
Albiru merasa jantungnya seperti dire*mas kuat oleh tangan tak kasat mata. Albiru berharap ini semua hanya mimpi buruk belaka.
Sayangnya, ketika Albiru sampai di rumah sakit dan mendapati Fay yang tengah menangis di depan ruang ICU membuat Albiru harus menerima bahwa berita buruk yang diterimanya adalah kenyataan.
Fay yang melihat kedatangan Albiru segera mendekati pria itu. Fay tidak tahu harus berkata apa lagi, dia sendiri masih tidak bisa mempercayai apa yang telah terjadi.
“Gimana keadaan Binar?” Tanya Albiru dengan suara pelan, wajahnya terlihat begitu pucat.
“Dokter masih memeriksanya.” Fay menjawab pelan.
Albiru terduduk lemas, tidak menyangkan hal ini akan terjadi. Beberapa jam yang lalu Binar meminta izin untuk bertemu dengan Fay. Masih Albiru ingat dengan jelas bagaimana suara Binar yang terdengar ceria.
Fay sendiri dilanda rasa bersalah. Fay merasa begitu bersalah pada Binar, seandainya dia bisa memutar waktu mungkin Fay akan memilih mejemput Binar di rumah bukan malah membiarkan Binar pergi seorang diri.
Fay berandai-andai meski tahu waktu tidak bisa diputar ulang. Mengingat tubuh Binar yang bersimbah darah, Fay merasa takut. Dia tidak ingin kehilangan sahabat baiknya itu.
Fay ingin Binar segera sadar, Fay ingin Binar baik-baik saja.
Tidak lama, kedua orang tua Binar datang. Bunda Ina langsung memeluk Fay, menumpahkan tangisnya dipundak gadis itu. Sedangkan Ayah Ibra memilih duduk di samping Albiru, menepuk pundak menantunya seolah memberi kekuatan.
Tidak, Ayah Ibra tidak baik-baik saja. Hati Ayah mana yang tidak hancur mendengar putrinya mengalami kecelakaan mengerikan seperti ini. Hanya saja, Ayah Ibra tidak ingin istrinya semakin hancur melihatnya ikut menangis.
Sekali lagi, Ayah Ibra sedang menjalankan perannya sebagai sandaran untuk sang istri yang begitu rapuh.
Meski hati berdarah-darah membayangkan kondisi Binar saat ini, Ayah Ibra tetap akan berdiri tegak menjadi sandaran istrinya.
...****************...
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Dokter yang mengoperasi Binar akhirnya keluar dari ruang operasi. Albiru dan Ayah Ibra segera mendekat, menanyakan kondisi Binar. Mereka terus bedoa dalam hati, semoga keadaan Binar baik-baik saja.
“Gimana keadaan istri saya, Dokter?” tanya Albiru.
"Pasien sudah melewati masa kritis. Pasien kehilangan banyak darah, beruntung rumah sakit memiliki stok darah yang cukup. Namun, untuk saat ini pasien belum siuman."
Penjelasan Dokter membuat Albiru menarik napasnya. Dia sedikit lega Binar sudah melewati masa kritis.
"Anak saya baik-baik sajakan, Dokter? Dia tidak mengalami hal buruk lainnyakan, Dokter?" Ayah Ibra bertanya dengan suara bergetar, pria paruh baya itu jelas tidak baik-baik saja.
"Saya akan menjelaskan beberapa hal, suami pasien bisa ikut ke ruangan saya." Jawab sang Dokter yang justru membuat mereka takut.
Albiru dengan langkah gontai mengikuti Dokter menuju ruangannya. Semua berharap tidak ada hal buruk yang menimpa Binar.
Ayah Ibra dan Bunda Ina terus berdoa agar Binar baik-baik saja, begitupula dengan Fay yang sampai detik ini masih terus menyalahkan diri sendiri.
...****************...
"Begini, kondisi pasien saat ini masih belum stabil. Benturan yang keras dikepala pasien membuat membuat cedera yang cukup serius, kemungkinan besar pasien akan mengalami koma."
Albiru terkejut mendengar berita buruk ini. Pria itu bahkan sudah menangis, jika saja dia bisa menggantikan posisi Binar saat ini.
"Tolong selamatkan istri saya, Dokter. Saya bersedia melakukan apapun agar istri saya baik-baik saja. Saya mohon, buat dia sadar kembali." Albiru menangis, terus memohon pada sang Dokter.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Berdoalah untuk kesembuhan pasien, saat ini yang dibutuhkan pasien adalah dukungan keluarga."
Albiru masih menangis, hatinya sakit mendengar keadaan Binar. Wanita yang begitu dia cintai, Ibu dari anak-anaknya.
__ADS_1
"Sebenarnya, ada hal yang ingin saya sampaikan. Mengenai kondisi pasien, akibat benturan yang keras menyebabkan rahim pasien mengalami lupa yang cukup parah. Setelah saya melihat riwayat kesehatan pasien, kemungkinan luka lama dirahim pasien kembali terbuka. Kami harus segera mengoperasi pasien, agar luka di rahim pasien tidak semakin parah."
Albiru kembali dibuat terkejut. Seolah belum cukup dengan kondisi Binar yang kemungkinan mengalami koma, kini kabar buruk harus kembali dia terima.
"Maksud Dokter? Operasi apa yang harus dilakukan?" tanya Albiru.
"Operasi pengangkatan rahim."
Jawaban itu membuat dunia Albiru runtuh. Albiru bertanya-tanya mengapa harus Binar yang mengalami kenyataan pahit ini. Rasanya Tuhan begitu kejam, Albiru ingin berteriak, memprotes apa yang telah terjadi.
Albiru bertanya-tanya, tidakkah Tuhan terlalu kejam pada Binar? Mengapa harus Binar yang mengalami ini semua?
Albiru tidak sanggup. Jika Binar sadar nanti, apa yang akan dia katakan? Apa yang akan dia jelaskan pada istrinya itu?
Apa yang akan Albiru katakan pada kedua orang tua Binar? Dia merasa gagal menjadi suami yang bisa melindungi istrinya.
...****************...
Albiru keluar dari ruangan Dokter dan berjalan dengan gontai. Ayah Ibra langsung menyambut sang menantu. Dari tatapan Albiru, Ayah Ibra yakin ada hal buruk yang terjadi.
"Ayah .... " Albiru tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Tubuhnya meluruh menyentuh lantai diiringi isak tangis. Rasanya begitu menyesakkan, menyakitkan.
Ayah Ibra menunduk, membawa Albiru kedalam pelukannya. Tanpa perlu bicara, Ayah Ibra tahu ada hal buruk yang terjadi.
Ayah Ibra berusaha menguatkan hatinya, berusaha melapangkan dada menerima setiap kenyataan yang akan dia terima.
__ADS_1
TBC