
Seminggu setelah pulang dari rumah orang tuanya, Binar merasa ada yang aneh dengan Ibu Siti. Wanita paruh baya itu memang tampak biasa saja jika dihadapan anggota keluarga yang lain, tapi jika mereka hanya berdua saja wanita itu akan bersikap sinis terhadap Binar.
Sebenarnya Binar tahu apa yang menjadi penyebab sikap sinis mertuanya itu. Namun Binar berusaha untuk tidak peduli, menurutnya selama Ibu Siti tidak melakukan tindak kekerasan maka Binar tidak akan mertuanya itu.
“Kalau nggak niat kerja itu bilang.”Omel Ibu Siti memulai perang dengan Binar yang baru saja membereskan dapur.
“Ibu ngomong sama Binar?” tanya Binar.
Ibu Siti menoleh dengan tatapan sinis, “menurutmu? Disini kan cuma ada kita berdua, masa Ibu ngomong sama tembok.”
Binar menghela napas berusaha bersikap tenang sebelum bertanya lagi dengan nada halus, “kali ini apa yang salah dari Binar?”
“Halah..sudah, kamu nggak usah bersikap seperti itu. Kalau kamu capek nggak mau kerjain pekerjaan rumah ya sudah nggak usah, daripada nggak ikhlas seperti itu.”
Binar menghentikan kegiatan bersih-bersihnya, berbalik menatap Ibu Siti yang balas menatapnya. “Siapa yang bilang Binar nggak ikhlas? Kenapa Ibu bisa ngomong seperti itu?”
“Tuh liat bersih-bersih tapi masih ada saja kotorannya.” Ibu Siti menunjuk sudut dapur yang dianggap kotor.
“Maaf kalau menurut Ibu nggak bersih, nanti Binar bersihkan lagi.” Ucap Binar memilih untuk mengalah karena tidak ingin membuat masalah baru dengan Ibu mertuanya ini.
“Sudah nggak usah, sana kamu ke kamar saja. Telepon orang tua kamu, siapa tahu tiba-tiba kamu kangen lagi sampai jatuh sakit.”
__ADS_1
Binar kembali menghentikan kegiatannya menatap tak percaya pada Ibu mertuanya itu. Binar tidak menyangka Ibu mertuanya itu sangat jahat sampai menyindirnya seperti itu.
“Salah kalau Binar kangen sama orang tua Binar? Salah kalau Binar menginap disana bahkan hanya seminggu bukan berbulan-bulan.”
Kini gantian Ibu Siti yang menatap tak percaya pada Binar yang justru malah melawannya. “Ibu kasih tahu kamu baik-baik, kalau nggak suka ya tinggal bilang.”
“Maaf Bu, bukan Binar nggak suka hanya saja apa yang Ibu katakan itu berlebihan.” Sahut Binar yang semakin membuat Ibu Siti marah.
“Kenapa kamu jadi nggak sopan begini Binar? Ibu sebagai orang tua ngasih tahu kamu yang baik-baik, bahkan selama ini Ibu nasehati kamu tapi kamu malah bersikap nggak sopan seperti ini.”
“Terserah Ibulah toh Binar selalu salahkan?” Binar menjeda sebelum kembali menyerang mertuanya dengan kata-kata, “Binar mengaku salah nggak ngabari Ibu tapi seharusnya Ibu paham jika ada diposisi Binar yang sedang sakit apa mungkin Binar ada pikiran untuk memberi kabar. Maaf kalau Binar bersikap kasar dan nggak sopan.”Binar menutup pembicaraan, segera membereskan pekerjaannya dan pergi begitu saja meninggalkan Ibu Siti yang kesal.
“Kenapa?” tanya Albiru begitu melihat Binar yang masuk ke dalam kamar dengan wajah cemberut.
“Ibu kayanya masih marah soal kita nginap di rumah orang tuaku. Tadi Ibu ngungkit hal itu lagi,” adu Binar yang sengaja tidak memberitahu sikap sinis Ibu Siti.
Albiru mendekat kearah Binar, membawa istrinya itu kedalam pelukannya. “Sudah nggak usah dipikirin, nanti lama-lama Ibu lupa juga.”
Tapi aku capek, batin Binar.
“Mungkin lebih baik kita pindah Bi, aku rasa itu solusi terbaik saat ini. Mungkin lama-lama Ibu bakal terbiasa juga kalau kita pindah rumah.” Binar berucap pelan namun sarat akan permohonan yang sayangnya tidak sampai pada Albiru.
__ADS_1
“Kita kan sudah bahas ini kemarin, sabar ya. Nanti kita pelan-pelan kasih Ibu waktu buat terbiasa. Aku malah takut kalau kita paksakan sekarang Ibu malah semkain marah.”
Binar memilih diam, tidak mau memjawab ucapan Albiru. Untuk masalah satu ini dia selalu kalah dari Ibu mertuanya. Seandainya Binar juga bisa bersikap egois, mungkin dia akan memaksa Albiru untuk menuruti keinginannya, sayangnya Binar diajarkan oleh Ayah Ibra untuk merendahkan egonya.
TBC
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa dukungannya ya.
Sambil menunggu novel ini update aku punya rekomendasi novel bagus karya CovieVy. Jangan lupa mampir dan dukungannya ya.
Judul : CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
Reza Firto Adijaya adalah CEO muda, berusia 27 tahun. Seorang pria berlimpah akan harta, tahta, dan wanita. Bersiteru dengan Aurora Safitri, seorang mahasiswi miskin yang mendapat SISTEM KEKAYAAN: HACKER.
Setiap misi yang diselesaikan, akan dibayar mahal oleh SISTEM. Misinya antara lain adalah Mengeksploitasi keamanan data pada perusahaan. Kebetulan Reza mendirikan perusahaan dalam bidang Online, membuat dia selalu menjadi bulan-bulanan misi dari NONA HACKER yang satu ini.
Suatu saat Aura ditangkap oleh bandit suruhan Reza. Lalu terjadi hal yang tak terduga membuat Reza akhirnya tergila-gila pada gadis itu. Namun, Aura sedang mencintai pria masa sekolahnya. Bagaimana perjuangan Reza untuk mendapatkan hati Aura?
__ADS_1