
Mila mulai berulah. Itulah yang dirasakan oleh Albiru. Wanita itu mulai mendekatinya secara perlahan, Albiru sadar akan hal itu. Seperti saat ini tiba-tiba Mila mengajak Albiru untuk makan siang bersama.
"Hai, makan siang bareng yuk. Katanya disini ada restoran enak, temenin aku ya." Mila memulai percakapan ketika Albiru baru keluar dari ruangannya.
Albiru hanya melirik sekilas setelah itu segera pergi tanpa mau menjawab ajakan Mila.
"Albiru, tungguin dong!" Mila berteriak mengundang perhatian karyawan yang lain.
Raka yang kebetulan baru keluar dari ruangannya segera mengerti situasi. Albiru sudah menceritakan seperti apa sosok Mila karena itulah Raka ingin membantu Albiru menjauh dari Mila.
"Maaf Mila, saya sudah janjian sama Biru mau makan siang bersama. Ada pekerjaan yang mau kami bahas, jadi Mila nggak bisa ikut." Ucapan Raka membuat Mila mendesah kecewa.
Mila ingin membantah, namun Raka adalah atasan sekaligus seniornya. Mila masih baru dan jelas dia tidak ingin mencari masalah.
Saat sudah jauh dari Mila, Raka segera bertanya pada Albiru.
"Jadi dia terang-terangan ngejar lo lagi?" tanya Raka.
"Mungkin satu divisi tahu, Mas dengar sendirikan dia teriak nggak tahu malu seperti itu." Jawab Albiru kesal, dia ingin meneriaki Mila bahwa wanita itu tidak tahu malu.
Tapi, Albiru sadar dia harus bersikap profesional dengan mengabaikan kepentingan pribadi.
"Perlu gue bantu ngomong sama HRD buat minta Mila pindah divisi?" tawar Raka yang dengan segera dijawab gelengan oleh Albiru.
"Makasih Mas, tapi gue nggak mau orang lain tahu. Gue akan atasi semampu gue, nanti kalo gue rasa sudah melewati batas gue pasti minta bantuan Mas Raka."
Albiru hanya tidak ingin orang lain tahu masalah ini. Dia bekerja di kantor ini dengan reputasi yang baik, karena itulah dia tidak ingin mencoreng reputasinya hanya karena wanita tidak tahu malu itu.
...****************...
"Gimana hari Papa Biru?" tanya Binar meniru suara anak kecil.
__ADS_1
Albiru segera tersenyum, rasanya begitu membahagiakan melihat istri dan anak-anaknya.
"Bisa dibilang sedikit baik, tapi ada buruknya." Jawab Albiru dengan berbisik.
Binar menatap Albiru mencari jawaban dimata suaminya itu. Terlihat Albiru begitu lelah, namun masih tersimpan senyum hangat untuknya.
"Mila?" tanya Binar.
"Sedikit mengganggu, tapi aku bersyukur ada Mas Raka yang membantu." Jawab Albiru dan segera menceritakan apa yang sudah terjadi.
Binar tampak terkejut mendengar cerita Albiru. Sungguh wanita itu tidak memiliki rasa malu. Binar yakin Mila tahu Albiru sudah menikah, tapi wanita itu tetap mengejar Albiru secara terang-terangan.
"Dia nekad banget. Aku nggak tahu jalan pikirannya, ku pikir usia bisa merubah pola pikir seseorang."
"Kamu tahu dengan pasti sayang, usia tidak menjamin kedewasaan. Aku pikir wanita itu sakit, apa yang dia lakukan baik sekarang maupun dulu jelas bukan hal yang bisa diwajarkan."
Binar mengangguk membenarkan ucapan Albiru. "Benar, sepertinya dia punya obsesi sama kamu deh."
Binar tersenyum lembut, mengelus wajah tampan suaminya itu.
"Kamu ganteng." Bisik Binar dengan senyum malu-malunya.
Albiru tertawa, bukan karena bisikan Binar melainkan karena ekspresi malu-malu istrinya itu.
Dengan gemas Albiru menarik Binar kedalam pelukannya. Keduanya tertawa sampai lupa keberadaan si kembar yang segera menangis.
"Maaf sayang, Papa kalian nih iseng banget." Binar segera menggendong Nevan karena Nessa sudah berada dalam gendongan Albiru.
Albiru hanya tertawa pelan sambil menimang Nessa yang sudah mulai tenang. Albiru begitu memanjakan Nessa.
Dalam hati Binar berucap, Nessa nantinya pasti akan sulit didekati pria karena banyak yang begitu protective padanya.
__ADS_1
...****************...
Tanpa sepengetahuan Albiru, Mila telah lama mengawasi Binar. Wanita itu menunggu waktu yang tepat untuk menghampiri Binar dan memulai dramanya.
Dan keberuntungan Mila datang hari ini. Mila yang baru pulang dari kantor bertemu dengan Binar yang saat itu sedang jalan-jalan sore bersama kedua anaknya.
"Binar!" Mila berteriak memanggil.
Mila tampak bersemangat, awalnya dia hanya iseng melewati perumahan ini dengan harapan bisa bertemu dengan Binar. Ternyata firasatnya benar, Binar saat ini berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Binar langsung.
"Bisa bicara sebentar?" Mila tersenyum lembut yang sayangnya tidak mampu memengaruhi Binar.
"Saya kasih waktu lima menit," jawab Binar datar.
Mila kembali tersenyum, setidaknya ada kesempatan untuknya.
"Kamu benar-benar sudah menikah dengan Albiru?" tanya Mila.
"Saya rasa kamu tahu dengan pasti jawabannya."
"Kamu tahukan seperti apa perasaanku terhadap Albiru? Sampai detik ini perasaan itu masih sama, mungkin dulu aku menyerah tapi sekarang situasinya berbeda."
Binar menatap tidak percaya pada Mila yang begitu percaya diri mengatakan hal memalukan ini.
"Maksud kamu apa?" tanya Binar muak.
"Ada hal yang aku perjuangin. Yaitu anak aku, sebagai seorang Ibu aku mau berjuang buat anakku."
TBC
__ADS_1