas dengan lihat Binar bahagia." Jawab Albiru yakin.


"Gue juga bahagia lihat istri gue bahagia, tapi ada satu hal yang lo lupain. Kalau lo juga butuh kebahagiaan untuk diri lo sendiri. Beban lo sudah cukup berat, apa lo pikir istri lo bakal bahagia liat lo yang seperti ini?"


"Gue nggak tahu harus berbuat apa lagi mas."


"Lepasin satu per satu beban lo. Salah satunya coba untuk jujur sama istri lo, gak peduli seberapa pahit kenyataan itu asal lo jujur gue yakin istri lo akan berusaha menerima. Tapi semua akan berbeda kalau dia tahu kenyataan pahit itu dari orang lain."


Raka menutup pembicaraan, meninggalkan Albiru seorang diri yang tengah termenung. Apa yang dikatakan Raka benar, tapi Albiru masih memerlukan waktu untuk jujur pada Binar.


...****************...


Albiru baru saja ingin memejamkan matanya ketika suara Binar kembali terdengar.


"Bi, aku mau minta sesuatu sama kamu boleh?" tanya Binar pada Albiru yang kembali membuka matanya.


"Aku mau ke dokter Bi," Binar menjawab pelan.


Albiru segera beranjak duduk disamping Binar. "Kami sakit sayang?"


Binar menggeleng pelan ragu untuk menjawab. "Maksudku dokter kandungan, Bi."


Albiru terdiam sejenak kemudian menarik Binar kedalam pelukannya.


"Aku sudah bilang kan sayang, tolong jangan mebebankan diri kamu seperti ini. Kita jalani semuanya pelan-pelan."


"Aku mau hamil Bi, aku mau punya anak." Binar berucap dengan suara bergetar menahan tangis.


"Aku tahu sayang, tapi aku takut kamu malah terbebani."


"Aku ngerasa kesepian Bi, aku liat orang-orang yang baru menikah dan sudah hamil, tapi melihat diri sendiri yang belum hamil buat aku semakin sedih."


Albiru tidak menjawab melainkan mempererat pelukannya. Albiru tahu seberapa kuat keinginan Binar untuk hamil tapi Albiru takut jika Binar tahu kenyataan pahit yang selama ini dia sembunyikan.

__ADS_1


"Aku akan nemenin kamu ke dokter, tapi tolong jangan jadikan ini semua beban. Aku sudah bahagia sama kamu sayang, bagiku cukup kamu disampingku semuanya akan baik-baik saja."


Binar hanya mengangguk pelan, dia tidak tahu maksud tersirat dari ucapan Albiru. Saat ini yang dia inginkan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh keturunan.


...****************...


"Gimana Dokter?" tanya Binar tidak sabar begitu dokter selesai memeriksanya.


"Saya ingin memohon maaf sebelumnya. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, rahim Ibu Binar bermasalah. Efek dari obat penggugur itu sangat kuat, sehingga membuat luka dirahim Ibu."


"Maksud Dokter?" Binar bertanya tak mengerti. Matanya menatap Albiru yang hanya tertunduk lesu.


"Peluang untuk Ibu bisa hamil lagi hanya dua puluh persen. Obat itu bukan hanya membuat luka rahim tapi merusak sel telur Ibu Binar."


Binar terdiam, semua perkataan Dokter dihadapannya seperti mimpi buruk. Tanpa sadar Binar menangis, hatinya sakit mendengar kenyataan pahit ini. Semua mimpi indahnya selama ini hanya angan-angan belaka.


Albiru memeluk Binar seolah memberi kekuatan untuk istrinya itu. Binar hanya mampu menangis, menumpahkan rasa sakitnya dengan air mata. Inilah yang Albiru takutkan, dia takut Binar akan terpuruk seperti ini.


Diperjalanan pulang Binar memilih untuk diam, menatap semu pemandangan diluar. Sedangkan Albiru hanya mampu menatap Binar dengan tatapan rasa bersalah.


"Tolong berhenti di depan," pinta Binar yang segera dituruti Albiru.


Albiru menghentikan mobilnya meski batinya bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan Binar.


"Tinggalin aku sendiri, Bi. Aku butuh waktu sendiri, aku nggak akan pergi kemana-mana, aku cuma butuh waktu sendirian di taman ini."


Usai mengucapkan itu Binar segera keluar mobil menuju taman yang tampak ramai oleh anak.anak. Albiru ingin menahan namun dirinya tahu Binar membutuhkan waktu. Yang Albiru lakukan hanya mampu menatap Binar dari jauh.


Sedangkan Binar memilih untuk duduk dikursi taman seorang diri. Melihat disekelilingnya begitu banyak anak-anak beragam usia. Dalam sepinya Binar membayangkan suatu hari dia duduk taman ini sambil mengawasi anaknya yang tengah bermain


Membayangkan hal itu membuat Binar menangis. Batinnya bertanya-tanya mengapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini. Mengapa Tuhan tidak membiarkannya bahagia? Kesalahan apa yang dia perbuat hingga Tuhan menghukumnya seperti ini?


Binar terus bertanya-tanya tanpa tahu jawaban pastinya. Wanita itu terus menangis menumpahkan segala sesak didadanya dengan harapan rasa sakit itu bisa berkurang, meski dia tahu tidak ada obat untuk rasa sakitnya.


TBC


**Minal Aidin Wal Faizin..mohon maaf lahir dan batin untuk readers setia.


Maaf baru bisa update sekarang dikarenakan author lagi banyak tamu 😁


Semoga kedepannya novel ini semakin maju dan banyak yang suka. Terima kasih untuk yang sudah mampir dan mendukung karya author 😊

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya.. dishare keteman² yg lain juga boleh biar byk yg baca 😊😉**


__ADS_2