Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 88 - Kebahagiaan Sederhana (END) -


__ADS_3

Binar dan Albiru sudah melewati banyak rintangan dalam kehidupan pernikahan mereka. Banyak air mata dan luka yang mereka terima.


Namun, mereka percaya akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada bahagia setelah duka.


Saat ini Binar dan Albiru telah hidup bahagia dengan kedua anak mereka. Kebahagiaan sederhana dari keluarga kecil mereka.


Hari ini, ulang tahu Nevan dan Nessa yang ketiga. Rumah Albiru dan Binar sudah tampak ramai. Sibuk menyiapkan segala hal.


Nevan dan Nessa yang sudah tampil rapi kini berlarian bersama saudaranya yang lain. Ditengah mereka ada seorang anak laki-laki berusia dua tahun yang tertawa bahagia.


"Nevan, Nessa ... yuk siap-siap acara sudah mau dimulai." Binar mendekat memanggil kedua anak kembarnya.


Tidak lupa Binar menggendong anak laki-laki bernama Bastian. Bastian yang kini berada digendongan Binar tertawa bahagia.


"Kakak Babas senang ya banyak temannya?" Tanya Binar gemas yang dijawab dengan tawa lucu Bastian.


"Bi, stop manggil Bastian dengan panggilan itu. Nggak laki banget, Bi." Keluh seorang pria yang merupakan Ayah dari Bastian.


"Anak kamu aja suka kok, iyakan Kakak Babas?" Binar menatap Bastian meminta dukungan dari balikan itu.


"Enak aja," protes pria itu dan segera mengambil alih Bastian.


Binar merengut tidak suka, namun tidak bisa berbuat banyak karena Albiru sudah menatapnya memberi peringatan.


Binar memilih mengalah, dia tidak mau mengacaukan ulang tahun si kembar. Hari ini spesial dan Binar akan tampil lemah lembut.


"Sudah Bi, nggak usah kamu dengarin pria ini. Yuk kita mulai acaranya." Wanita cantik yang merupakan Ibu dari Bastian itu menggandeng Binar.

__ADS_1


Sudah pukul 4 sore dan acara ulang tahun harus segera dimulai atau si kembar akan mengamuk.


Binar berdiri di samping Albiru, menatap bahagia pada Nevan dan Nessa yang tengah bernyanyi dengan semangat.


Tidak hentinya mereka berucap syukur atas kehadiran Nevan dan Nessa dikehidupan mereka. Benar, Allah memberi mereka hadiah terindah setelah melewati luka yang begitu menyakitkan.


"Nggak terasa ya mereka sudah sebesar ini." Binar berbisik pelan tanpa mengalihkan tatapannya pada si kembar.


"Aku semakin nggak rela kalau mereka cepat besar. Terutama Nessa, nggak rela kalau dia cepat besar dan banyak yang naksir." Albiru balas berbisik, bisikan yang membuat Binar tertawa kecil.


"Hey, mereka baru tiga tahun, sayang. Please, jangan over protective sama Nessa. Kasihan dia nanti nggak ada yang naksir kalau Papanya galak begini." Ucap Binar bercanda yang justru dianggap serius oleh Albiru.


"Bagus, biar Nessa nggak ada yang ambil." Balas Albiru kembali mengundang tawa Binar.


"Astaghfirullah, kasihan Nessa nanti." Binar masih tertawa menatap wajah cemberut Albiru.


"Anak kalian ulang tahun, tapi kalian malah pacaran disini." Sindir sebuah suara yang sangat Binar kenal.


Ya, Rio adalah Ayah Bastian. Wajah Bastian bahkan benar-benar mirip dengan Rio.


"Mas, kamu malah ninggalin Bastian sih. Baru dititip sebentar sudah ninggalin gitu aja." Wanita yang merupakan istri Rio itu mengomel sambil menenangkan Bastian yang tengah menangis.


"Maaf sayang ... Bastian maafin Papa ya." Rio segera mendekat, berusaha membantu istrinya untuk menenangkan Bastian.


Albiru dan Binar hanya menghela napas. 3 tahun ternyata mampu merubah kepribadian Rio. Pria itu sudah lebih manusiawi, banyak tersenyum dan tampak lebih baik dari sebelumnya.


Pelajaran berharga mampu merubah sosok Rio. Semua, karena cinta.

__ADS_1


...****************...


Jam 6 pagi Binar sudah tampak sibuk. Selesai sholat subuh, wanita itu lanjut memasak sarapan. Di rumahnya banyak tamu, setelah acara ulang tahun kemarin sore sebagain keluarga besar Albiru dan Binar memutuskan untuk menginap. Hitung-hitung menemani Nevan dan Nessa.


Beruntung hari ini Binar ditemani istri Rio. Setidaknya Binar tidak repot seorang diri. Satu lagi membuat Binar bersyukur, istri Rio ini pintar masak.


"Beginilah repotnya Ibu rumah tangga. Belum lagi kalau si kembar bangun, semakin repot deh aku." Ucap Binar ditengah kegiatan memasaknya.


"Aku lumayan repot juga, Bi. Bangun pagi masak, ngurus Bastian dan jam delapan sudah harus ada di kantor." Sepupu ipar Binar itu ikut mengeluh, namun masih dengan senyum dibibir.


"Ya beginilah, menikmati peran." Binar tertawa kecil.


Benar, mereka menikmati peran sebagai seorang istri dan Ibu. Keluhan mereka hanya sebatas itu, namun jauh dilubuk hati keduanya ada rasa bahagia yang tidak bisa digambarkan.


"Butuh bantuan?" Tanya Albiru dan Rio yang baru masuk ke dapur.


"No," jawab kedua wanita singkat.


Keempatnya terdiam, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sampai kemudian suara tangis Bastian menyambut pagi berisik mereka. Binar menoleh, menatap Rio dan wanita di sampingnya.


"Kak .... " Binar memberi kode dan acara masakpun dipenuhi dengan kerepotan mengurus anak-anak mereka.


END


**Alhamdulillah novel ini bisa tamat..


terima kasih untuk semua pembaca setia, terima untuk setiap like, komen, dan vote kalian..

__ADS_1


sampai bertemu di My Beautiful Venus dan Cinta untuk Gabriella 😊


terus dukung author ya biar semangat terus 😂🤭**


__ADS_2